Sephiroth Lore:
Taman Eden, adalah rahim pertama bagi manusia. Digambarkan sebagai surga duniawi sempurna yang diciptakan olehnya, butiran air, dedaunan dan angin yang begitu lembut ketika diriku merasakannya. Ia juga berperan sebagai jantung bagi keseimbangan dunia. Di ambang kesuciannya berdirilah Sefirot, para penjaga taman ini yang dipilih langsung oleh yang tertinggi Adonai. Ketika mereka bertanya. "Mengapa harus kami." maka aku menoleh kepada mereka seakan menjawab. Di antara banyaknya bintang di langit dan di antara banyaknya penenun kain sutra yang menghasilkan pakaian yang lembut. Merekalah pengakuan yang telah kuberikan atas cahaya yang mereka miliki.
Dengarkanlah kisahku ini ketika seseorang menyukai sesuatu. Maka mereka akan menjaganya dengan baik agar tidak rusak, tidak kotor, tidak layu, juga tidak pula retak oleh waktu. Namun, aku hanya membiarkannya melakukan apapun yang mereka inginkan, mereka bebas menari-nari di atas rumput, juga bebas melukis kisah mereka.
Sebab kebebasan adalah ujian yang paling sunyi.
Selama mereka tidak melewati batas yang telah kutetapkan. Maka aku akan membiarkan mereka melakukan apapun yang mereka inginkan.
"Ketika satu menciptakan dua, dua menciptakan empat, empat menciptakan delapan dan seterusnya hingga mencapai angka tak terhitung. Namun pada akhirnya, bagaikan sungai-sungai yang tak lupa pada tempat pulangnya, semua hanya akan bermuara kepada satu."
Di bagian kedua, "Pohon Kehidupan dan Pohon Kematian", sebuah pilar yang diciptakan olehnya untuk mereka. Yang berjumlah sepuluh atau sebelas terdiri dari yang pertama hingga yang terakhir dengan dua puluh dua jembatan berbentuk zig-zag.
1. Keter (Mahkota) dengan sisi lain sebagai Thaumiel (Kekuatan yang bersaing)
2. Chokmah (Kebijaksanaan) dengan sisi lain sebagai Ghogiel (Yang menghalangi)
3. Binah (Pemahaman) dengan sisi lain sebagai Satoriel (Yang menyembunyikan)
4. Hesed (Kebaikan) dengan sisi lain sebagai Gha'agseblah (Yang menghancurkan)
5. Gevurah (Kekuatan) dengan sisi lain sebagai Golachab (Yang Menyala-nyala)
6. Tiferet (Kecantikan) dengan sisi lain sebagai Thagirion (Yang Berselisih)
7. Netzach (Kemenangan) dengan sisi lain sebagai Gharab (Yang Merusak)
8. Hod (Kemegahan) dengan sisi lain sebagai Samael (Racun Tuhan)
9. Yesod (Dasar) dengan sisi lain sebagai Gamaliel (Yang cabul)
10. Malchut (Kerajaan) dengan sisi lain sebagai Lilith (Ratu malam)
11. Da'at (Pengetahuan) dengan sisi lain sebagai Belial (Yang tidak berguna)
KETER
Atau nama lainnya Yaon-zi (Dewa Yang Tertinggi) adalah Sefirot pertama dari sepuluh sefirot. Ia berdiri di atas puncak semesta bagaikan mahkota. Dalam dirinya bersemayam sebuah dorongan yang tak pernah padam, "Aku adalah puncak, dan tak ada satupun yang boleh melampauiku." Keinginannya untuk terus mendominasi yang membuatnya mirip seperti Adonai, dan satu hal ia yakini kebenarannya mutlak adalah. "Semesta berada di tanganku, dan aku adalah yang tertinggi. Aku berdiri di puncak bersama Adonai."
Maka tidak! Puncak yang ia pijak bukanlah sepenuhnya miliknya. Sebab kenyataannya, "puncak" yang ia klaim hanyalah panggung yang telah ditetapkan oleh takdir. Sebuah takdir yang dianugerahkan oleh Adonai itu sendiri. Ia memang ditempatkan di atas, tetapi bukan untuk ditantang oleh yang lebih tinggi. Melainkan untuk selamanya bertemu dengan mereka yang berada di bawahnya.
