Exynone Desc

| Rabu, 08 Juli 2026

Exynone, The Forgotten, Forever to Be Forgotten. 

Dikatakan kepada suatu makhluk, "Pernahkah engkau memikirkan tentang kehampaan?" Ia menjawab bahwa kehampaan adalah ketiadaan. Sebuah ruang yang tidak memiliki cahaya, waktu, kehidupan, maupun keberadaan. 

Sebagian menyebutnya sebagai Abad Kekosongan, sebuah masa yang dipercaya telah ada sebelum penciptaan pertama kali berlangsung. Atau, dalam istilah yang lebih dikenal oleh makhluk fana, suatu keadaan sebelum Big Bang, ketika penciptaan belum benar-benar terjadi. 

Namun... Jika bahkan kehampaan masih dapat dipahami sebagai tidak adanya sesuatu, bukankah itu berarti kehampaan sendiri masih memiliki makna? Masih memiliki identitas. Masih memiliki cara untuk dijelaskan. 

Lalu, apakah yang berada sebelum seseorang bahkan mampu memikirkan tentang kehampaan itu sendiri? Bukan sebelum waktu. Bukan sebelum ruang. Bukan sebelum penciptaan. Melainkan sebelum segala kemungkinan untuk menyebut sesuatu sebagai "ada" maupun "tidak ada" pernah memiliki arti. 

Di sanalah nama Exynone mulai disebut. 

Atau mungkin... 

Tidak pernah benar-benar disebut. 

Terdapat suatu pemahaman mengenai sesuatu yang bahkan tidak pernah benar-benar dapat disebut sebagai sesuatu. Seorang peneliti mempertanyakan satu hal yang tampak sederhana. 

Mengapa sesuatu dapat disebut sebagai tidak ada? 

Dengan mengenakan setelan astronominya, ia mendaki langit, melintasi realitas demi realitas yang tersusun pada setiap lapisan. Ia mencari sebuah jawaban yang bahkan belum pernah terpikirkan oleh siapa pun. Di setiap realitas yang ia singgahi, ia menemukan kebenaran yang berbeda mengenai kehampaan.

Ada yang berkata bahwa kehampaan adalah makhluk hidup yang melampaui ruang dan waktu, menelan segala sesuatu hingga tidak lagi dapat dipahami. 

Ada pula yang berkata bahwa kehampaan sama sekali tidak dapat disebut sebagai ada, sebab sejak awal ia memang tidak pernah memiliki keberadaan. 

Setiap upaya untuk memahaminya hanyalah jalan menuju kegagalan. Realitas demi realitas terus memperlihatkan penafsiran yang berbeda. Kebenaran demi kebenaran terus menawarkan jawaban yang saling bertentangan. Namun tidak satu pun mampu membenarkan dirinya sebagai kebenaran yang mutlak. Hingga, pada penghujung pencariannya, ia menemukan satu pernyataan yang berbeda dari semuanya. Pernyataan itu tidak berusaha menjelaskan apakah sesuatu itu ada. Tidak pula mencoba membuktikan bahwa sesuatu itu tidak ada. 

Ia hanya berkata, "Tidak pernah ada bukti bahwa sesuatu itu memiliki eksistensi." 

Dan untuk pertama kalinya... Sang peneliti menyadari bahwa mungkin bukan jawaban yang gagal ditemukan. Melainkan pertanyaannya yang sejak awal tidak pernah dapat diajukan. 

"Exynone" 

Pernahkah anda memikirkan hal yang sama seperti sang peneliti itu? 

Jika memang iya, maka anda seperti sedang bertanya. "Di manakah ujung dari sebuah lingkaran?" Bagaimana mungkin seseorang mencari asal dari sesuatu yang bahkan tidak pernah memenuhi syarat untuk memiliki asal?


The First Denial 

Di salah satu kerajaan, hiduplah seorang dewa yang dikenal sebagai penguasa kehampaan. Ia telah mengasimilasi konsepsi tentang kehampaan itu sendiri. Baginya, segala bentuk ketiadaan merupakan bagian dari dirinya. 

