Newest Post

Kosmologi Fatal Verse.... UHHH Maybe revamp?

| Kamis, 18 Juni 2026
Baca selengkapnya »

 Fatal Verse Cosmology update:

Sering kali kita menatap langit dan meyakini bahwa manusialah satu-satunya kehidupan yang dianugerahi tempat di tengah hamparan semesta. Namun, pernahkah terlintas dalam benakmu bahwa di balik tabir kosmos yang kita kenal, terdapat dunia-dunia lain yang tak pernah tersentuh oleh pemahaman kita? Dunia yang dihuni oleh ras-ras selain manusia, atau bahkan negeri-negeri yang begitu mirip dengan rumah yang kita tinggali, seolah menjadi pantulan dari semesta kita sendiri. 

Dan bagaimana jika, di balik tirai yang memisahkan setiap realitas, terdapat makhluk-makhluk yang memandang seluruh peradaban manusia sebagaimana kita memandang sebutir pasir yang tergeletak di tepi pantai? Makhluk-makhluk yang menyaksikan lahir dan runtuhnya peradaban sebagai sesuatu yang begitu singkat.

Sejak dahulu kala, kita percaya bahwa kegelapan hanyalah ruang kosong yang mengelilingi bintang-bintang. Padahal, mungkin kitalah yang hidup di dalamnya. Dan lebih mengerikan lagi, penghuni kegelapan itu bahkan tidak menganggap kita sebagai sesuatu yang hidup. Sebab bagi mereka, seluruh sejarah manusia tidak lebih berarti daripada seekor semut yang tidak dapat mengubah sejarah dari sebuah kerajaan.

Dengarkanlah kisahku, dan saksikanlah bersama perjalanan ini. Sebab sejak dahulu kala, terdapat sebuah pepatah yang diwariskan dari generasi ke generasi. 

"Di atas langit, masih ada langit." 

Dan mungkin, pepatah itu jauh lebih harfiah daripada yang pernah kita bayangkan.



BUKU KETUJUH


1. Dunia Fisik

Dunia Manusia. 

Sebuah tempat yang kita sebut rumah, tempat di mana kita dilahirkan, berjalan, tertawa, menangis, dan pada akhirnya kembali menjadi bagian dari tanah yang kita pijak. 

Di sinilah segala sesuatu yang dapat disentuh, dilihat, didengar, dan dipahami oleh akal manusia, sebuah dunia yang diatur oleh hukum-hukum yang tampak mutlak dan tak tergoyahkan.

Ketika kita memandang matahari, kita akan berkata, "Itu adalah matahari." Ketika sebuah apel dilempar ke udara, kita tahu bahwa ia akan jatuh kembali ke tanah. Bagi kita, semua itu adalah kebenaran yang begitu lumrah hingga tidak pernah terlintas untuk mempertanyakannya.

Kemudian jika aku bertanya kepadamu. "Apakah kamu memahami keseluruhan dari dunia fisik?", maka kebanyakan dari kamu akan menjawab, "Ya, kita adalah manusia, kita adalah satu-satunya yang hidup di semesta yang begitu luas."

Maka itu adalah kebenaran yang begitu sempit, sebab kamu hanya melihat setetes air dari luasnya samudra.


Dunia Lain 

Kini, izinkan aku memperkenalkan kepadamu dunia-dunia lain yang tersembunyi di balik tabir realitas. Dunia-dunia yang memiliki langitnya sendiri, sejarahnya sendiri, dan hukum-hukum yang berbeda dari dunia manusia. Dunia yang dihuni oleh ras-ras yang tidak pernah tercatat dalam buku sejarah mana pun.

Vampir, berbeda dari kita, mereka adalah makhluk yang hanya terbangun pada malam hari, kemudian tertidur pada siang hari. Mereka menjadikan darah dari ras lain seperti manusia sebagai menu utama mereka. Mereka berada satu rumah di tempat dimana manusia berada, tetapi kebanyakan dari kalian membantah bahwa mereka tidaklah nyata.

Iblis, makhluk yang namanya selalu diiringi oleh kebencian, kekacauan, dan pemberontakan. Mereka berasal dari sebuah alam asing yang dikenal sebagai "Underworld", sebuah dunia yang terpisah dari tatanan manusia. Mereka dipercaya sebagai ras yang mulia dan dihormati oleh para dewa. Namun setelah dosa yang dilakukan oleh leluhur mereka, kemuliaan itu direnggut dan digantikan oleh kutukan yang diwariskan turun-temurun, sejak saat itu, nama mereka menjadi simbol kehancuran di banyak dunia.