THAUMIEL
Di balik ambisinya yang tak pernah padam untuk terus mengumpulkan kekuatan, Yaon-zi menyimpan alasan lain yang lebih sunyi. Ia pernah mendengar sebuah bisikan yang beredar bagaikan angin di antara langit-langit tentang seorang malaikat yang belum pernah, bahkan sekali pun, dikalahkan oleh makhluk mana pun sepanjang sejarah.
Aku mengerti bahwa keyakinan Yaon-zi tentang "Aku adalah puncak." mulai retak secara perlahan, bagaikan mahkota yang dibelah oleh waktu.
Sebuah pemikiran baru tumbuh di benaknya. Bahwa semesta ini bukanlah singgasana untuknya, melainkan sebuah hutan yang gelap dan tak bertepi.
"Di dalam hutan itu, hanya makhluk paling buas yang mampu bertahan di puncak rantai kehidupan. Dan makhluk itu (Arraziel), bagiku bukan lagi sekadar legenda... Ia adalah predator. Seekor binatang buas yang bersembunyi di balik luasnya pepohonan (alam semesta)."
Sejak saat itu, hasrat Yaon-zi terhadap kekuatan berubah menjadi sesuatu yang lebih liar. Ia tidak lagi sekadar ingin berdiri di puncak. Tetapi ia ingin membantai siapapun yang berada diatasnya, dan siapapun yang berdiri dengan ketinggian yang sama dengannya.
CHOKMAH
Dengan nama lain Danu (Dewa Kebijaksanaan) Sefirah kedua dengan personifikasi sebagai seorang "Ayah", Sesosok kebijaksanaan yang bahkan sering kali dikunjungi oleh dewa Al-batlan maupun para penjaga taman Eden lainnya. Suatu waktu, diriku memberinya sebuah harapan. Bagaikan menaruh bintang di telapak tangan bahwa suatu saat, kebijaksanaannya mampu menyeimbangi bahkan setara dengan Adonai, menyamai langit yang tak terukur oleh apapun.
Namun, kebijaksanaan yang terlalu lama dan terlalu dalam itu menimbulkan benih-benih kesombongan yang semakin lama semakin terjerat, bagaikan serigala yang memasukkan kepalanya sendiri ke dalam lingkaran tali kekang. Dalam bayang-bayang itu, Yaon-zi menumbuhkan hasrat terlarang untuk melihat isi dari "Buku Kelima", sebuah kosmologi yang bahkan melarang cahaya selain Adonai untuk memasukinya.
"Aku adalah kebijaksanaan itu sendiri, akal budi adalah sungai yang mengalir dariku, pengetahuan adalah bintang yang lahir dari pikiranku, dan pengalaman adalah langit yang kupijak. Tidak ada satu pun dinding yang mampu menghalangiku untuk mengetahui."
Namun langit tidak selalu ramah kepada mereka yang selalu ingin menembusnya.
"Maka berdirilah, dan tataplah langit!"
Maka seketika itu pula bintang-bintang berkumpul bukan untuk menghukum, melainkan untuk saling menutupi satu sama lain. Menyembunyikan rahasia dari "buku kelima" yang bahkan waktu pun takut untuk menyebutnya.
GHOGIEL
Seribu jalan yang berujung pada luka. Mengorbankan harapan, kesetiaan, bahkan dirinya sendiri. Semata hanya demi meneguk setetes "pengetahuan abadi."
Dalam perjalanannya, ia tak lagi berjalan sebagai makhluk yang berfikir. Melainkan sebagai seekor binatang buas di tengah hutan yang gelap. Yang mencabik apapun yang ada pada jalurnya. Bukan karena benci. Tetapi karena lapar, kelaparan akan pengetahuan.
Betap Ironisnya ketika kebijaksanan itu sendiri justru berlutut dihadapan keserakahan yang membisik secara lembut melalui celah kecil hatinya.
Siapakah yang akan datang kepadanya, ketika dirinya sendiri menjelma sebagai "penghalang" itu sendiri.
