Newest Post

Bonz Desc

| Selasa, 28 Juli 2026
Baca selengkapnya »

 Bonz

Dari zaman dahulu hingga era sekarang, realitas tidak pernah benar-benar berubah. Manusia terus saling merendahkan demi merasa lebih tinggi. Ia berkali-kali menyaksikan peperangan, perbudakan, pembunuhan, pemerkosaan, dan berbagai bentuk kekejaman lainnya.

Namun, di tengah semua itu, ia selalu mendengar kalimat yang sama.

"Biarkan saja. Waktu akan mengubah semuanya."

Tahun demi tahun berlalu. Kejahatan tidak pernah benar-benar lenyap. Yang berubah hanyalah nama pelaku, tempat kejadian, dan cara mereka melakukannya.

Bonz memandang dunia dengan tatapan kosong.

"Jika memang benar waktu mampu mengubah segalanya..."

"Mengapa sejarah terus mengulang luka yang sama?"

Keheningan menjadi satu-satunya jawaban.

Saat itulah ia menyadari sesuatu.

"Waktu tidak menyebabkan perubahan. Waktu hanyalah ukuran bahwa perubahan telah terjadi."

Yang mengubah dunia bukanlah waktu. Manusialah yang memilih apa yang akan mereka lakukan di dalam waktu.

Masyarakat mengenalnya sebagai pria bertubuh pendek dengan setelan khas yang membuatnya tampak seperti seorang detektif. Suatu hari, ia memperhatikan bunga yang sedang bermekaran, buah yang perlahan membusuk, dan seorang pemuda yang telah beranjak dewasa.

Ia menghampiri pemuda itu.

"Berapa usiamu sekarang?"

Pemuda itu menjawab.

"Sembilan belas tahun."

Bonz mengangguk pelan.

"Apa yang telah kau pelajari sejak kecil hingga sekarang?"

Pemuda itu menjawab dengan antusias.

"Aku mempelajari geometri, satuan waktu, konversi, dan masih banyak pengetahuan tentang alam semesta."

Bonz tersenyum tipis.

"Kalau begitu, bisakah kau memberitahuku apa yang membuat bunga itu tumbuh hingga akhirnya mekar?"

"Tentu," jawab pemuda itu. "Bunga itu disiram air, lalu seiring berjalannya waktu, ia tumbuh dan akhirnya mekar."

Bonz memetik bunga itu dengan hati-hati, lalu menunjukkannya kepada sang pemuda.

"Kalau begitu... apakah bunga yang telah mati akan mekar kembali hanya karena kita menunggu lebih lama?"

Pemuda itu terdiam.

Bonz menatap bunga di tangannya sebelum berkata,

"Lihatlah bunga ini... Yang membuatnya mekar bukanlah waktu."

"Air yang menyuburkannya. Cahaya matahari yang memberinya energi. Unsur hara yang menopang pertumbuhannya. Serta kehidupan yang memang telah dimilikinya. Sedangkan waktu tidak pernah membuat bunga itu tumbuh."

"Waktu hanya memberi ruang bagi seluruh proses itu untuk berlangsung."

Bonz mengangkat pandangannya ke arah langit.

"Begitu pula dengan manusia."

"Seseorang tidak menjadi bijaksana hanya karena usianya bertambah. Ia menjadi bijaksana karena memilih untuk belajar selama waktu terus berlalu."

"Begitu pula kejahatan. Seseorang tidak menjadi jahat karena waktu. Ia menjadi jahat karena pilihan-pilihan yang ia ambil di dalam waktu."

"Waktu tidak pernah menulis sejarah. Manusialah yang menulisnya. Waktu hanya menjadi saksi bagi setiap pilihan yang mereka buat."


The Patient Lie

Pernahkah Anda berpikir bahwa bahkan orang yang paling bijaksana sekalipun pernah memiliki hasrat untuk menyombongkan diri?

Bonz pun demikian.

Dahulu, ia percaya bahwa selama dirinya mampu mengendalikan waktu, tidak ada kebenaran yang dapat bersembunyi darinya. Bahkan takdir pun, menurutnya, hanyalah rangkaian kemungkinan yang dapat dipaksa menuju satu jawaban.

Setiap jawaban yang terdengar ganjil membuatnya memundurkan waktu beberapa menit. Ia mengubah susunan pertanyaan, intonasi suara, bahkan posisi tubuhnya sendiri.

Puluhan kemungkinan berlalu. Menjadi ratusan. Hingga akhirnya, sang pembunuh mengucapkan apa yang Bonz anggap sebagai kebenaran.

Meskipun sudah mengakui kebenaran, Bonz merasa bahwa dirinya masih belum merasa cukup puas. Ia meminta sang pembunuh untuk mengikuti dirinya di jalanan yang sepi.

Sesampainya disana, ia bertanya kepada sang pembunuh. 

"Apakah ada satu jawaban dari sekian banyaknya pertanyaan yang pernah ku tanyakan kepadamu? 

"Satu jawaban yang dapat kuperoleh dari setiap banyaknya kemungkinan."

"Aku tidak memaksamu untuk berkata jujur, tetapi aku ingin berkata kepadamu bahwa, aku tidak pernah benar-benar memahami mengapa kamu berbohong sejak awal..."

Mendengar pertanyaan yang sangat tidak lazim itu, sang pelaku pembunuhan mulai kebingungan dan mencoba untuk menyerang balik.

Dalam sekejap, Bonz melemparkan sebuah koin. Kecepatannya melampaui batas yang dapat dijelaskan oleh logika manusia. Energi kinetik yang tercipta menghantam tubuh sang pelaku hingga seketika hancur berkeping-keping.

"Pada akhirnya bukan dia yang berbohong, melainkan keyakinanku sendiri yang berbohong."

Bonz menatap mayat sang pelaku dengan wajah yang sedikit menahan rasa jijik. 

"Aku mengira waktu dapat memaksakan kebenaran. Padahal yang kulakukan hanyalah memaksa seseorang memilih jawaban yang akhirnya ingin kudengar."

Bonz kemudian mengambil rokok dari saku kemudian menyalakannya.

Dalam keheningan itu, ia bergumam dalam dirinya sendiri sambil melihat koin yang sedang berputar di dekat jasad yang sudah tidak memiliki bentuk. Seseorang yang baru saja ia habisi.

"Aku sudah muak melakukan ini berkali-kali... Pada akhirnya, aku tidak dapat berpura pura bertindak sebagai seorang investigator."

"Aku pernah menganggap waktu sebagai sekutuku."

"Namun kini aku tahu..."

"Waktu tidak pernah berpihak kepada siapa pun. Ia hanya memberi kesempatan kepada seseorang untuk memilih. Begitu juga denganku, waktu hanya memberiku kesempatan untuk melakukan pembunuhan yang sudah berkali-kali kulakukan."

"Dan mulai hari ini..."

"Aku akan merampas kesempatan itu dari mereka yang memilih menjadi kejahatan."


The Specter

Sejak kemunculannya, kejahatan perlahan menjadi semakin jarang terjadi. Mereka takut kepada sosok yang konon selalu mengawasi dari balik kegelapan. Tidak seorang pun mengetahui wajahnya. Tidak ada yang pernah memastikan identitasnya. Yang tersisa hanyalah cerita yang terus diwariskan dari mulut ke mulut.

Sebagian menyebutnya seorang pembunuh yang mengenakan pakaian detektif. Sebagian lain menganggapnya pahlawan yang tidak lagi peduli pada benar atau salah, seorang vigilante yang menjatuhkan hukuman tanpa pengadilan.

Ada pula yang memanggilnya Roh Pembalasan, Bayangan, Karma yang Berjalan, bahkan Maut yang Bersabar. Namun, dari sekian banyak nama yang dapat disebut oleh ketakutan manusia, hanya satu nama yang benar-benar dikenal oleh masyarakat.

Yaitu The Specter.

Ia bukan dalam pengertian hantu secara literal. Melainkan, tak seorang pun pernah melihatnya datang. Tak seorang pun pernah melihatnya pergi. Yang selalu ditemukan hanyalah jasad para pelaku kejahatan yang telah hancur tanpa bentuk. Seolah-olah seorang hantu baru saja menjatuhkan hukuman, lalu menghilang sebelum sempat disaksikan siapa pun.

Di samping setiap jasad selalu terdapat sebuah koin. Pada permukaannya terukir dosa yang telah dilakukan sang pelaku semasa hidupnya.

Koin-koin itu tidak pernah sama. Perunggu yang telah dipenuhi karat menandakan pelaku kejahatan biasa. Sementara emas menandakan bahwa yang telah dihukum adalah sosok yang bahkan pernah dianggap tak tersentuh oleh hukum.

Apabila satu jejak berpotensi tertinggal, Bonz memundurkan waktu, menghapus seluruh kesalahan yang ia buat, lalu menghentikan waktu hanya untuk memastikan bahwa ketika dunia kembali bergerak, dirinya telah lenyap tanpa bekas.

Ia selalu mengenakan topi yang membuatnya sangat sulit untuk dilacak. Sejak saat itu, aparat keamanan mulai mencurigai siapa pun yang mengenakan topi bertepi lebar seperti miliknya. Di berbagai kota, topi dengan desain tersebut perlahan menghilang dari peredaran. Topi itu menjadi simbol yang ditakuti. Tidak ada orang biasa yang berani mengenakannya lagi.

Untuk pertama kalinya Bonz melepaskan topi yang ia kenakan. Dan di tengah lampu yang sedang berkedip, ia tertawa.

"Lucu... Kalian mengerahkan seluruh negara untuk memburu seseorang yang membunuh penjahat."

"Namun orang-orang yang membunuh orang tak bersalah justru masih bebas berjalan di bawah matahari."

"Cobalah untuk menangkapku, teruslah mengejarku."

"Bukankah lebih mudah memburu bayangan daripada menangkap kejahatan yang berdiri tepat di depan mata kalian?"


The Weight of Seconds

"Tidak ada satu detik pun yang dapat dianggap ringan."

"Orang-orang mengira bahwa satu detik tidak menentukan apa pun. Mereka percaya manusia berubah karena tahun-tahun yang telah berlalu."

Bonz tersenyum tipis.

"Mereka salah..."

"Yang benar-benar mengubah hidup seseorang hanyalah satu detik... Tepat sebelum ia memutuskan sesuatu."

Bonz mengangkat sebuah koin yang selalu menemaninya.

"Sama seperti koin ini."

Ia memperlihatkan kedua sisinya. Sisi kepala.

"Orang-orang menyebutnya keberuntungan."

Koin itu kemudian diputar hingga memperlihatkan sisi lainnya. Sisi ekor.

"Dan sisi ini disebut kesialan."

Bonz menjentikkan koin itu ke udara. Koin tersebut terus berputar, sementara waktu di sekitarnya seolah melambat. Tatapannya tidak pernah lepas dari koin yang terus berputar itu.

"Padahal kedua sisi itu tidak pernah menentukan apa pun. Yang menentukan hanyalah keputusan dari orang yang melemparkannya."

"Manusia selalu menyalahkan hasil lemparan. Padahal yang membawa mereka sampai ke sana adalah tangan mereka sendiri."

The Weight of Seconds

Ketika kemampuan ini diaktifkan, Bonz mampu mempercepat dirinya hingga dunia di sekelilingnya tampak hampir berhenti. Di dalam keadaan itu, ia mampu melihat sesuatu yang tidak pernah disadari oleh kebanyakan orang.

Detik sebelum seseorang memutuskan untuk menarik pelatuk. Detik sebelum seseorang memutuskan untuk menyelamatkan orang lain. Detik sebelum seseorang mengeluarkan senjata dari sakunya. Bahkan detik sebelum seseorang sekadar mengedipkan mata.

Semuanya terjadi dalam rentang waktu yang oleh kebanyakan orang dianggap tidak berarti.

"Satu detik..."

Namun, justru satu detik itulah yang memiliki bobot paling berat. Sebab setelah sebuah keputusan dibuat, sejarah tidak lagi menunggu untuk ditulis.

Bonz membenci orang-orang yang menyalahkan takdir atas pilihan mereka sendiri.

Karena itulah ia menggunakan koin sebagai alat untuk menjatuhkan hukuman. Setelah membunuh, ia selalu mengukir dosa yang dilakukan korbannya pada sisi ekor koin tersebut. Koin itu adalah koin perunggu, perak, atau emas.

Bukan sebagai bentuk penghargaan. Melainkan sebagai ejekan bagi mereka yang selalu menyalahkan takdir atas kehidupan yang mereka pilih sendiri.

Sisi kepala melambangkan kemungkinan untuk memilih yang benar. Sementara sisi ekor melambangkan kemungkinan untuk memilih yang salah.

Namun tragedi tidak pernah lahir dari kedua sisi itu. Karena keduanya hanyalah kemungkinan.

Kebaikan maupun kejahatan tidak pernah berasal dari kepala atau ekor.

Keduanya lahir pada detik ketika seseorang memutuskan sisi mana yang akan ia jalani.


Point of No Return

Pernahkah dirimu bertanya... mengapa manusia menyebut masa depan memiliki begitu banyak kemungkinan, tetapi ketika mereka berhasil mengintipnya, yang mereka lihat hanya satu? Apa gunanya memiliki ribuan kemungkinan, jika pada akhirnya semua orang hanya mengejar satu kemungkinan yang dianggap paling mungkin terjadi?

Yang mereka lihat tetaplah masa depan. Namun bukan masa depan yang mutlak. Yang mereka lihat adalah satu kemungkinan tunggal dari berbagai kemungkinan yang terbentang di hadapan seseorang beserta jalur yang pada saat itu memiliki peluang terbesar untuk menjadi kenyataan.

Masa depan...

Ia adalah sebuah hutan.

Namun manusia tidak pernah benar-benar melihat hutannya. Mereka hanya terpaku pada satu pohon, lalu mengira pohon itulah seluruh hutan.

Padahal di baliknya masih ada ribuan jalan. Ribuan kemungkinan yang menunggu seseorang memilih untuk berjalan ke arahnya.

Masa lalu dapat dikenang, masa kini dapat disaksikan, dan masa depan dapat diprediksi, diramalkan, ataupun direncanakan.

Namun... Pernahkah kalian bertanya mengapa manusia membagi waktu menjadi masa lalu, masa kini, dan masa depan?

Apakah ketiganya benar-benar ada?

Orang-orang mengira masa lalu adalah sesuatu yang telah berlalu. Mereka benar. Mereka mengira masa kini adalah sesuatu yang sedang terjadi. Mereka juga benar. Namun mereka mengira masa depan adalah sesuatu yang sedang menunggu. Di situlah mereka salah. Masa depan tidak pernah menunggu siapa pun. Karena masa depan bahkan belum pernah ada. 

Yang benar-benar ada hanyalah kemungkinan. 

Dan kemungkinan itu berakhir tepat pada saat seseorang membuat keputusan.

Bonz menyebutnya sebagai 

"Point of No Return."

Bagi Bonz, masa depan bukanlah sesuatu yang pasti, melainkan sekumpulan kemungkinan dengan satu jalur yang pada saat itu, memiliki peluang terbesar.

Bonz mampu menyaksikan berbagai jalur kemungkinan yang terbentang di hadapan seseorang. Menyerang, melarikan diri, menyerah, berbohong, atau berbagai pilihan lain yang masih mungkin terjadi.

Namun semua jalur itu masih samar... Selama keputusan belum dibuat, seluruh jalur itu tetap ada. 

Pada saat seseorang benar-benar mengambil keputusan untuk menyerang, seluruh kemungkinan lainnya runtuh, menyisakan satu jalur yang kemudian menjadi sejarah.

Dan sejarah mulai menulis nama orang itu sebagai penyerang.


Memento Mori

Segala sesuatu memiliki sejarah temporal. Bahkan seorang detektif yang kemudian berubah menjadi penghukum pun memiliki sejarahnya sendiri. 

Dahulu kala, Bonz pernah mencintai seseorang lebih dari apa pun. Wanita itu memiliki kebiasaan yang menurut banyak orang terasa aneh. Ia begitu menyukai jam, baik itu jam tangan, jam dinding, hingga jam pasir.

Suatu hari Bonz bertanya.

"Yang terkasih... mengapa kau begitu menyukai jam?"

Wanita itu tersenyum lembut sebelum menjawab.

"Karena setiap detiknya mengingatkanku bahwa hidup tidak pernah benar-benar berhenti."

Ia mengangkat sebuah jam tangan ke hadapan Bonz.

"Lihatlah jarum detik ini."

"Ia terus bergerak dengan gerakan halus dan memukau, tanpa pernah sedikit pun bertanya apakah kita sudah siap menghadapinya."

"Melihat setiap detik berlalu dapat membuatku merasa tenang."

"Aneh, bukan? Justru karena waktu terus berjalan, setiap detik menjadi berharga."

"Dan justru karena setiap detik berharga... kita tidak boleh hidup seolah-olah masih memiliki waktu yang tak terbatas."

Bonz hanya mengangguk pelan.

Pada saat itu. Banyak orang yang mengenal Bonz sebagai seorang pria yang sangat ramah, cerdas dan pantang menyerah.

Sebelum akhirnya suatu insiden menimpa kekasihnya. Saat itu ia melihat mayat yang tergeletak di tepi jalan. Tidak ada orang yang mengerumuninya, Beberapa orang menoleh, beberapa lainnya bahkan tidak memperlambat langkahnya. Tidak ada yang benar-benar mendekat. Dunia tetap berjalan, seolah kematian itu bukan urusan mereka.

Ia hanya membutuhkan satu tatapan... Satu tatapan untuk menyadari siapa perempuan yang terbaring di hadapannya. Itu adalah wanita yang paling ia cintai. Ia memegang pipi sang kekasih. Dingin dan nyata... Bonz memutar waktu kembali lima menit. Tidak terjadi apa-apa. Ia tetap melihat tubuh kekasihnya yang masih tergeletak disana dengan posisi, udara dan tempat yang sama.

Kemudian ia memutar kembali waktu selama lima jam. Untuk pertama kalinya... Ia melihat pembunuhnya.

Pembunuh itu menggenggam belati dengan tangan gemetar.

"Jangan bergerak! Serahkan tasmu!"

Namun kata-katanya berhenti di tenggorokan.

Wanita itu telah terbaring di tanah, tidak bergerak, darah mulai mengalir di bawah tubuh wanita itu. Belati di tangannya bahkan belum menyentuh siapa pun.

Ia mundur beberapa langkah sambil bertanya.

"Apa...? Apa yang terjadi...?"

"Kenapa dia tiba-tiba mati di depanku?"

Kemudian ia melihat Bonz yang sedang berdiri mematung seolah tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi. Pembunuh itu bertanya kepada Bonz.

"Hei... Apakah kau yang melakukannya?"

Bonz tidak menjawab, tatapannya tetap tertuju kepada wanita yang terbaring di tanah. Tangannya perlahan gemetar. Ia menyadari bahwa waktu telah kembali. Namun kematian tidak. Ia kembali memutar waktu.

Lima jam.

Sepuluh jam.

Satu hari.

Berkali-kali.

Dan hasilnya selalu sama... Di setiap titik waktu... Wanita itu telah mati. Di hadapan seorang pembunuh yang bahkan belum sempat menjadi pembunuh. Sambil meneteskan air mata, Bonz menatap wanita yang selama ini selalu berada di sisinya.

"Kini aku mengerti... Jadi... seperti itukah maksudmu?"

"Bahwa kita tidak boleh hidup seolah-olah memiliki waktu yang tak terbatas..."

Air matanya jatuh membasahi pipi wanita itu.

"Karena ketika sebab dan akibat telah mencapai akhirnya..."

"Waktu pun tidak lagi mampu mengembalikannya."

Bonz berlutut perlahan, lalu memeluk tubuh kekasihnya yang telah kehilangan nyawa. Ia tidak lagi berusaha memundurkan waktu. Ia hanya memejamkan mata.

"Aku salah... Selama ini aku mengira mengendalikan waktu berarti mampu mengendalikan segalanya."

"Padahal waktu tidak pernah menjadi penguasa atas kehidupan..."

"Ia hanya menjadi saksi bagi setiap pilihan yang telah mencapai akhirnya."

"Mulai hari ini... Aku tidak akan lagi menganggap waktu sebagai sesuatu yang maha kuasa."

Bonz mendatangi sosok yang ia sebut sebagai pembunuh yang beberapa jam kemudian akan merampok seseorang. Di tangannya, sebuah koin berputar perlahan. Ia menjentikkannya hingga jatuh tepat di hadapan pria itu.

"Koin ini... Bukankah benda sekecil ini yang selama ini kau kejar?"

"Kalau begitu..."

"Ambillah."

Pembunuh itu mengernyit.

"Siapa kau? Bagaimana kau bisa tahu tempat ini?"

Tatapannya kemudian berhenti pada pakaian Bonz yang berlumuran darah.

"Dan... darah itu milik siapa?"

Bonz tetap membelakangi pembunuh itu. 

Setelah beberapa saat, ia berkata dengan suara yang tenang.

"Jangan pernah menatap wajahku lagi... Jika setelah hari ini kau masih memilih jalan yang sama."

Pembunuh itu menatap ukiran pada koin tersebut. Di atasnya tertulis.

"Perampokan?"

"Pembunuhan?"

Tangannya mulai bergetar.

"Merampok... lalu membunuh seorang wanita...? Apakah... aku benar-benar akan melakukan itu...?"

Ia perlahan mengangkat kepalanya. Saat matanya bertemu dengan Bonz... Jantungnya seakan berhenti sesaat.

"..."

"Kenapa..."

"Kenapa rasanya aku pernah berdiri dengan posisi yang sama seperti saat ini?"

"Kenapa rasanya aku pernah melihat punggungmu...? Padahal... kita bahkan belum pernah bertemu."

Pembunuh itu kemudian mulai kesal dan hendak untuk menikam Bonz dari belakang.

"Ah sial ini hanya perasaanku saja...! Dasar bajingan, apa yang telah kau lakukan pada diriku?!"

Namun sebelum belati itu sempat untuk menyentuh tubuhnya Bonz terlebih dahulu mengaktifkan kemampuan miliknya

"Memento Mori."

Belati di tangannya mulai tampak baru, lalu menjadi bijih logam yang belum ditempa, kemudian debu mineral.

Pakaiannya perlahan berubah menjadi kain, menjadi benang, menjadi kapas.

Tubuhnya menjadi remaja, anak-anak, balita, bayi.

Lalu...

Berubah menjadi ketiadaan. Karena seluruh perjalanan temporal dari sang pembunuh telah selesai diurai hingga titik awal keberadaannya.

Bonz, tidak hanya mampu memundurkan waktu dari suatu target tetapi ia juga bahkan mampu memperlambat dan mempercepat keadaan target.

Oleh karena itulah, koin ataupun benda-benda kecil yang dimilikinya dapat dijadikan senjata yang bahkan jauh lebih mematikan daripada peluru.

Memento Mori tidak memundurkan waktu suatu target. Ia mengurai sejarah temporal yang membentuk target tersebut. Selama suatu eksistensi masih memiliki sejarah temporal, Bonz mampu menelusuri, mempercepat, memperlambat, maupun mengurai perjalanan sejarah itu hingga mencapai titik asalnya.

Api dapat diubah menjadi sesuatu yang belum dipercik, ruang dapat diubah menjadi dalam keadaan posisi datar sebelum dilipat, jiwa di kembalikan dalam keadaan dimana ia belum sepenuhnya menjadi identitas.

Bahkan ketika berhadapan dengan pengguna Time lainnya, Memento Mori tidak mengikuti perubahan pada setiap manipulasi waktu yang mereka lakukan. Ia hanya menyaksikan sebab dan akibat yang telah selesai. Berapa kali pun aliran waktu diubah, yang terlihat oleh Bonz tetaplah akhir dari rangkaian sebab dan akibat tersebut.

Lawan itu dapat mengembalikan waktu, tetapi Bonz tetap melihat dirinya sebagai yang pemenang.

Lawan dapat mengubah jejak temporal dan menghentikannya, tetapi Bonz tetap melihat hasil akhirnya.

Karena selama waktu masih ada, setiap eksistensi akan selalu memiliki awal. Dan selama sebuah awal masih ada, Memento Mori akan selalu menemukan jalan untuk kembali kepadanya.

