Newest Post

Kosmologi Fatal Verse.... UHHH Maybe revamp?

| Kamis, 18 Juni 2026
Baca selengkapnya »

 Fatal Verse Cosmology update:


BUKU KETUJUH

Sering kali kita menatap langit dan meyakini bahwa manusialah satu-satunya kehidupan yang dianugerahi tempat di tengah hamparan semesta. Namun, pernahkah terlintas dalam benakmu bahwa di balik tabir kosmos yang kita kenal, terdapat dunia-dunia lain yang tak pernah tersentuh oleh pemahaman kita? Dunia yang dihuni oleh ras-ras selain manusia, atau bahkan negeri-negeri yang begitu mirip dengan rumah yang kita tinggali, seolah menjadi pantulan dari semesta kita sendiri. 

Dan bagaimana jika, di balik tirai yang memisahkan setiap realitas, terdapat makhluk-makhluk yang memandang seluruh peradaban manusia sebagaimana kita memandang sebutir pasir yang tergeletak di tepi pantai? Makhluk-makhluk yang menyaksikan lahir dan runtuhnya peradaban sebagai sesuatu yang begitu singkat.

Sejak dahulu kala, kita percaya bahwa kegelapan hanyalah ruang kosong yang mengelilingi bintang-bintang. Padahal, mungkin kitalah yang hidup di dalamnya. Dan lebih mengerikan lagi, penghuni kegelapan itu bahkan tidak menganggap kita sebagai sesuatu yang hidup. Sebab bagi mereka, seluruh sejarah manusia tidak lebih berarti daripada seekor semut yang tidak dapat mengubah sejarah dari sebuah kerajaan.

Dengarkanlah kisahku, dan saksikanlah bersama perjalanan ini. Sebab sejak dahulu kala, terdapat sebuah pepatah yang diwariskan dari generasi ke generasi. 

"Di atas langit, masih ada langit." 

Dan mungkin, pepatah itu jauh lebih harfiah daripada yang pernah kita bayangkan.

Lapisan pertama yang mencakupi.


1. Dunia Fisik

Dunia Manusia. 

Sebuah tempat yang kita sebut rumah, tempat di mana kita dilahirkan, berjalan, tertawa, menangis, dan pada akhirnya kembali menjadi bagian dari tanah yang kita pijak. 

Di sinilah segala sesuatu yang dapat disentuh, dilihat, didengar, dan dipahami oleh akal manusia, sebuah dunia yang diatur oleh hukum-hukum yang tampak mutlak dan tak tergoyahkan.

Ketika kita memandang matahari, kita akan berkata, "Itu adalah matahari." Ketika sebuah apel dilempar ke udara, kita tahu bahwa ia akan jatuh kembali ke tanah. Bagi kita, semua itu adalah kebenaran yang begitu lumrah hingga tidak pernah terlintas untuk mempertanyakannya.

Kemudian jika aku bertanya kepadamu. "Apakah kamu memahami keseluruhan dari dunia fisik?", maka kebanyakan dari kamu akan menjawab, "Ya, kita adalah manusia, kita adalah satu-satunya yang hidup di semesta yang begitu luas."

Maka itu adalah kebenaran yang begitu sempit, sebab kamu hanya melihat setetes air dari luasnya samudra.


Dunia Lain 

Kini, izinkan aku memperkenalkan kepadamu dunia-dunia lain yang tersembunyi di balik tabir realitas. Dunia-dunia yang memiliki langitnya sendiri, sejarahnya sendiri, dan hukum-hukum yang berbeda dari dunia manusia. Dunia yang dihuni oleh ras-ras yang tidak pernah tercatat dalam buku sejarah mana pun.

Vampir, berbeda dari kita, mereka adalah makhluk yang hanya terbangun pada malam hari, kemudian tertidur pada siang hari. Mereka menjadikan darah dari ras lain seperti manusia sebagai menu utama mereka. Mereka berada satu rumah di tempat dimana manusia berada, tetapi kebanyakan dari kalian membantah bahwa mereka tidaklah nyata.

Iblis, makhluk yang namanya selalu diiringi oleh kebencian, kekacauan, dan pemberontakan. Mereka berasal dari sebuah alam asing yang dikenal sebagai "Underworld", sebuah dunia yang terpisah dari tatanan manusia. Mereka dipercaya sebagai ras yang mulia dan dihormati oleh para dewa. Namun setelah dosa yang dilakukan oleh leluhur mereka, kemuliaan itu direnggut dan digantikan oleh kutukan yang diwariskan turun-temurun, sejak saat itu, nama mereka menjadi simbol kehancuran di banyak dunia.