BINAH
Dengan nama lain Thera atau Theresa (Dewi Pemahaman) merupakan sefirot ketiga dengan personifikasi sebagai seorang "Ibu". Jika Chokmah adalah samudra kebijaksanaan yang terlalu luas untuk diminum, maka Binah adalah cawan yang membuat air itu dapat diteguk tanpa menenggelamkan jiwa. Ia membimbing para makhluk Al-Batlan dan para penjaga Taman Eden, seperti akar pohon tua yang menahan tanah agar tidak runtuh. Sebagai perpanjangan kehendak Danu, ia menerjemahkan kebijaksanaan abstrak milik Danu menjadi bahasa yang dapat dipahami oleh makhluk yang berjalan di bawah langit.
Awalnya aku berpikir ia akan menempuh jalan yang sama seperti "Dewa Kebijaksanaan" itu dengan mencoba merobek tirai rahasia dan mencuri pengetahuan dari "Buku Kelima." Namun kenyataannya. Secara mengejutkan, pemahamannya tentang kosmologi ayat-ayat semesta telah melampaui "Buku Keenam," dan bahkan hampir menyentuh serpihan kecil dari "Buku Kelima." Seolah pikirannya mampu mendengar gema rahasia itu tanpa benar-benar membuka halamannya.
Tetapi tidak seperti Danu, Thera mengetahui satu hal yang sering dilupakan oleh para pencari kebenaran. Bahwa tidak semua pintu diciptakan untuk dibuka.
Ia memilih menjauh dari pengetahuan yang tidak perlu ia ketahui. Karena ketika ia menyentuh sedikit saja dari rahasia yang terlarang itu, pikirannya terasa seperti bintang yang dipaksa lahir di dalam tengkoraknya, cahaya yang terlalu terang hingga kepalanya seakan hendak pecah oleh kosmologi yang tidak seharusnya dipikul oleh makhluk mana pun.
SATORIEL
Pengetahuan yang begitu luas menuntut harga yang tidak sedikit. Aku menyadari bahwa Thera bukan menjadi lebih kuat, tetapi lebih jenuh terhadap keberadaan itu sendiri.
Segala hal yang telah ia pahami, segala misteri yang telah ia dengar berulang kali, membuat dunia baginya tak lagi seperti permainan yang penuh dengan teka-teki, melainkan sebagai buku tua yang telah dibaca berkali-kali hingga setiap halamannya kehilangan kejutan.
Dari kejenuhan itu, lahirlah sesuatu yang baru, yang bahkan aku sendiri telah lupa padanya. Yaitu "kelicikan". Ia bergerak seperti ular yang bersembunyi di balik rumput menunggu mangsanya datang dengan sendirinya. Ia membalas pertanyaan dengan bayangan, memutar fakta bagaikan benang, dan menghadiahi kepalsuan yang dibungkus oleh kebijaksanaan.
Namun, mereka yang datang kepadanya berpikir. "Ia adalah sang maha tahu! Ibu dari pengetahuan, tak satu pun kata yang keluar dari bibirnya adalah kebohongan."
Di tengah semua kekacauan itu, ia tertawa, bukan tawa yang lahir dari ejekan, tetapi tawa yang muncul ketika permainan yang terlalu jelas untuk disembunyikan. Sementara aku hanya diam membiarkan sandiwara itu, karena pada akhirnya. Semua tetap berjalan sesuai dengan kehendak yang tertinggi Adonai.
HESED
Eudai (Dewi Kebaikan dan Kasih Sayang), sefirot ke empat. Salah satu sefirot yang berwujud seperti anak kecil.
Anak kecil adalah lambang dari mata air yang belum tercemari oleh apapun, kepolosan yang belum disentuh oleh debu dunia, kejujuran yang mengalir tanpa tipu daya, serta kebaikan yang lahir tanpa perhitungan.
Aku tidak sekalipun meremehkannya, meski ia tampak seperti anak kecil yang bahkan dapat tersapu oleh angin. Kenyataannya, bahkan dewa jahat yang dipenuhi oleh kebencian pun tidak dapat melukainya, bukan karena kekuatannya. Tetapi karena keberadaannya sendiri yang membawa kebaikan. Menghilangkan niat jahat sebelumnya yang berniat untuk melukainya.