Banyak korban The Eldritch yang melebur menjadi kehampaan yang ia kuasai. Melalui kekuatan itu, ia mampu menghapus keberadaan yang bahkan melampaui dimensi tempatnya berpijak. 

Hingga pada suatu saat... 

Sesuatu berdiri di hadapannya. Sesuatu yang bahkan tidak dapat disebut sebagai keberadaan. Sang dewa mengira bahwa sosok itu hanyalah salah satu monster Eldritch yang belum pernah ia temui. Maka ia mencoba mengasimilasinya. 

Namun tidak ada satu pun rujukan yang dapat menjadikan sosok itu sebagai bagian dari kehampaan. 

Ia mencoba menghapusnya. 

Tidak terjadi apa pun. 

Ia bahkan mencoba menghapus kehampaan itu sendiri. 

Tetap tidak terjadi apa pun. 

Barulah ia menyadari... Bahwa seluruh kekuatannya selalu bergantung pada satu hal. Sesuatu yang masih dapat disebut sebagai kehampaan. Sedangkan sosok di hadapannya. Bahkan tidak pernah memenuhi syarat untuk disebut demikian. 

Sosok itu hanya tersenyum. 

Sesaat kemudian... 

Tidak pernah ada kisah yang menceritakan sang dewa. Tidak pernah ada ingatan yang mengenalnya. Tidak pernah ada sejarah yang membuktikan bahwa ia pernah ada. Seolah-olah seluruh keberadaannya runtuh bersama satu kesalahan yang baru saja ia sadari. 

Sesaat sebelum namanya menghilang dari seluruh kisah... 

Sebuah pemahaman yang bahkan tidak pernah dapat dipastikan berasal dari mana seolah melintas. 

"Jika engkau adalah otoritas dari kehampaan... Maka kembalilah kepada apa yang selama ini engkau sebut sebagai kehampaan." 


The Unreachable Reference 

Terdapat suatu makhluk yang tidak diketahui darimana ia berasal. Banyak yang meyakini bahwa setiap bentuk ketidakteraturan bukanlah sesuatu yang muncul, melainkan sesuatu yang selalu berasal darinya. 

Sebagian mempercayai bahwa ia berasal dari salah satu alasan dari Tower of Harmony namun tidak pernah disebutkan namanya. 

Sebagian menyebut asalnya sebagai Axiomatic Disorientation Plane. Sebuah ranah di mana bahkan aksioma kehilangan alasan untuk tetap disebut sebagai aksioma. 

Sebagian menggambarkannya sebagai seekor lintah raksasa yang melahap eksistensi maupun ketiadaan. Sebagian lainnya berkata bahwa tidak pernah ada wujud yang benar-benar dapat menggambarkannya.

"Ketika wujud yang diyakini lintah itu menghendaki sesuatu, maka keabadian terhadap sesuatu tersebut dalam bentuk apapun akan menghilang." 

"Dari dimensi manakah sesuatu yang disebut lintah itu berasal? Atau... Apakah lintah itu masih dapat disebut sebagai sesuatu yang dapat ditampung oleh sebuah dimensi?" 

Lintah itu bukanlah makhluk Eldritch, bukan dewa, tapi jauh dalam pengertian kategori Tower of Harmony... 

Begitu ia bertemu dengan sesuatu itu yang disebut sebagai Exynone. Satu kehendak cukup baginya untuk menjadikan keberadaan dan ketiadaan sebagai santapan yang sama. 

Namun... Tidak ada sesuatu yang dapat dijadikan sebagai awal dari kehendak itu. 

Untuk pertamakalinya... 

Ia tidak menemukan sesuatu yang dapat dijadikan sebagai "ada". Namun ia juga tidak menemukan sesuatu yang dapat dijadikan sebagai "tiada". Keberadaannya sendiri masih tidak memiliki bukti apakah ia pernah ada. Ataupun ia tidak ada. 

Dalam bentuk keabstrakan seperti itu, lintah itu menegaskan bahwa ia, mampu melahap segala eksistensi. Namun, ia tidak mengetahui tentang sesuatu yang sedang berdiri dihadapannya. 

"Rujukan apakah yang mampu menunjuk sesuatu yang bahkan tidak pernah memenuhi syarat untuk dirujuk?" 