Naga. Makhluk purba yang telah mengarungi zaman jauh sebelum lahirnya peradaban pertama. Mereka menyaksikan kerajaan-kerajaan bangkit dan runtuh sebagaimana manusia menyaksikan pergantian musim, mereka dapat terbang dengan sayap yang membelah langit dan umur yang melampaui generasi, mereka menjadi saksi bisu perjalanan dunia. Bahkan hingga hari ini, sebagian dari kekuatan yang digunakan manusia masih berasal dari warisan yang ditinggalkan oleh ras kuno tersebut.

Kemudian masih banyak lagi ras-ras lain.

Seperti Elf makhluk suci yang tunduk kepada apa yang mereka anggap "Agung".

Roh-roh yang berbicara namun tak mampu didengar oleh telinga manusia. 

Makhluk-makhluk gaib yang keberadaannya hanya muncul dalam cerita rakyat. 

Hingga peradaban asing dari bintang-bintang yang jauh, yang oleh manusia disebut sebagai alien.

Sebagian dari kalian mungkin menertawakan semua itu, sebagian lagi mungkin menganggapnya sebagai takhayul, mitos, atau khayalan belaka. Namun ketidakpercayaan tidak pernah menjadi bukti bahwa sesuatu itu tidak ada. 

Dan sementara kalian menjalani kehidupan sehari-hari tanpa mempedulikannya. Sementara dunia-dunia itu tetap berputar, tetap hidup, dan tetap ada di balik tirai yang tidak mampu kalian lihat.


2. Alam keabadian

Aetherium 

Sebuah dimensi yang dihuni oleh para dewa, esensi dewa, para malaikat, serta roh-roh suci yang telah melangkah melampaui batas dunia fana. Mereka adalah sosok yang dipercaya, diyakini, dan diimani oleh tak terhitung banyaknya makhluk hidup di berbagai dunia. 

Sebagian menyebut mereka sebagai penjaga tatanan, sebagian lainnya memanggil mereka dengan nama yang maha kuasa. 

Mereka dipercaya sebagai alasan mengapa bintang-bintang tetap beredar di langit, mengapa hujan turun membasahi tanah yang tandus, mengapa tumbuhan tumbuh menghijau, dan mengapa api tetap menyala. 

Dari singgasana mereka yang menjulang di atas dunia fana, para dewa menatap kehidupan yang berada di bawahnya. Mereka mendengarkan doa-doa yang dipanjatkan oleh para penyembah, lalu menjawabnya sesuai dengan kehendak mereka.

Di antara mereka terdapat sosok-sosok yang mampu mengguncang fondasi dunia, meruntuhkan tatanan yang telah berdiri selama zaman yang tak terhitung, atau bahkan menjadi awal dan akhir dari semesta.

Namun, Aetherium bukanlah sebuah alam yang tunggal. Sebagaimana langit memiliki lapisan-lapisannya sendiri. Aetherium terbagi menjadi tiga tingkatan.

1. Lower Aetherium 

2. Aetherium 

3. High Aetherium


Yang pertama adalah


Lower Aetherium 

Dimensi yang membentang luas di balik langit dan bumi, menyelimuti setiap ruang yang pernah ada, setiap hukum yang pernah berlaku, serta setiap hubungan sebab dan akibat yang membentuk realitas. Melalui gema yang lahir dari Noosphere, di sinilah esensi para dewa pertama kali muncul. 

Mereka belum menjadi sosok, melainkan kemungkinan untuk menjadi sosok. Mereka belum memiliki nama, kehendak, ataupun tujuan, dan hanya menunggu bentuk yang akan menentukan siapa diri mereka kelak. 

Lower Aetherium adalah alam dari segala sesuatu yang belum selesai, sebuah wilayah yang berada di antara keberadaan dan kemungkinan. 

Di sana, stabilitas merupakan sesuatu yang asing. 

Api belum mengetahui apakah dirinya panas atau dingin, waktu belum memutuskan apakah ia akan mengalir lurus ataukah mengitari, dan ruang belum yakin apakah dirinya benar-benar ada. 

Sebab di Lower Aetherium, bahkan hukum-hukum yang menjadi fondasi realitas masih berada dalam keadaan yang belum sempurna. Segala sesuatu telah lahir, tetapi belum ada satu pun yang menentukan akan menjadi apa.