Eudai tidak bertarung, ia hanya hadir. Dan kehadirannya sudah cukup untuk membuat sebuah tempat yang tadinya penuh dengan pertumpahan darah, kekacauan juga peperangan. Berubah menjadi tempat yang paling aman di seluruh semesta.
Sebuah masa depan yang indah terukir jelas dimataku ketika dengan kehadirannya saja. Bahkan kejahatan itu sendiri berteriak untuk berhenti kepada sesamanya.
GHA'ABSHEBLAH
Dari kasih sayang, kelembutan juga kebaikan berkata kepadanya. "segala sesuatu yang tampak suci ketika mengalir tanpa batas, pada akhirnya dapat berubah menjadi badai yang menghancurkan dirinya sendiri."
Ia menangis kepada dunia. Dengan air mata yang terjatuh ia bertanya kepada seluruh keberadaan. "Mengapa kalian memilih untuk saling membenci, ketika memaafkan dapat menyembuhkan? Mengapa kalian saling bertikai, ketika tangan kalian bisa saling berpegangan."
"Dan mengapa kalian memilih untuk saling membunuh ketika kalian sebenarnya mampu untuk saling mencintai?"
Namun, ketika Eudai mengajukan pertanyaan itu, dunia hanya mampu terdiam. Tak ada jawaban, tak ada pembelaan dan tak ada satupun kata yang mampu untuk menjelaskan dosa yang telah lama menjadi kebiasaan.
Dan sejak saat itu, dirinya berubah, ia semakin murung, semakin sunyi. Hingga pada akhirnya ia tak lagi mampu berjalan seperti dahulu, seakan dunia yang ia kasihi terlalu keras untuk dipikul oleh hati yang terlalu lembut.
GEVURAH
Dipanggil sebagai Quondam (Dewa Peperangan). Adalah sefirot kelima dengan tubuh kekar bagaikan gunung yang diberi tubuh. Tanpa Keter mungkin dirinya adalah sefirot yang paling mendekati arti dari kekuatan itu sendiri. Yang bahkan dewa Al-batlan sekalipun harus melihat dari bawah.
Namun, kekuatannya tidak memiliki tujuan dan hanya menunggu waktu untuk kehancurannya. Dan disinilah peran Eudai hadir untuk memberinya sebuah pencerahan.
Dari kasih sayang yang diajarkan oleh Eudai, ia terinspirasi untuk menggunakan kekuatannya bukan untuk menghancurkan. Melainkan untuk melindungi mereka yang lemah. Berbeda dengan Eudai. Quondam melawan kejahatan dengan kekerasan karena ia sendiri memiliki keyakinan. "Jika kebaikan tidak dapat dipahami oleh kata-kata, mungkin luka akan memberi mereka makna agar mereka mengerti."
Bagi banyak orang terutama diriku sendiri, pemikiran itu terdengar sangat konyol Karena bukankah kejahatan tidak pernah benar-benar lenyap hanya dengan kekerasan?
Namun aku keliru ketika berpikir demikian. Ia selalu berteriak. "Hancurlah bersama dengan keangkuhanmu sendiri!"
Banyak dari mereka yang pernah berdiri sebagai musuh di hadapan Quondam. Ketika akhirnya dikalahkan olehnya, mereka tidak bangkit kembali dengan kebencian. Melainkan dengan rasa hormat. Seolah-olah serangan yang ia berikan bukan hanya menghancurkan mereka, tetapi juga meruntuhkan kesombongan yang selama ini menutupi hati mereka.
GOLACHAB
Setiap cahaya diikuti oleh kegelapan. Ada saatnya Quondam tak mampu lagi merasakan kehangatan akan kebaikan yang pernah diajarkan oleh Eudai. Maka keadilan yang dulu ia yakini berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih liar.
Pada saat itu, serangan yang ia lepaskan bukan lagi membawa pelajaran untuk lawannya. Melainkan sebagai gigi yang mengoyak-ngoyak daging mangsanya.
Pada saat itu, aku menyadari sesuatu yang menyakitkan. Bahwa sosok yang dahulu kukenal sebagai orang baik. Orang yang bahkan terlihat sedikit bodoh karena begitu percaya dengan kekerasan dapat memperbaiki hati.