Namun meski pun begitu, Memento Mori hanya dapat mengurai sejarah yang memiliki urutan sebab-akibat yang konsisten. Semakin kacau, paradoksal, atau tidak stabil sejarah temporal suatu target, semakin sulit kemampuan ini bekerja secara sempurna.

Bonz Desc

Posted by : desthabikinfanart
Date :Selasa, 28 Juli 2026
With 0komentar

Clara Desc

| Minggu, 19 Juli 2026
Baca selengkapnya »

Clara Aldenaur 


"Keluarga." 

Sebuah kata yang terdengar sederhana. Namun di dalamnya terdapat rumah untuk pulang, pelukan yang menenangkan, tawa yang tidak perlu dibuat-buat, serta tangan-tangan yang selalu terbuka ketika dunia mulai terasa terlalu berat. 

Kemudian terdapat kata-kata lain yang lahir darinya. 

"Teman." 

"Sahabat." 

"Kerabat." 

"Pasangan." 

Segala sesuatu yang membuat seseorang percaya bahwa dirinya tidak pernah benar-benar sendirian. Seluruh makhluk hidup, dengan caranya masing-masing, pernah berharap untuk memiliki harmoni tersebut. Namun, bagaimana jika seseorang menghancurkan semuanya...? 

Tidak dengan kebencian.

Sebab ia bahkan masih belum mengerti apa arti dari kata "benci." 

Ketika seorang bayi perempuan baru saja membuka matanya untuk pertama kali. Ia belum mampu berjalan, belum mampu berbicara, belum mampu memahami dunia. Tangisnya hanyalah tangisan seorang anak yang mencari pelukan ibunya, namun pada saat kedua tangannya bergerak... 

Musim dingin tiba-tiba datang. Tidak dengan salju yang turun secara perlahan, tidak dengan embun yang menghiasi dedaunan. Tetapi dengan dingin yang membekukan kehidupan itu sendiri. Dalam sekejap... Seluruh istana berubah menjadi monumen es. Denyut kehidupan terhenti sebelum sempat menyadari bahwa akhir telah datang.

Ayahnya... 

Ibunya...

Para pelayan... 

Para ksatria... 

Seluruh kehidupan yang berada di dalam istana itu berhenti pada saat yang sama. Hanya karena seorang bayi yang baru lahir... Seorang bayi yang bahkan belum mengetahui bagaimana cara berbicara.

Sejak hari itu... 

Ia tidak lagi dikenal sebagai seorang putri. Tidak pula sebagai seorang anak. Sebagian menyebutnya sebagai pertanda bencana. Sebagian menyebutnya sebagai kutukan yang menjelma manusia. Dan sebagian lagi, masih melihat seorang gadis kecil yang terus menangis di tengah kerajaan yang membeku.

Pada akhirnya. Orang pertama yang direnggut oleh musim dingin itu, bukanlah sebuah kerajaan...

Melainkan masa kecil Clara Aldenaur sendiri... 

Tidak lama setelah kerajaan itu membeku.

Kabar mengenai sebuah negeri yang berubah menjadi lautan es menyebar ke berbagai penjuru dunia.  Banyak orang datang hanya untuk memastikan kebenarannya. Sebagian ingin memanfaatkan kekuatan yang ada di sana. Sebagian lagi hanya ingin mengetahui monster seperti apa yang mampu membekukan sebuah kerajaan dalam sekejap.

Di antara mereka, datanglah seorang penyihir kuno. Ia melangkah melewati patung-patung es yang dahulu merupakan manusia. Keheningan menyelimuti seluruh negeri, namun, di tengah kesunyian itu, ia mendengar tangisan. Tangisan dari seorang bayi... Penyihir itu segera mengikuti suara tersebut.

Di tengah aula istana yang telah membeku. Ia menemukan seorang bayi perempuan yang masih menangis di antara tubuh-tubuh yang telah menjadi es. Ia mengangkat bayi itu perlahan, pada kalung kecil yang dikenakan sang bayi, tertulis sebuah nama.

"Clara..."

Penyihir itu menatap wajah mungil tersebut cukup lama dan kemudian ia bertanya dengan suara yang nyaris menjadi bisikan.

"Clara... Izinkan aku menanyakan sesuatu kepadamu... Benarkah seorang manusia dapat menjadi dingin seperti es?"

"Atau... Mungkinkah seorang manusia menjadi jauh lebih dingin dan mematikan daripada es itu sendiri?"

Penyihir itu perlahan menggelengkan kepala, kemudian ia membuka jubahnya dan menghangatkan tubuh kecil Clara, lalu memeluknya dengan erat. 

Dan perlahan... Tangisan Clara mulai mereda, karena untuk pertama kalinya sejak ia dilahirkan, ia mendapatkan sesuatu yang seharusnya telah menjadi miliknya sejak awal.

Sebuah pelukan.


White Petal 

Clara baru mulai mempelajari sihir pada usia enam tahun, dan yang mengajari sihir tersebut merupakan seorang penyihir kuno yang telah mengangkatnya sebagai anak. 

Bagi Clara... 

Ia adalah ayahnya. 

Suatu hari, ketika sang penyihir sedang melatih Clara kecil untuk mengendalikan es, sang penyihir berkata sambil memandang hujan yang turun perlahan. 

"Clara... Tahukah kamu? Setetes hujan dapat menjadi bunga." 

Clara memiringkan kepalanya. 

"...Bunga?" 

Penyihir itu tersenyum. 

"Ya! Jika kamu membekukannya dengan kelembutan yang tepat, kristal es akan tumbuh menyerupai kelopak bunga. Es bukan hanya tentang membekukan. Es juga tentang bagaimana kamu memperlakukan suhu dengan kelembutan." 

Mata Clara langsung berbinar. Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, ia segera mengangkat kedua tangannya. 

"Aku akan mencobanya!" 

Sesaat kemudian... 

Krek.*

Seluruh wajah sang penyihir membeku. 

"..." 

Clara menatap hasil karyanya selama beberapa detik. Kemudian ia tersenyum kecil sambil berkata dengan polos. 

"...Bunganya gagal." 

Penyihir itu hanya menghela napas pelan, kemudian ia mengulurkan tangan dan mengusap kepala Clara dengan lembut. 

"Tidak apa-apa. Kamu hanya terlalu terburu-buru." 

"Es tidak selalu lahir dari kekuatan, kadang... Ia lahir dari kesabaran." 

Sejak hari itu... Clara mulai memahami bahwa sihir bukan sekadar tentang seberapa dingin ia mampu membekukan sesuatu. Melainkan seberapa lembut ia mampu menurunkan suhu tanpa merusak keindahan yang ingin ia ciptakan. 

Dan bertahun-tahun kemudian... Teknik itu dikenal dengan sebuah nama.

"White Petal"

Sihir yang tidak lagi sekadar membekukan setetes hujan menjadi bunga. Melainkan mampu menurunkan suhu sebuah wilayah dengan kelembutan yang begitu sempurna, sehingga langit, angin, dan awan perlahan ikut berubah mengikuti kehendaknya.

Dan bahkan gurun yang paling panas sekalipun... 

Dapat berubah menjadi hamparan musim dingin.


Winter's Gift 

Clara telah menginjak usia sepuluh tahun. Selama empat tahun terakhir, ia mempelajari sihir di bawah bimbingan seorang penyihir kuno yang telah mengangkatnya sebagai anak. 

Suatu hari, ketika musim dingin kembali menyelimuti pegunungan, Clara berteduh di bawah sebuah pohon sambil memikirkan sesuatu yang sangat sederhana. Ia ingin memberikan hadiah. 

Tidak dengan alasan karena ada perayaan, tidak pula dengan alasan bahwa hari itu terasa istimewa, ia hanya ingin mengucapkan terima kasih dengan caranya sendiri...

Clara menatap kedua telapak tangannya. Selama bertahun-tahun, kemampuan mengendalikan esnya telah berkembang jauh melampaui penyihir es pada umumnya. Namun untuk pertama kalinya ia tidak ingin menggunakan kekuatan itu untuk berlatih... Ia hanya ingin menciptakan sesuatu. 

Perlahan, Clara mulai membentuk kristal-kristal es dari udara di sekitarnya. Sedikit demi sedikit, ia mengukirnya dengan penuh kehati-hatian hingga tercipta sebuah artefak kecil yang seluruh bagiannya terbuat dari kristal es sebening kaca. 

Ketika matahari mulai tenggelam, artefak itu akhirnya selesai. Bagi orang lain... Benda itu mungkin hanyalah sebuah pahatan es, namun bagi Clara... Itu adalah hadiah pertama yang pernah ia buat dengan tangannya sendiri. 

Ia memeluk kotak kecil berisi artefak itu sambil tersenyum. 

"Ayah pasti akan menyukainya." 

Dengan langkah ringan, Clara bergegas pulang. 

Namun sesampainya di rumah, ia tidak menemukan sosok yang ingin ia temui. Yang ada hanyalah sebuah surat yang tergeletak rapi di atas meja, seolah sengaja ditinggalkan untuknya. Dengan senyum dan semangat yang belum sempat memudar, Clara mengambil surat itu dan mulai membacanya. Hanya untuk mendapati kalimat-kalimat yang seketika menghentikan dunianya. 

"Maafkan aku, Clara... Ada kebenaran yang selama ini tidak pernah sanggup aku katakan kepadamu."

"Aku bukanlah ayah kandungmu." 

"Aku hanyalah seseorang yang menemukanmu pada hari sebuah kerajaan membeku."  

"Jika kamu ingin mengetahui siapa dirimu sebenarnya... Datanglah ke tempat yang telah kutunjukkan."

"Saat kamu membaca surat ini, aku telah memulai perjalanan yang tidak bisa kutempuh bersamamu." 

"Selamat tinggal untuk sementara waktu, atau mungkin selamanya, Claraku tercinta..." 

Clara membaca surat itu sekali lagi. Sekali. Dua kali. Tiga kali. 

Seolah-olah setiap kali ia mengulanginya, isi surat itu akan berubah, namun kata-katanya tetap sama. Tangannya mulai bergetar, kotak kecil yang sejak tadi ia peluk perlahan terlepas dari genggamannya. Kristal es di dalamnya memantulkan cahaya senja. Namun kristal itu tidak retak, ia hanya perlahan kehilangan bentuknya... Mencair bersama kehangatan yang selama ini ia sebut sebagai rumah. Kenangannya ketika ia memasak bersama ayahnya, menyanyikan lagu, mendengar dongeng penghantar tidur...

"Ayah..." 

"Ini... bohong, kan?" 

Suaranya begitu lirih. Seolah-olah ia sendiri takut mendengar jawabannya.

Kemudian tanpa berpikir panjang, Clara berlari sekuat tenaga. Ia melewati jalan yang telah ribuan kali ia lalui, melewati pepohonan yang dahulu menjadi tempat mereka berlatih, melewati hamparan salju tempat mereka pernah mengubah tetesan hujan menjadi bunga, di dalam benaknya hanya ada satu harapan. Bahwa ketika ia tiba... Pria yang selama sepuluh tahun ia panggil sebagai ayah masih akan berdiri di sana. Menunggunya...

Namun ketika ia akhirnya sampai... Yang menyambutnya hanyalah patung-patung es, wajah-wajah yang tidak pernah ia kenal. Dalam diam, hatinya dipenuhi pertanyaan yang bahkan tidak sanggup ia ucapkan. 

"Apakah salah satu dari mereka adalah ayahku?"

"Apakah yang itu ibuku?"

"Aku tidak mengenal mereka... tetapi mengapa mereka semua membeku?"

Perlahan, Clara mengulurkan tangannya. Ia menyentuh permukaan es itu. 

Dingin. 

Hampir sama dengan hawa yang selalu lahir dari sihirnya sendiri. 

Tidak jauh dari sana, sekelompok orang sedang mengumpulkan sisa-sisa energi sihir yang masih tertinggal sejak bencana yang terjadi bertahun-tahun lalu. Ketika mereka melihat Clara, salah seorang di antara mereka segera menghampirinya. 

"Pergi dari sini, nak." 

"Tempat ini bukan taman bermain untuk anak kecil sepertimu." 

Clara tidak menjawab. Air mata perlahan mengalir di pipinya, namun sebelum sempat jatuh ke tanah... Air mata itu telah membeku, mereka tidak menyadari bahwa gadis kecil di hadapan mereka sedang menangis. 

Dengan nada yang mulai mengeras, salah seorang dari mereka kembali berkata, 

"Nak... pergilah sebelum kamu ikut membeku." 

Namun, Clara masih terdiam seolah tidak pernah menganggap bahwa mereka ada.

"Apa kau tuli?! Aku bilang pergi dari sini!"

Clara, kemudian bertanya kepada mereka.

"Apakah... Ada yang masih hidup... Disini?"

Orang-orang itu dengan spontan menjawab.

"Tidak, mereka semua telah mati. Setelah tahu itu maka pergilah."

Clara menundukkan kepalanya. 

"Huft... Orang-orang masih menyalahkan bayi itu. Kalau aku jadi dia... Aku mungkin berharap bahwa aku tidak pernah dilahirkan."

"Benar... Jika bukan karena bayi itu, kerajaan ini mungkin masih megah seperti dulu." 

Mendengar kata-kata itu, Clara seolah sadar bahwa mereka sedang membicarakan dirinya, untuk pertama kalinya... Ia mulai bertanya kepada dirinya sendiri. 

"Apakah benar... Aku seharusnya tidak pernah dilahirkan?"

Mendengar kalimat itu, orang-orang yang mengusir dan membentaknya mulai terdiam. Dengan sedikit gemetar, Clara perlahan mengangkat tangannya, seolah-olah bahkan dirinya sendiri belum yakin dengan apa yang akan ia lakukan. Sebuah kristal es kecil melesat menembus tubuh mereka. 

Sesaat kemudian... Mereka menjerit, kristal-kristal es yang tumbuh di dalam tubuh mereka berkembang seketika, terus berkembang dari dalam, hingga tubuh mereka hancur menjadi kepingan-kepingan yang berkilauan di atas hamparan salju. 

Untuk pertama kalinya... Clara menggunakan sihirnya untuk menghancurkan seseorang. 

Betapa ironisnya. 

Kemampuan yang lahir dari keinginan sederhana untuk memberikan hadiah... Justru menjadi hadiah terakhir yang ia berikan kepada dunia pada hari itu. Sejak saat itulah... Kemampuan tersebut dikenal dengan sebuah nama.

"Winter's Gift."


Ice Demon

Terdapat sebuah legenda yang lahir dari ketakutan yang diwariskan turun-temurun. Legenda itu bermula dari satu-satunya orang yang berhasil selamat dari pembantaian pertama yang dilakukan Clara.

Dengan tubuh gemetar dan wajah yang dipenuhi ketakutan, ia terus mengulang kalimat yang sama.

"Iblis es..."

"Iblis yang membekukan kerajaan itu masih hidup."

"Dia membunuh seluruh kelompok kami..."

Sejak hari itu, setiap kali musim dingin datang...

Tidak ada seorang pun yang berani keluar rumah. Jendela-jendela dikunci rapat, perapian dinyalakan sejak matahari belum tenggelam, para penjaga berpatroli sepanjang malam, anak-anak bahkan dilarang mendekati pintu ataupun jendela.

Mereka percaya bahwa selama salju masih turun... Sang Iblis Es mungkin sedang mengawasi dari balik badai.

Namun... Seluruh ketakutan itu hanyalah bayangan yang mereka ciptakan sendiri. Sebab sejak tragedi di kerajaan itu, tidak pernah terdengar lagi terjadi pembunuhan yang dilakukan oleh Clara.

Tidak ada desa yang dibekukan, tidak ada kerajaan yang dihancurkan, tidak ada siapa pun yang benar-benar melihat sosok yang mereka sebut sebagai "Iblis Es." Sementara dunia terus hidup di dalam rasa takut.

Clara justru bersembunyi di tempat-tempat yang tak pernah didatangi siapa pun. Di dalam gua yang sunyi, di tengah pegunungan yang selalu diselimuti salju. Sendirian...

Sering kali ia hanya memeluk kedua lututnya sambil mencoba mengingat satu-satunya kehangatan yang pernah ia miliki. Pelukan... Pelukan dari seseorang yang ia panggil sebagai ayah.

"Iblis es...?"

Suara Clara terdengar lirih. Nyaris tenggelam bersama hembusan angin musim dingin.

"Setega itukah mereka memanggilku seperti itu?"

Sejak saat itu, ia mengambil sebuah keputusan. Jika musim dingin adalah alasan semua orang menjauh darinya, maka ia akan belajar menjadi musim semi. 

Jika es membuat semua orang ketakutan, maka ia akan menguasai api. Jika salju membuat orang mengingat tragedi, maka ia akan memanggil angin, hujan, tanah, dan petir. Apa pun... Asalkan dunia berhenti memandangnya sebagai Iblis Es.

Hari demi hari, tahun demi tahun, ia terus berlatih. Tidak dengan niat untuk menjadi penyihir yang lebih hebat.

Ia hanya berharap... Jika suatu hari seseorang melihat api di tangannya, atau angin yang berputar di sekelilingnya. Mereka akan melupakan es yang selama ini menjadi alasan mereka membencinya. Mereka tidak akan lagi melihat seorang anak yang membekukan kerajaan.

Mereka hanya akan melihat.

Clara...

Karena jauh di dalam lubuk hati kecilnya...

Masih hidup seorang gadis kecil...

Yang hanya ingin dipandang sebagai manusia biasa.


Summer Season

Ketika dunia perlahan mulai melupakan legenda tentang Sang Iblis Es... Clara akhirnya memberanikan diri untuk kembali hidup di tengah masyarakat. Ia meninggalkan pegunungan bersalju yang selama ini menjadi tempat persembunyiannya, meninggalkan musim dingin. Dan memulai perjalanan menuju Veridian Vale. Negeri yang dikenal sebagai pusat akademi sihir unsur alam terbesar di dunia.

Di sanalah... Untuk pertama kalinya... Clara mencoba menjalani hidup sebagai orang biasa, memulai kehidupan yang benar-benar baru.

Tidak membutuhkan waktu lama sebelum namanya mulai dikenal. Karena bakatnya yang nyaris tidak masuk akal dalam menguasai berbagai unsur.

Clara tidak pernah membuang ajaran yang pernah diberikan oleh sosok yang ia panggil sebagai ayah. Bahkan ketika ia memilih meninggalkan sihir es, cara berpikir yang diajarkan pria itu tetap hidup di dalam setiap sihir yang ia gunakan. 

"Es bukan hanya tentang membekukan. Es juga tentang bagaimana kamu memperlakukan suhu dengan kelembutan."

Dengan metode yang pernah diajarkan oleh ayahnya.

Api yang ia kendalikan mampu melelehkan benteng baja, petir yang ia ciptakan melesat lebih cepat daripada mata yang mampu mengikutinya, angin membawanya menembus langit, tanah berubah menjadi benteng yang kokoh atas kehendaknya. Air, tumbuhan, cahaya, kegelapan... Satu demi satu unsur berhasil ia kuasai.

Sehingga dirinya dipanggil sebagai seorang gadis berbakat yang ramah dan rendah hati. 

Namun... Setiap kali ujian sihir es diadakan. Clara selalu mengundurkan diri.

"Aku tidak bisa menggunakan sihir es."

Begitulah jawaban yang selalu ia berikan.

Mereka hanya mengangguk dan melanjutkan kegiatan seperti biasa. Hari demi hari berlalu. Clara mulai memiliki teman, mereka belajar bersama, tertawa bersama, berdebat mengenai sihir, menghabiskan waktu seperti remaja pada umumnya. 

Perlahan... Ia mulai merasakan sesuatu yang selama ini hilang dari hidupnya. 

"Kehangatan..."

Akan tetapi, tubuh jauh lebih jujur daripada kata-kata. Setiap kali ia berada dalam bahaya, setiap kali pikirannya dipenuhi tekanan, setiap kali nalurinya bergerak lebih cepat daripada kesadarannya...

Tangannya selalu menciptakan kristal es. Tidak pernah api, tidak pernah petir, tidak pernah angin. Selalu Es. Karena itulah bahasa pertama yang dipahami oleh tubuh Clara. Awalnya hanya sekali, kemudian dua kali, lalu tiga kali.

Hingga suatu hari... Tidak ada lagi yang dapat menganggap semuanya sebagai kebetulan. Teman-temannya akhirnya melihat sendiri sihir es Clara. Mereka terdiam. 

Clara juga terdiam...

Ia menunggu.

Menunggu tatapan takut yang selama ini selalu ia kenal. Seseorang kembali memanggilnya...

"Iblis Es."

Di dalam hatinya, satu pertanyaan terus berulang. 

"Mengapa... Mengapa aku selalu kembali kepada es? Padahal selama bertahun-tahun... Aku terus berusaha melupakannya..."

Namun... Yang ia dengar justru berbeda.

Mereka menatap hamparan kristal es yang begitu indah hingga menyerupai karya seni.

"Clara... kenapa selama ini kamu menyembunyikannya? Sihir esmu luar biasa."

"Kalau kemampuan seperti itu kamu tunjukkan saat ujian..."

"Kamu pasti menjadi salah satu murid terbaik akademi."

Tidak ada tatapan takut, tidak ada wajah yang membencinya, tidak ada seorang pun yang memanggilnya sebagai "Iblis Es."

Ia masih belum sanggup menceritakan alasan sebenarnya. Tetapi, untuk pertama kalinya, Clara akhirnya mengerti bahwa yang selama ini ia takuti. Bukanlah sihir esnya. Melainkan kenangan yang selalu ia bawa bersamanya. Clara tersenyum tipis sambil menggelengkan kepala, karena selama bertahun-tahun, Clara selalu berpikir bahwa agar ia bisa diterima, ia harus meninggalkan musim dinginnya. 

Namun ternyata... Yang ia butuhkan bukanlah menjadi musim semi, melainkan menemukan seseorang yang bersedia tetap tinggal, bahkan ketika musim dingin telah datang. Dan untuk pertama kalinya... 

Clara tidak lagi takut untuk menyebut dirinya sendiri.


Absolute Zero

Ketika lawannya berbicara.

"Kau masih saja menggunakan Es, apa hanya itu kemampuan yang mampu kamu gunakan?"

Jika Clara yang dulu... Mungkin ia akan berusaha menggunakan unsur alam lainnya. Namun sekarang, ia hanya tersenyum.

"Aku tidak akan menyangkal perkataanmu."

"Ini adalah musim dinginku, ini adalah esku dan ini adalah bagian diriku." 

Absolute Zero...

Clara mampu memanipulasi suhu dan energi termal dalam skala ekstrim. Ia dapat mengubah suatu wilayah yang sebelumnya memiliki suhu yang sangat tinggi menjadi wilayah yang mengalami pembekuan ekstrim dalam waktu kurang dari satu detik.

Namun, kemampuan tersebut tidak berarti bahwa Clara menciptakan es tanpa batas atau mengabaikan hukum sebab akibat. Semakin luas wilayah yang ingin ia ubah dan semakin besar perbedaan kondisi termalnya, semakin besar pula energi, konsentrasi, dan penguasaan yang dibutuhkan.

Dalam konteks Foundation of Elemental, kemampuan ini memungkinkan Clara mengurangi energi termal suatu target hingga menyebabkan gerakan partikel dan proses fisik di dalamnya mengalami perlambatan yang drastis.

Bahkan ia mampu memengaruhi fenomena yang biasanya di anggap berada di luar pemahaman sederhana mengenai es.

Ia dapat membekukan suatu jiwa, memengaruhi aktivitas spiritualnya melalui pembekuan, membekukan pikiran, menghambat proses mental dan aktivitas yang memungkinkan pikiran tersebut bekerja, membekukan ruang, memengaruhi kondisi unsur alam yang memungkinkan perubahan dan pergerakan suatu wilayah tertentu.

Dan dalam kondisi ekstrim, Clara mampu memengaruhi aliran waktu secara lokal melalui prinsip pembekuan. Dengan memperlambat proses yang terjadi dalam suatu wilayah hingga hampir tidak mengalami perubahan.

Tetapi ia tidak memiliki semua prinsip itu... Karena yang ia miliki hanyalah menguasai prinsip pembekuan sedemikian dalam sehingga berbagai hal yang berbeda dapat dipengaruhi melalui prinsip tersebut.