Aetherium 

Ketika sesuatu telah cukup stabil untuk dikenali, ketika sebuah kemungkinan akhirnya memilih bentuknya sendiri. Maka ia akan menjadi sosok yang dikenal sebagai dewa. 

Di sinilah para dewa dan malaikat bersemayam, mereka bukan lagi sekadar kemungkinan, melainkan otoritas yang bekerja. 

Mereka menjaga tatanan yang menopang dunia, mengatur turunnya hujan, memastikan malam tetap diselimuti oleh kegelapan dan siang tetap diterangi oleh cahaya, serta menjaga bintang-bintang dan planet-planet agar tetap berjalan pada jalurnya. 

Namun, sebagaimana segala sesuatu yang memiliki bentuk, para dewa pun tidak luput dari keruntuhan. 

Ketika nama mereka dilupakan, ketika kekuasaan mereka memudar, atau ketika keberadaan mereka tidak lagi mampu mempertahankan dirinya sendiri, mereka akan runtuh namun tidak benar-benar mati. 

Mereka akan terurai, lalu kembali kepada Lower Aetherium sebagai kemungkinan yang belum selesai, menunggu saat ketika mereka dapat dilahirkan kembali dalam wujud yang baru.


Noosphere

Dimensi yang lahir dari akumulasi seluruh pemikiran makhluk berakal. Setiap mimpi yang pernah dimimpikan, setiap legenda yang pernah diceritakan, setiap ketakutan yang pernah dirasakan, dan setiap gagasan yang belum pernah terwujud, semuanya memiliki bayangannya sendiri di Noosphere.

Di sana, pikiran bukanlah sesuatu yang abstrak. Ia memiliki bentuk, warna, suara, bahkan kehidupan. 

Ketika seseorang percaya bahwa apel akan jatuh ke atas, maka di dalam dimensi ini, hukum tersebut dapat benar-benar runtuh. Dan apel itu akan jatuh ke arah yang tidak seharusnya.

Noosphere adalah lautan dan pikiran adalah tetesan air. 

Namun sesuatu yang lahir dari Noosphere bukan sekadar tetesan yang terpisah, melainkan gelombang yang terbentuk ketika terlalu banyak pikiran berkumpul pada satu tempat. 

Tidak semua pikiran memiliki bobot yang sama. Di dalamnya terdapat hukum resonansi.

Ketika tak terhitung banyaknya makhluk hidup meyakini bahwa ada dewa yang bersemayam di balik matahari, maka keyakinan itu tidak lagi menjadi sekadar kepercayaan. Ia menjadi struktur, pola yang terus menguat hingga mampu memanggil sebuah esensi dari Lower Aetherium dan memberinya bentuk yang dapat dikenali.

Begitulah para dewa dilahirkan.

Seekor naga dapat lahir karena ia telah terlalu sering dipikirkan, ditakuti. dipuja, diceritakan, dan diwariskan. Selama triliunan pikiran melintasi zaman yang tak terhitung, gagasan itu terlalu "berat" untuk tetap menjadi sekadar ide.

Itulah mengapa seekor naga dapat menjadi makhluk yang terkuat. Sebaliknya, makhluk yang hanya pernah dibayangkan oleh satu kesadaran tunggal akan tetap lemah. Menjadi sebuah riak kecil di permukaan lautan yang nyaris tak pernah dikenali oleh arus utama Noosphere.


High Aetherium 

Di atas Aetherium, di atas Noosphere, dan di atas segala bentuk keyakinan yang pernah melahirkan para dewa, terdapat sebuah tingkatan yang jauh lebih tinggi, sebuah alam yang tidak dapat runtuh, tidak dapat dilupakan dan tidak dapat kembali. 

Inilah High Aetherium. 

Tempat para dewa, malaikat dan roh-roh suci yang telah melampaui bentuk keilahian biasa. 

Mereka tidak lagi berdiri sebagai hasil dari kepercayaan, melainkan sebagai ketetapan eksistensi itu sendiri. 

Ketika sebuah nama dipuja oleh dunia yang tak terhitung jumlahnya, ketika keberadaannya telah tertanam begitu dalam ke dalam struktur realitas, maka ia akan melampaui Aetherium dan naik menuju High Aetherium. 

Pada titik itu, keberadaannya tidak lagi ditentukan oleh fungsi, tidak lagi bergantung pada doa, tidak lagi bergantung pada keyakinan, dan tidak pula bergantung pada mereka yang mengingat namanya. 

Bahkan apabila seluruh makhluk hidup melupakan keberadaannya, ia akan tetap ada, tidak akan menghilang, tidak akan mati, dan tidak pula akan terurai kembali. 