Naga. Makhluk purba yang telah mengarungi zaman jauh sebelum lahirnya peradaban pertama. Mereka menyaksikan kerajaan-kerajaan bangkit dan runtuh sebagaimana manusia menyaksikan pergantian musim, mereka dapat terbang dengan sayap yang membelah langit dan umur yang melampaui generasi, mereka menjadi saksi bisu perjalanan dunia. Bahkan hingga hari ini, sebagian dari kekuatan yang digunakan manusia masih berasal dari warisan yang ditinggalkan oleh ras kuno tersebut.

Kemudian masih banyak lagi ras-ras lain.

Seperti Elf makhluk suci yang tunduk kepada apa yang mereka anggap "Agung".

Roh-roh yang berbicara namun tak mampu didengar oleh telinga manusia. 

Makhluk-makhluk gaib yang keberadaannya hanya muncul dalam cerita rakyat. 

Hingga peradaban asing dari bintang-bintang yang jauh, yang oleh manusia disebut sebagai alien.

Sebagian dari kalian mungkin menertawakan semua itu, sebagian lagi mungkin menganggapnya sebagai takhayul, mitos, atau khayalan belaka. Namun ketidakpercayaan tidak pernah menjadi bukti bahwa sesuatu itu tidak ada. 

Dan sementara kalian menjalani kehidupan sehari-hari tanpa mempedulikannya. Sementara dunia-dunia itu tetap berputar, tetap hidup, dan tetap ada di balik tirai yang tidak mampu kalian lihat.


2. Alam keabadian

Aetherium 

Sebuah dimensi yang dihuni oleh para dewa, esensi dewa, para malaikat, serta roh-roh suci yang telah melangkah melampaui batas dunia fana. Mereka adalah sosok yang dipercaya, diyakini, dan diimani oleh tak terhitung banyaknya makhluk hidup di berbagai dunia. 

Sebagian menyebut mereka sebagai penjaga tatanan, sebagian lainnya memanggil mereka dengan nama yang maha kuasa. 

Mereka dipercaya sebagai alasan mengapa bintang-bintang tetap beredar di langit, mengapa hujan turun membasahi tanah yang tandus, mengapa tumbuhan tumbuh menghijau, dan mengapa api tetap menyala. 

Dari singgasana mereka yang menjulang di atas dunia fana, para dewa menatap kehidupan yang berada di bawahnya. Mereka mendengarkan doa-doa yang dipanjatkan oleh para penyembah, lalu menjawabnya sesuai dengan kehendak mereka.

Di antara mereka terdapat sosok-sosok yang mampu mengguncang fondasi dunia, meruntuhkan tatanan yang telah berdiri selama zaman yang tak terhitung, atau bahkan menjadi awal dan akhir dari semesta.

Namun, Aetherium bukanlah sebuah alam yang tunggal. Sebagaimana langit memiliki lapisan-lapisannya sendiri. Aetherium terbagi menjadi tiga tingkatan.

1. Lower Aetherium 

2. Aetherium 

3. High Aetherium


Yang pertama adalah


Lower Aetherium 

Dimensi yang membentang luas di balik langit dan bumi, menyelimuti setiap ruang yang pernah ada, setiap hukum yang pernah berlaku, serta setiap hubungan sebab dan akibat yang membentuk realitas. Melalui gema yang lahir dari Noosphere, di sinilah esensi para dewa pertama kali muncul. 

Mereka belum menjadi sosok, melainkan kemungkinan untuk menjadi sosok. Mereka belum memiliki nama, kehendak, ataupun tujuan, dan hanya menunggu bentuk yang akan menentukan siapa diri mereka kelak. 

Lower Aetherium adalah alam dari segala sesuatu yang belum selesai, sebuah wilayah yang berada di antara keberadaan dan kemungkinan. 

Di sana, stabilitas merupakan sesuatu yang asing. 

Api belum mengetahui apakah dirinya panas atau dingin, waktu belum memutuskan apakah ia akan mengalir lurus ataukah mengitari, dan ruang belum yakin apakah dirinya benar-benar ada. 