Ia mencari sesuatu yang dapat dijadikan sebagai eksistensi. Tidak menemukannya. 

Ia mencari sesuatu yang dapat dijadikan sebagai ketiadaan. Tetap tidak menemukannya. 

Kehendaknya kehilangan sesuatu untuk dijadikan tujuan. Sebab keduanya masih merupakan sesuatu yang dapat dipahami. Sedangkan setiap upaya untuk menjelaskan Exynone selalu berakhir sebelum penjelasan itu sendiri memiliki arti.


The Last Absence 

Samar-samar... Terdapat sesuatu yang tidak pernah dapat dipastikan sebagai suara. Bukan bisikan, bukan gema, bukan pula sesuatu yang dapat disebut sebagai penyampaian. Namun, sebuah pemahaman tetap hadir, tanpa diketahui dari mana ia berasal, tanpa diketahui kepada siapa ia ditujukan. 

"Ia tidak hidup di setiap realitas, ia hanya tidak pernah berani hidup pada satu realitas saja." 

"Di setiap realitas, di setiap struktur, di setiap dimensi, di setiap Fatum Branch. Pada setiap kemungkinan yang masih mampu disebut sebagai 'ada'." 

"Banyak yang percaya bahwa selama masih ada satu realitas, maka ia akan tetap hadir. Selama masih ada satu kemungkinan, maka ia tidak akan pernah benar-benar lenyap. Karena itulah banyak yang meyakini bahwa kemusnahannya adalah sesuatu yang mustahil." 

"Namun seluruh keyakinan itu bergantung pada satu hal. Bahwa masih ada kemungkinan baginya untuk hadir." 

"Lalu... bagaimana jika kemungkinan itu tidak pernah memenuhi syarat untuk disebut sebagai kemungkinan?" 

Dan pijakan yang selama ini memungkinkan entitas itu hadir pada setiap realitas tidak lagi dapat dipertahankan. Bukan karena pijakan itu dihancurkan. Bukan pula karena pijakan itu diambil. Melainkan karena seluruh alasan untuk menyebut sesuatu sebagai pijakan kehilangan maknanya. 

Sejak saat itu... 

Bukan lagi persoalan apakah ia hadir atau tidak hadir. 

Melainkan tidak pernah lagi ada cara untuk mempertahankan bahwa kehadiran itu sendiri masih memiliki tempat untuk berpijak. 

Selama suatu eksistensi masih mempertahankan dirinya melalui kehadiran pada setiap realitas atau setiap kemungkinan, maka kehadiran itu sendiri masih bertumpu pada suatu pijakan. The Last Absence adalah lenyapnya pijakan yang memungkinkan pernyataan "ia hadir" tetap memiliki makna.


The Unwritten Page 

Pernahkah engkau membayangkan... Bahwa setiap kisah yang pernah ditulis oleh manusia, mulai dari dongeng seorang anak kecil hingga mitologi yang kemudian disembah oleh para makhluk hidup... 

Bukan sekadar cerita, melainkan alasan mengapa sesuatu dapat dikenal sebagai sebuah kisah. Ini bukan tentang hiburan. Ini bukan tentang membaca. Ini adalah tentang narasi sebagai salah satu fondasi yang memungkinkan keberadaan memiliki makna. 

Terdapat seorang pria yang hidup di dalam sebuah karya yang ditulis oleh seorang wanita. Lambat laun, sang penulis jatuh cinta kepada tokoh yang ia ciptakan sendiri. Namun di atas kisah itu, terdapat sosok lain yang menuliskan mengapa wanita tersebut jatuh cinta. 

Dan di atasnya lagi, pada lapisan Buku Keenam, terdapat salah satu Al-Batlan. Ia tidak pernah memegang pena, tidak pernah menuliskan satu kata pun, ia hanya duduk, dan menutup matanya, lalu tertidur. 

Dari tidurnya... Seluruh kisah pada Buku Ketujuh mulai menuliskan dirinya sendiri. Seolah-olah sebuah tinta yang tidak pernah disentuh telah melahirkan seluruh cerita yang pernah ada. Dan dari kisah itu, makhluk fana akan melahirkan kisah-kisah, kemudian kisah yang terwujud memikirkan sebuah kisah lagi. Hingga mencapai paradox yang tak berujung. 