Clara tidak pernah menguasai banyak fondasi, ia hanya memiliki satu. 

Foundation of Elemental. 

Namun selama puluhan tahun... Ia terus bertanya pada dirinya sendiri. 

"Seberapa jauh sebuah musim dingin dapat mencapai?" 

Dan pada akhirnya. Jawabannya bukanlah membekukan dunia. Melainkan memahami bahwa satu prinsip yang dipelajari hingga batas terdalam. Dapat menyentuh segala sesuatu, karena Clara tidak pernah menjadi penyihir yang menguasai semua unsur. 

Ia hanyalah seorang gadis... 

Yang memahami arti dari es lebih dalam daripada siapa pun.


Fatum Branch Record

Catatan Rekaman Percabangan Fatum.*

Setiap rekaman Fatum memiliki jalurnya masing-masing, dan setiap jalur melahirkan takdir yang berbeda.

Dengan kata lain, setiap percabangan Fatum memperlihatkan berbagai kemungkinan yang dapat dijalani oleh Clara, mulai dari potensi tertinggi yang mampu ia capai, hingga takdir paling kelam yang mungkin menantinya.


Main Fatum Branch/Fatum Branch A

Percabangan takdir utama yang benar-benar dijalani Clara.

Seorang gadis yang kehilangan keluarganya sejak dilahirkan. Ia kemudian diadopsi oleh seorang penyihir kuno yang membesarkannya, sebelum akhirnya kembali ditinggalkan.

Inilah percabangan takdir ketika Clara hidup dalam ketakutan terhadap sihir esnya sendiri, hingga pada akhirnya ia menerima bahwa es bukanlah kutukan, melainkan bagian dari dirinya.


Fatum Branch B

Percabangan takdir ketika Clara memilih jalan kegelapan setelah membunuh sekelompok orang asing yang menghina dan membentaknya. Di dalam jalur ini, ia sepenuhnya menerima identitasnya sebagai "Iblis Es."

"Jika dunia menganggapku sebagai iblis... maka aku akan menjadi iblis itu sendiri."

Kekuatannya bukan lagi tentang ketenangan dan presisi... Melainkan tentang amarah dan daya hancur.

Pada percabangan ini, Clara mencapai salah satu puncak kekuatan tertinggi yang pernah ia raih.

Ia membekukan seluruh permukaan Bumi, bahkan hingga membekukan Kesembilan Hukum yang menopang dunia dan membeku bersamanya. Tidak ada lagi yang tersisa selain kebekuan yang abadi.

Ia menjadi personifikasi dari sebuah era yang dikenal sebagai "Zaman Es."


Fatum Branch C

Percabangan takdir ketika sang penyihir tidak pernah datang menemukannya.

Clara mati membeku bersama kedua orang tuanya, tanpa pernah merasakan kehangatan yang selama ini hanya menjadi impiannya.


Fatum Branch D

Percabangan takdir ketika Clara, yang masih bayi, tidak pernah melepaskan kekuatan esnya hingga membekukan seluruh kerajaan.

Dalam jalur ini, ia tumbuh sebagai seorang putri bangsawan dari Kerajaan Es, hidup bahagia bersama kedua orang tuanya. Seiring berjalannya waktu, ia bahkan dipersiapkan untuk menikah dengan seseorang yang kelak menjadi calon suaminya.

Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Kerajaan Es diserang oleh satu makhluk dari negeri lain yang datang untuk membumihanguskan seluruh kerajaan.

Alasannya hanya satu.

Karena kerajaan tersebut, menyebut ia sebagai "Monster."


Fatum Branch E...

Fatum Branch F....

Fatum Branch G....

Fatum Branch, dan seterusnya...

Masih terdapat percabangan-percabangan lain yang belum pernah diceritakan oleh Buku Kelima.


Book Five Identification

Informasi berikut berasal dari Buku Kelima*

Di berbagai kisah yang berbeda, sosok ini paling sering digambarkan sebagai seorang gadis yang melambangkan musim dingin, es, dan penurunan suhu termal.

Nama: Clara Aldenaur.

Namun, setiap kisah memiliki kebebasan untuk menceritakan dirinya dengan nama yang berbeda. "Clara Aldenaur" hanyalah identitas yang paling sering muncul di antara berbagai kisah.

Julukan: Ice Demon, Frozen Age, Permafrost, The Ice Saint, The Endless Cold, The Walking Calamity. Dan masih banyak lagi.

Foundation: Foundation of Elemental.

Meskipun demikian, Foundation yang dimilikinya tidaklah mutlak dan dapat berbeda pada setiap kisah.

Penampilan: Dalam sebagian besar kisah, ia digambarkan sebagai seorang gadis berambut biru.

Namun, terdapat kisah-kisah lain yang menceritakan dirinya sebagai seorang raja, bangsawan laki-laki, rakyat biasa, bahkan sosok yang bukan manusia sama sekali. Beberapa kisah menggambarkannya sebagai sesosok dewi, sementara kisah lainnya mengisahkannya sebagai sebuah entitas konseptual.

Asal: Sebagian besar kisah menceritakan bahwa ia berasal dari sebuah kerajaan.

Akan tetapi, tidak semua kisah mengikuti asal-usul tersebut. Ada kisah yang menggambarkannya sebagai rakyat biasa, ada yang tidak pernah mengenal sebuah kerajaan, dan ada pula yang menceritakannya sebagai sosok dewi yang mengawasi semesta sejak awal keberadaan.


Book Five Archive

Canon A

Fatal Verse Legacy

Clara digambarkan sebagai seorang penyihir es yang mampu menciptakan kristal-kristal es, sebelum akhirnya mengakhiri hidupnya sebagai penyihir es.

Ia berasal dari sebuah kerajaan yang tidak diketahui asal-usulnya dan menjalani kehidupan yang sederhana layaknya penyihir pada umumnya.


Canon B

Fatal Verse: Something Wrong

Sebuah kisah yang menggambarkan Clara Aldenaur sebagai penyihir api.

Berbeda dari kebanyakan interpretasi, Clara dalam kisah ini memiliki sifat pemarah, agresif, dan destruktif.


Canon C

Fatal Verse: Permafrost

Clara Aldenaur menjadi salah satu Ascendant Veracity & Atrocity.

Ia kemudian mencapai kedudukan sebagai otoritas tertinggi atas konsep pembekuan, penyejukan, dan penurunan termal.

Pada kisah ini, ia berada pada tingkat asimilasi dasar, yaitu Assimilation of Existential.


Canon D

Fatal Verse: Kill da Street

Sebuah kisah bergaya beat 'em up dan run and gun.

Clara digambarkan sebagai seorang wanita berambut biru yang mengenakan perlengkapan kombat, dengan senapan laras panjang sebagai senjata utamanya.

Ia memiliki spesialisasi unik yang mampu memperlambat pergerakan target setiap kali membidiknya.


Canon E

University Fatale

Dalam kisah ini, Clara tidak lagi digambarkan sebagai penyihir es.

Sebaliknya, ia merupakan seorang siswi yang dikenal pendiam, pemalu, sedikit dingin, dan gemar menghabiskan waktunya untuk membaca buku.


Canon F...

Canon G...

Dan masih banyak Canon lainnya...


Catatan Buku Kelima*

Ini bukanlah sebuah inkonsistensi...

Seluruh Canon yang menggambarkan Clara tidak saling membatalkan, melainkan berdiri sebagai interpretasi yang sama-sama sah terhadap identitas yang sama.

Setiap kisah mempertahankan pemahamannya sendiri mengenai Clara, termasuk asal-usul, wujud, sifat, kemampuan, maupun kedudukannya.

Oleh karena itu, tidak ada satu pun interpretasi yang dapat ditetapkan sebagai identitas yang mutlak, selama kisah tersebut masih merujuk kepada sosok yang sama. Yaitu Clara.

Clara Desc

Posted by : desthabikinfanart
Date :Minggu, 19 Juli 2026
With 0komentar

Exynone Desc

| Rabu, 08 Juli 2026
Baca selengkapnya »

Exynone, The Forgotten, Forever to Be Forgotten. 

Dikatakan kepada suatu makhluk, "Pernahkah engkau memikirkan tentang kehampaan?" Ia menjawab bahwa kehampaan adalah ketiadaan. Sebuah ruang yang tidak memiliki cahaya, waktu, kehidupan, maupun keberadaan. 

Sebagian menyebutnya sebagai Abad Kekosongan, sebuah masa yang dipercaya telah ada sebelum penciptaan pertama kali berlangsung. Atau, dalam istilah yang lebih dikenal oleh makhluk fana, suatu keadaan sebelum Big Bang, ketika penciptaan belum benar-benar terjadi. 

Namun... Jika bahkan kehampaan masih dapat dipahami sebagai tidak adanya sesuatu, bukankah itu berarti kehampaan sendiri masih memiliki makna? Masih memiliki identitas. Masih memiliki cara untuk dijelaskan. 

Lalu, apakah yang berada sebelum seseorang bahkan mampu memikirkan tentang kehampaan itu sendiri? Bukan sebelum waktu. Bukan sebelum ruang. Bukan sebelum penciptaan. Melainkan sebelum segala kemungkinan untuk menyebut sesuatu sebagai "ada" maupun "tidak ada" pernah memiliki arti. 

Di sanalah nama Exynone mulai disebut. 

Atau mungkin... 

Tidak pernah benar-benar disebut. 

Terdapat suatu pemahaman mengenai sesuatu yang bahkan tidak pernah benar-benar dapat disebut sebagai sesuatu. Seorang peneliti mempertanyakan satu hal yang tampak sederhana. 

Mengapa sesuatu dapat disebut sebagai tidak ada? 

Dengan mengenakan setelan astronominya, ia mendaki langit, melintasi realitas demi realitas yang tersusun pada setiap lapisan. Ia mencari sebuah jawaban yang bahkan belum pernah terpikirkan oleh siapa pun. Di setiap realitas yang ia singgahi, ia menemukan kebenaran yang berbeda mengenai kehampaan.

Ada yang berkata bahwa kehampaan adalah makhluk hidup yang melampaui ruang dan waktu, menelan segala sesuatu hingga tidak lagi dapat dipahami. 

Ada pula yang berkata bahwa kehampaan sama sekali tidak dapat disebut sebagai ada, sebab sejak awal ia memang tidak pernah memiliki keberadaan. 

Setiap upaya untuk memahaminya hanyalah jalan menuju kegagalan. Realitas demi realitas terus memperlihatkan penafsiran yang berbeda. Kebenaran demi kebenaran terus menawarkan jawaban yang saling bertentangan. Namun tidak satu pun mampu membenarkan dirinya sebagai kebenaran yang mutlak. Hingga, pada penghujung pencariannya, ia menemukan satu pernyataan yang berbeda dari semuanya. Pernyataan itu tidak berusaha menjelaskan apakah sesuatu itu ada. Tidak pula mencoba membuktikan bahwa sesuatu itu tidak ada. 

Ia hanya berkata, "Tidak pernah ada bukti bahwa sesuatu itu memiliki eksistensi." 

Dan untuk pertama kalinya... Sang peneliti menyadari bahwa mungkin bukan jawaban yang gagal ditemukan. Melainkan pertanyaannya yang sejak awal tidak pernah dapat diajukan. 

"Exynone" 

Pernahkah anda memikirkan hal yang sama seperti sang peneliti itu? 

Jika memang iya, maka anda seperti sedang bertanya. "Di manakah ujung dari sebuah lingkaran?" Bagaimana mungkin seseorang mencari asal dari sesuatu yang bahkan tidak pernah memenuhi syarat untuk memiliki asal?


The First Denial 

Di salah satu kerajaan, hiduplah seorang dewa yang dikenal sebagai penguasa kehampaan. Ia telah mengasimilasi konsepsi tentang kehampaan itu sendiri. Baginya, segala bentuk ketiadaan merupakan bagian dari dirinya. 

Banyak korban The Eldritch yang melebur menjadi kehampaan yang ia kuasai. Melalui kekuatan itu, ia mampu menghapus keberadaan yang bahkan melampaui dimensi tempatnya berpijak. 

Hingga pada suatu saat... 

Sesuatu berdiri di hadapannya. Sesuatu yang bahkan tidak dapat disebut sebagai keberadaan. Sang dewa mengira bahwa sosok itu hanyalah salah satu monster Eldritch yang belum pernah ia temui. Maka ia mencoba mengasimilasinya. 

Namun tidak ada satu pun rujukan yang dapat menjadikan sosok itu sebagai bagian dari kehampaan. 

Ia mencoba menghapusnya. 

Tidak terjadi apa pun. 

Ia bahkan mencoba menghapus kehampaan itu sendiri. 

Tetap tidak terjadi apa pun. 

Barulah ia menyadari... Bahwa seluruh kekuatannya selalu bergantung pada satu hal. Sesuatu yang masih dapat disebut sebagai kehampaan. Sedangkan sosok di hadapannya. Bahkan tidak pernah memenuhi syarat untuk disebut demikian. 

Sosok itu hanya tersenyum. 

Sesaat kemudian... 

Tidak pernah ada kisah yang menceritakan sang dewa. Tidak pernah ada ingatan yang mengenalnya. Tidak pernah ada sejarah yang membuktikan bahwa ia pernah ada. Seolah-olah seluruh keberadaannya runtuh bersama satu kesalahan yang baru saja ia sadari. 

Sesaat sebelum namanya menghilang dari seluruh kisah... 

Sebuah pemahaman yang bahkan tidak pernah dapat dipastikan berasal dari mana seolah melintas. 

"Jika engkau adalah otoritas dari kehampaan... Maka kembalilah kepada apa yang selama ini engkau sebut sebagai kehampaan." 


The Unreachable Reference 

Terdapat suatu makhluk yang tidak diketahui darimana ia berasal. Banyak yang meyakini bahwa setiap bentuk ketidakteraturan bukanlah sesuatu yang muncul, melainkan sesuatu yang selalu berasal darinya. 

Sebagian mempercayai bahwa ia berasal dari salah satu alasan dari Tower of Harmony namun tidak pernah disebutkan namanya. 

Sebagian menyebut asalnya sebagai Axiomatic Disorientation Plane. Sebuah ranah di mana bahkan aksioma kehilangan alasan untuk tetap disebut sebagai aksioma. 

Sebagian menggambarkannya sebagai seekor lintah raksasa yang melahap eksistensi maupun ketiadaan. Sebagian lainnya berkata bahwa tidak pernah ada wujud yang benar-benar dapat menggambarkannya.

"Ketika wujud yang diyakini lintah itu menghendaki sesuatu, maka keabadian terhadap sesuatu tersebut dalam bentuk apapun akan menghilang." 

"Dari dimensi manakah sesuatu yang disebut lintah itu berasal? Atau... Apakah lintah itu masih dapat disebut sebagai sesuatu yang dapat ditampung oleh sebuah dimensi?" 

Lintah itu bukanlah makhluk Eldritch, bukan dewa, tapi jauh dalam pengertian kategori Tower of Harmony... 

Begitu ia bertemu dengan sesuatu itu yang disebut sebagai Exynone. Satu kehendak cukup baginya untuk menjadikan keberadaan dan ketiadaan sebagai santapan yang sama. 

Namun... Tidak ada sesuatu yang dapat dijadikan sebagai awal dari kehendak itu. 

Untuk pertamakalinya... 

Ia tidak menemukan sesuatu yang dapat dijadikan sebagai "ada". Namun ia juga tidak menemukan sesuatu yang dapat dijadikan sebagai "tiada". Keberadaannya sendiri masih tidak memiliki bukti apakah ia pernah ada. Ataupun ia tidak ada. 

Dalam bentuk keabstrakan seperti itu, lintah itu menegaskan bahwa ia, mampu melahap segala eksistensi. Namun, ia tidak mengetahui tentang sesuatu yang sedang berdiri dihadapannya. 

"Rujukan apakah yang mampu menunjuk sesuatu yang bahkan tidak pernah memenuhi syarat untuk dirujuk?" 

Ia mencari sesuatu yang dapat dijadikan sebagai eksistensi. Tidak menemukannya. 

Ia mencari sesuatu yang dapat dijadikan sebagai ketiadaan. Tetap tidak menemukannya. 

Kehendaknya kehilangan sesuatu untuk dijadikan tujuan. Sebab keduanya masih merupakan sesuatu yang dapat dipahami. Sedangkan setiap upaya untuk menjelaskan Exynone selalu berakhir sebelum penjelasan itu sendiri memiliki arti.


The Last Absence 

Samar-samar... Terdapat sesuatu yang tidak pernah dapat dipastikan sebagai suara. Bukan bisikan, bukan gema, bukan pula sesuatu yang dapat disebut sebagai penyampaian. Namun, sebuah pemahaman tetap hadir, tanpa diketahui dari mana ia berasal, tanpa diketahui kepada siapa ia ditujukan. 

"Ia tidak hidup di setiap realitas, ia hanya tidak pernah berani hidup pada satu realitas saja." 

"Di setiap realitas, di setiap struktur, di setiap dimensi, di setiap Fatum Branch. Pada setiap kemungkinan yang masih mampu disebut sebagai 'ada'." 

"Banyak yang percaya bahwa selama masih ada satu realitas, maka ia akan tetap hadir. Selama masih ada satu kemungkinan, maka ia tidak akan pernah benar-benar lenyap. Karena itulah banyak yang meyakini bahwa kemusnahannya adalah sesuatu yang mustahil." 

"Namun seluruh keyakinan itu bergantung pada satu hal. Bahwa masih ada kemungkinan baginya untuk hadir." 

"Lalu... bagaimana jika kemungkinan itu tidak pernah memenuhi syarat untuk disebut sebagai kemungkinan?" 

Dan pijakan yang selama ini memungkinkan entitas itu hadir pada setiap realitas tidak lagi dapat dipertahankan. Bukan karena pijakan itu dihancurkan. Bukan pula karena pijakan itu diambil. Melainkan karena seluruh alasan untuk menyebut sesuatu sebagai pijakan kehilangan maknanya. 

Sejak saat itu... 

Bukan lagi persoalan apakah ia hadir atau tidak hadir. 

Melainkan tidak pernah lagi ada cara untuk mempertahankan bahwa kehadiran itu sendiri masih memiliki tempat untuk berpijak. 

Selama suatu eksistensi masih mempertahankan dirinya melalui kehadiran pada setiap realitas atau setiap kemungkinan, maka kehadiran itu sendiri masih bertumpu pada suatu pijakan. The Last Absence adalah lenyapnya pijakan yang memungkinkan pernyataan "ia hadir" tetap memiliki makna.


The Unwritten Page 

Pernahkah engkau membayangkan... Bahwa setiap kisah yang pernah ditulis oleh manusia, mulai dari dongeng seorang anak kecil hingga mitologi yang kemudian disembah oleh para makhluk hidup... 

Bukan sekadar cerita, melainkan alasan mengapa sesuatu dapat dikenal sebagai sebuah kisah. Ini bukan tentang hiburan. Ini bukan tentang membaca. Ini adalah tentang narasi sebagai salah satu fondasi yang memungkinkan keberadaan memiliki makna. 

Terdapat seorang pria yang hidup di dalam sebuah karya yang ditulis oleh seorang wanita. Lambat laun, sang penulis jatuh cinta kepada tokoh yang ia ciptakan sendiri. Namun di atas kisah itu, terdapat sosok lain yang menuliskan mengapa wanita tersebut jatuh cinta. 

Dan di atasnya lagi, pada lapisan Buku Keenam, terdapat salah satu Al-Batlan. Ia tidak pernah memegang pena, tidak pernah menuliskan satu kata pun, ia hanya duduk, dan menutup matanya, lalu tertidur. 

Dari tidurnya... Seluruh kisah pada Buku Ketujuh mulai menuliskan dirinya sendiri. Seolah-olah sebuah tinta yang tidak pernah disentuh telah melahirkan seluruh cerita yang pernah ada. Dan dari kisah itu, makhluk fana akan melahirkan kisah-kisah, kemudian kisah yang terwujud memikirkan sebuah kisah lagi. Hingga mencapai paradox yang tak berujung. 

Setiap kata, setiap kalimat, setiap kisah, setiap dunia. Seluruhnya lahir sebagai bagian dari penulisan itu.

Namun... Bahkan sosok itu sendiri bukanlah akhir. Sebab terdapat sesuatu yang menjadi alasan mengapa narasi dapat disebut sebagai ada. Mengapa sebuah cerita dapat ditulis. Mengapa sebuah kalimat dapat dipahami. Ia tidak pernah menulis satu kisah pun. Ia tidak pernah menggerakkan satu pena pun. 

Namun selama dirinya tetap ada... Narasi selalu menemukan cara untuk menuliskan dirinya sendiri. Banyak yang percaya dan meyakini bahwa sesuatu yang terjadi, seperti peperangan dewa dan monster Eldritch, adalah ulah dari keberadaannya. 

Hingga sesuatu berdiri di hadapannya...

Tidak ada satu pun kalimat yang mampu menjadikannya sebagai subjek. Tidak ada satu pun cerita yang mampu memberinya awal. Tidak ada satu pun narasi yang mampu mempertahankan bahwa ia sedang menceritakan sesuatu. Sebab setiap narasi selalu membutuhkan satu syarat. Bahwa masih ada sesuatu yang dapat dijadikan sebagai cerita. Sedangkan sosok yang berdiri di hadapannya... Bahkan tidak pernah memenuhi syarat untuk disebut sebagai bagian dari sebuah cerita.

Maka narasi itu mulai menulis, namun setiap kalimat berakhir sebelum kalimat berikutnya memiliki arti. Setiap halaman tetap terbuka, tetapi tidak pernah ada sesuatu yang berhasil dituliskan. 

"Tulislah sesuatu yang tidak pernah dapat dipikirkan. Rujuklah sesuatu yang tidak pernah dapat dirujuk. Maknailah sesuatu yang tidak pernah memiliki syarat untuk dimaknai. Pada saat itulah engkau akan memahami mengapa seluruh tulisanmu berhenti menjadi sebuah kisah." 

Narasi kehilangan sesuatu untuk dijadikan kisah. Dan sejak saat itu... 

Tidak pernah lagi ada cara untuk mempertahankan bahwa penulisan itu sendiri masih memiliki sesuatu untuk dituliskan. 


The Final Trace 

Meski Exynone tidak pernah dapat dijelaskan melalui fondasi apa pun, terdapat satu pemahaman yang tetap bertahan di antara para makhluk transendensi. Bukan sebagai kebenaran. Bukan pula sebagai kesimpulan. Melainkan sebagai dugaan yang tidak pernah berhasil dibuktikan. 

Bahwa... Masih ada sesuatu yang menyerupai jejak, seolah-olah berasal darinya. 

Exynone tidak dapat dijangkau oleh kehampaan, tidak pula oleh rujukan, kehadiran, ataupun narasi. Namun, selama masih ada satu makhluk yang mencoba menyebut namanya... Sebagian percaya bahwa jejak terakhir itu belum benar-benar lenyap. 

Yang lain berkata bahwa jejak itu bukan milik Exynone. Melainkan milik mereka yang gagal melupakannya. 

Dan mungkin... Itulah sebabnya ia dikenal sebagai The Forgotten. 

Bukan The Never Known. 

Sebab sesuatu yang tidak pernah dikenal tidak perlu dilupakan. Sedangkan sesuatu yang dilupakan, mungkin pernah meninggalkan jejak. Atau mungkin, tidak pernah ada siapa pun yang benar-benar mengingatnya sejak awal.


Book Five Identification: 

Informasi ini berasal dari buku kelima* 

Dari setiap kisah yang berbeda, ia digambarkan sebagai sesuatu yang selalu berkaitan dengan kekosongan, ketiadaan, juga eksistensi. Tetapi dari semua itu, namanya selalu mengarah pada satu hal. Yaitu Exynone. 

Nama: Exynone 

Julukan: The Forgotten, Forever to be Forgotten. Entity 00 (Zero), The Void, Nothingness, The Unknown, The Absence Behind Nothing. 

Penampilan: Tidak ada penampilan yang pasti. Dalam kisah lain ia tidak memiliki wujud. Dalam kisah yang lain lagi, ia digambarkan sebagai pria dengan wujud sepenuhnya hitam seperti bayangan. Dalam kisah lainnya lagi ia memiliki wujud wanita. Dalam kisah yang berbeda, ia dapat digambarkan sebagai makhluk mitologi kuno. 