Sebab di Lower Aetherium, bahkan hukum-hukum yang menjadi fondasi realitas masih berada dalam keadaan yang belum sempurna. Segala sesuatu telah lahir, tetapi belum ada satu pun yang menentukan akan menjadi apa.


Aetherium 

Ketika sesuatu telah cukup stabil untuk dikenali, ketika sebuah kemungkinan akhirnya memilih bentuknya sendiri. Maka ia akan menjadi sosok yang dikenal sebagai dewa. 

Di sinilah para dewa dan malaikat bersemayam, mereka bukan lagi sekadar kemungkinan, melainkan otoritas yang bekerja. 

Mereka menjaga tatanan yang menopang dunia, mengatur turunnya hujan, memastikan malam tetap diselimuti oleh kegelapan dan siang tetap diterangi oleh cahaya, serta menjaga bintang-bintang dan planet-planet agar tetap berjalan pada jalurnya. 

Namun, sebagaimana segala sesuatu yang memiliki bentuk, para dewa pun tidak luput dari keruntuhan. 

Ketika nama mereka dilupakan, ketika kekuasaan mereka memudar, atau ketika keberadaan mereka tidak lagi mampu mempertahankan dirinya sendiri, mereka akan runtuh namun tidak benar-benar mati. 

Mereka akan terurai, lalu kembali kepada Lower Aetherium sebagai kemungkinan yang belum selesai, menunggu saat ketika mereka dapat dilahirkan kembali dalam wujud yang baru.


Noosphere

Dimensi yang lahir dari akumulasi seluruh pemikiran makhluk berakal. Setiap mimpi yang pernah dipimpikan, setiap legenda yang pernah diceritakan, setiap ketakutan yang pernah dirasakan, dan setiap gagasan yang belum pernah terwujud, semuanya memiliki bayangannya sendiri di Noosphere.

Di sana, pikiran bukanlah sesuatu yang abstrak. Ia memiliki bentuk, warna, suara, bahkan kehidupan. 

Ketika seseorang percaya bahwa apel akan jatuh ke atas, maka di dalam dimensi ini, hukum tersebut dapat benar-benar runtuh. Dan apel itu akan jatuh ke arah yang tidak seharusnya.

Noosphere adalah lautan dan pikiran adalah tetesan air. 

Namun sesuatu yang lahir dari Noosphere bukan sekadar tetesan yang terpisah, melainkan gelombang yang terbentuk ketika terlalu banyak pikiran berkumpul pada satu tempat. 

Tidak semua pikiran memiliki bobot yang sama. Di dalamnya terdapat hukum resonansi.

Ketika tak terhitung banyaknya makhluk hidup meyakini bahwa ada dewa yang bersemayam di balik matahari, maka keyakinan itu tidak lagi menjadi sekadar kepercayaan. Ia menjadi struktur, pola yang terus menguat hingga mampu memanggil sebuah esensi dari Lower Aetherium dan memberinya bentuk yang dapat dikenali.

Begitulah para dewa dilahirkan.

Seekor naga dapat lahir karena ia telah terlalu sering dipikirkan, ditakuti. dipuja, diceritakan, dan diwariskan. Selama triliunan pikiran melintasi zaman yang tak terhitung, gagasan itu terlalu "berat" untuk tetap menjadi sekadar ide.

Itulah mengapa seekor naga dapat menjadi makhluk yang terkuat. Sebaliknya, makhluk yang hanya pernah dibayangkan oleh satu kesadaran tunggal akan tetap lemah. Menjadi sebuah riak kecil di permukaan lautan yang nyaris tak pernah dikenali oleh arus utama Noosphere.


High Aetherium 

Di atas Aetherium, di atas Noosphere, dan di atas segala bentuk keyakinan yang pernah melahirkan para dewa, terdapat sebuah tingkatan yang jauh lebih tinggi, sebuah alam yang tidak dapat runtuh, tidak dapat dilupakan dan tidak dapat kembali. 

Inilah High Aetherium. 

Tempat para dewa, malaikat dan roh-roh suci yang telah melampaui bentuk keilahian biasa. 

Mereka tidak lagi berdiri sebagai hasil dari kepercayaan, melainkan sebagai ketetapan eksistensi itu sendiri. 

Ketika sebuah nama dipuja oleh dunia yang tak terhitung jumlahnya, ketika keberadaannya telah tertanam begitu dalam ke dalam struktur realitas, maka ia akan melampaui Aetherium dan naik menuju High Aetherium. 