Setiap kata, setiap kalimat, setiap kisah, setiap dunia. Seluruhnya lahir sebagai bagian dari penulisan itu.

Namun... Bahkan sosok itu sendiri bukanlah akhir. Sebab terdapat sesuatu yang menjadi alasan mengapa narasi dapat disebut sebagai ada. Mengapa sebuah cerita dapat ditulis. Mengapa sebuah kalimat dapat dipahami. Ia tidak pernah menulis satu kisah pun. Ia tidak pernah menggerakkan satu pena pun. 

Namun selama dirinya tetap ada... Narasi selalu menemukan cara untuk menuliskan dirinya sendiri. Banyak yang percaya dan meyakini bahwa sesuatu yang terjadi, seperti peperangan dewa dan monster Eldritch, adalah ulah dari keberadaannya. 

Hingga sesuatu berdiri di hadapannya...

Tidak ada satu pun kalimat yang mampu menjadikannya sebagai subjek. Tidak ada satu pun cerita yang mampu memberinya awal. Tidak ada satu pun narasi yang mampu mempertahankan bahwa ia sedang menceritakan sesuatu. Sebab setiap narasi selalu membutuhkan satu syarat. Bahwa masih ada sesuatu yang dapat dijadikan sebagai cerita. Sedangkan sosok yang berdiri di hadapannya... Bahkan tidak pernah memenuhi syarat untuk disebut sebagai bagian dari sebuah cerita.

Maka narasi itu mulai menulis, namun setiap kalimat berakhir sebelum kalimat berikutnya memiliki arti. Setiap halaman tetap terbuka, tetapi tidak pernah ada sesuatu yang berhasil dituliskan. 

"Tulislah sesuatu yang tidak pernah dapat dipikirkan. Rujuklah sesuatu yang tidak pernah dapat dirujuk. Maknailah sesuatu yang tidak pernah memiliki syarat untuk dimaknai. Pada saat itulah engkau akan memahami mengapa seluruh tulisanmu berhenti menjadi sebuah kisah." 

Narasi kehilangan sesuatu untuk dijadikan kisah. Dan sejak saat itu... 

Tidak pernah lagi ada cara untuk mempertahankan bahwa penulisan itu sendiri masih memiliki sesuatu untuk dituliskan. 


The Final Trace 

Meski Exynone tidak pernah dapat dijelaskan melalui fondasi apa pun, terdapat satu pemahaman yang tetap bertahan di antara para makhluk transendensi. Bukan sebagai kebenaran. Bukan pula sebagai kesimpulan. Melainkan sebagai dugaan yang tidak pernah berhasil dibuktikan. 

Bahwa... Masih ada sesuatu yang menyerupai jejak, seolah-olah berasal darinya. 

Exynone tidak dapat dijangkau oleh kehampaan, tidak pula oleh rujukan, kehadiran, ataupun narasi. Namun, selama masih ada satu makhluk yang mencoba menyebut namanya... Sebagian percaya bahwa jejak terakhir itu belum benar-benar lenyap. 

Yang lain berkata bahwa jejak itu bukan milik Exynone. Melainkan milik mereka yang gagal melupakannya. 

Dan mungkin... Itulah sebabnya ia dikenal sebagai The Forgotten. 

Bukan The Never Known. 

Sebab sesuatu yang tidak pernah dikenal tidak perlu dilupakan. Sedangkan sesuatu yang dilupakan, mungkin pernah meninggalkan jejak. Atau mungkin, tidak pernah ada siapa pun yang benar-benar mengingatnya sejak awal.


Book Five Identification: 

Informasi ini berasal dari buku kelima* 

Dari setiap kisah yang berbeda, ia digambarkan sebagai sesuatu yang selalu berkaitan dengan kekosongan, ketiadaan, juga eksistensi. Tetapi dari semua itu, namanya selalu mengarah pada satu hal. Yaitu Exynone. 

Nama: Exynone 

Julukan: The Forgotten, Forever to be Forgotten. Entity 00 (Zero), The Void, Nothingness, The Unknown, The Absence Behind Nothing. 