Asal: Dalam sebagian besar kisah, ia dikatakan berada di dalam Tower of Harmony. Pada kisah lain, ia berasal dari 0-Layer (sebuah dimensi yang memiliki kedudukan serupa dengan Archeon Aetherna dalam Fatal Verse Legacy). Sebagian kisah menggambarkannya sebagai sesuatu yang berasal dari kehampaan atau ketiadaan. Kisah lainnya menyatakan bahwa ia berasal dari luar Buku Keenam. Bahkan terdapat kisah yang menolak seluruh sistem Buku, dan menyatakan bahwa Exynone tidak pernah menjadi bagian dari struktur tersebut sejak awal.


Book Five Archive: 


Canon A 

Fatal Verse Legacy 

Kisah mengenai Al-Batlan sebagai sebuah dimensi dan Exynone dikenal sebagai Entity 00 (Zero) entitas yang membantai para dewa secara langsung. Hanya karena ia menolak bekerja sama dengan Yaon-Zi.


Canon B 

Fatal Verse The Shadow Behind All 

Terdapat suatu kisah yang tidak pernah mengenal Adonai, Alef, Ein Sof, Sith, Five Primordial, Tower of Harmony, maupun seluruh nama yang pernah disebut. Sebab sejak awal... Tidak pernah ada sesuatu selain Exynone. Karena "segalanya" tidak pernah memenuhi syarat untuk ada di dalam kisah ini. 

Maka setiap upaya untuk membandingkan Exynone adalah sesuatu yang mustahil. Sebab tidak pernah ada sesuatu selain dirinya. 


Canon C 

Fatal Verse Clash 

Sebuah kisah di mana seluruh posisi yang selama ini memisahkan keberadaan kehilangan maknanya. Buku Keenam tidak lagi mengenal tingkatan. 

Al-Batlan, Eldritch Terror, The Eldritch, Garden of Eden, Veracity & Atrocity, Kabbalah, Tower of Harmony, bahkan The Skies. Seluruhnya diperlakukan sebagai keberadaan yang setara. 

Tidak ada lagi "lebih tinggi". Tidak ada lagi "lebih rendah". Seluruhnya saling mengasimilasi hingga batas antara satu dengan lainnya tidak lagi dapat dipertahankan. Dari pengasimilasian besar-besaran itu, hanya sedikit nama yang masih dapat dikenali. 

Dan salah satunya... 

Adalah Exynone. 


Canon D 

University Fatale 

Tidak ada peperangan, tidak ada lagi pengasimilasian, tidak ada kehancuran kosmik... 

Buku Keenam, digambarkan sebagai sebuah sekolah yang damai, dimana Exynone adalah sosok murid yang selalu dilupakan di dalam pergaulan. Murid yang hampir tidak pernah diingat keberadaannya. Setiap kali daftar hadir dipanggil, namanya selalu terlewati. Setiap kali foto kelas dicetak, sosoknya tidak pernah dapat dipastikan berada di dalamnya. 

Namun ketika semua orang mencoba mengingat siapa yang terlupakan... 

Seluruh kelas menyebut nama yang sama. 

"Exynone."


Canon E 

Canon F 

Canon ect... 


Catatan Buku Kelima* 

Ini bukanlah bentuk inkonsistensi... 

Tetapi seluruh canon yang menggambarkan Exynone tidak saling membatalkan. Setiap kisah mempertahankan pemahamannya sendiri mengenai Exynone, termasuk asal, wujud, sifat, maupun kedudukannya. Karena itu, tidak ada satu pun interpretasi yang dapat ditetapkan sebagai identitas mutlak, selama kisah tersebut tetap merujuk kepada nama yang sama, yaitu Exynone.

Exynone Desc

Posted by : desthabikinfanart
Date :Rabu, 08 Juli 2026
With 0komentar

Power System Fatal Verse...

| Kamis, 02 Juli 2026
Baca selengkapnya »

The Nine Foundation


 Life 

Merupakan fondasi sihir pertama dalam The Nine Foundation yang mengatur kehidupan, pertumbuhan, adaptasi, dan vitalitas seluruh makhluk hidup. Seluruh bentuk kehidupan biologis memperoleh denyut keberadaannya melalui fondasi ini.

Melalui Life, para penyihir mampu memanipulasi aspek biologis kehidupan, seperti mempercepat regenerasi, menyembuhkan luka, mengubah struktur tubuh, hingga berevolusi menjadi bentuk kehidupan yang melampaui batas biologis normal.

Pada tingkat penguasaan tertinggi, tubuh pengguna telah mencapai bentuk adaptasi biologis yang sempurna. Sehingga setiap kerusakan fisik akan direspons oleh evolusi yang terjadi secara instan, menyebabkan serangan yang sama tidak lagi mampu melukai mereka. Semakin lama pertarungan berlangsung, semakin sulit tubuh mereka dihancurkan melalui cara-cara fisik.


Matter 

Merupakan fondasi sihir kedua dalam The Nine Foundation yang mengatur materi, struktur, massa, dan substansi fisik. Segala sesuatu yang memiliki bentuk dan dapat disentuh berdiri di atas prinsip yang dimiliki oleh fondasi ini. Seluruh benda padat, cair, gas, logam, mineral, hingga struktur fisik makhluk hidup termasuk dalam cakupan Matter.

Melalui Matter, para penyihir mampu memanipulasi struktur materi, mengubah komposisi suatu benda, membentuk berbagai objek fisik, mulai dari senjata, pelindung, hingga struktur berskala besar, meningkatkan kepadatan, mengubah suatu materi menjadi material dengan karakteristik yang berbeda, hingga merekonstruksi objek fisik sesuai keinginan mereka.

Pada tingkat penguasaan tertinggi, pengguna mampu memanipulasi materi hingga ke struktur paling mendasarnya. Tubuh mereka menjadi materi yang dapat dibentuk ulang sesuka hati, sementara mereka mampu membongkar dan menyusun ulang seluruh materi di sekitarnya hingga membentuk struktur baru sesuai kehendak mereka.


Elemental 

Merupakan fondasi sihir ketiga dalam The Nine Foundation yang mengatur fenomena alam dan berbagai manifestasi energi unsur, seperti api, air, es, petir, tanah, tumbuhan, udara, cahaya, hingga kegelapan. Seluruh gejala alam yang terjadi di dunia merupakan manifestasi dari fondasi ini.

Para penyihir yang menguasai Elemental mampu memanifestasikan dan mengendalikan berbagai unsur alam sesuai afinitas mereka. Api dapat digunakan untuk membakar, es untuk membekukan, petir untuk menghasilkan kecepatan dan daya hancur, tanah untuk membentuk benteng maupun medan tempur, sementara unsur-unsur lainnya memiliki karakteristik unik masing-masing.

Pada tingkat penguasaan tertinggi, pengguna tidak lagi terikat pada satu atau dua unsur tertentu. Tetapi seluruh elemen alam berada di bawah kendali mereka, memungkinkan berbagai fenomena unsur dimanifestasikan, dipadukan, maupun diubah sesuai keinginan, dan menjadikan seluruh gejala alam tunduk di bawah kehendak mereka.


Soul

Merupakan fondasi sihir keempat dalam The Nine Foundation yang mengatur jiwa, esensi spiritual, identitas eksistensial, serta ikatan yang melampaui tubuh fisik. Seluruh makhluk yang memiliki jiwa dan identitas spiritual memperoleh esensi eksistensialnya melalui fondasi ini.

Melalui Soul, para penyihir mampu melihat, menyentuh, memanipulasi, hingga memisahkan jiwa dari tubuh fisiknya. Mereka juga dapat membangun ikatan spiritual, berkomunikasi dengan roh, merasuki tubuh makhluk lain, memanggil arwah, maupun memengaruhi kondisi spiritual suatu individu.

Pada tingkat penguasaan tertinggi, pengguna telah mencapai kesempurnaan esensi spiritual sehingga jiwa mereka tidak lagi terikat oleh satu kehidupan. Mereka mampu mempertahankan identitasnya setelah kematian, bereinkarnasi ke dalam wadah baru, bahkan mengembalikan jiwa seseorang ke tubuhnya, selama tubuh tersebut masih utuh dan belum kehilangan fungsi biologisnya.


Mind

Merupakan fondasi sihir kelima dalam The Nine Foundation yang mengatur pikiran, ingatan, kesadaran, persepsi, serta seluruh proses mental yang membentuk intelegensi makhluk hidup. Melalui fondasi ini, setiap makhluk yang memiliki kesadaran mampu memahami, mengolah informasi, mengambil keputusan, dan membentuk kehendaknya sendiri.

Para penyihir yang menguasai Mind mampu membaca, memanipulasi, dan menghubungkan pikiran makhluk hidup, baik manusia, ras selain manusia, maupun hewan. Mereka dapat memengaruhi ingatan, emosi, persepsi, kehendak, serta proses berpikir seseorang. Selain itu, fondasi ini memungkinkan penggunanya meningkatkan kemampuan berpikir, daya analisis, dan kapasitas ingatan hingga melampaui batas alami makhluk biasa.

Pada tingkat penguasaan tertinggi, pengguna tidak lagi dibatasi oleh kemampuan mental makhluk biasa. Pikiran mereka mampu memproses, menganalisis, dan mengingat informasi dalam jumlah yang nyaris tak terbatas. Mereka bahkan dapat menjadikan kesadaran makhluk lain sebagai bagian dari jaringan pikirannya sendiri, memungkinkan setiap pikiran dalam jangkauan untuk dibaca, dipahami, hingga dipengaruhi secara bersamaan tanpa kehilangan kesadaran sedikit pun.


Space

Fondasi sihir keenam dalam The Nine Foundation yang mengatur ruang, posisi, jarak, arah, dimensi, serta hubungan geometris antar-keberadaan. Seluruh konsep mengenai lokasi, volume, dan pemisahan antarobjek berada di bawah prinsip fondasi ini.

Melalui Space, para penyihir mampu memanipulasi posisi, jarak, arah, serta hubungan antar-ruang. Mereka dapat melipat ruang untuk berpindah tempat secara instan, menciptakan portal, mengisolasi suatu area ke dalam dimensi terpisah, mengubah lintasan objek, hingga memanipulasi kelengkungan ruang yang kemudian memengaruhi gravitasi di sekitarnya.

Pada tingkat penguasaan tertinggi, ruang tidak lagi menjadi sesuatu yang mereka lalui, melainkan sesuatu yang tunduk pada kehendak mereka. Jarak kehilangan maknanya, dimensi dapat diciptakan maupun dihapus, sementara kelengkungan ruang mampu diperkuat hingga melahirkan singularitas yang menelan segala sesuatu di sekitarnya, serta mereka mampu melintasi ruang tanpa lagi terikat oleh konsep jarak, sehingga memungkinkan mereka mencapai lokasi mana pun tanpa harus melintasi ruang di antaranya.


Time 

Merupakan fondasi sihir ketujuh dalam The Nine Foundation yang mengatur waktu, aliran waktu, durasi, urutan peristiwa, usia, perubahan, serta kesinambungan sebab dan akibat. Seluruh fenomena yang berkaitan dengan perjalanan waktu berada di bawah prinsip fondasi ini..

Melalui Time, para penyihir mampu mempercepat, memperlambat, maupun menghentikan aliran waktu pada objek, makhluk hidup, maupun area tertentu. Kemampuan ini memungkinkan mereka mempercepat pertumbuhan tanaman, mempercepat proses penyembuhan alami, memperlambat gerakan lawan, atau meningkatkan kecepatan suatu objek seperti peluru hingga melampaui batas normal. Selain itu, pengguna mampu membebaskan dirinya dari pengaruh usia, membaca jejak temporal suatu objek, serta mengamati jalur waktu yang memiliki kemungkinan terbesar untuk terjadi.

Pada tingkat penguasaan tertinggi, pengguna mampu memundurkan maupun memajukan aliran waktu dalam wilayah yang berada di bawah kekuasaannya. Segala sesuatu di dalam wilayah tersebut dapat dikembalikan menuju keadaan temporal sebelumnya atau dipercepat menuju kemungkinan keadaan di masa depan. Namun, manipulasi ini tidak dapat menulis ulang sejarah dunia maupun menciptakan garis waktu baru, sebab yang mereka kendalikan bukanlah sejarah, melainkan aliran waktu yang berlangsung di dalam domain kekuasaan mereka.


Entropy

Merupakan fondasi sihir kedelapan dalam The Nine Foundation yang mengatur peluruhan, ketidakteraturan, keruntuhan, dan akhir dari seluruh keberadaan. Segala sesuatu yang memiliki awal pada akhirnya akan mengalami degradasi hingga kehilangan bentuk, fungsi, maupun kestabilannya di bawah prinsip fondasi ini.

Para penyihir yang menguasai fondasi ini, mampu mempercepat proses peluruhan, degradasi, dan keruntuhan yang secara alami dimiliki oleh segala sesuatu. Mereka dapat membuat material kehilangan kekuatannya, makhluk hidup mengalami pembusukan sebelum kematian, api kehilangan panas hingga padam, petir kehilangan energinya, es mencair tanpa menerima panas, serta memaksa berbagai fenomena maupun proses alami mencapai akhirnya jauh lebih cepat dari yang semestinya.

Pada tingkat penguasaan tertinggi, pengguna tidak lagi sekadar mempercepat peluruhan, melainkan menjadi perwujudan dari akhir itu sendiri. Segala sesuatu yang berada di dalam domain mereka akan perlahan kehilangan kestabilan, struktur, fungsi, hingga pada akhirnya eksistensinya sendiri tanpa perlu disentuh. Materi akan runtuh menjadi debu, kehidupan kehilangan vitalitasnya, energi memudar, dan berbagai fenomena akan menuju kehancurannya masing-masing, seolah-olah seluruh keberadaan sedang dipaksa mencapai akhir yang telah menantinya.


Prime

Penutup sekaligus fondasi sihir yang terakhir dalam The Nine Foundation yang menjadi asal sekaligus penghubung bagi seluruh fondasi lainnya. Berbeda dengan delapan fondasi yang masing-masing mengatur suatu prinsip tertentu, Prime tidak menguasai aspek keberadaan mana pun secara langsung. Sebaliknya, Prime menjaga keselarasan di antara seluruh fondasi sehingga masing-masing dapat berdiri sebagai satu kesatuan yang utuh.

Prime tidak dapat dipelajari, diwariskan, maupun dibangkitkan melalui latihan. Keberadaannya sepenuhnya ditentukan sejak kelahiran, bahkan sebagian besar pemiliknya tidak pernah menyadari bahwa mereka memilikinya. Mereka hanya menganggap bahwa dirinya memiliki bakat luar biasa dalam mempelajari sihir, padahal seluruh fondasi secara alami beresonansi dengan keberadaan mereka.

Melalui Prime, seluruh fondasi menjadi lebih mudah dipahami, dikuasai, dan dipadukan. Penggunanya memiliki afinitas yang hampir sempurna terhadap seluruh fondasi, memungkinkan mereka mengembangkan berbagai cabang sihir dengan kecepatan yang tidak dapat dijelaskan oleh teori sihir mana pun. Seiring waktu, mereka akan menguasai semakin banyak fondasi tanpa menyadari bahwa bakat tersebut berasal dari Prime.

Pada saat seluruh fondasi telah sepenuhnya dipahami, Prime akan memperlihatkan hakikatnya yang sesungguhnya. Pengguna tidak lagi memandang Life, Matter, Elemental, Soul, Mind, Space, Time, maupun Entropy sebagai prinsip yang terpisah, melainkan sebagai bagian dari satu kesatuan yang sama. Bagi mereka, seluruh fondasi hanyalah ekspresi berbeda dari hukum keberadaan yang identik, sehingga mereka mampu menyatukan berbagai fondasi yang sebenarnya tidak mungkin untuk disatukan.



Power System Fatal Verse...

Posted by : desthabikinfanart
Date :Kamis, 02 Juli 2026
With 0komentar

Kosmologi Fatal Verse.... UHHH Maybe revamp?

| Kamis, 18 Juni 2026
Baca selengkapnya »

 Fatal Verse Cosmology update:


BUKU KETUJUH

Sering kali kita menatap langit dan meyakini bahwa manusialah satu-satunya kehidupan yang dianugerahi tempat di tengah hamparan semesta. Namun, pernahkah terlintas dalam benakmu bahwa di balik tabir kosmos yang kita kenal, terdapat dunia-dunia lain yang tak pernah tersentuh oleh pemahaman kita? Dunia yang dihuni oleh ras-ras selain manusia, atau bahkan negeri-negeri yang begitu mirip dengan rumah yang kita tinggali, seolah menjadi pantulan dari semesta kita sendiri. 

Dan bagaimana jika, di balik tirai yang memisahkan setiap realitas, terdapat makhluk-makhluk yang memandang seluruh peradaban manusia sebagaimana kita memandang sebutir pasir yang tergeletak di tepi pantai? Makhluk-makhluk yang menyaksikan lahir dan runtuhnya peradaban sebagai sesuatu yang begitu singkat.

Sejak dahulu kala, kita percaya bahwa kegelapan hanyalah ruang kosong yang mengelilingi bintang-bintang. Padahal, mungkin kitalah yang hidup di dalamnya. Dan lebih mengerikan lagi, penghuni kegelapan itu bahkan tidak menganggap kita sebagai sesuatu yang hidup. Sebab bagi mereka, seluruh sejarah manusia tidak lebih berarti daripada seekor semut yang tidak dapat mengubah sejarah dari sebuah kerajaan.

Dengarkanlah kisahku, dan saksikanlah bersama perjalanan ini. Sebab sejak dahulu kala, terdapat sebuah pepatah yang diwariskan dari generasi ke generasi. 

"Di atas langit, masih ada langit." 

Dan mungkin, pepatah itu jauh lebih harfiah daripada yang pernah kita bayangkan.

Lapisan pertama yang mencakupi.


1. Dunia Fisik

Dunia Manusia. 

Sebuah tempat yang kita sebut rumah, tempat di mana kita dilahirkan, berjalan, tertawa, menangis, dan pada akhirnya kembali menjadi bagian dari tanah yang kita pijak. 

Di sinilah segala sesuatu yang dapat disentuh, dilihat, didengar, dan dipahami oleh akal manusia, sebuah dunia yang diatur oleh hukum-hukum yang tampak mutlak dan tak tergoyahkan.

Ketika kita memandang matahari, kita akan berkata, "Itu adalah matahari." Ketika sebuah apel dilempar ke udara, kita tahu bahwa ia akan jatuh kembali ke tanah. Bagi kita, semua itu adalah kebenaran yang begitu lumrah hingga tidak pernah terlintas untuk mempertanyakannya.

Kemudian jika aku bertanya kepadamu. "Apakah kamu memahami keseluruhan dari dunia fisik?", maka kebanyakan dari kamu akan menjawab, "Ya, kita adalah manusia, kita adalah satu-satunya yang hidup di semesta yang begitu luas."

Maka itu adalah kebenaran yang begitu sempit, sebab kamu hanya melihat setetes air dari luasnya samudra.


Dunia Lain 

Kini, izinkan aku memperkenalkan kepadamu dunia-dunia lain yang tersembunyi di balik tabir realitas. Dunia-dunia yang memiliki langitnya sendiri, sejarahnya sendiri, dan hukum-hukum yang berbeda dari dunia manusia. Dunia yang dihuni oleh ras-ras yang tidak pernah tercatat dalam buku sejarah mana pun.

Vampir, berbeda dari kita, mereka adalah makhluk yang hanya terbangun pada malam hari, kemudian tertidur pada siang hari. Mereka menjadikan darah dari ras lain seperti manusia sebagai menu utama mereka. Mereka berada satu rumah di tempat dimana manusia berada, tetapi kebanyakan dari kalian membantah bahwa mereka tidaklah nyata.

Iblis, makhluk yang namanya selalu diiringi oleh kebencian, kekacauan, dan pemberontakan. Mereka berasal dari sebuah alam asing yang dikenal sebagai "Underworld", sebuah dunia yang terpisah dari tatanan manusia. Mereka dipercaya sebagai ras yang mulia dan dihormati oleh para dewa. Namun setelah dosa yang dilakukan oleh leluhur mereka, kemuliaan itu direnggut dan digantikan oleh kutukan yang diwariskan turun-temurun, sejak saat itu, nama mereka menjadi simbol kehancuran di banyak dunia.

Naga. Makhluk purba yang telah mengarungi zaman jauh sebelum lahirnya peradaban pertama. Mereka menyaksikan kerajaan-kerajaan bangkit dan runtuh sebagaimana manusia menyaksikan pergantian musim, mereka dapat terbang dengan sayap yang membelah langit dan umur yang melampaui generasi, mereka menjadi saksi bisu perjalanan dunia. Bahkan hingga hari ini, sebagian dari kekuatan yang digunakan manusia masih berasal dari warisan yang ditinggalkan oleh ras kuno tersebut.

Kemudian masih banyak lagi ras-ras lain.

Seperti Elf makhluk suci yang tunduk kepada apa yang mereka anggap "Agung".

Roh-roh yang berbicara namun tak mampu didengar oleh telinga manusia. 

Makhluk-makhluk gaib yang keberadaannya hanya muncul dalam cerita rakyat. 

Hingga peradaban asing dari bintang-bintang yang jauh, yang oleh manusia disebut sebagai alien.

Sebagian dari kalian mungkin menertawakan semua itu, sebagian lagi mungkin menganggapnya sebagai takhayul, mitos, atau khayalan belaka. Namun ketidakpercayaan tidak pernah menjadi bukti bahwa sesuatu itu tidak ada. 

Dan sementara kalian menjalani kehidupan sehari-hari tanpa mempedulikannya. Sementara dunia-dunia itu tetap berputar, tetap hidup, dan tetap ada di balik tirai yang tidak mampu kalian lihat.


2. Alam keabadian

Aetherium 

Sebuah dimensi yang dihuni oleh para dewa, esensi dewa, para malaikat, serta roh-roh suci yang telah melangkah melampaui batas dunia fana. Mereka adalah sosok yang dipercaya, diyakini, dan diimani oleh tak terhitung banyaknya makhluk hidup di berbagai dunia. 

Sebagian menyebut mereka sebagai penjaga tatanan, sebagian lainnya memanggil mereka dengan nama yang maha kuasa. 

Mereka dipercaya sebagai alasan mengapa bintang-bintang tetap beredar di langit, mengapa hujan turun membasahi tanah yang tandus, mengapa tumbuhan tumbuh menghijau, dan mengapa api tetap menyala. 

Dari singgasana mereka yang menjulang di atas dunia fana, para dewa menatap kehidupan yang berada di bawahnya. Mereka mendengarkan doa-doa yang dipanjatkan oleh para penyembah, lalu menjawabnya sesuai dengan kehendak mereka.

Di antara mereka terdapat sosok-sosok yang mampu mengguncang fondasi dunia, meruntuhkan tatanan yang telah berdiri selama zaman yang tak terhitung, atau bahkan menjadi awal dan akhir dari semesta.

Namun, Aetherium bukanlah sebuah alam yang tunggal. Sebagaimana langit memiliki lapisan-lapisannya sendiri. Aetherium terbagi menjadi tiga tingkatan.

1. Lower Aetherium 

2. Aetherium 

3. High Aetherium


Yang pertama adalah


Lower Aetherium 

Dimensi yang membentang luas di balik langit dan bumi, menyelimuti setiap ruang yang pernah ada, setiap hukum yang pernah berlaku, serta setiap hubungan sebab dan akibat yang membentuk realitas. Melalui gema yang lahir dari Noosphere, di sinilah esensi para dewa pertama kali muncul. 

Mereka belum menjadi sosok, melainkan kemungkinan untuk menjadi sosok. Mereka belum memiliki nama, kehendak, ataupun tujuan, dan hanya menunggu bentuk yang akan menentukan siapa diri mereka kelak. 

Lower Aetherium adalah alam dari segala sesuatu yang belum selesai, sebuah wilayah yang berada di antara keberadaan dan kemungkinan. 

Di sana, stabilitas merupakan sesuatu yang asing. 