Sebab mereka telah menjadi tetap. 

Jika para dewa dari Aetherium menjatuhkan hujan agar tetap membasahi tanah, menjaga malam agar tetap gelap, dan memastikan bintang-bintang tetap berada pada jalurnya, maka para penghuni High Aetherium berdiri jauh lebih tinggi dari itu. 

Mereka bukan penjaga hukum. 

Mereka adalah pengelola dari fondasi yang memungkinkan hukum-hukum itu ada. 

Mereka menjaga sembilan aspek yang menopang seluruh keberadaan, mengatur alirannya, serta memastikan semesta tetap berjalan sebagaimana mestinya. 

Di dalam High Aetherium bersemayam sembilan aspek yang menjadi kerangka bagi seluruh realitas. 

Life, sumber kehidupan dan perubahan biologis. 

Matter, penguasa segala bentuk materi. 

Elemental, pengendali kekuatan alam dan unsur-unsur semesta. 

Soul, penghubung antara dunia fisik dan alam spiritual. 

Mind, penguasa kesadaran, ingatan, dan pemikiran. 

Space, fondasi jarak, dimensi, dan hubungan antar tempat. 

Time, arus yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan. 

Entropy, hukum kehancuran, peluruhan, penuaan, dan kematian. 

Prime, energi murni yang menjadi bahan dasar penciptaan. 

Ketika para penghuni High Aetherium berkehendak, mereka dapat menghentikan aliran salah satu aspek dari tatanan semesta. 

Dan ketika hal itu terjadi, semesta tidak sekadar kehilangan sebuah aspek. Ia kehilangan fondasi yang memungkinkan aspek tersebut untuk tetap ada. 

Kehidupan dapat berhenti mengalir. 

Waktu dapat membeku. 

Ruang dapat runtuh. 

Dan kematian dapat lenyap dari seluruh keberadaan. 

Dari tempat inilah para dewa menghakimi roh-roh yang telah meninggalkan dunia fana. 

Menentukan siapa yang akan naik menuju Surga, siapa yang akan jatuh ke dalam api Neraka, dan siapa yang akan meninggalkan siklus fana untuk menjadi roh suci yang mendampingi mereka di alam keabadian.


3. Alam metafisik

Archeon Aeterna 

Dimensi yang melampaui ruang dan waktu, sebuah alam di mana konsep-konsep yang menopang keberadaan tidak lagi hadir sebagai hukum yang tak bernyawa, melainkan sebagai makhluk yang hidup.

Di sinilah "Kehidupan" dan "Kematian" pertama kali memperoleh bentuk. sementara "Waktu" mulai mengalir dan "Ruang" membentangkan dirinya ke segala arah.

Mereka memiliki kepribadian, kesadaran, kehendak, bahkan mimpi mereka sendiri. 

Mereka dapat berbicara, berdebat, berselisih, dan menentukan arah dari hakikat yang mereka wakili. 

Archeon Aeterna merupakan asal dari sembilan aspek yang menopang seluruh keberadaan, juga dari alam inilah Life, Matter, Elemental, Soul, Mind, Space, Time, Entropy, dan Prime pertama kali lahir.

Aspek-aspek tersebut kemudian diwariskan kepada para penghuni High Aetherium untuk dimiliki, dijaga, dan ditata sesuai dengan tatanan semesta. Dan juga dapat dipakai oleh para penyihir dari tingkat rendah hingga tingkat tinggi.

Dari tempat inilah semesta terus berkembang, tanpa henti, tanpa batas.

Ketika kehidupan berhenti mengalir, maka seluruh semesta akan mengalami pemusnahan massal. Setiap makhluk hidup akan mati pada saat yang bersamaan, dan bahkan para penghuni High Aetherium tidak akan mampu mengembalikan kehidupan yang telah hilang. 

Sebaliknya, apabila kematian berhenti mengalir, maka semesta akan mengalami kepadatan yang tak terbayangkan. Tidak ada lagi akhir bagi kehidupan, tidak ada lagi perpisahan, dan tidak ada lagi ruang bagi kelahiran yang baru. 

Dunia akan dipenuhi oleh keberadaan-keberadaan yang terus bertambah tanpa pernah dapat mati.


Eternum Soluna

Tempat di mana cahaya membuka matanya untuk pertama kali. 

Sebelum kehidupan mengenal dirinya sebagai kehidupan, sebelum kematian memahami tugasnya sebagai akhir, sebelum waktu memutuskan untuk mengalir. Bahkan sebelum Archeon Aeterna memimpikan konsep pertamanya. 