Pada titik itu, keberadaannya tidak lagi ditentukan oleh fungsi, tidak lagi bergantung pada doa, tidak lagi bergantung pada keyakinan, dan tidak pula bergantung pada mereka yang mengingat namanya. 

Bahkan apabila seluruh makhluk hidup melupakan keberadaannya, ia akan tetap ada, tidak akan menghilang, tidak akan mati, dan tidak pula akan terurai kembali. 

Sebab mereka telah menjadi tetap. 

Jika para dewa dari Aetherium menjatuhkan hujan agar tetap membasahi tanah, menjaga malam agar tetap gelap, dan memastikan bintang-bintang tetap berada pada jalurnya, maka para penghuni High Aetherium berdiri jauh lebih tinggi dari itu. 

Mereka bukan penjaga hukum. 

Mereka adalah pengelola dari fondasi yang memungkinkan hukum-hukum itu ada. 

Mereka menjaga sembilan aspek yang menopang seluruh keberadaan, mengatur alirannya, serta memastikan semesta tetap berjalan sebagaimana mestinya. 

Di dalam High Aetherium bersemayam sembilan aspek yang menjadi kerangka bagi seluruh realitas. 

Life, sumber kehidupan dan perubahan biologis. 

Matter, penguasa segala bentuk materi. 

Elemental, pengendali kekuatan alam dan unsur-unsur semesta. 

Soul, penghubung antara dunia fisik dan alam spiritual. 

Mind, penguasa kesadaran, ingatan, dan pemikiran. 

Space, fondasi jarak, dimensi, dan hubungan antar tempat. 

Time, arus yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan. 

Entropy, hukum kehancuran, peluruhan, penuaan, dan kematian. 

Prime, energi murni yang menjadi bahan dasar penciptaan. 

Ketika para penghuni High Aetherium berkehendak, mereka dapat menghentikan aliran salah satu aspek dari tatanan semesta. 

Dan ketika hal itu terjadi, semesta tidak sekadar kehilangan sebuah aspek. Ia kehilangan fondasi yang memungkinkan aspek tersebut untuk tetap ada. 

Kehidupan dapat berhenti mengalir. 

Waktu dapat membeku. 

Ruang dapat runtuh. 

Dan kematian dapat lenyap dari seluruh keberadaan. 

Dari tempat inilah para dewa menghakimi roh-roh yang telah meninggalkan dunia fana. 

Menentukan siapa yang akan naik menuju Surga, siapa yang akan jatuh ke dalam api Neraka, dan siapa yang akan meninggalkan siklus fana untuk menjadi roh suci yang mendampingi mereka di alam keabadian.


3. Alam metafisik

Archeon Aeterna 

Dimensi yang melampaui ruang dan waktu, sebuah alam di mana konsep-konsep yang menopang keberadaan tidak lagi hadir sebagai hukum yang tak bernyawa, melainkan sebagai makhluk yang hidup. 

Di sinilah "Kehidupan" dan "Kematian" saling memandang untuk pertama kalinya, sementara "Waktu" mulai mengalir dan "Ruang" membentangkan dirinya ke segala arah.

Mereka memiliki kepribadian, kesadaran, kehendak, bahkan mimpi mereka sendiri. 

Mereka dapat berbicara, berdebat, berselisih, dan menentukan arah dari hakikat yang mereka wakili. 

Archeon Aeterna merupakan asal dari sembilan aspek yang menopang seluruh keberadaan, juga dari alam inilah Life, Matter, Elemental, Soul, Mind, Space, Time, Entropy, dan Prime pertama kali lahir.

Aspek-aspek tersebut kemudian diwariskan kepada para penghuni High Aetherium untuk dimiliki, dijaga, dan ditata sesuai dengan tatanan semesta. 

Ketika kehidupan berhenti mengalir, maka seluruh semesta akan mengalami pemusnahan massal. Setiap makhluk hidup akan mati pada saat yang bersamaan, dan bahkan para penghuni High Aetherium tidak akan mampu mengembalikan kehidupan yang telah hilang. 

Sebaliknya, apabila kematian berhenti mengalir, maka semesta akan mengalami kepadatan yang tak terbayangkan. Tidak ada lagi akhir bagi kehidupan, tidak ada lagi perpisahan, dan tidak ada lagi ruang bagi kelahiran yang baru. 