Api belum mengetahui apakah dirinya panas atau dingin, waktu belum memutuskan apakah ia akan mengalir lurus ataukah mengitari, dan ruang belum yakin apakah dirinya benar-benar ada. 

Sebab di Lower Aetherium, bahkan hukum-hukum yang menjadi fondasi realitas masih berada dalam keadaan yang belum sempurna. Segala sesuatu telah lahir, tetapi belum ada satu pun yang menentukan akan menjadi apa.


Aetherium 

Ketika sesuatu telah cukup stabil untuk dikenali, ketika sebuah kemungkinan akhirnya memilih bentuknya sendiri. Maka ia akan menjadi sosok yang dikenal sebagai dewa. 

Di sinilah para dewa dan malaikat bersemayam, mereka bukan lagi sekadar kemungkinan, melainkan otoritas yang bekerja. 

Mereka menjaga tatanan yang menopang dunia, mengatur turunnya hujan, memastikan malam tetap diselimuti oleh kegelapan dan siang tetap diterangi oleh cahaya, serta menjaga bintang-bintang dan planet-planet agar tetap berjalan pada jalurnya. 

Namun, sebagaimana segala sesuatu yang memiliki bentuk, para dewa pun tidak luput dari keruntuhan. 

Ketika nama mereka dilupakan, ketika kekuasaan mereka memudar, atau ketika keberadaan mereka tidak lagi mampu mempertahankan dirinya sendiri, mereka akan runtuh namun tidak benar-benar mati. 

Mereka akan terurai, lalu kembali kepada Lower Aetherium sebagai kemungkinan yang belum selesai, menunggu saat ketika mereka dapat dilahirkan kembali dalam wujud yang baru.


Noosphere

Dimensi yang lahir dari akumulasi seluruh pemikiran makhluk berakal. Setiap mimpi yang pernah dimimpikan, setiap legenda yang pernah diceritakan, setiap ketakutan yang pernah dirasakan, dan setiap gagasan yang belum pernah terwujud, semuanya memiliki bayangannya sendiri di Noosphere.

Di sana, pikiran bukanlah sesuatu yang abstrak. Ia memiliki bentuk, warna, suara, bahkan kehidupan. 

Ketika seseorang percaya bahwa apel akan jatuh ke atas, maka di dalam dimensi ini, hukum tersebut dapat benar-benar runtuh. Dan apel itu akan jatuh ke arah yang tidak seharusnya.

Noosphere adalah lautan dan pikiran adalah tetesan air. 

Namun sesuatu yang lahir dari Noosphere bukan sekadar tetesan yang terpisah, melainkan gelombang yang terbentuk ketika terlalu banyak pikiran berkumpul pada satu tempat. 

Tidak semua pikiran memiliki bobot yang sama. Di dalamnya terdapat hukum resonansi.

Ketika tak terhitung banyaknya makhluk hidup meyakini bahwa ada dewa yang bersemayam di balik matahari, maka keyakinan itu tidak lagi menjadi sekadar kepercayaan. Ia menjadi struktur, pola yang terus menguat hingga mampu memanggil sebuah esensi dari Lower Aetherium dan memberinya bentuk yang dapat dikenali.

Begitulah para dewa dilahirkan.

Seekor naga dapat lahir karena ia telah terlalu sering dipikirkan, ditakuti. dipuja, diceritakan, dan diwariskan. Selama triliunan pikiran melintasi zaman yang tak terhitung, gagasan itu terlalu "berat" untuk tetap menjadi sekadar ide.

Itulah mengapa seekor naga dapat menjadi makhluk yang terkuat. Sebaliknya, makhluk yang hanya pernah dibayangkan oleh satu kesadaran tunggal akan tetap lemah. Menjadi sebuah riak kecil di permukaan lautan yang nyaris tak pernah dikenali oleh arus utama Noosphere.


High Aetherium 

Di atas Aetherium, di atas Noosphere, dan di atas segala bentuk keyakinan yang pernah melahirkan para dewa, terdapat sebuah tingkatan yang jauh lebih tinggi, sebuah alam yang tidak dapat runtuh, tidak dapat dilupakan dan tidak dapat kembali. 

Inilah High Aetherium. 

Tempat para dewa, malaikat dan roh-roh suci yang telah melampaui bentuk keilahian biasa. 

Mereka tidak lagi berdiri sebagai hasil dari kepercayaan, melainkan sebagai ketetapan eksistensi itu sendiri. 

Ketika sebuah nama dipuja oleh dunia yang tak terhitung jumlahnya, ketika keberadaannya telah tertanam begitu dalam ke dalam struktur realitas, maka ia akan melampaui Aetherium dan naik menuju High Aetherium. 

Pada titik itu, keberadaannya tidak lagi ditentukan oleh fungsi, tidak lagi bergantung pada doa, tidak lagi bergantung pada keyakinan, dan tidak pula bergantung pada mereka yang mengingat namanya. 

Bahkan apabila seluruh makhluk hidup melupakan keberadaannya, ia akan tetap ada, tidak akan menghilang, tidak akan mati, dan tidak pula akan terurai kembali. 

Sebab mereka telah menjadi tetap. 

Jika para dewa dari Aetherium menjatuhkan hujan agar tetap membasahi tanah, menjaga malam agar tetap gelap, dan memastikan bintang-bintang tetap berada pada jalurnya, maka para penghuni High Aetherium berdiri jauh lebih tinggi dari itu. 

Mereka bukan penjaga hukum. 

Mereka adalah pengelola dari fondasi yang memungkinkan hukum-hukum itu ada. 

Mereka menjaga sembilan aspek yang menopang seluruh keberadaan, mengatur alirannya, serta memastikan semesta tetap berjalan sebagaimana mestinya. 

Di dalam High Aetherium bersemayam sembilan aspek yang menjadi kerangka bagi seluruh realitas. 

Life, sumber kehidupan dan perubahan biologis. 

Matter, penguasa segala bentuk materi. 

Elemental, pengendali kekuatan alam dan unsur-unsur semesta. 

Soul, penghubung antara dunia fisik dan alam spiritual. 

Mind, penguasa kesadaran, ingatan, dan pemikiran. 

Space, fondasi jarak, dimensi, dan hubungan antar tempat. 

Time, arus yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan. 

Entropy, hukum kehancuran, peluruhan, penuaan, dan kematian. 

Prime, energi murni yang menjadi bahan dasar penciptaan. 

Ketika para penghuni High Aetherium berkehendak, mereka dapat menghentikan aliran salah satu aspek dari tatanan semesta. 

Dan ketika hal itu terjadi, semesta tidak sekadar kehilangan sebuah aspek. Ia kehilangan fondasi yang memungkinkan aspek tersebut untuk tetap ada. 

Kehidupan dapat berhenti mengalir. 

Waktu dapat membeku. 

Ruang dapat runtuh. 

Dan kematian dapat lenyap dari seluruh keberadaan. 

Dari tempat inilah para dewa menghakimi roh-roh yang telah meninggalkan dunia fana. 

Menentukan siapa yang akan naik menuju Surga, siapa yang akan jatuh ke dalam api Neraka, dan siapa yang akan meninggalkan siklus fana untuk menjadi roh suci yang mendampingi mereka di alam keabadian.


3. Alam metafisik

Archeon Aeterna 

Dimensi yang melampaui ruang dan waktu, sebuah alam di mana konsep-konsep yang menopang keberadaan tidak lagi hadir sebagai hukum yang tak bernyawa, melainkan sebagai makhluk yang hidup.

Di sinilah "Kehidupan" dan "Kematian" pertama kali memperoleh bentuk. sementara "Waktu" mulai mengalir dan "Ruang" membentangkan dirinya ke segala arah.

Mereka memiliki kepribadian, kesadaran, kehendak, bahkan mimpi mereka sendiri. 

Mereka dapat berbicara, berdebat, berselisih, dan menentukan arah dari hakikat yang mereka wakili. 

Archeon Aeterna merupakan asal dari sembilan aspek yang menopang seluruh keberadaan, juga dari alam inilah Life, Matter, Elemental, Soul, Mind, Space, Time, Entropy, dan Prime pertama kali lahir.

Aspek-aspek tersebut kemudian diwariskan kepada para penghuni High Aetherium untuk dimiliki, dijaga, dan ditata sesuai dengan tatanan semesta. Dan juga dapat dipakai oleh para penyihir dari tingkat rendah hingga tingkat tinggi.

Dari tempat inilah semesta terus berkembang, tanpa henti, tanpa batas.

Ketika kehidupan berhenti mengalir, maka seluruh semesta akan mengalami pemusnahan massal. Setiap makhluk hidup akan mati pada saat yang bersamaan, dan bahkan para penghuni High Aetherium tidak akan mampu mengembalikan kehidupan yang telah hilang. 

Sebaliknya, apabila kematian berhenti mengalir, maka semesta akan mengalami kepadatan yang tak terbayangkan. Tidak ada lagi akhir bagi kehidupan, tidak ada lagi perpisahan, dan tidak ada lagi ruang bagi kelahiran yang baru. 

Dunia akan dipenuhi oleh keberadaan-keberadaan yang terus bertambah tanpa pernah dapat mati.


Eternum Soluna

Tempat di mana cahaya membuka matanya untuk pertama kali. 

Sebelum kehidupan mengenal dirinya sebagai kehidupan, sebelum kematian memahami tugasnya sebagai akhir, sebelum waktu memutuskan untuk mengalir. Bahkan sebelum Archeon Aeterna memimpikan konsep pertamanya. 

Eternum Soluna telah ada.

Di sinilah "Kehidupan" mengetahui mengapa ia harus hidup, dan "Kematian" mengetahui mengapa ia harus mengakhiri.

Di sanalah para dewa dan dewi bersemayam, jauh melampaui jangkauan pemahaman makhluk hidup. 

Mereka tidak membutuhkan doa. 

Mereka tidak membutuhkan kepercayaan.

Mereka tidak lahir dari Noosphere, tidak pula dibentuk oleh pikiran atau keyakinan siapa pun. 

Sebab merekalah ketetapan itu sendiri. 

Merekalah yang menetapkan sesuatu dapat ada.

Menetapkan adanya makhluk fana, menetapkan adanya benda mati, menetapkan adanya ruang dan waktu, menetapkan adanya hukum.

Di sanalah ditentukan kehidupan dipahami berbeda dari kematian, cahaya dikenali sebagai cahaya dan bukan kegelapan, serta keberadaan dapat dibedakan dari ketiadaan. 

Bagi seluruh tatanan yang berada di bawah Eternum Soluna, perbedaan-perbedaan tersebut merupakan fondasi yang tidak dapat diganggu gugat.

Penghuni High Aetherium menyebut mereka sebagai Aetherium Zenith, puncak dari segala yang ada. Mereka percaya bahwa Eternum Soluna adalah singgasana tertinggi, sebuah realitas yang bahkan berdiri di luar konsep yang mencoba mendefinisikannya. 

Jika Archeon Aeterna adalah sumber yang melahirkan sembilan aspek kehidupan, dan High Aetherium adalah tangan yang menata rapi tatanan tersebut, maka Eternum Soluna adalah kehendak yang dapat menulis ulang keduanya tanpa batas. 

Bahkan menentukan Archeon Aetherna untuk terus menciptakan tanpa henti.

Karena mereka percaya bahwa Archeon Aeterna, Aetherium, bahkan Noosphere berasal darinya.

Mereka percaya bahwa Eternum Soluna adalah para pemilik segalanya. 

Bahkan konsep-konsep yang lahir di Archeon Aeterna tidak pernah memahami dari mana keberadaan mereka berasal. Sebab jauh di atas mereka, terdapat Eternum Soluna. 

Tetapi tidak seorang pun mampu membuktikan keyakinan tersebut. 

Sebab tidak ada satu pun makhluk yang pernah melihat apa yang berada sebelum Eternum Soluna.

Merekalah para pengawas yang berdiri di antara keberadaan dan kehancuran. 

Kegilaan-kegilaan mengancam hukum semesta, ketika kekacauan berusaha menelan keteraturan, merekalah yang mengangkat tangan dan menahan runtuhnya segala sesuatu. 

Mereka menjaga roda penciptaan agar terus berputar. 

Mereka menjaga bintang-bintang agar tetap bernyanyi di langit. 

Mereka menjaga agar realitas tidak tenggelam. 

Di dalam Eternum Soluna, terdapat tiga dimensi yang bercabang.

1. Luminaris, dimensi yang dihuni oleh dua belas dewi Luminaris.

2. Solaris, dimensi yang dihuni oleh sebelas dewa Solaris

3. Eclipsaris, dimensi yang dihuni oleh tiga entitas Eclipsaris

Dua puluh enam penguasa agung yang menjaga keseimbangan seluruh tatanan dibawahnya.

Di dalam Noosphere, segala kemungkinan dapat lahir sebagai gagasan. 

Namun gagasan tidak pernah cukup untuk menjadi kenyataan. 

Sebab di atas segala mimpi dan keyakinan, Eternum Soluna menentukan mana yang akan memperoleh eksistensi, dan mana yang akan tetap menjadi kemungkinan yang tidak pernah terjadi.


Luminaris

Sebelum realitas mengenal kata "ada", tidak ada ketiadaan, dan tidak pula keberadaan. 

Yang ada hanyalah kemungkinan yang belum memiliki arah untuk jatuh ke dalam bentuk apa pun. 

Dari ketidakteraturan itu, terbentang sebuah struktur pertama yang tidak dapat disebut sebagai makhluk, tidak pula sebagai kehendak. Sebuah dimensi yang terlahir untuk dihuni oleh kedua belas dewi Luminaris. 

Ia adalah Luminaris, sebuah prinsip awal. 

Di dalamnya, segala sesuatu belum menjadi sesuatu, namun ia juga bukan kehampaan. 

Ia adalah kerangka awal yang menetapkan bahwa sesuatu dapat memiliki bentuk, tanpa pernah benar-benar menjadi bentuk itu sendiri. 

Tanpa kedua belas dewi Luminaris, sebuah lilin tidak dapat disebut sebagai benda, ia tidak dapat disebut sebagai cahaya, tidak dapat disebut sebagai keberadaan, ia hanyalah kemungkinan yang belum diizinkan untuk jatuh ke dalam definisi apa pun. 

Namun dengan kehadiran kedua belas dewi Luminaris, kemungkinan itu memperoleh izin untuk "mendekati ada", tanpa pernah sepenuhnya menjadi nyata. 

Ia tetap berada di ambang, di mana eksistensi belum dilahirkan, tetapi sudah dapat dibayangkan oleh struktur realitas. 

Dan dari batas itu, lahirlah prinsip kedua.


Solaris

Bukan sebagai penentu, bukan pula sebagai pemikir. 

Ia adalah hukum yang membuat kemungkinan tidak lagi dapat berdiam sebagai kemungkinan. 

Dimensi yang dihuni oleh sebelas Dewa Solaris, prinsip kedua dari ketetapan eksistensial. 

Ketika Luminaris menetapkan bahwa sesuatu dapat ada, Solaris adalah momen ketika kemungkinan itu kehilangan sifatnya sebagai "sekadar mungkin". 

Di dalamnya, tidak ada lagi ruang untuk penundaan, tidak ada penerimaan, dan tidak pula penolakan. Segala yang telah memperoleh bentuk di dalam Luminaris akan jatuh ke dalam realitas mutlak, tanpa kemampuan untuk kembali menjadi kemungkinan. 

Sebagaimana lilin itu tidak "dinyalakan", maka ia tidak pernah lagi menjadi sesuatu yang tidak menyala.

Ia tidak lagi berada dalam keadaan tidak menerangi, tidak pula dalam keadaan menolak untuk membakar. 

Ia hanya ada, dalam kepastian yang tidak lagi membutuhkan keputusan. 

Namun bahkan di antara dua hukum itu, masih terdapat celah yang tidak pernah mereka sadari. Sebuah pertanyaan yang tidak pernah benar-benar muncul. 

Apakah "menjadi" itu benar-benar diperlukan? 

Dan dari celah itu, lahir sesuatu yang tidak menentang Luminaris. Tidak pula menolak Solaris. 

Karena ia tidak berada di dalam keduanya. 

Ia adalah keduanya itu sendiri. 

Maka lahirlah prinsip ketiga.


Eclipsaris

Segala sesuatu tidak lagi dipandang sebagai "potensi" atau "kejadian", tetapi sebagai satu kesatuan yang tidak pernah terpecah. 

Tidak ada "sebelum" dan "sesudah". 

Tidak ada "telah ada" atau "belum ada". 

Hanya ada yang utuh. 

Sebuah dimensi yang dihuni oleh tiga entitas Eclipsaris. 

Yang satu melambangkan gerhana matahari.

Yang satu melambangkan gerhana bulan. 

Dan yang satu melambangkan gerhana total. 

Di dalam dimensi ini, menjadi bukanlah sesuatu yang diperlukan, begitu pula dengan pembuktian. Sebab di sana, eksistensi tidak pernah berada dalam keadaan menunggu untuk menjadi. 

Ia tidak dilahirkan. 

Ia tidak dipanggil. 

Ia tidak dipaksakan. 

Ia hanya ada, tanpa pernah melewati konsep perubahan. 

Luminaris tidak lagi dipahami sebagai pintu. 

Solaris tidak lagi dipahami sebagai gerak. 

Eclipsaris tidak melihat keduanya sebagai sesuatu yang perlu disatukan. 

Karena bagi Eclipsaris, tidak pernah ada jarak yang harus dijembatani. Tidak ada awal, tidak ada realisasi, tidak ada peristiwa. 

Hanya satu keadaan yang tidak membutuhkan saksi untuk mengakui keberadaannya sendiri. 

Bahwa segala sesuatu yang mungkin, tidak pernah benar-benar "menjadi", karena ia selalu telah berada dalam keutuhan yang tidak pernah terpecah oleh proses. 

Sebagaimana sebuah lilin tidak pernah padam, dan tidak pula pernah dinyalakan.

Ia hanya menerangi, menerangi sejak awal. 

Dan di dalam keheningan itu, Luminaris dan Solaris tidak lenyap. 

Mereka tetap ada. Namun bukan sebagai penguasa. 

Melainkan sebagai cara realitas yang lebih rendah mencoba memahami sesuatu yang tidak pernah membutuhkan pemahaman.


The Unfinished "Real"

Kondisi di mana realitas gagal mencapai status final akibat ketidaksesuaian interpretasi terhadap Eclipsaris dalam sistem Luminaris dan Solaris. 

Ia bukan kegagalan realitas, melainkan kegagalan cara realitas memahami dirinya sendiri sebagai urutan.

Ia adalah Cosmic Terror yang paling ditakuti oleh semesta, ketika konsep "sebelum" dan "sesudah" tidak lagi memiliki relevansi sebagai pembeda eksistensi. 

Di dalamnya, seorang pengembara tidak lagi dapat melangkah. 

Bukan karena ia tidak mampu berjalan. 

Bukan pula karena ia tidak memiliki tujuan. 

Tetapi karena konsep "Tujuan" telah kehilangan izin untuk eksis dalam struktur realitasnya sendiri. 

Ia tidak kehilangan jalan. 

Jalanlah yang kehilangan statusnya sebagai sesuatu yang dapat dituju. 

Dan dalam kondisi itu, Eternum Soluna tidak menganggapnya sebagai distorsi terhadap Eclipsaris.

Melainkan sebagai bukti bahwa realitas rendah tidak lagi mampu mempertahankan cara interpretasi terhadap keutuhan Eclipsaris.



BUKU KE ENAM

Ketika makhluk fana percaya bahwa dewa yang mereka sembah adalah yang tertinggi, ketika para dewa Aetherium percaya bahwa Archeon Aeterna adalah puncak dari segala yang ada, dan ketika yang tertinggi dari mereka percaya bahwa Eternum Soluna adalah singgasana terakhir yang dapat dicapai oleh keberadaan. 

Namun, Eternum Soluna sendiri tidak pernah meyakini bahwa dirinya adalah puncak. 

Sebab bahkan di antara keheningan yang menyelimuti dimensi mereka, masih terdapat sesuatu yang tidak pernah berhasil mereka baca, sesuatu yang tidak terikat oleh hukum, tidak terdefinisi oleh realitas, dan tidak dapat dikenali oleh fondasi apa pun. 

Jika memang benar Eternum Soluna adalah puncaknya. 

Mengapa mereka masih mampu merasakan ketakutan terhadap sesuatu yang tidak pernah mereka lihat sebagai bentuk? 

Mengapa sesuatu yang disebut sebagai akhir masih mampu merasakan gema dari awal yang tidak pernah tercatat di dalam dirinya sendiri? 

Mereka tidak pernah merasa terpuji ketika mereka yang lebih rendah mengagungkan nama mereka, sebab apa yang disebut sebagai "puncak" oleh makhluk di bawah hanyalah batas dari kemampuan mereka untuk membaca, bukan batas dari apa yang benar-benar ada. 

Dan batas bukanlah akhir dari keberadaan, melainkan akhir dari pemahaman. 

Di atas sana terdapat eksistensi yang bahkan menolak untuk menjadi hukum. 

Waktu tidak mengikutinya, cahaya tidak menyentuhnya, ruang tidak mampu menjangkaunya, dan bahkan ketiadaan pun enggan mendekatinya. 

Keberadaannya tidak pernah tercatat sebagai bagian dari tatanan, karena tatanan itu sendiri hanyalah sesuatu yang berada di bawahnya.

Inilah Buku Keenam.

Ia adalah kelanjutan dari sesuatu yang tidak lagi dapat disebut sebagai dunia. 

Sesuatu yang jauh lebih kacau. 

Di sinilah asimilasi besar-besaran terjadi. 

Tidak ada lagi hukum yang saling menopang satu sama lain.

Setiap hukum menciptakan hukum lainnya hanya untuk mengambilnya kembali. 

Setiap identitas mempertahankan dirinya hanya untuk ditelan oleh identitas yang lebih besar. 

Setiap eksistensi berusaha bertahan hanya untuk menjadi bagian dari sesuatu yang lebih dominan darinya. 

Di dalam Buku Keenam hanya ada satu prinsip yang tidak pernah berubah. 

Yang tertinggi akan mengasimilasi yang terendah, yang terbesar akan menelan yang terkecil, dan tidak ada sesuatu pun yang benar-benar dapat dimiliki selamanya.

Di dalam Buku Keenam, tidak ada puncak yang abadi. Segala sesuatu pada akhirnya hanyalah sesuatu yang belum diasimilasi.


4. Alam Meta Realitas


Eldritch Terror

Di luar lapisan pertama terbentang sebuah kehampaan yang begitu dingin dan mematikan, menutupi seluruh cakrawala keberadaan. Di dalamnya bersemayam kengerian, kekejaman, kebejatan, dan kejahatan yang bahkan tidak dapat diterjemahkan oleh kata-kata.

Setiap deskripsi yang berusaha menyebut namanya akan selalu menjauh darinya. 

Setiap definisi yang mencoba memahaminya akan kehilangan maknanya sendiri. 

Ia sepenuhnya asing bagi pemahaman makhluk fana, makhluk abadi, bahkan bagi Eternum Soluna yang dianggap sebagai puncak oleh banyak keberadaan. 

Dimensi yang berisikan monster-monster yang hanya menginginkan satu hal, yaitu "asimilasi."

Dalam kehadirannya, pemikiran runtuh. 

Konsepsi runtuh. 

Hukum runtuh. 

Metafisika runtuh. 

Seakan seluruh fondasi yang menopang keberadaan tidak pernah ada sejak awal. 

Namun kehancuran bukanlah sifatnya. Sebab kehancuran masih mengakui adanya sesuatu yang dihancurkan. 

Dan Eldritch Terror bahkan tidak memberikan pengakuan itu. 

Pada akhirnya, segala sesuatu tidak lagi dapat disebut sebagai perbedaan, melainkan perlahan diasimilasi ke dalam satu kesatuan yang tidak pernah mengizinkan adanya pembedaan. 

Bukan ke dalam kegelapan. 

Bukan ke dalam kehancuran. 

Melainkan ke dalam kehampaan yang tidak pernah mengakui keberadaan apa pun selain dirinya sendiri.

Di dalam Eldritch Terror terdapat tiga hirarki asimilasi. 

Assimilation of Existential, tahap di mana keberadaan mulai kehilangan identitasnya. Tubuh, jiwa, pikiran, sejarah, dan eksistensi masih dapat dikenali, namun tidak lagi berdiri secara mandiri dan perlahan menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar. 