Eternum Soluna telah ada.

Di sinilah "Kehidupan" mengetahui mengapa ia harus hidup, dan "Kematian" mengetahui mengapa ia harus mengakhiri.

Di sanalah para dewa dan dewi bersemayam, jauh melampaui jangkauan pemahaman makhluk hidup. 

Mereka tidak membutuhkan doa. 

Mereka tidak membutuhkan kepercayaan.

Mereka tidak lahir dari Noosphere, tidak pula dibentuk oleh pikiran atau keyakinan siapa pun. 

Sebab merekalah ketetapan itu sendiri. 

Merekalah yang menetapkan sesuatu dapat ada.

Menetapkan adanya makhluk fana, menetapkan adanya benda mati, menetapkan adanya ruang dan waktu, menetapkan adanya hukum.

Di sanalah ditentukan kehidupan dipahami berbeda dari kematian, cahaya dikenali sebagai cahaya dan bukan kegelapan, serta keberadaan dapat dibedakan dari ketiadaan. 

Bagi seluruh tatanan yang berada di bawah Eternum Soluna, perbedaan-perbedaan tersebut merupakan fondasi yang tidak dapat diganggu gugat.

Penghuni High Aetherium menyebut mereka sebagai Aetherium Zenith, puncak dari segala yang ada. Mereka percaya bahwa Eternum Soluna adalah singgasana tertinggi, sebuah realitas yang bahkan berdiri di luar konsep yang mencoba mendefinisikannya. 

Jika Archeon Aeterna adalah sumber yang melahirkan sembilan aspek kehidupan, dan High Aetherium adalah tangan yang menata rapi tatanan tersebut, maka Eternum Soluna adalah kehendak yang dapat menulis ulang keduanya tanpa batas. 

Bahkan menentukan Archeon Aetherna untuk terus menciptakan tanpa henti.

Karena mereka percaya bahwa Archeon Aeterna, Aetherium, bahkan Noosphere berasal darinya.

Mereka percaya bahwa Eternum Soluna adalah para pemilik segalanya. 

Bahkan konsep-konsep yang lahir di Archeon Aeterna tidak pernah memahami dari mana keberadaan mereka berasal. Sebab jauh di atas mereka, terdapat Eternum Soluna. 

Tetapi tidak seorang pun mampu membuktikan keyakinan tersebut. 

Sebab tidak ada satu pun makhluk yang pernah melihat apa yang berada sebelum Eternum Soluna.

Merekalah para pengawas yang berdiri di antara keberadaan dan kehancuran. 

Kegilaan-kegilaan mengancam hukum semesta, ketika kekacauan berusaha menelan keteraturan, merekalah yang mengangkat tangan dan menahan runtuhnya segala sesuatu. 

Mereka menjaga roda penciptaan agar terus berputar. 

Mereka menjaga bintang-bintang agar tetap bernyanyi di langit. 

Mereka menjaga agar realitas tidak tenggelam. 

Di dalam Eternum Soluna, terdapat tiga dimensi yang bercabang.

1. Luminaris, dimensi yang dihuni oleh dua belas dewi Luminaris.

2. Solaris, dimensi yang dihuni oleh sebelas dewa Solaris

3. Eclipsaris, dimensi yang dihuni oleh tiga entitas Eclipsaris

Dua puluh enam penguasa agung yang menjaga keseimbangan seluruh tatanan dibawahnya.

Di dalam Noosphere, segala kemungkinan dapat lahir sebagai gagasan. 

Namun gagasan tidak pernah cukup untuk menjadi kenyataan. 

Sebab di atas segala mimpi dan keyakinan, Eternum Soluna menentukan mana yang akan memperoleh eksistensi, dan mana yang akan tetap menjadi kemungkinan yang tidak pernah terjadi.


Luminaris

Sebelum realitas mengenal kata "ada", tidak ada ketiadaan, dan tidak pula keberadaan. 

Yang ada hanyalah kemungkinan yang belum memiliki arah untuk jatuh ke dalam bentuk apa pun. 

Dari ketidakteraturan itu, terbentang sebuah struktur pertama yang tidak dapat disebut sebagai makhluk, tidak pula sebagai kehendak. Sebuah dimensi yang terlahir untuk dihuni oleh kedua belas dewi Luminaris. 

Ia adalah Luminaris, sebuah prinsip awal. 

Di dalamnya, segala sesuatu belum menjadi sesuatu, namun ia juga bukan kehampaan. 