Berubah menjadi makhluk ganas yang haus akan peperangan, menganggap bahwa pembantaian adalah bahasa itu sendiri demi menggapai suatu perdamaian.
TIFERET
Ia dikenal pula dengan nama Purchel (Dewi Kecantikan), sebuah perwujudan dari keindahan itu sendiri, ia adalah sefirot keenam.
Wujudnya seakan menyampaikan sebuah pertanyaan yang tak pernah diucapkan namun selalu terdengar. "Dunia diciptakan begitu indah... Namun, mengapa kalian membuatnya seperti neraka?"
Sebagai pelengkap dari kecantikannya yang hampir menyakitkan untuk dipandang, Purchel memainkan sebuah biola. Gesekan dari senarnya dapat menciptakan kehidupan juga kematian, menciptakan kesehatan juga menurunkan penyakit, Dan menciptakan persahabatan juga permusuhan.
Ia tidak memainkannya dengan busur. Melainkan dengan sebilah pedang.
Senar-senar itu baginya melambangkan sesuatu yang jauh lebih dalam. "antara diriku dan Adonai." Sebuah hubungan yang tak dapat diputuskan oleh kekuatan apapun di semesta, kecuali oleh keyakinan Purchel sendiri terhadap Yang Tertinggi. Karena itu, semakin tajam sebuah pedang maka akan semakin indah pula melodi yang dihasilkan.
Dalam hirarki Taman Eden, Purchel sering dianggap sebagai sefirot yang paling lemah di antara yang lain. Namun aku tidak pernah sepenuhnya percaya pada penilaian itu. Karena aku sering bertanya dalam diam.
"Apakah Purchel memang berada di dasar dari para sefirot? Ataukah itu hanyalah kisah yang sengaja dibuat-buat oleh Adonai."
"Apakah Purchel memang berada di dasar dari para sefirot? Ataukah itu hanyalah kisah yang sengaja dibuat-buat oleh Adonai."
THAGIRION
Namun pada akhirnya aku ditampar oleh sebuah kenyataan yang tak lagi dapat kuingkari. Bahwa Purchel memanglah Sefirot yang paling lemah di antara mereka semua. Bukan karena kekuatannya kecil. Bukan pula karena nadanya tidak mampu mengguncang dunia. Melainkan karena ia sendiri memilih untuk melemahkan dirinya.
Dengan sengaja ia menutup kedua matanya, seperti seorang penyair yang menolak melihat medan perang. Ia menolak menyaksikan dunia yang dipenuhi tipu daya, kejahatan, dan kekejaman. Seolah segala keburukan itu hanyalah bayangan yang akan merusak harmoni di dalam hatinya. Hanya ada satu yang ia inginkan. Yaitu "melodi yang indah, yang lahir dari ikatan antara dirinya dan Adonai."
Namun, ada suatu hal yang begitu menakutkan ketika Purchel mulai membuka matanya. Ia akan menangis bukan karena ketakutan bukan pula karena paksaan. Melainkan karena cahaya yang terlalu mempersona untuk di tolak.
NETZACH
Dikenal pula dengan nama Armasil (Dewa Kejayaan) Ia adalah sefirot ketujuh. Jawaban dari segala luka yang pernah terjadi setelah medan perang. Hari ketika takdir ditaklukkan dan hari ketika mereka menjawab segala perjuanganmu.
Ia adalah arti dari kemenangan itu sendiri, dari ratusan, ribuan, jutaan bahkan hingga milyaran peperangan yang pernah ia pijak, tak pernah ada satupun kekalahan yang pernah berhasil menyentuh namanya. Yang membuatnya terlihat sebagai individu yang berdiri di atas atau bahkan setara dengan Gevurah.
Dan tentu saja, Armasil memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh dewa Al-Batlan lainnya. Ia berdiri sebagai pemimpin yang mampu menyatukan para dewa yang sebelumnya tercerai-berai, lalu menyusunnya kembali menjadi satu kesatuan yang bergerak menuju tujuan yang sama.