Assimilation of Conceptual, tahap di mana makna mulai diasimilasi. Kehidupan dan kematian, ruang dan waktu, penciptaan dan kehancuran kehilangan batas yang membedakan satu sama lain hingga hukum realitas kehilangan alasan untuk tetap eksis. 

Assimilation of Distinction, tahap terakhir di mana bukan keberadaan maupun konsep yang diasimilasi, melainkan perbedaan itu sendiri. Tidak ada lagi batas antara ada dan tiada, nyata dan tidak nyata, pencipta dan ciptaan. 

Ketika perbedaan lenyap, seluruh hirarki, definisi, identitas, dan struktur yang bergantung padanya ikut runtuh, menyisakan kesatuan yang tidak dapat dijelaskan oleh bahasa, konsep, maupun keberadaan.


Al-Batlan

Ia berdiri di atas segala bentuk keilahian. Bahkan Eternum Soluna, yang dipuja sebagai singgasana tertinggi oleh tak terhitung banyaknya keberadaan, hanyalah setitik wilayah kecil di bawah bayangannya. 

Inilah kerajaan yang sesungguhnya.

Kerajaan para dewa yang telah melampaui moralitas. 

Di tempat ini, kebaikan tidak lebih mulia daripada kejahatan, dan kejahatan tidak lebih hina daripada kebaikan. Keduanya hanyalah topeng yang dapat dikenakan dan ditanggalkan sesuka hati oleh para penguasanya. 

Mereka adalah dewa cahaya. 

Mereka adalah dewa kegelapan. 

Mereka adalah dewa penciptaan. 

Mereka adalah dewa kehancuran. 

Namun di atas seluruh gelar itu, mereka adalah dewa-dewa yang telah bosan terhadap segalanya.

Mereka telah menyaksikan kelahiran semesta lebih banyak daripada jumlah bintang yang pernah tercipta. Mereka telah menyaksikan kehancuran realitas lebih banyak daripada jumlah dunia yang pernah hidup. 

Tidak ada mukjizat yang mampu membuat mereka kagum. 

Tidak ada tragedi yang mampu membuat mereka berduka. 

Tidak ada kemenangan yang mampu membuat mereka bangga. 

Dan tidak ada kekalahan yang mampu membuat mereka kecewa. 

Sebab seluruh kemungkinan itu telah mereka saksikan berkali-kali, berulang, tanpa akhir, tanpa kejutan, tanpa perubahan. 

Itulah alasan Eternum Soluna masih berdiri. 

Bukan karena belas kasih, bukan karena penghormatan. Melainkan karena hiburan. 

Mereka menikmati bagaimana para dewa kecil terus mendirikan singgasana mereka sendiri. Mereka menikmati bagaimana setiap generasi melahirkan kesombongan yang sama. Mereka menikmati bagaimana setiap keberadaan mengaku telah mencapai puncak, hanya untuk menemukan puncak lain yang lebih tinggi. 

Lalu mereka tertawa. 

Mereka berkata. 

"Mengapa kami harus menghancurkan mereka?" 

"Seekor semut yang mengaku sebagai raja tidak pernah mengancam seorang petani." 

"Justru karena mereka ada, kesalahan yang sama dapat terus terulang." 

"Kami menyukai itu." 

Sebab bagi para dewa Al-Batlan, kebaikan adalah permainan, kejahatan adalah permainan, penciptaan adalah permainan, kehancuran adalah permainan. 

Dan seluruh keberadaan hanyalah panggung yang terus memainkan cerita yang sama untuk menghibur para penontonnya.

Kemudian dari kerajaan ini, berdiri beberapa cabang dimensi.

Di setiap cabang dimensi berdiri hirarki.

1. Deities

2. Greater Deities

3. Divine Thrones

4. Sovereign

Masing-masing dewa saling tunduk kepada mereka yang berada lebih tinggi darinya.


Deities 

Dimensi yang dihuni oleh para dewa Al-Batlan dalam tingkatan yang paling dasar. 

Meskipun disebut sebagai yang paling rendah, mereka tetap merupakan dewa Al-Batlan. Keberadaan yang bahkan tidak dapat dibandingkan dengan para dewa dari struktur lapisan bawah. 

Di sinilah perang melawan Eldritch Terror terjadi. Perang yang berlangsung tanpa akhir. Perang yang telah menelan jumlah korban yang bahkan tidak lagi memiliki angka untuk menggambarkannya. 

Mereka berhadapan dengan Eldritch Terror pada tingkat asimilasi paling dasar. 

Assimilation of Existential. 

Sebuah kondisi di mana eksistensi saling memakan eksistensi lainnya. 

Bukan kehidupan yang memakan kehidupan. 

Bukan makhluk yang memakan makhluk. 

Melainkan keberadaan itu sendiri yang saling menghapus. 

Tak terhitung banyaknya dewa Al-Batlan maupun monster Eldritch Terror yang telah lenyap dalam peperangan ini. Nama mereka hilang, wujud mereka hilang, bahkan jejak keberadaan mereka pun ikut hilang. 

Di sinilah bentuk pertama dari proses asimilasi dimulai.


Greater Deities 

Dimensi yang dihuni oleh para dewa agung Al-Batlan. Para Deities menundukkan kepala di hadapan mereka. 

Karena di tempat ini, peperangan telah mencapai tingkat yang jauh lebih tinggi.

Mereka tidak lagi bertarung demi eksistensi. 

Mereka bertarung demi konsep. 

Mereka berhadapan dengan Eldritch Terror dalam tingkatan asimilasi lanjutan. 

Assimilation of Conceptual. 

Pada tingkat ini, eksistensi tidak lagi menjadi sasaran utama, yang saling memakan adalah konsep itu sendiri. 

Konsep kehidupan. 

Konsep kematian. 

Konsep awal. 

Konsep akhir. 

Konsep-konsep yang menopang keberadaan saling mengasimilasi satu sama lain dalam konflik yang tidak pernah berakhir. 

Tak terhitung banyaknya konsep yang telah musnah dalam peperangan ini. 

Sebagian dilupakan, sebagian tidak pernah diketahui, dan sebagian lainnya lenyap tanpa meninggalkan kemungkinan untuk dipahami kembali. 

Di sinilah bentuk lanjutan dari proses asimilasi terjadi.


Divine Thrones

Para pemilik singgasana ilahi. 

Keberadaan mereka menjadi hukum bagi wilayah yang mereka kuasai. Para Deities, para Greater Deities. Semuanya menundukkan kepala di hadapan para pemilik singgasana ini. 

Mereka menghadapi Eldritch Terror dalam tingkat asimilasi tertinggi. 

Assimilation of Distinction. 

Pada tingkat ini, eksistensi tidak lagi penting. 

Konsep juga tidak lagi penting. 

Yang diasimilasi adalah perbedaan itu sendiri. 

Batas yang memisahkan satu hal dengan hal lainnya. 

Batas antara kehidupan dan kematian. 

Batas antara pencipta dan ciptaan. 

Batas antara keberadaan dan ketiadaan. 

Semua perbedaan perlahan runtuh, segala pemisah perlahan menghilang. Hingga tidak ada lagi yang dapat disebut berbeda, tidak ada lagi yang dapat disebut terpisah, dan tidak ada lagi yang dapat disebut sebagai dirinya sendiri. 

Inilah bentuk tertinggi dari proses asimilasi.


Sovereign

Ketika para Sovereign berbicara, Para Deities akan menundukkan kepala, para Greater Deities akan menundukkan kepala, bahkan para Divine Thrones akan menundukkan kepala. 

Mereka adalah puncak dari hierarki Al-Batlan. 

Para penguasa tertinggi yang berdiri di atas seluruh kerajaan para dewa. 

Assimilation of Existential, Assimilation of Conceptual, Assimilation of Distinction. 

Ketiga tingkatan tersebut hanyalah fenomena yang mereka saksikan dari singgasana mereka. Mereka tidak lagi memandang Eldritch Terror sebagaimana para dewa lainnya. 

Bukan karena mereka meremehkannya, melainkan karena perang itu sendiri telah menjadi sesuatu yang terlalu kecil bagi mereka. 

Mereka tidak berdiri di atas peperangan. 

Mereka tidak berdiri di atas kemenangan. 

Mereka tidak berdiri di atas kekalahan. 

Mereka hanya berdiri di atas panggung yang melahirkan ketiganya. 

Dan selama Eldritch Terror masih menginginkan akhir, serta Al-Batlan yang masih menginginkan cerita, maka permainan itu tidak akan pernah berakhir.


Kabbalah

Para dewa Al-Batlan memahami bahwa Sovereign merupakan puncak dari hierarki yang mereka kenal. Namun terdapat sebuah nama yang bahkan tidak semua dewa berani menyebutnya.

Kabbalah. 

Sebagian tidak mempercayai keberadaannya. 

Sebagian mempercayainya tetapi tidak pernah yakin. 

Dan sebagian lainnya menundukkan kepala setiap kali nama itu disebut. 

Mereka berkata bahwa Kabbalah adalah puncak sesungguhnya dari Al-Batlan. 

Di Al-Batlan terdapat banyak Deities. 

Di atas para Deities berdiri para Greater Deities. 

Di atas Greater Deities berdiri para Divine Thrones. 

Di atas Divine Thrones berdiri para Sovereigns. 

Namun bahkan para Sovereigns tetap menundukkan kepala ketika para pemilik singgasana itu berbicara. Sebab menjadi Sovereign tidak menjamin seseorang dapat menduduki salah satu singgasana tersebut.

Banyak yang mendaki, banyak yang mencoba. Namun hanya sepuluh yang duduk. 

Mereka adalah para Sefirot. Sepuluh dewa yang menjadi pusat pemerintahan Al-Batlan, sepuluh singgasana yang mengarahkan jalannya kerajaan para dewa. 

Bukan karena mereka memerintah dengan kekuatan. 

Melainkan karena keberadaan mereka telah menjadi otoritas itu sendiri. 

Malchut yang mewakili manifestasi kerajaan. 

Yesod yang mewakili fondasi yang menopang tatanan. 

Hod yang mewakili kemegahan dan kemuliaan. 

Netzach yang mewakili kemenangan yang tidak pernah padam.

Tiferet yang mewakili kecantikan dan harmoni yang menyatukan segala hal. 

Gevurah yang mewakili penghakiman dan kekuatan. 

Hesed yang mewakili anugerah, kasih, dan kebaikan. 

Binah yang mewakili pemahaman yang melampaui pengetahuan. 

Chokmah yang mewakili kebijaksanaan ilahi. 

Keter yang mewakili mahkota tertinggi. 

Al-Batlan dipenuhi oleh dewa-dewa yang sombong. Mereka meremehkan lapisan bawah, mereka menertawakan para dewa yang mengaku sebagai penguasa semesta, mereka memandang Eternum Soluna sebagai wilayah kecil yang tidak layak diperhatikan. 

Namun bahkan para Sovereigns tidak pernah mengaku setara dengan Kabbalah. 

Karena Kabbalah bukan sekadar penguasa yang lebih tinggi. 

Mereka adalah singgasana tertinggi yang menentukan arah Al-Batlan itu sendiri. 

Dan selama Sepuluh Sefirot masih duduk di atas singgasananya, seluruh Al-Batlan akan terus bergerak sesuai kehendak mereka.


Garden of Eden

Tidak lebih tinggi dari Kabbalah. 

Namun jauh lebih tua. 

Tempat di mana kehidupan pertama kali bersemi. Tempat di mana Adam dan Hawa dilahirkan sebelum Descendant menurunkan mereka dari kedudukan yang pernah mereka miliki. 

Dari sinilah alasan mengapa kehidupan fana ada. Dari sinilah asal-usul seluruh perjalanan yang kelak akan memenuhi struktur keberadaan. Dan dari sinilah lahir keyakinan yang dipegang oleh para penghuni Al-Batlan. 

Bahwa selama Garden of Eden tetap berdiri, maka Buku Ketujuh akan tetap berdiri. 

Eldritch Terror akan tetap berdiri. 

Al-Batlan akan tetap berdiri. 

Bahkan Kabbalah akan tetap berdiri. 

Mereka percaya bahwa apabila Garden of Eden runtuh, maka seluruh struktur yang bergantung padanya akan ikut berakhir.

Namun keyakinan itu tidak pernah dapat dibuktikan. 

Dan tidak pula dapat dibantah. 

Karena mungkin saja itu benar. 

Oleh sebab itu, apabila suatu hari salah satu Sefirot terasimilasi, maka dewa yang lain akan menggantikannya. 

Singgasana Kabbalah tidak boleh kosong, sebab selama Garden of Eden masih berdiri, para penjaganya juga harus tetap berdiri. 

Namun para Sefirot tidak mempertahankannya karena ketakutan. Mereka tidak mempertahankannya karena kewajiban. Mereka tidak mempertahankannya demi kekuasaan. Mereka mempertahankannya karena rasa syukur. 

Rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa. 

Yang Maha Tinggi. 

Yang Maha Pencipta. 

Yang Maha Raja. 

Yang Maha Tahu. 

Yang Maha Bijaksana. 

Yang Maha Suci. 

Yang Maha Hadir.

Awal dari segala awal. 

Akhir dari segala akhir. 

Pencipta dari segala pencipta. 

Kekosongan dari segala kekosongan. 

Sumber dari segala sumber. 

Cahaya sebelum cahaya. 

Keberadaan sebelum keberadaan. 

Adonai. 

Meskipun Al-Batlan dipenuhi oleh dewa-dewa yang sombong. 

Meskipun mereka memandang rendah seluruh lapisan di bawah mereka, meskipun mereka menertawakan para penguasa yang mengaku sebagai puncak keberadaan. 

Ada satu nama yang tidak pernah mereka ejek. 

Ada satu nama yang tidak pernah mereka hina. 

Ada satu nama yang tidak pernah mereka samakan dengan diri mereka sendiri. 

Ketika nama itu disebut, para Deities terdiam, para Greater Deities terdiam, para Divine Thrones terdiam, para Sovereigns terdiam, bahkan para Sefirot pun terdiam. 

Dan untuk sesaat, seluruh kesombongan Al-Batlan lenyap. 

Bukan karena ketakutan. 

Bukan karena kekuasaan. 

Melainkan karena mereka mengetahui satu kebenaran yang tidak pernah berani mereka bantah. Bahwa sebelum mereka ada, Dia telah ada. Dan setelah mereka tiada, Dia tetap ada.


The Eldritch

Tidak lebih tinggi dari Kabbalah. 

Tidak pula lebih tua darinya. 

Namun berdiri sebagai sesuatu yang setara.

Sebuah wilayah yang dihuni oleh para monster Eldritch Terror yang telah mengalami Ascendant, makhluk-makhluk yang telah melampaui bentuk asal mereka, makhluk-makhluk yang bahkan para dewa Al-Batlan enggan untuk menyebut namanya. 

Ketika para dewa meyakini bahwa Garden of Eden adalah fondasi dari seluruh struktur keberadaan, tidak satu pun di antara mereka yang berani menguji keyakinan tersebut. 

Karena harga dari kesalahan itu terlalu besar. 

Karena apabila mereka benar, maka tidak ada yang perlu dibuktikan. 

Namun apabila mereka salah, maka seluruh keberadaan akan membayar akibatnya. 

Tetapi para penghuni The Eldritch tidak memiliki keyakinan yang sama. 

Mereka tidak tunduk kepada asumsi, mereka tidak tunduk kepada tradisi, mereka tidak tunduk kepada kesepakatan para dewa. 

Mereka akan mengujinya. 

Mereka akan selalu mengujinya. 

Bukan karena kebencian, bukan karena dendam, bukan karena kehancuran, dan bukan pula karena kemenangan. Mereka hanya ada sebagai bukti bahwa kesombongan bukanlah kebenaran. 

Ketika seorang dewa mengaku sebagai yang maha tahu, mereka akan muncul untuk memperlihatkan batas dari pengetahuannya. 

Ketika seorang dewa mengaku sebagai raja, mereka akan muncul sebagai singgasana yang tidak akan pernah mampu ia duduki. 

Ketika seorang dewa mengaku sebagai puncak, mereka akan berdiri di atas puncak tersebut. 

Dan ketika kesombongan itu melampaui kata-kata, melampaui definisi, melampaui konsepsi, melampaui seluruh cara yang dapat digunakan untuk menggambarkannya. 

Maka salah satu dari mereka akan hadir. 

Bukan sebagai makhluk. 

Bukan sebagai dewa. 

Melainkan sebagai sebuah dimensi. 

Sebagai monster yang memiliki rupa bagaikan dimensi itu sendiri. 

"Kathreftis"

Tidak ada yang mengetahui bentuk aslinya. Sebab setiap makhluk yang mencoba melihat keseluruhannya akan selalu menemukan dirinya sendiri terlebih dahulu. 

Ia tidak memantulkan wajah. 

Ia tidak memantulkan wujud. 

Ia tidak memantulkan tubuh. 

Ia memantulkan keterbatasan. 

Segala sesuatu yang memandang Kathreftis akan melihat batas yang selama ini gagal mereka akui.

Dewa akan melihat ketidaktahuannya, raja akan melihat kehampaannya, pencipta akan melihat sesuatu yang tidak mampu ia ciptakan. Dan mereka yang mengaku sebagai puncak akan melihat sebuah ketinggian yang tidak pernah dapat mereka capai. 

Karena Kathreftis tidak pernah hadir untuk menghancurkan dan mengasimilasi. Ia hadir untuk memperlihatkan, bahwa selalu ada sesuatu yang berada di luar apa yang mampu dipahami oleh sang pengamat.


Veracity & Atrocity 

Ia tidak berdiri sebagai tempat. 

Ia tidak berdiri sebagai dimensi. 

Ia tidak berdiri sebagai alam. 

Ia adalah makhluk hidup. Sebuah keberadaan yang melampaui Eldritch Terror, melampaui Al-Batlan, melampaui para Sovereign, melampaui Kabbalah, bahkan melampaui The Eldritch. 

Para dewa Al-Batlan sering kali memohon kepadanya. Mereka meminta kekuatan untuk menghadapi para penghuni The Eldritch. Mereka meminta jalan untuk melampaui keterbatasan mereka sendiri. 

Namun Veracity & Atrocity tidak pernah menjawab. 

Sebab Ascendant tidak pernah diciptakan untuk para dewa. 

Jalan itu hanya terbuka bagi makhluk fana. 

Bagi mereka yang lahir dari kehidupan yang rapuh. 

Bagi mereka yang mengenal kehilangan. 

Bagi mereka yang memahami arti perjuangan. 

Veracity & Atrocity digambarkan sebagai sebuah dahan. 

Veracity adalah ranting-ranting yang menjulang menuju langit. Ia lahir dari keinginan untuk saling menjaga, dari keinginan untuk saling melindungi, dari keinginan untuk menanggung penderitaan orang lain. 

Sementara Atrocity adalah akar-akar yang merambat menuju kedalaman yang tidak memiliki dasar. Ia lahir dari kemarahan, kekejaman, dan dari hasrat untuk menghancurkan segala sesuatu yang dianggap tidak layak untuk tetap ada. 

Namun keduanya tidak pernah benar-benar terpisah. 

Karena dahan yang tidak memiliki ranting, akarnya akan layu. 

Dan dahan yang tidak memiliki akar, rantingnya tidak dapat tumbuh. 

Keduanya berasal dari satu keberadaan yang sama, sebagaimana belas kasih dan kebencian sering kali lahir dari sumber yang serupa. 

Ketika seorang makhluk fana memiliki keinginan untuk melindungi atau memiliki keinginan untuk menghancurkan. 

Dan keinginan itu tumbuh melampaui para dewa. 

Maka Veracity & Atrocity akan menjawab. 

Bukan dengan kata-kata. 

Bukan dengan wahyu. 

Melainkan dengan Ascendant. 

Banyak makhluk fana menganggap Ascendant sebagai hadiah, mereka menganggapnya sebagai jalan menuju kebesaran, sebagai kesempatan untuk melampaui keabadian, sebagai gerbang menuju ketuhanan. 

Namun tidak lama kemudian mereka memahami kenyataan yang sesungguhnya. 

Ascendant bukanlah hadiah. 

Ascendant bukanlah hukuman. 

Ascendant adalah konsekuensi. 

Sebab untuk melampaui keabadian, mereka harus memahami apa yang selama ini disaksikan oleh para dewa. 

Mereka harus merasakan betapa perihnya proses asimilasi.


The Ascendant 

Tingkatan pertama dari Ascendant. Pada titik ini, seorang makhluk fana telah mencapai kedudukan yang setara dengan para dewa Al-Batlan dan para monster Eldritch Terror. 

Namun merekalah yang pertama kali memohon untuk kembali, mereka meminta agar diturunkan, mereka meminta agar dikembalikan kepada kehidupan yang pernah mereka miliki. 

Kepada rasa sakit yang dahulu mereka benci.

Kepada kelemahan yang dahulu mereka hina. 

Kepada kematian yang dahulu mereka takuti. 

Dan kepada kehidupan yang sederhana.

Namun, semuanya telah terlambat, karena mereka telah menjadi bagian dari proses asimilasi itu sendiri.


The True Ascendant 

Tingkatan kedua dari Ascendant. Pada titik ini mereka telah melampaui para dewa Al-Batlan. Melampaui para monster Eldritch Terror. Dan berdiri mendekati wilayah para Sovereign. 

Namun penderitaan mereka tidak berakhir. 

Justru semakin dalam. 

Karena di sinilah mereka mengalami bentuk tertinggi dari proses asimilasi. 

Mereka kehilangan identitas. 

Mereka kehilangan makna. 

Mereka kehilangan perbedaan. 

Namun tetap dipaksa untuk terus melangkah maju. 


The Messenger 

Tingkatan terakhir dari Ascendant. Dan tingkatan yang hanya pernah dicapai oleh satu makhluk. 

Berbeda dari mereka yang datang sebelumnya, ia tidak lagi menjadi bagian dari proses asimilasi. 

Ia telah melampauinya. 

Ia tidak lagi berada dalam Eldritch Terror. 

Tidak lagi berada dalam Al-Batlan. 

Tidak lagi berada dalam Kabbalah. 

Dan tidak lagi berada dalam The Eldritch. 

Namun itu bukanlah akhir. 

Karena Ascendant tidak pernah diciptakan untuk menghasilkan penguasa. 

Tidak pernah diciptakan untuk menghasilkan dewa. 

Tidak pernah diciptakan untuk menghasilkan raja. 

Ascendant diciptakan untuk menghasilkan pelindung. 

Dan pada titik inilah sang Messenger memahami alasan mengapa Veracity & Atrocity membuka jalan tersebut. 

Bukan untuk memberikan keselamatan. kebahagiaan dan kekuasaan. Melainkan untuk mempersiapkan seseorang menghadapi sesuatu yang jauh lebih besar daripada seluruh struktur yang pernah mereka kenal. 

Sesuatu yang bahkan para dewa tidak pernah ketahui.


5. Meta Narrative

Tower of Harmony 

Terdapat begitu banyak dewa Al-Batlan yang meyakini bahwa inilah batas dari apa yang mereka sebut sebagai "Buku Keenam". Bukan karena mereka telah mencapai puncaknya, melainkan karena mereka tidak lagi memiliki struktur untuk memahami apa yang berada di atasnya.

Mereka tidak lagi memahami apa itu arti dari hirarki ketika telah mencapai pada titik ini.

Sebab bagaimana mungkin sesuatu dapat disebut lebih tinggi atau lebih rendah, ketika yang dipertanyakan bukan lagi keberadaan, melainkan alasan mengapa keberadaan itu sendiri dapat ada?

Pada titik inilah ukuran mulai kehilangan maknanya, perbandingan mulai kehilangan fungsinya, dan hierarki perlahan menjadi bahasa yang terlalu kecil untuk menjelaskan apa yang berada di hadapan mereka.

Tower of Harmony bukanlah tempat di mana konsep-konsep berkumpul. Ia bukan perpustakaan ide, bukan asal mula hukum, dan bukan pula ruang kelahiran pemikiran.

Ia adalah tempat di mana alasan keberadaan konsep itu sendiri disimpan. 