Ia adalah kerangka awal yang menetapkan bahwa sesuatu dapat memiliki bentuk, tanpa pernah benar-benar menjadi bentuk itu sendiri. 

Tanpa kedua belas dewi Luminaris, sebuah lilin tidak dapat disebut sebagai benda, ia tidak dapat disebut sebagai cahaya, tidak dapat disebut sebagai keberadaan, ia hanyalah kemungkinan yang belum diizinkan untuk jatuh ke dalam definisi apa pun. 

Namun dengan kehadiran kedua belas dewi Luminaris, kemungkinan itu memperoleh izin untuk "mendekati ada", tanpa pernah sepenuhnya menjadi nyata. 

Ia tetap berada di ambang, di mana eksistensi belum dilahirkan, tetapi sudah dapat dibayangkan oleh struktur realitas. 

Dan dari batas itu, lahirlah prinsip kedua.


Solaris

Bukan sebagai penentu, bukan pula sebagai pemikir. 

Ia adalah hukum yang membuat kemungkinan tidak lagi dapat berdiam sebagai kemungkinan. 

Dimensi yang dihuni oleh sebelas Dewa Solaris, prinsip kedua dari ketetapan eksistensial. 

Ketika Luminaris menetapkan bahwa sesuatu dapat ada, Solaris adalah momen ketika kemungkinan itu kehilangan sifatnya sebagai "sekadar mungkin". 

Di dalamnya, tidak ada lagi ruang untuk penundaan, tidak ada penerimaan, dan tidak pula penolakan. Segala yang telah memperoleh bentuk di dalam Luminaris akan jatuh ke dalam realitas mutlak, tanpa kemampuan untuk kembali menjadi kemungkinan. 

Sebagaimana lilin itu tidak "dinyalakan", maka ia tidak pernah lagi menjadi sesuatu yang tidak menyala.

Ia tidak lagi berada dalam keadaan tidak menerangi, tidak pula dalam keadaan menolak untuk membakar. 

Ia hanya ada, dalam kepastian yang tidak lagi membutuhkan keputusan. 

Namun bahkan di antara dua hukum itu, masih terdapat celah yang tidak pernah mereka sadari. Sebuah pertanyaan yang tidak pernah benar-benar muncul. 

Apakah "menjadi" itu benar-benar diperlukan? 

Dan dari celah itu, lahir sesuatu yang tidak menentang Luminaris. Tidak pula menolak Solaris. 

Karena ia tidak berada di dalam keduanya. 

Ia adalah keduanya itu sendiri. 

Maka lahirlah prinsip ketiga.


Eclipsaris

Segala sesuatu tidak lagi dipandang sebagai "potensi" atau "kejadian", tetapi sebagai satu kesatuan yang tidak pernah terpecah. 

Tidak ada "sebelum" dan "sesudah". 

Tidak ada "telah ada" atau "belum ada". 

Hanya ada yang utuh. 

Sebuah dimensi yang dihuni oleh tiga entitas Eclipsaris. 

Yang satu melambangkan gerhana matahari.

Yang satu melambangkan gerhana bulan. 

Dan yang satu melambangkan gerhana total. 

Di dalam dimensi ini, menjadi bukanlah sesuatu yang diperlukan, begitu pula dengan pembuktian. Sebab di sana, eksistensi tidak pernah berada dalam keadaan menunggu untuk menjadi. 

Ia tidak dilahirkan. 

Ia tidak dipanggil. 

Ia tidak dipaksakan. 

Ia hanya ada, tanpa pernah melewati konsep perubahan. 

Luminaris tidak lagi dipahami sebagai pintu. 

Solaris tidak lagi dipahami sebagai gerak. 

Eclipsaris tidak melihat keduanya sebagai sesuatu yang perlu disatukan. 

Karena bagi Eclipsaris, tidak pernah ada jarak yang harus dijembatani. Tidak ada awal, tidak ada realisasi, tidak ada peristiwa. 

Hanya satu keadaan yang tidak membutuhkan saksi untuk mengakui keberadaannya sendiri. 

Bahwa segala sesuatu yang mungkin, tidak pernah benar-benar "menjadi", karena ia selalu telah berada dalam keutuhan yang tidak pernah terpecah oleh proses. 

Sebagaimana sebuah lilin tidak pernah padam, dan tidak pula pernah dinyalakan.

Ia hanya menerangi, menerangi sejak awal. 

Dan di dalam keheningan itu, Luminaris dan Solaris tidak lenyap. 