Dihadapannya kemenangan bukan lagi suatu kemungkinan, melainkan sudah menjadi kepastian yang akan selalu datang kepadanya.
Meski terlihat positif, dimataku aku melihatnya dari sudut pandang yang berbeda, karena dibalik karisma dan kepemimpinannya, tersembunyi sebuah rasa lapar yang tak pernah benar-benar terpuaskan.
Armasil mencintai kemenangan sebagaimana manusia mencintai udara untuk bernapas. Ia yakin dunia tidak akan bergerak tanpa dirinya. Peperangan tidak akan dimenangkan tanpa perintahnya, dan langkah para dewa tidak akan pernah memiliki arah dan tujuan kecuali ketika ia mengangkat tangannya dan berkata. "Langkahkan kakimu menuju kemenanganmu untuk bersorak sorai atas pencapaian yang kamu miliki."
Sehingga menjadikannya dewa yang paling sombong hampir setara dengan Yaon-zi.
GHARAB
Ketika kesombongan telah tumbuh melampaui batasan, Armasil tidak lagi memandang seseorang sebagai makhluk yang bernapas, berpikir, ataupun hidup. Mereka hanyalah butiran pasir kecil, sesuatu yang dapat dihapus oleh satu hembusan angin tanpa meninggalkan nama maupun jejak.
Ia mulai menghancurkan segala sesuatu yang dianggapnya tidak layak untuk tetap ada. Merenggut apa pun yang diinginkannya dengan tangan yang tak pernah belajar menerima penolakan bagaikan anak kecil yang percaya bahwa dunia diciptakan hanya untuk memenuhi keinginannya.
Ia tak lagi terlihat sebagai sesosok penjaga, melainkan sebagai sebuah lubang hitam yang lahir di tengah semesta, melahap segala hal yang mendekat kepadanya. Bahkan cahaya sekalipun tak sanggup untuk melarikan diri darinya.
HOD
Dikenal juga dengan nama Selwyn (Dewi Kekayaan) yang juga merupakan sefirot yang kedelapan.
"Kekayaan adalah milikku, dan kamu hanyalah peminjam yang hidup dari kemurahan tanganku." memiliki penampilan yang mewah, juga mengaku sebagai sosok yang memberi makan untuk mereka yang kelaparan, memberi pakaian untuk mereka yang kedinginan dan memberi tempat tinggal untuk mereka yang mencari tempat berteduh.
untuk para makhluk hidup di bawah sana, ia menganggap Selwyn sebagai sosok yang murah hati, sosok yang memberikan mereka harapan dibawah tekanan kehidupan yang tidak selalu berpihak kepada mereka.
Namun sebagaimana berlian yang akan kusam pada masanya, kelembutan Selwyn hanyalah permukaan yang indah untuk dipandang.
Karena jauh di dalam hatinya, Selwyn tidak pernah benar-benar melihat kekayaan sebagai alat untuk menolong. Ia melihatnya sebagai rantai halus yang mengikat dunia dibawah telapak tangannya.
Dan sama seperti Armasil, ia haus akan pujian, Selwyn juga menikmati satu hal yang sama, melihat para makhluk yang menundukkan kepala mereka di hadapannya. Karena ia memahami sebuah kebenaran yang kejam.
Bahwa makhluk yang lapar akan memuja siapa pun yang memberinya roti, dan mereka yang hidup dalam kekurangan akan rela menyerahkan harga dirinya demi secuil kemewahan.
SAMAEL
Ketika kekayaan itu menjadi racun yang perlahan menggerogoti tubuh mereka sendiri, ketika mereka percaya bahwa dengan harta, mereka akan menjadi penguasa di dunia ini, dan ketika mereka mulai percaya bahwa semua kemewahan itu adalah tanda bahwa mereka telah memperoleh cinta dari Selwyn.
Namun, aku ingin menghentikan mereka agar mereka tidak terlena dari kekayaan mereka sendiri, akan tetapi mereka hanya menjawab, "kau hanya iri dengan kekayaanku, kau hanya iri dengan kehormatan dan kekuasaanku. Maka jauhkanlah wajahmu dariku karena aku tidak sudi untuk melihat wajah yang selalu mengemis-ngemis."