Bukan penciptaan yang berada di dalamnya, melainkan alasan mengapa penciptaan dapat disebut sebagai sesuatu yang diciptakan. 

Bukan kehampaan yang berada di dalamnya, melainkan alasan mengapa kehampaan dapat memiliki makna sebagai kekosongan. 

Bukan perbedaan yang berada di dalamnya, melainkan alasan mengapa sesuatu dapat berbeda dari sesuatu yang lain. 

Archeon Aetherna, sumber dari kesembilan aspek kehidupan. Life, Matter, Elemental, Soul, Mind, Space, Time, Entropy, dan Prime, yang dipuja oleh para penghuni High Aetherium dalam Buku Ketujuh hanyalah pantulan yang terpecah dari tempat ini. 

Sebuah refleksi yang tidak utuh. 

Sebuah bayangan yang gagal memuat keseluruhannya. 

Dari fragmentasi tersebut lahirlah tiga hukum asimilasi yang kemudian dapat digunakan oleh para dewa Al-Batlan dan para monster Eldritch Terror dalam peperangan mereka. 

Assimilation of Existential, Assimilation of Conceptual, Assimilation of Distinction. 

Melalui harmoninya yang begitu indah, ia adalah alasan mengapa Buku Ketujuh terus berekspansi tanpa batas.

Selama Tower of Harmony tetap melantunkan suaranya, penciptaan akan tetap diakui sebagai penciptaan, kehampaan akan tetap diakui sebagai kehampaan, makna akan tetap diakui sebagai makna, dan perbedaan akan tetap memiliki hak untuk disebut sebagai perbedaan. 

Karena itu, Assimilation of Distinction tidak pernah benar-benar dapat menjangkau tempat ini. 

Di dalam Tower of Harmony terdapat sepuluh hal abstrak, sepuluh lantunan, sepuluh alasan yang diyakini sebagai penopang seluruh struktur di bawahnya.

The Knowledge, The Math, The Distinction, The Choice, The Unknown, The Meaning, The Destroyer, The Reality, The Void dan yang terakhir The Creation.

Namun tidak satu pun dari mereka berdiri secara terpisah. 

Sebab Tower of Harmony bukanlah kumpulan fondasi yang disusun menjadi satu. 

Ia adalah sesuatu yang dipahami melalui sepuluh alasan.


The Knowledge 

Ayne Lepo, The Ocean Mind.

Sebuah alasan pertama dari segala alasan.

Seluruh dewa Al-Batlan mengetahui segala isi dari Buku Ketujuh. Dan itu adalah pengetahuan yang lumrah. 

Kemudian dari Kabbalah, terdapat Binah, yang mengetahui keseluruhan dari isi Buku Keenam. Kemudian ia memberikan pengetahuan itu kepada para dewa. 

Namun, Ayne berbeda.

Ia tidak menguasai pengetahuan. 

Pengetahuan hanyalah konsekuensi dari keberadaannya, ia bukan pemilik dari segala sesuatu yang diketahui. Ia adalah alasan mengapa sesuatu dapat disebut sebagai sesuatu yang diketahui.

Apa yang diketahui.

Apa yang pernah diketahui.

Apa yang belum diketahui.

Apa yang tidak dapat diketahui.

Dan apa yang suatu hari nanti akan diketahui dan mungkin dapat diketahui.

Ketika seseorang memahami sesuatu, ketika seseorang dapat mengungkap sebuah rahasia, dan ketika seseorang dapat menemukan sebuah jawaban.

Ayne tidak memberikannya.

Karena seluruh hal tersebut hanyalah konsekuensi dari fakta bahwa "pengetahuan" dapat ada sebagai sesuatu yang dapat dimiliki. 

Dan alasan itu adalah Ayne.

Sebelum pengetahuan itu ada.

Maka Ayne telah ada.


The Math 

Matrix, The Matrix. 

Seorang makhluk fana berkata, "Satu ditambah satu sama dengan dua." Maka itu adalah jawaban yang benar, dan bahkan tidak berlu di bantah. Kemudian makhluk fana lainnya berkata, "Satu ditambah satu hasilnya adalah tiga." Maka itu adalah jawaban yang salah bahkan menyimpang. 

Begitulah cara realitas dipahami oleh mereka yang hidup di dalamnya. 

Namun ketika Matrix berbicara, kebenaran itu sendiri akan mengikuti. Bukan karena ia memaksa kebenaran untuk berubah. Melainkan karena apa yang disebut sebagai "benar" dan "salah" dalam matematika memperoleh maknanya melalui dirinya. 

Segala bentuk angka. 

Segala bentuk pola. 

Segala bentuk keteraturan. 

Geometri, aljabar, teori himpunan, hingga hubungan yang memungkinkan sesuatu terhubung dengan sesuatu yang lain. 

Semuanya hanyalah cara realitas yang lebih rendah mencoba memahami jejak keberadaannya. 

Matrix tidak menciptakan matematika. 

Ia tidak menciptakan rumus.

Ia tidak menciptakan hukum. 

Ia tidak menciptakan ruang.

Karena matematika hanyalah konsekuensi dari keberadaannya. Ia adalah alasan mengapa hubungan dapat memiliki keteraturan, mengapa pola dapat memiliki konsistensi, mengapa sesuatu dapat terhubung dengan sesuatu yang lain tanpa kehilangan maknanya. 

Tanpa dirinya, angka hanyalah simbol. 

Persamaan hanyalah susunan tanda. 

Dan logika hanyalah urutan yang tidak memiliki alasan untuk tetap konsisten. 

Sebelum sesuatu dapat dihitung, sebelum sesuatu dapat diukur, sebelum sesuatu dapat dihubungkan.

Matrix telah ada.


The Distinction 

Rhenar Dafuni, The Duality Conception. 

Kita memahami bahwa hidup berbeda dari mati, benar berbeda dari salah, sebelum berbeda dari sesudah. Perbedaan-perbedaan itu terasa begitu alami sehingga jarang sekali dipertanyakan. 

Namun bagaimana jika seluruh batas itu lenyap? 

Bagaimana jika hidup dan mati tidak lagi dapat dibedakan? 

Bagaimana jika benar dan salah tidak lagi memiliki pemisah? 

Dan bagaimana jika dingin yang membekukan dan panas yang membakar menjadi sesuatu yang sama?

Pada titik itu, apa yang masih dapat disebut berbeda? Apa yang masih dapat dipisahkan? Dan apa yang masih dapat dipahami? Karena tanpa perbedaan, pemahaman itu sendiri kehilangan pijakannya. 

Segala sesuatu akan runtuh menjadi satu keadaan yang tidak lagi memiliki batas untuk dikenali. 

Namun Rhenar bukanlah perbedaan itu sendiri. 

Rhenar bukanlah yang menciptakan perbedaan.

Sebab Rhenar, adalah alasan dari apa yang dapat disebut sebagai berbeda.

Rhenar adalah segala hak dari segala yang dapat disebut sebagai berbeda.

Dan sebelum sesuatu dapat disebut berbeda, Rhenar telah ada.


The Choice 

Fatum, The Fated Bond of Divine Duality. 

Ketika seorang makhluk fana dihadapkan pada dua pilihan, maka lahirlah dua kemungkinan. Ketika ia memilih kemungkinan yang pertama, kemungkinan itu akan melahirkan percabangan baru. Kemudian percabangan tersebut akan melahirkan percabangan lainnya. 

Dan begitu seterusnya. Demikian pula ketika ia memilih kemungkinan yang kedua. Setiap keputusan menjadi akar bagi keputusan berikutnya. Setiap jalan menjadi awal bagi jalan yang lain. Hingga terbentuk sebuah jaringan kemungkinan yang seolah tidak memiliki batas. 

Namun bagaimana jika pilihan itu tidak pernah bercabang? 

Bagaimana jika seluruh keputusan hanya mengarah kepada satu hasil yang sama? 

Bagaimana jika setiap jalan, setiap langkah, dan setiap kemungkinan selalu berakhir pada tujuan yang telah ditentukan sejak awal? 

Pada titik itu, pilihan kehilangan maknanya. 

Karena sesuatu tidak lagi dapat dipilih. Ia hanya terjadi. 

Dan ketika tidak ada lagi kemungkinan yang dapat dipisahkan dari kemungkinan lainnya, maka takdir tidak lagi memiliki alasan untuk disebut sebagai takdir. 

Fatum bukanlah percabangan itu sendiri. 

Sebab Fatum adalah alasan mengapa satu jalan dapat berbeda dari jalan yang lain. Fatum adalah alasan mengapa sebuah keputusan dapat melahirkan masa depan yang berbeda. Ia adalah alasan mengapa kemungkinan dapat bercabang tanpa pernah mencapai batas akhirnya. 

Seluruh takdir yang pernah terbentuk. 

Seluruh masa depan yang pernah terjadi. 

Dan seluruh kemungkinan yang belum pernah terwujud. 

Hanyalah ranting-ranting kecil dari akar yang sama. 

Dan akar itu adalah Fatum.

Ia telah ada sebelum akar itu ada.


The Unknown 

Belle Foreign, The Fright Beauty. 

Pernahkah kita membayangkan bagaimana jika segala sesuatu dapat diketahui? 

Terdapat banyak makhluk fana yang mendambakan hal tersebut. Mereka ingin memahami seluruh dunia dan hukumnya, memahami segala sesuatu yang tersembunyi di dasar lautan, memahami segala sesuatu yang berdiam di antara bintang-bintang, dan memahami seluruh rahasia yang belum pernah tersentuh oleh pikiran mana pun.

Mereka menganggap pengetahuan sebagai cahaya. 

Dan semakin banyak cahaya yang mereka miliki, semakin dekat mereka kepada kesempurnaan. 

Namun mereka melupakan sesuatu. 

Tidak semua hal diciptakan untuk diketahui. Terdapat pengetahuan yang hanya akan melahirkan ketakutan, terdapat kebenaran yang hanya akan melahirkan kegilaan, dan terdapat rahasia yang tetap tersembunyi bukan karena tidak dapat ditemukan. Melainkan karena kesadaran tidak pernah diciptakan untuk menanggungnya. 

Karena itulah ketidaktahuan memiliki keindahannya sendiri. 

Bukan sebagai kelemahan. 

Bukan sebagai kekurangan. 

Melainkan sebagai batas yang menjaga makhluk hidup dari sesuatu yang jauh lebih besar daripada dirinya. 

Inilah keindahan yang dimiliki Belle.

Keindahan yang melahirkan rasa takut. 

Dan rasa takut yang melahirkan keindahan. 

Belle bukanlah ketidaktahuan itu sendiri. 

Sebab ketidaktahuan hanyalah konsekuensi dari keberadaannya. 

Ia adalah alasan mengapa sesuatu dapat berada di luar jangkauan pemahaman. 

Alasan mengapa terdapat batas yang tidak dapat dilewati oleh pengetahuan, alasan mengapa tidak segala sesuatu dapat diketahui.

Ia adalah Belle Foreign. Sesuatu yang membuat proses mengetahui itu sendiri berubah menjadi pengalaman yang berbahaya secara eksistensial.


The Meaning 

Veritas, The Boundary of Cognition. 

Apa arti dari pengetahuan? 

Bagaimana sesuatu dapat disebut sebagai pengetahuan apabila tidak ada yang mampu memahaminya?

Dan bagaimana sesuatu dapat dipahami apabila "pemahaman" itu sendiri tidak pernah memiliki makna?

Pertanyaan-pertanyaan itu telah diajukan oleh banyak makhluk, namun tidak pernah benar-benar dijawab. Karena setiap jawaban selalu berada di dalam batas pemahaman itu sendiri. 

Makhluk fana mencari pengetahuan, para dewa mencari kebenaran, bahkan keberadaan yang lebih tinggi terus berusaha memahami segalanya yang berada di hadapan mereka. 

Namun sangat sedikit yang menyadari bahwa pengetahuan tidak pernah memiliki arti dengan sendirinya. Sebab mengetahui dan memahami bukanlah hal yang sama. 

Veritas bukanlah pengetahuan. 

Ia bukan pula makna yang terkandung di dalam suatu hal. 

Sebab seluruh hal tersebut hanyalah konsekuensi dari keberadaannya. 

Veritas adalah alasan mengapa sesuatu dapat memiliki makna untuk dipahami, alasan mengapa pengetahuan dapat dikenali sebagai pengetahuan, alasan mengapa ketidaktahuan dapat dikenali sebagai ketidaktahuan. 

Alasan mengapa pemahaman dapat dibedakan dari kebingungan, dan alasan mengapa makna dapat dibedakan dari ketiadaan makna. 

Jika Ayne adalah alasan mengapa pengetahuan ada, dan Belle adalah alasan mengapa sesuatu tidak dapat diketahui, maka Veritas adalah alasan mengapa keduanya dapat dimengerti. 

Tanpa dirinya, pengetahuan tidak akan menjadi pengetahuan. 

Karena tidak ada lagi sesuatu yang dapat memahaminya sebagai pengetahuan.

Tanpa dirinya, ketidaktahuan tidak akan menjadi ketidaktahuan. 

Bukan karena segala sesuatu menjadi diketahui. Melainkan karena tidak ada lagi sesuatu yang dapat mengenali bahwa sesuatu itu tidak diketahui. 

Tanpa dirinya, makna tidak akan pernah ada sejak awal. Ia tidak menentukan apa yang harus dipahami, ia tidak menentukan apa yang harus dimaknai, ia hanya menjadi alasan mengapa pemahaman dapat terjadi. 

Dan alasan mengapa makna dapat muncul sebelum sesuatu dapat dipahami, sebelum sesuatu dapat memiliki arti, sebelum pengetahuan dapat dikenali sebagai pengetahuan. 

Pengetahuan tanpa Veritas hanyalah informasi tanpa makna. 

Ketidaktahuan tanpa Veritas hanyalah ketiadaan tanpa makna. 

Bahkan konsep "memahami" tidak dapat disebut memahami tanpa Veritas.


The Destroyer 

Fillmore, The Vanish, Finish And Punishing. 

Terdapat begitu banyak perang dan kehancuran di luar sana. Terdapat begitu banyak senjata, alat pemusnah, dan teknologi canggih yang diciptakan untuk menghasilkan ledakan besar, memadamkan bintang, bahkan meruntuhkan langit. 

Para makhluk fana menggunakannya untuk saling memusnahkan. Mereka meruntuhkan peradaban, menghancurkan ekosistem, dan mengganggu keseimbangan alam. 

Para dewa melakukan hal yang sama dalam skala yang jauh lebih besar, mereka melenyapkan konsep, mereka meruntuhkan seluruh fondasi juga tatanan semesta, mereka mendatangkan kiamat. 

Namun di balik seluruh kehancuran itu, terdapat satu pertanyaan yang hampir tidak pernah diajukan. 

Apa alasan yang membuat sesuatu dapat hancur? 

Apa alasan yang membuat sesuatu dapat lenyap? 

Apa alasan yang membuat sesuatu dapat berakhir? 

Maka Fillmore adalah alasan dari seluruh kemungkinan itu. Ia bukan kehancuran itu sendiri, ia bukan perang, ia bukan api, ia bukan senjata. Sebab seluruh hal tersebut hanyalah konsekuensi dari keberadaannya. 

Ketika terdapat satu makhluk yang bertanya, "Bagaimana jika kehancuran tidak pernah terjadi?"

Mungkin terdengar indah, namun ketahuilah. 

Tanpa dirinya, tidak ada sesuatu yang dapat berakhir. 

Tidak ada sesuatu yang dapat layu. 

Tidak ada sesuatu yang dapat lenyap. 

Alam semesta akan terus membengkak, dunia terus meluas, keberadaan terus bertambah, tanpa pernah mengenal batas, tanpa pernah mengenal penutup, tanpa pernah mengenal akhir. 

Sebagaimana sebuah kisah yang terus menuliskan bab baru, namun tidak pernah diberikan halaman terakhir.

Dan pada akhirnya, keberadaan itu sendiri akan kehilangan keseimbangannya. 

Oleh karena itu, Fillmore tidak menciptakan kehancuran. 

Ia adalah alasan mengapa kehancuran dapat ada. 

Ia adalah alasan mengapa kelayuan dapat terjadi. 

Ia adalah alasan mengapa pelenyapan dapat memiliki makna. 

Sebab tanpa akhir permulaan tidak memiliki nilai, tanpa kehilangan keberadaan tidak memiliki batas, dan tanpa kehancuran, keseimbangan tidak akan pernah tercapai.


The Reality

Ailee Hazel, The Benediction of Ontic Validity. 

Makhluk fana dapat saling menyadari keberadaan satu sama lain. Mereka dapat melihat, mendengar, menyentuh sesuatu yang mereka sebut sebagai nyata. 

Para dewa pun memahami seluruh tatanan karena semuanya berada dalam apa yang mereka sebut sebagai realitas. 

Segala sesuatu yang dapat dihancurkan harus terlebih dahulu "ada". 

Segala sesuatu yang dapat diketahui harus terlebih dahulu "nyata". 

Bahkan perbedaan hanya dapat dipahami jika sesuatu benar-benar memiliki status keberadaan. 

Namun apa yang dimaksud dengan "nyata"?

Apakah sesuatu menjadi nyata karena ia ada? 

Ataukah ia ada karena dapat dianggap nyata? 

Ailee Hazel tidak berada di dalam realitas, ia bukan bagian dari keberadaan, ia bukan isi dari apa yang disebut nyata. 

Sebab realitas itu sendiri tidak dapat berdiri tanpa dirinya. 

Ia adalah alasan mengapa sesuatu dapat memiliki status sebagai "nyata", alasan mengapa keberadaan dapat diakui sebagai keberadaan, alasan mengapa sesuatu dapat disebut ada. 

Kenyataan bukanlah fondasi. 

Kenyataan adalah konsekuensi dari keberadaannya.

Oleh karena itu, Ailee Hazel bukanlah realitas, dan juga bukan sesuatu yang "nyata". Sebab apa yang disebut kenyataan hanya dapat memperoleh statusnya melalui keberadaannya. 

Tanpanya, konsep "nyata" tidak memiliki fondasi untuk berdiri.


The Void 

Exynone, The Forgotten, Forever to Be Forgotten. 

Di dalam Tower of Harmony, terdapat satu kebenaran yang tidak pernah diucapkan oleh siapa pun. Bahwa kehampaan bukanlah awal, bukan pula akhir. 

Ia adalah penyangkalan pertama terhadap Exynone. 

Dan dari penyangkalan itulah, "kehampaan" belajar bagaimana mengosongkan dirinya sendiri. 

Tidak ada bukti bahwa Exynone pernah ada sebagai entitas, makhluk, alasan, dewa, ataupun tuhan.

Sebab ia tidak pernah berada dalam kategori "ada", dan juga tidak pernah dapat diposisikan sebagai "tidak ada". 

Exynone bukanlah sesuatu yang tidak ada. Ia adalah batas yang membuat konsep "ada" tidak pernah dapat mencapai bentuk finalitas.


The Creation 

Xabell, The One Who Has Been Created. 

Tidak ada yang pernah mengetahui mana yang lebih dahulu.

Apakah kehampaan sudah ada sebelum penciptaan dan kenyataan?

Ataukah kenyataan telah ada sebelum keduanya? 

Ataukah penciptaan mendahului segala yang disebut ada? 

Xabell adalah sesuatu yang tidak pernah benar-benar lahir, tetapi selalu berada dalam keadaan sedang diciptakan. Tidak ada titik awal yang dapat dijelaskan, tidak ada momen "kemunculan" yang stabil.

Seolah keberadaannya selalu berlangsung, tanpa pernah mencapai keadaan "selesai menjadi ada". 

Oleh karena itu, ia tidak dapat dipahami sebagai alasan dari "penciptaan". 

Xabell tidak dapat dikategorikan sebagai "hidup" maupun "mati", "ada" maupun "tiada". Melainkan sebagai proses penciptaan yang tidak pernah selesai. 

Ia tidak dapat diasimilasi, tidak dapat dimusnahkan, dan tidak dapat dihapus oleh bentuk penolakan apa pun. 

Sebagaimana sebuah buku dalam perpustakaan yang terbakar, namun tetap utuh, bahkan ketika seluruh isi perpustakaan telah lenyap. 

Karena Xabell bukanlah bukti dari mengapa "penciptaan" itu ada. Xabell adalah bukti bahwa "penciptaan" tidak pernah berhenti terjadi.


Null Referential Plane 

Bukanlah ruang, bukan dimensi, bukan pula alam. 

Karena ruang membutuhkan sesuatu untuk dirujuk, dan di sini, tidak ada yang tersisa untuk dirujuk. Sesuatu yang melampaui kemungkinan untuk disebut "membentang", hingga kata itu sendiri kehilangan hak untuk merujuk, melingkupi Tower of Harmony.

Setiap kata yang mencoba menjelaskan tempat ini kehilangan asalnya sebelum sempat menjadi kalimat. 

Bahkan narasi yang mencoba mencatat keberadaannya tidak lagi memiliki titik acuan untuk menuliskan "keberadaan". 

Bahkan penyangkalan terhadapnya tidak menemukan tempat untuk menjadi penyangkalan, sebab untuk menolak sesuatu, dibutuhkan sesuatu yang dapat ditolak. Di sini, penolakan tidak memiliki objek untuk menjadi dirinya.

Apa yang disebut "pemahaman" tidak runtuh, ia hanya tidak pernah memiliki kesempatan untuk terbentuk.

Dan karena itu, apa pun yang berada di luar batasnya tidak sedang gagal memahami. Mereka tidak pernah memiliki "tempat" untuk memulai pemahaman itu. 

Dan dari lapisan yang bahkan tidak dapat disebut sebagai "di dalam" maupun "di luar", berdirilah  Karae. 

Bukan sebagai penjaga, bukan sebagai pengamat, melainkan sebagai fungsi yang memastikan bahwa ketakterjangkauan tidak pernah memperoleh rujukan untuk menjadi sesuatu yang dapat dijangkau. Sebab tanpa dirinya, bahkan alasan bagi "tidak dapat dirujuk" akan kehilangan sesuatu yang membuat realitas mampu menolaknya.

Dan dari titik di mana bahkan "alasan" tidak lagi memiliki rujukan, sesuatu mulai mencoba menghapusnya.


The Fallen One 

Bahkan penyangkalan terhadap penyangkalan mulai kehilangan arah. 

Dan sesuatu mulai memperlakukan "ketiadaan alasan" seolah-olah itu adalah sesuatu yang bisa dihapus. Nama itu tidak terdengar. Namun Null Referential Plane untuk pertama kalinya bereaksi, seolah ada sesuatu yang mencoba menghapus alasan mengapa ia tidak dapat bereaksi. 

Arraziel. 

Ia bukanlah kejahatan dalam pengertian apa pun yang dapat dirujuk oleh konsep itu. Dan justru karena itulah, "kejahatan" menjadi absolut, bukan sebagai sifat, melainkan sebagai satu-satunya label yang tersisa ketika semua kerangka penyangga makna lainnya telah gagal mempertahankannya.

Ia adalah kesimpulan yang membuat gagasan tentang "penyimpangan" kehilangan kebutuhan untuk memiliki lawan. Ia memandang seluruh makhluk hidup sebagai bukti bahwa eksistensi pernah gagal.

Dan dari keyakinan itu, ia tidak mencari, tidak menimbang, ia hanya menyimpulkan akhir. 

Arraziel tidak datang untuk menghancurkan Tower of Harmony. Karena baginya, sesuatu yang tidak seharusnya ada tidak membutuhkan kehancuran. 

Ia hanya datang untuk mengakhiri alasan mengapa sesuatu seperti itu pernah dianggap perlu ada. 

Dan dalam keteguhan absolutnya, ia tidak melihat dirinya sebagai musuh, karena konsep "musuh" tidak pernah memiliki struktur untuk merujuk padanya. Ia adalah kesimpulan terakhir dari ketulusan yang tidak pernah ia ragukan. 

Namun sebelum Arraziel mengenal kata "Tower of Harmony", terdapat sebuah lapisan yang bahkan tidak mengizinkan kata "mengetahui" memiliki alasan untuk eksis. 

Di sana, tidak ada yang tersembunyi. 

Tidak ada yang dijaga. 