Mereka tetap ada. Namun bukan sebagai penguasa. 

Melainkan sebagai cara realitas yang lebih rendah mencoba memahami sesuatu yang tidak pernah membutuhkan pemahaman.


The Unfinished "Real"

Kondisi di mana realitas gagal mencapai status final akibat ketidaksesuaian interpretasi terhadap Eclipsaris dalam sistem Luminaris dan Solaris. 

Ia bukan kegagalan realitas, melainkan kegagalan cara realitas memahami dirinya sendiri sebagai urutan.

Ia adalah Cosmic Terror yang paling ditakuti oleh semesta, ketika konsep "sebelum" dan "sesudah" tidak lagi memiliki relevansi sebagai pembeda eksistensi. 

Di dalamnya, seorang pengembara tidak lagi dapat melangkah. 

Bukan karena ia tidak mampu berjalan. 

Bukan pula karena ia tidak memiliki tujuan. 

Tetapi karena konsep "Tujuan" telah kehilangan izin untuk eksis dalam struktur realitasnya sendiri. 

Ia tidak kehilangan jalan. 

Jalanlah yang kehilangan statusnya sebagai sesuatu yang dapat dituju. 

Dan dalam kondisi itu, Eternum Soluna tidak menganggapnya sebagai distorsi terhadap Eclipsaris.

Melainkan sebagai bukti bahwa realitas rendah tidak lagi mampu mempertahankan cara interpretasi terhadap keutuhan Eclipsaris.



BUKU KE ENAM

Ketika makhluk fana percaya bahwa dewa yang mereka sembah adalah yang tertinggi, ketika para dewa Aetherium percaya bahwa Archeon Aeterna adalah puncak dari segala yang ada, dan ketika yang tertinggi dari mereka percaya bahwa Eternum Soluna adalah singgasana terakhir yang dapat dicapai oleh keberadaan. 

Namun, Eternum Soluna sendiri tidak pernah meyakini bahwa dirinya adalah puncak. 

Sebab bahkan di antara keheningan yang menyelimuti dimensi mereka, masih terdapat sesuatu yang tidak pernah berhasil mereka baca, sesuatu yang tidak terikat oleh hukum, tidak terdefinisi oleh realitas, dan tidak dapat dikenali oleh fondasi apa pun. 

Jika memang benar Eternum Soluna adalah puncaknya. 

Mengapa mereka masih mampu merasakan ketakutan terhadap sesuatu yang tidak pernah mereka lihat sebagai bentuk? 

Mengapa sesuatu yang disebut sebagai akhir masih mampu merasakan gema dari awal yang tidak pernah tercatat di dalam dirinya sendiri? 

Mereka tidak pernah merasa terpuji ketika mereka yang lebih rendah mengagungkan nama mereka, sebab apa yang disebut sebagai "puncak" oleh makhluk di bawah hanyalah batas dari kemampuan mereka untuk membaca, bukan batas dari apa yang benar-benar ada. 

Dan batas bukanlah akhir dari keberadaan, melainkan akhir dari pemahaman. 

Di atas sana terdapat eksistensi yang bahkan menolak untuk menjadi hukum. 

Waktu tidak mengikutinya, cahaya tidak menyentuhnya, ruang tidak mampu menjangkaunya, dan bahkan ketiadaan pun enggan mendekatinya. 

Keberadaannya tidak pernah tercatat sebagai bagian dari tatanan, karena tatanan itu sendiri hanyalah sesuatu yang berada di bawahnya.

Inilah Buku Keenam.

Ia adalah kelanjutan dari sesuatu yang tidak lagi dapat disebut sebagai dunia. 

Sesuatu yang jauh lebih kacau. 

Di sinilah asimilasi besar-besaran terjadi. 

Tidak ada lagi hukum yang saling menopang satu sama lain.

Setiap hukum menciptakan hukum lainnya hanya untuk mengambilnya kembali. 

Setiap identitas mempertahankan dirinya hanya untuk ditelan oleh identitas yang lebih besar. 

Setiap eksistensi berusaha bertahan hanya untuk menjadi bagian dari sesuatu yang lebih dominan darinya. 

Di dalam Buku Keenam hanya ada satu prinsip yang tidak pernah berubah. 

Yang tertinggi akan mengasimilasi yang terendah, yang terbesar akan menelan yang terkecil, dan tidak ada sesuatu pun yang benar-benar dapat dimiliki selamanya.