Dibawah kesombongan itu Selwyn tertawa, tawa yang terasa dingin. Ia memandang mereka seperti seseorang yang menikmati pertunjukan komedi yang tidak pernah bosan untuk disaksikan. Ketika ia hendak mengambilnya kembali semua kekayaan itu.
Kesombongan yang dahulu berdiri setinggi menara perlahan runtuh menjadi debu. Mahkota berubah menjadi beban. Kehormatan berubah menjadi ratapan. Dan mereka yang dahulu berbicara dengan angkuh mulai berlutut sambil menangis, memanjatkan doa-doa yang sama seperti dahulu ketika mereka pertama kali memohon kekayaan kepadanya.
Namun Selwyn hanya tersenyum tanpa belas kasihan dan membiarkan mereka mati dalam kelaparan.
YESOD
Atau dikenal juga dengan nama Damocles (Dewa Kesuburan) yang merupakan sefirot kesembilan. Adalah wujud dari hastrat seksual itu sendiri, ia adalah dorongan purba alasan mengapa makhluk hidup itu masih ada dan mencari satu sama lain di tengah luasnya dunia, memiliki keturunan dan terus beradaptasi agar keberadaan mereka tidak lenyap oleh waktu.
Berbeda dengan Armasil dan Selwyn, Damocles mendistribusikannya pada seluruh keberadaan. Ia dapat diibaratkan sebagai mesin penciptaan semesta, sebuah fondasi yang membuat kehidupan terus bergerak dari satu generasi menuju generasi berikutnya melalui ikatan tubuh dan hasrat seksual.
"Aku adalah landasan mengapa kalian ada, melaluiku, kalian saling melahirkan keturunan, melaluiku pula, kehidupan menolak untuk punah."
Ia adalah api kecil yang ditanamkan Adonai ke dalam tubuh para makhluk hidup, agar dunia tidak berhenti bernapas. Karena bahkan cinta, keluarga, dan masa depan, akhirnya tumbuh dari benih yang ia sebarkan ke seluruh kehidupan.
Namun, bagaikan benalu pada tumbuhan inang. Ada banyak diantara mereka yang menyalahgunakan dorongan tersebut hanya untuk kepuasan pribadi mereka, dan Damocles hanya melihatnya dalam diam sambil tersenyum kecil.
GAMALIEL
Hasrat seksual tidak lagi berjalan untuk melahirkan kehidupan, ketika api yang seharusnya menghangatkan justru berubah menjadi kobaran yang melahap segalanya
Ia adalah bayangan dari hastrat yang telah kehilangan kemurnian, titik awal ketika dorongan kehidupan berubah menjadi benih kehancuran bagi makhluk hidup itu sendiri.
Pada saat itu, mereka tidak lagi memandang hasrat itu sebagai cara untuk melahirkan keturunan ataupun membangun ikatan kasih sayang. Mereka melihatnya sebagai lautan tanpa dasar, nafsu yang terus meminta untuk dipenuhi, namun tidak pernah benar-benar merasa kenyang dan terus meminta lebih.
Dan dari itulah lahir sesuatu yang jauh lebih mengerikan. Ketika kejahatan tidak lagi memiliki motif apapun. Tidak memiliki alasan, tidak pula membutuhkan pembenaran. Ia lahir bukan karena kebencian, bukan pula karena dendam.
Melainkan semata-mata karena nafsu yang telah kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
MALCHUT
Juga dikenal dengan nama Lylah (Dewi Fana atau Putri Tidur) ia merupakan sefirot kesepuluh, juga sebagai sefirot yang terakhir dari kesepuluh sefirot lainnya. Berbeda dengan Damocles, jika ia sebagai alasan dari kehidupan itu tetap terlahir dan berkembang. Maka Lylah adalah alasan mengapa semesta dan realitas itu sendiri dapat tetap ada.
Lylah bukanlah sekedar dewa-dewi seperti sefirot lainnya. Tetapi ia adalah awal dan akhir dari penciptaan itu sendiri.
Ia hanya duduk di atas singgasananya sambil tertidur, dan dari tidurnya pula, makhluk semesta tetap bernapas bagaikan mimpi di dalam tidurnya.