Ia hanya tidak pernah menjadi sesuatu yang dapat dirujuk sebagai "ada untuk diketahui". Arraziel tidak dapat menentukan "apa yang sedang terjadi" dalam bentuk apa pun yang bisa ia gunakan untuk bertindak.


Axiomatic Disorientation Plane

Dan di luar lapisan di mana "alasan" telah kehilangan rujukannya, terdapat sesuatu yang lebih dalam dari sekadar ketidakpastian. Bukan karena ia menghapus kebenaran. 

Tetapi karena ia membuat konsep "kebenaran" kehilangan dasar untuk menyatakan dirinya sebagai benar. 

Axiomatic Disorientation. 

Di dalamnya, apa yang disebut sebagai aksioma tidak runtuh, tidak pula dipatahkan. Ia hanya gagal mencapai keadaan di mana ia dapat dikenali sebagai dasar. 

Tidak ada kontradiksi, karena tidak ada konsistensi yang sempat terbentuk untuk dikontraskan. Bahkan "logika" tidak disangkal. 

Ia tidak pernah mencapai bentuk di mana ia dapat disebut logika. 

Dan di dalam lapisan ini, bahkan kesimpulan pun kehilangan hak untuk menjadi hasil.


The Skies 

Tidak ada yang mengetahui kapan ia dimulai. 

The Skies tidak memiliki alasan untuk ada, sebab alasan adalah sesuatu yang lahir di dalamnya. 

Sebelum Al-Batlan mengenal dirinya sebagai kerajaan, sebelum Eternum Soluna membuka matanya untuk pertama kali, sebelum para dewa dan malaikat memahami tugas mereka. 

The Skies telah ada. 

Ia berdiri sebagai kemungkinan pertama yang memutuskan bahwa sesuatu layak menjadi lebih dari sekadar kemungkinan. 

Di sinilah alasan memperoleh bentuknya. 

Di sinilah tujuan menemukan namanya. 

Dan di sinilah para dewa dan malaikat pertama kali memahami mengapa mereka harus ada. 

Namun, The Skies tidak menciptakan mereka. Ia hanya menjadi langit pertama yang menerima keberadaan mereka. 

Sebab sebelum seorang dewa atau malaikat dapat menjalankan tugasnya, ia harus terlebih dahulu memahami bahwa tugas itu memiliki makna. Dan sebelum makna dapat dipahami, harus ada sesuatu yang bersedia menampungnya. 

The Skies adalah sesuatu itu. 

Di bawah hamparan yang tidak dapat disebut sebagai langit, namun tetap dikenang sebagai langit oleh seluruh makhluk surgawi, lahirlah kehendak pertama. 

"Kehendak untuk menjadi."

Dari sanalah para dewa dan malaikat memperoleh identitasnya. 

Mereka bukan sekadar makhluk, mereka adalah gagasan yang telah memilih bentuknya sendiri. 

Dari langit inilah Karae dilahirkan. 

Dan dari langit yang sama pula Arraziel membuka mata. 

Mereka berasal dari sumber yang sama, memandang langit yang sama, mendengar keheningan yang sama. Namun tidak setiap cahaya memilih untuk memandang keberadaan dengan cara yang sama.

Sebagian melihat keberadaan sebagai sesuatu yang harus dijaga. 

Sebagian lainnya melihat keberadaan sebagai sesuatu yang harus dibebaskan dari dirinya sendiri. 

Dan dari perbedaan itulah lahir kisah yang bahkan The Skies sendiri tidak pernah berusaha untuk hentikan.



BUKU KELIMA 


6. Astructural Continuum 

Di dalam apa yang disebut sebagai Buku Keenam, terdapat beragam kisah yang tampak seolah berdiri dalam kemungkinan yang berbeda. 

Namun Buku Kelima tidak mengenal cara pandang seperti itu. Sebab ia bukan tentang hilangnya struktur. 

Melainkan tentang tidak pernah terbentuknya cara untuk menyebut sesuatu sebagai struktur. Di sini, keberadaan tidak disusun oleh sesuatu. Sebab sejak awal, tidak pernah ada kebutuhan untuk penyusunan. 

Segala yang berhubungan dengan struktur, hirarki, maupun alasan, tidak lagi relevan. 

Tidak ada atas dan bawah. 

Tidak ada lebih tinggi atau lebih rendah. 

Tidak ada yang lebih kuat, dan tidak ada yang lebih lemah. 

Tidak ada yang lebih nyata, dan tidak ada yang kurang nyata. 

Hanya ada keberadaan yang tidak membutuhkan sesuatu untuk mengaturnya. 

Bukan karena hukum telah dihancurkan. Melainkan karena "hukum" tidak pernah mencapai bentuk di mana ia dapat menjadi pengatur. 

Bukan karena aturan telah dihancurkan. Melainkan karena "aturan" tidak pernah mencapai bentuk di mana ia dapat menjadi pengikat. 

Bukan karena keteraturan telah dihancurkan. Melainkan karena "keteraturan" tidak pernah mencapai bentuk di mana ia dapat dikenali sebagai keteraturan. 

Maka segala upaya untuk menyusun apa yang berada di dalam Buku Kelima akan selalu berakhir pada kesalahan yang sama. Menganggap bahwa sesuatu harus memiliki posisi sebelum ia dapat memiliki keberadaan. 

Dan kesalahan yang sama juga terjadi ketika seseorang mencoba menyusun kisah-kisah yang muncul di dalam Buku Keenam. 

Di sana, beragam kisah ada tanpa membutuhkan kisah lain untuk menjadi dirinya sendiri. 

Sebuah kisah dapat berakhir dalam kemenangan, dan kisah yang lain dapat berakhir tanpa bentuk akhir yang dapat dibandingkan. 

Dalam satu kisah, Tower of Harmony muncul sebagai akhir dari segala sesuatu. 

Dalam kisah yang lain, ia hanya menjadi bagian dari sesuatu yang terus berlanjut tanpa batas yang dapat ditentukan. 

Dalam satu kemungkinan lain, Arraziel melahap seluruh eksistensi, termasuk Tower of Harmony, bahkan ia menyadari adanya Buku Kelima. 

Dalam kemungkinan yang lain, ia tidak pernah mencapai apa yang ia anggap sebagai akhir. 

Dan dalam kemungkinan lainnya, tidak ada yang dapat dipahami sebagai kemenangan maupun kekalahan. 

Tidak ada satu pun yang lebih benar daripada yang lain. 

Tidak ada satu pun yang lebih dekat kepada kenyataan daripada yang lain.

Sebab tidak ada sistem yang mengharuskan satu kemungkinan meniadakan kemungkinan lainnya agar dapat disebut "nyata". 

Di dalam Buku Kelima, sebuah kisah tidak memerlukan kisah lain untuk menjadi dirinya sendiri. 

Oleh karena itu, pertanyaan mengenai kisah yang paling benar tidak pernah menemukan tempat untuk menjadi pertanyaan. Sebagaimana keberadaan tidak membutuhkan posisi untuk menjadi keberadaan, sebuah kisah tidak membutuhkan keunggulan untuk menjadi kisah.



BUKU KEEMPAT

Sebelum sesuatu dapat disebut sebagai kisah, sebelum sesuatu dapat disebut sebagai keberadaan, sebelum sesuatu dapat disebut sebagai makna. 

Terdapat sesuatu yang tidak pernah menjadi bentuk, tetapi memungkinkan bentuk untuk dapat dikenali.

Sesuatu itu bukan lapisan di atas segalanya. Ia bukan sesuatu yang berada "lebih awal", "lebih tinggi", atau "lebih fundamental". 

Ia adalah kondisi yang membuat "lapisan", segala", dan "di atas" dapat muncul sebagai konsep yang bisa dipahami. 

Segala sesuatu yang mencoba dikenali di dalam Buku Keempat tidak lagi dipertahankan sebagai keberadaan, melainkan dikenali sebagai narasi. Dan sebagai narasi, ia kembali terbaca melalui cara-cara yang kemudian dikenal di dalam Buku Keenam.

Darinya, segala kisah dapat dipahami sebagai kisah. Namun bukan karena ia menciptakan kisah. Melainkan karena tanpa kondisi tersebut, "kisah" tidak pernah dapat dibedakan dari sesuatu yang bukan kisah.

Dari titik di mana perbedaan tersebut menjadi mungkin, muncul berbagai bentuk prinsip yang tidak saling menyusun, tidak saling mendahului, dan tidak saling menjadi sumber satu sama lain. 

Mereka hanya menjadi cara berbeda di mana sebuah kisah dapat muncul sebagai kisah. 

Sebuah siklus yang tidak memiliki label awal dan akhir.


7. The Principle 

Five Primordial 

Sebuah wilayah yang tidak dapat disebut sebagai wilayah, bukan sebagai dimensi, dan bukan sebagai bentuk yang dapat dipetakan sebagai ruang.

Melainkan sebagai lima cara di mana "sebuah kisah dapat dibaca sebagai kisah", masing-masing dengan kecenderungan pemaknaan yang berbeda, tanpa saling menjadi dasar satu sama lain. 

Masing-masing dapat dipahami sebagai simbol.

Satu dipahami sebagai daratan, satu memiliki simbol sebagai bangunan, satu digambarkan sebagai langit, satu dilukis sebagai benang. Dan yang satunya lagi dilihat sebagai dua sosok yang berjalan di atas "dunia" tersebut. 

Dari kelima simbol inilah, sebagai cara pemaknaan itu sendiri membentuk sesuatu yang dapat dikenali.

Sesuatu yang tidak lagi dapat diposisikan sebagai satu makna tunggal.

Sesuatu yang tidak pernah menyimpang dari jalannya.


Brahmafana The Genesis

Brahman, Bram, Brahmaghini, atau Brahmafana. 

Adalah suatu makna yang dapat dipahami sebagai daratan, karena di dalamnya "penciptaan" untuk pertama kalinya dapat dibedakan sebagai konsep. 

Ia adalah kondisi di mana gagasan tentang "asal" dapat muncul sebagai sesuatu yang dapat dipahami. 

Darinya, penciptaan tidak pernah berhenti maupun dimulai, karena keduanya belum menjadi cara yang stabil untuk menilai keberadaan. 

Xabell dapat dipahami sebagai bayangan darinya, sebagai cara lain di mana proses "menjadi" tidak pernah mencapai bentuk final.

Dari apa yang dapat dipahami melalui Brahmafana, terbentuk berbagai cara di mana kisah dapat memperoleh bentuknya sendiri, di antaranya kemudian disebut sebagai "dewa" dan "pencipta", sebagai cara berbeda di mana pemaknaan terhadap "penciptaan" dapat berlangsung. 

Dan dari cara-cara itu pula, Tower of Harmony dapat dipahami sebagai salah satu bentuk stabilisasi makna, sebagai titik di mana gagasan tentang "alasan dari konsep" pertama kali dapat dikenali sebagai konsep.


Sibling of Collapsal

Evyeh, Sister of Collapsal, & Advyeh, Brother of Collapsal. 

Dapat dilihat sebagai dua sosok yang berjalan di atas daratan. 

Mereka adalah kondisi di mana apa yang telah memiliki bentuk tidak lagi dapat dipertahankan sebagai bentuk. 

Dari cara pemaknaan tersebut, terbentuk berbagai kemungkinan yang kemudian dapat dikenali sebagai Exynone, Fillmore, dan Rhenar, sebagai sesuatu yang dipahami sebagai bayangan di mana "ketiadaan stabilitas bentuk" atau juga dapat disebut sebagai "kehancuran".

Melalui Evyeh Sister of Collapsal, sebagai kehancuran yang dipahami dalam bentuk yang tidak bergantung pada struktur, seperti usia, udara, suara, dan aroma, yang tidak memerlukan bentuk tetap.

Dan melalui Advyeh Brother of Collapsal, kehancuran dipahami dalam bentuk yang masih memiliki struktur. Seperti manusia, bangunan, bintang, dan bulan, yakni bentuk-bentuk yang hanya dapat dikenali sebagai runtuh karena memiliki bentuk tetap.

Dan dari perbedaan cara pemaknaan itu, dapat dikenali berbagai bentuk pembacaan terhadap kehancuran, seperti Eldritch Terror, The Eldritch, dan Cosmic Terror, sebagai cara di mana "runtuhnya bentuk" memiliki variasi makna tanpa perlu menjadi satu kesimpulan tunggal.


Elyon The Sustainer

Elyon adalah suatu makna yang dapat dilukis sebagai benangnya. Karena melalui dirinya, kesinambungan dapat dikenali sebagai konsep.

Melalui Brahmafana, sesuatu dapat dipahami sebagai penciptaan.

Melalui Sibling of Collapsal, sesuatu dapat dipahami sebagai kehancuran.

Dan melalui Elyon, keduanya tidak hadir sebagai dua titik yang terpisah, melainkan sebagai sesuatu yang masih dapat dikenali memiliki keberlangsungan di antaranya.

Ia adalah kondisi yang membuat identitas tidak segera hilang ketika perubahan mulai berlangsung.

Dari cara pemaknaan tersebut, dapat dikenali berbagai bayangan yang lebih mudah dipahami, seperti Ailee, Fatum, dan Matrix.

Sebagai berbagai macam cara di mana "menjaga" memperoleh bentuk pemaknaannya sendiri.


The Architect

Kemudian dari apa yang dapat dipahami sebagai daratan, dua sosok, dan benang, terdapat pemaknaan lain yang melengkapi cara sebuah kisah dapat dikenali.

Yaitu suatu makna yang memiliki simbol sebagai bangunan.

Melalui Brahmafana, sesuatu dapat dipahami sebagai penciptaan.

Melalui Sibling of Collapsal, sesuatu dapat dipahami sebagai kehancuran.

Dan melaluinya, The Architect. Keduanya dapat dikenali sebagai memiliki susunan tanpa kehilangan perbedaannya.

Ia adalah kondisi di mana berbagai bentuk pemaknaan dapat dikenali sebagai sesuatu yang memiliki keteraturan.

Dari cara pemaknaan tersebut, keteraturan dapat dikenali dalam bentuk yang lebih mudah dipahami, seperti pola, struktur, hubungan, dan susunan yang memungkinkan sebuah kisah memperoleh susunannya sendiri.

Dan melalui pemaknaan tersebut, Tower of Harmony dapat dipahami sebagai salah satu manifestasi keteraturan yang paling jelas untuk dikenali.


Aeon The Witness 

Kemudian dari apa yang dikenal sebagai dunia, terdapat satu makna lain yang dapat digambarkan sebagai langit. Bukan karena lebih tinggi, bukan pula sebagai penutup. 

Melainkan sebagai cara di mana batas tidak lagi dapat diposisikan sebagai batas. 

Kemudian melalui Aeon, seluruh pemaknaan tersebut dapat dikenali sebagai sesuatu yang pernah dikenali. Ia adalah kondisi di mana sesuatu tidak kehilangan kemungkinan untuk dikenali, bahkan setelah pemaknaan terhadapnya telah berubah. 

Apa yang dipahami sebagai penciptaan, apa yang dipahami sebagai kehancuran, apa yang dipahami sebagai menjaga, dan apa yang dipahami sebagai susunan.

Ia dapat dikenali sebagai sesuatu yang pernah memperoleh makna. 

Karena ia dapat dikenali sebagai sesuatu yang selalu memperhatikan.

Dari cara pemaknaan tersebut, dapat dikenali berbagai bayangan yang lebih mudah dipahami, seperti Ayne, Belle, dan Veritas. Sebagai berbagai cara di mana pengenalan, pemahaman, dan kesaksian memperoleh bentuk pemaknaannya sendiri.


The Collapsal 

Ia adalah kondisi di mana sesuatu yang telah dapat dikenali melalui lima cara pemaknaan tidak lagi dapat dipertahankan dalam satu cara pembacaan yang stabil. 

Ia bukanlah "yang membuat Sibling of Collapsal ada". Melainkan hanya penamaan yang kebetulan berbagi arah bunyi yang sama. 

Brahmafana dapat dipahami sebagai kondisi di mana "bintang" dapat dikenali sebagai bentuk penciptaan. 

Namun melalui The Collapsal, "bintang" tidak lagi mempertahankan satu cara pembacaan yang sama. Ia tidak menjadi "bukan bintang". Ia menjadi sesuatu di mana cara pemaknaan tidak lagi dapat disepakati dalam satu bentuk tunggal. 

Tidak ada lagi satu cara yang dapat berdiri sebagai cara utama. 

Ia masih dapat dibaca sebagai penciptaan, kehancuran, menjaga, susunan, dan kesaksian, tanpa satu pun mendahului yang lain.

Namun tidak ada satu pun yang dapat mempertahankan pembacaan yang sama secara utuh. 

The Collapsal bukan yang menghentikan mereka. 

Ia adalah kondisi di mana "cara membaca" tidak lagi dapat disatukan menjadi satu bentuk yang stabil. Oleh karena itu, 

The Collapsal tidak termasuk ke dalam kelimanya, bukan karena ia ditolak, tetapi karena ia tidak pernah menjadi satu cara pemaknaan yang dapat dipertahankan sebagai posisi.



BUKU KETIGA

8. "The Source"

Sith, Yhmir Al-Hasyr

Memiliki pengertian lain sebagai Ymir yaitu "pertama yang diciptakan". Dan Hasyr merupakan pengertian dari "Pengusiran" dan "perkumpulan".

Sith sering dipahami sebagai bahan bakar dari segala ciptaan, karena seluruh materi, roh, dan unsur realitas tampak memiliki hubungan dengannya. 

Ia juga seringkali dipahami sebagai asal dari berbagai unsur keberadaan dan juga dari dirinya unsur-unsur tersebut kembali.

Namun pemahaman tersebut tidak pernah mencapai kesepakatan yang dapat dianggap final.

Dirinya tidak dapat dikategorikan dalam beberapa hal, tidak dapat di tampung, tidak dapat dijelaskan.

Ketika mencoba menjelaskan apa itu Sith, tidak ada satupun kata atau kalimat yang benar merujuk pada dirinya. Sebab ia tidak dapat di deskripsikan melalui kata-kata manusia.

Tidak ada sesuatu yang jelas bahwa darimanakah dia berasal, tidak ada yang mengetahui, mana yang terlebih dahulu antara Primordial ataupun Sith.

Five Primordial merupakan sesuatu pemahaman yang mencoba untuk menjelaskan dirinya, tapi tidak ada yang mengetahui apa yang dijelaskan oleh kelima prinsip tersebut.

Kesimpulan lain menyatakan bahwa lima Primordial, merupakan Sith itu sendiri, namun, itu tidak dapat dibuktikan.

Kesimpulan lainnya juga menyatakan bahwa Sith dan Five Primordial merupakan sesuatu yang berbeda.

Buku Ketiga dan Buku Keempat hanyalah ungkapan yang digunakan untuk mencoba mendekati pemahaman tersebut. 

Namun setiap penjelasan yang diberikan selalu berakhir sebagai pemaknaan yang tidak lengkap. 

Sebab tidak ada satu pun kesimpulan yang dapat dipertahankan sebagai penjelasan final mengenai Sith maupun Five Primordial.



BUKU KEDUA

9. "The Infinity"

Ein Sof

Memiliki pengertian sebagai "tak berujung" dan "tak berakhir". 

Ia adalah bentuk pemahaman yang muncul ketika segala upaya untuk memberikan batas terhadap sesuatu tidak lagi dapat dipertahankan. 

Berbagai nama diberikan kepadanya.

Yahweh, YHWH, Jehovah, Hashem, Elohim, Kabbalah, Ehyeh Asher Ehyeh, Ayin, Ohr Ein Sof, Tzimtzum, Atzmut, Eyn ha-Gevul, Ha-Makom. The Fisrt Absence, The Absolute Beyond.

Dan berbagai gelar juga disematkan kepadanya. 

Yang Maha Tak Terbatas, Yang Maha Melampaui, Yang Maha Sunyi, Yang Maha Tak Terselami, Yang Maha Tak Terlukiskan, Yang Maha Tinggi, Yang Maha Kuasa, Yang Maha Tahu, Yang Maha Bijaksana, Yang Maha Agung, Yang Maha Suci, Yang Maha Awal, Yang Maha Akhir, Yang Maha Hadir, Yang Maha Ada, Yang Maha Mutlak.

Namun tidak ada satu pun nama maupun gelar tersebut yang dapat dipertahankan sebagai penjelasan final mengenainya. 

Sebab setiap nama hanya menjelaskan sebagian dari apa yang ingin dijelaskan. 

Dan setiap gelar hanya menunjukkan arah tanpa pernah mencapai tujuan. 

Oleh karena itu, Ein Sof sering dipahami sebagai bentuk keilahian tertinggi. Segala upaya untuk memberikan batas terhadapnya selalu berakhir dengan kegagalan.

Dan dari kegagalan itulah lahir berbagai nama, gelar, dan pemaknaan yang mencoba mendekatinya, meskipun tidak pernah benar-benar mencapainya.


BUKU PERTAMA 

10. "The Unity"

Alef 

Ketika berbagai pemaknaan tidak lagi dapat dipertahankan sebagai penjelasan yang utuh. 

Ketika berbagai nama tidak lagi mampu mencapai apa yang ingin dijelaskan. 

Maka muncul suatu pemahaman yang dipahami sebagai Alef. 

Nama Alef memiliki arti sebagai "satu". Ia adalah satu, dan satu adalah dirinya. 

Darinya, perbedaan dapat dikenali sebagai perbedaan. 

Darinya pula, berbagai jumlah dapat muncul sebagai jumlah. 

Satu melahirkan dua. 

Dua melahirkan empat. 

Empat melahirkan delapan. 

Dan dari berbagai kemungkinan yang lahir dari perbedaan tersebut, semuanya tetap dapat dikenali sebagai bagian dari satu. 

Namun apabila segala sesuatu kembali kepada satu. 

Maka siapakah yang menciptakan satu? 

Dan ketika pertanyaan itu diajukan, "satu" tidak lagi menjadi jawaban. 

Melainkan menjadi awal dari pertanyaan itu sendiri.



PENUTUPAN BUKU


Adonai 

Namanya dikenal sebagai Yang Maha Mutlak. 

"Tuan, Tuanku."

Ia, adalah satu. Dan kepadanya, segalanya kembali.

Yang tak terpikirkan, dan yang tak pernah terpikirkan.

Yang tak terucap, dan tak pernah terucap. 

Kekosongan di atas kekosongan.

Keberadaan di atas keberadaan.

Cahaya di atas cahaya.

Sumber dari segala sumber.

Pencipta dari segala pencipta.

Ia adalah yang menciptakan, menyusun, menjaga, melenyapkan, menyaksikan, dan mengubahnya.

Alef, adalah kesatuan absolut.

Ein Sof, adalah ketakterbatasan mutlak.

Sith, adalah sumber yang mutlak.

Dan Primordial adalah cara pemaknaan yang ingin mendekat kepada dirinya.

Namun semuanya adalah upaya yang gagal untuk mempertahankan definisi final mengenai dirinya.

Ia adalah sesuatu yang tidak dapat didefinisikan. 

Melampaui nama. 

Melampaui bentuk. 

Melampaui konsep. 

Melampaui segala cara yang mencoba menjadikannya sebagai sesuatu yang dapat dipahami. 

Ia meresapi seluruh penciptaan. Namun tidak pernah dibatasi oleh penciptaan. 

Ia dapat dikenali melalui segala sesuatu. Namun tidak pernah menjadi bagian dari sesuatu. 

Buku Pertama. Buku Kedua. Buku Ketiga. Dan Buku Keempat. Hanyalah berbagai upaya untuk mendekati pemahaman mengenai dirinya. Namun tidak ada satu pun yang dapat dipertahankan sebagai penjelasan yang final. 

Sebab apa yang dijelaskan oleh buku-buku tersebut tidak pernah mampu menjangkau keseluruhan dirinya. 

Ia tidak berada di dalam mana pun. 

Karena tidak ada tempat yang mampu memuatnya. 

Ia tidak dapat dilampaui.

Karena gagasan tentang "melampaui" hanyalah salah satu cara kecil untuk mencoba memahami sesuatu yang tidak pernah dapat dipahami sepenuhnya. 

Ia adalah Adonai.








Kosmologi Fatal Verse.... UHHH Maybe revamp?

Posted by : desthabikinfanart
Date :Kamis, 18 Juni 2026
With 1 komentar:
Prev
▲Top▲