Dunia akan dipenuhi oleh keberadaan-keberadaan yang terus bertambah tanpa pernah dapat mati. 


Eternum Soluna

Tempat di mana cahaya membuka matanya untuk pertama kali. 

Sebelum nama diberi kepada langit, sebelum konsep pertama lahir dari kehampaan, Eternum Soluna telah berdiri dalam keabadian yang sunyi. Di sanalah para dewa dan dewi bersemayam, jauh melampaui jangkauan pemahaman makhluk hidup. 

Mereka tidak membutuhkan doa. 

Mereka tidak membutuhkan kepercayaan.

Mereka tidak lahir dari Noosphere, tidak pula dibentuk oleh pikiran atau keyakinan siapa pun. 

Sebab merekalah ketetapan itu sendiri. 

Penghuni High Aetherium menyebut mereka sebagai Aetherium Zenith, puncak dari segala yang ada. Mereka percaya bahwa Eternum Soluna adalah singgasana tertinggi, sebuah realitas yang bahkan berdiri di luar konsep yang mencoba mendefinisikannya. 

Jika Archeon Aeterna adalah sumber yang melahirkan sembilan aspek kehidupan, dan High Aetherium adalah tangan yang menata rapi tatanan tersebut, maka Eternum Soluna adalah kehendak yang dapat menulis ulang keduanya tanpa batas. 

Mereka adalah para penjaga keseimbangan. 

Para pengawas yang berdiri di antara keberadaan dan kehancuran. 

Ketika kegilaan mengancam hukum semesta, ketika kekacauan berusaha menelan keteraturan, merekalah yang mengangkat tangan dan menahan runtuhnya segala sesuatu. 

Mereka menjaga roda penciptaan agar terus berputar. 

Mereka menjaga bintang-bintang agar tetap bernyanyi di langit. 

Mereka menjaga agar realitas tidak tenggelam. 

Di dalam Eternum Soluna, terdapat tiga dimensi yang bercabang.

1. Luminaris, dimensi yang dihuni oleh dua belas dewi Luminaris.

2. Solaris, dimensi yang dihuni oleh sebelas dewa Solaris

3. Eclipsaris, dimensi yang dihuni oleh tiga entitas Eclipsaris

Dua puluh enam penguasa agung yang menjaga keseimbangan seluruh tatanan dibawahnya.

Kemudian melalui Eternum Soluna, merekalah kunci yang membuat apa yang ada di dalam Noosphere menjadi nyata.


Luminaris

Sebelum realitas mengenal kata "ada", tidak ada ketiadaan, dan tidak pula keberadaan. 

Yang ada hanyalah kemungkinan yang belum memiliki arah untuk jatuh ke dalam bentuk apa pun. 

Dari ketidakteraturan itu, terbentang sebuah struktur pertama yang tidak dapat disebut sebagai makhluk, tidak pula sebagai kehendak. Sebuah dimensi yang terlahir untuk dihuni oleh kedua belas dewi Luminaris. 

Ia adalah Luminaris, sebuah prinsip awal. 

Di dalamnya, segala sesuatu belum menjadi sesuatu, namun ia juga bukan kehampaan. 

Ia adalah kerangka awal yang menetapkan bahwa sesuatu dapat memiliki bentuk, tanpa pernah benar-benar menjadi bentuk itu sendiri. 

Tanpa kedua belas dewi Luminaris, sebuah lilin tidak dapat disebut sebagai benda, ia tidak dapat disebut sebagai cahaya, tidak dapat disebut sebagai keberadaan, ia hanyalah kemungkinan yang belum diizinkan untuk jatuh ke dalam definisi apa pun. 

Namun dengan kehadiran kedua belas dewi Luminaris, kemungkinan itu memperoleh izin untuk "mendekati ada", tanpa pernah sepenuhnya menjadi nyata. 

Ia tetap berada di ambang, di mana eksistensi belum dilahirkan, tetapi sudah dapat dibayangkan oleh struktur realitas. 

Dan dari batas itu, lahirlah prinsip kedua.


Solaris





Kosmologi Fatal Verse.... UHHH Maybe revamp?

Posted by : desthabikinfanart
Date :Kamis, 18 Juni 2026
With 0komentar
Next Prev
▲Top▲