Ia mengenakan mahkota yang berwarna emas yang semakin lama akan semakin mengusam.
Ketika mahkota itu telah sepenuhnya berwarna hitam. Lylah akan membuka matanya, dan pada saat itu, alam fana akan berakhir. Bintang-bintang akan padam seperti lilin yang ditiup angin, waktu akan berhenti bergerak, dan realitas akan runtuh.
LILITH
Betapa ironisnya. Ketika makhluk lain membuka mata mereka untuk menyaksikan kehidupan, cinta, harapan, dan segala keindahan yang tumbuh di bawah langit
Lylah justru ditakdirkan untuk membuka matanya hanya demi melihat kehancuran. Seolah-olah Adonai sejak awal telah menuliskan sebuah takdir yang kejam baginya, bahwa ia tidak diciptakan untuk menyaksikan dunia hidup, melainkan untuk menjadi saksi terakhir ketika dunia itu berakhir.
Ia tidak dapat dibangunkan secara paksa, karena hal itu akan membuat alam fana semakin cepat menuju akhir.
Melalui tangisnya, ia berkata pada bintang yang telah kehilangan cahaya, langit yang telah kehilangan penyangga, dan kehidupan yang telah kehilangan alasan untuk tetap bertahan.
"Sudah waktunya untuk menuju awal yang baru, sebuah kertas yang akan dilukis ulang oleh tinta, dan sebuah cerita yang berbeda dari sebelumnya."
DA'AT
Ia adalah keberadaan mistik, sesuatu yang seharusnya tidak ada. Sebuah titik aneh di antara realitas, tempat di mana kesepuluh Sefirot seakan berkumpul dan saling bertumpuk menjadi satu keberadaan. Karena itu, namanya sendiri terasa seperti luka pada hukum alam semesta.
Berbeda dengan sefirot lainnya yang lahir sebagai manifestasi semesta, ia adalah eksistensi yang dipaksakan oleh Keter. Ia bukanlah dewa murni, melainkan manusia yang dipaksa untuk mengenakan mahkota kedewaan.
Ia diberi nama oleh Yaon-zi sebagai Kai, dan kemudian menghadapi berbagai macam percobaan yang tidak manusiawi untuk mengisi singgasana yang diyakini sebagai "slot kosong" demi mengisi kecacatannya.
Tentu eksistensinya menjadi perdebatan diantara para sefirot. Sebagian dari mereka menolak sepenuhnya.
Armasil, ia memandang Kai sebagai noda pada hirarki kemenangan. Selwyn, ia menganggap Kai sebagai pengganggu pada hirarki kekuasaaan. Dan Damocles yang merasa bahwa Kai tidak seharusnya mengisi kursi para dewa.
Namun ada pula sebagian yang mengakuinya.
Seperti Yaon-zi, tokoh yang membawa namanya. Eudai, sosok yang melihat jiwa yang kesepian dari dalam dirinya. Quondam yang merasa bahwa Kai memiliki berbagai kemungkinan. Dan Purchel, yang merasa bahwa Kai mampu melebihi pesona itu sendiri.
Sementara yang lain memilih diam. Danu, Thera, dan bahkan Lylah tidak benar-benar menerima ataupun menolak dirinya. Mereka memandangnya bagaikan bintang asing yang tidak memiliki makna. Aneh, misterius atau bahkan seharusnya tidak ada disana sama sekali.
BELIAL
Bukan sekadar rasa takut yang datang lalu pergi, melainkan bayangan gelap yang tumbuh dari dasar jiwanya sendiri, sebuah versi lain dari dirinya yang terus berjalan mengikuti setiap langkahnya ke mana pun ia pergi.
Ia tidak dapat menutup mulutnya untuk membantah caci makinya. Tidak dapat menutup telinganya agar terbebas dari suara hinaannya. Dan tidak pula mampu memalingkan matanya dari sosok yang menyerupai dirinya dalam versi gagal.
Ia mengaku memiliki nama Belial. Di balik nama Da’at, ia tetap hanyalah seorang manusia yang tersesat di antara para dewa.
Dan bayangan itu selalu berada di sana, menghantuinya sepanjang waktu.