Penampilan: Tidak ada penampilan yang pasti. Dalam kisah lain ia tidak memiliki wujud. Dalam kisah yang lain lagi, ia digambarkan sebagai pria dengan wujud sepenuhnya hitam seperti bayangan. Dalam kisah lainnya lagi ia memiliki wujud wanita. Dalam kisah yang berbeda, ia dapat digambarkan sebagai makhluk mitologi kuno. 

Asal: Dalam sebagian besar kisah, ia dikatakan berada di dalam Tower of Harmony. Pada kisah lain, ia berasal dari 0-Layer (sebuah dimensi yang memiliki kedudukan serupa dengan Archeon Aetherna dalam Fatal Verse Legacy). Sebagian kisah menggambarkannya sebagai sesuatu yang berasal dari kehampaan atau ketiadaan. Kisah lainnya menyatakan bahwa ia berasal dari luar Buku Keenam. Bahkan terdapat kisah yang menolak seluruh sistem Buku, dan menyatakan bahwa Exynone tidak pernah menjadi bagian dari struktur tersebut sejak awal.


Book Five Archive: 


Canon A 

Fatal Verse Legacy 

Kisah mengenai Al-Batlan sebagai sebuah dimensi dan Exynone dikenal sebagai Entity 00 (Zero) entitas yang membantai para dewa secara langsung. Hanya karena ia menolak bekerja sama dengan Yaon-Zi.


Canon B 

Fatal Verse The Shadow Behind All 

Terdapat suatu kisah yang tidak pernah mengenal Adonai, Alef, Ein Sof, Sith, Five Primordial, Tower of Harmony, maupun seluruh nama yang pernah disebut. Sebab sejak awal... Tidak pernah ada sesuatu selain Exynone. Karena "segalanya" tidak pernah memenuhi syarat untuk ada di dalam kisah ini. 

Maka setiap upaya untuk membandingkan Exynone adalah sesuatu yang mustahil. Sebab tidak pernah ada sesuatu selain dirinya. 


Canon C 

Fatal Verse Clash 

Sebuah kisah di mana seluruh posisi yang selama ini memisahkan keberadaan kehilangan maknanya. Buku Keenam tidak lagi mengenal tingkatan. 

Al-Batlan, Eldritch Terror, The Eldritch, Garden of Eden, Veracity & Atrocity, Kabbalah, Tower of Harmony, bahkan The Skies. Seluruhnya diperlakukan sebagai keberadaan yang setara. 

Tidak ada lagi "lebih tinggi". Tidak ada lagi "lebih rendah". Seluruhnya saling mengasimilasi hingga batas antara satu dengan lainnya tidak lagi dapat dipertahankan. Dari pengasimilasian besar-besaran itu, hanya sedikit nama yang masih dapat dikenali. 

Dan salah satunya... 

Adalah Exynone. 


Canon D 

University Fatale 

Tidak ada peperangan, tidak ada lagi pengasimilasian, tidak ada kehancuran kosmik... 

Buku Keenam, digambarkan sebagai sebuah sekolah yang damai, dimana Exynone adalah sosok murid yang selalu dilupakan di dalam pergaulan. Murid yang hampir tidak pernah diingat keberadaannya. Setiap kali daftar hadir dipanggil, namanya selalu terlewati. Setiap kali foto kelas dicetak, sosoknya tidak pernah dapat dipastikan berada di dalamnya. 

Namun ketika semua orang mencoba mengingat siapa yang terlupakan... 

Seluruh kelas menyebut nama yang sama. 

"Exynone."


Canon E 

Canon F 

Canon ect... 


Catatan Buku Kelima* 

Ini bukanlah bentuk inkonsistensi... 

Tetapi seluruh canon yang menggambarkan Exynone tidak saling membatalkan. Setiap kisah mempertahankan pemahamannya sendiri mengenai Exynone, termasuk asal, wujud, sifat, maupun kedudukannya. Karena itu, tidak ada satu pun interpretasi yang dapat ditetapkan sebagai identitas mutlak, selama kisah tersebut tetap merujuk kepada nama yang sama, yaitu Exynone.

0 komentar:

Posting Komentar

Next Prev
▲Top▲