Di dalam Buku Keenam, tidak ada puncak yang abadi. Segala sesuatu pada akhirnya hanyalah sesuatu yang belum diasimilasi.


4. Alam Meta Realitas


Eldritch Terror

Di luar lapisan pertama terbentang sebuah kehampaan yang begitu dingin dan mematikan, menutupi seluruh cakrawala keberadaan. Di dalamnya bersemayam kengerian, kekejaman, kebejatan, dan kejahatan yang bahkan tidak dapat diterjemahkan oleh kata-kata.

Setiap deskripsi yang berusaha menyebut namanya akan selalu menjauh darinya. 

Setiap definisi yang mencoba memahaminya akan kehilangan maknanya sendiri. 

Ia sepenuhnya asing bagi pemahaman makhluk fana, makhluk abadi, bahkan bagi Eternum Soluna yang dianggap sebagai puncak oleh banyak keberadaan. 

Dimensi yang berisikan monster-monster yang hanya menginginkan satu hal, yaitu "asimilasi."

Dalam kehadirannya, pemikiran runtuh. 

Konsepsi runtuh. 

Hukum runtuh. 

Metafisika runtuh. 

Seakan seluruh fondasi yang menopang keberadaan tidak pernah ada sejak awal. 

Namun kehancuran bukanlah sifatnya. Sebab kehancuran masih mengakui adanya sesuatu yang dihancurkan. 

Dan Eldritch Terror bahkan tidak memberikan pengakuan itu. 

Pada akhirnya, segala sesuatu tidak lagi dapat disebut sebagai perbedaan, melainkan perlahan diasimilasi ke dalam satu kesatuan yang tidak pernah mengizinkan adanya pembedaan. 

Bukan ke dalam kegelapan. 

Bukan ke dalam kehancuran. 

Melainkan ke dalam kehampaan yang tidak pernah mengakui keberadaan apa pun selain dirinya sendiri.

Di dalam Eldritch Terror terdapat tiga hirarki asimilasi. 

Assimilation of Existential, tahap di mana keberadaan mulai kehilangan identitasnya. Tubuh, jiwa, pikiran, sejarah, dan eksistensi masih dapat dikenali, namun tidak lagi berdiri secara mandiri dan perlahan menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar. 

Assimilation of Conceptual, tahap di mana makna mulai diasimilasi. Kehidupan dan kematian, ruang dan waktu, penciptaan dan kehancuran kehilangan batas yang membedakan satu sama lain hingga hukum realitas kehilangan alasan untuk tetap eksis. 

Assimilation of Distinction, tahap terakhir di mana bukan keberadaan maupun konsep yang diasimilasi, melainkan perbedaan itu sendiri. Tidak ada lagi batas antara ada dan tiada, nyata dan tidak nyata, pencipta dan ciptaan. 

Ketika perbedaan lenyap, seluruh hirarki, definisi, identitas, dan struktur yang bergantung padanya ikut runtuh, menyisakan kesatuan yang tidak dapat dijelaskan oleh bahasa, konsep, maupun keberadaan.


Al-Batlan

Ia berdiri di atas segala bentuk keilahian. Bahkan Eternum Soluna, yang dipuja sebagai singgasana tertinggi oleh tak terhitung banyaknya keberadaan, hanyalah setitik wilayah kecil di bawah bayangannya. 

Inilah kerajaan yang sesungguhnya.

Kerajaan para dewa yang telah melampaui moralitas. 

Di tempat ini, kebaikan tidak lebih mulia daripada kejahatan, dan kejahatan tidak lebih hina daripada kebaikan. Keduanya hanyalah topeng yang dapat dikenakan dan ditanggalkan sesuka hati oleh para penguasanya. 

Mereka adalah dewa cahaya. 

Mereka adalah dewa kegelapan. 

Mereka adalah dewa penciptaan. 

Mereka adalah dewa kehancuran. 

Namun di atas seluruh gelar itu, mereka adalah dewa-dewa yang telah bosan terhadap segalanya.

Mereka telah menyaksikan kelahiran semesta lebih banyak daripada jumlah bintang yang pernah tercipta. Mereka telah menyaksikan kehancuran realitas lebih banyak daripada jumlah dunia yang pernah hidup. 

Tidak ada mukjizat yang mampu membuat mereka kagum. 

Tidak ada tragedi yang mampu membuat mereka berduka. 

Tidak ada kemenangan yang mampu membuat mereka bangga. 

Dan tidak ada kekalahan yang mampu membuat mereka kecewa. 

Sebab seluruh kemungkinan itu telah mereka saksikan berkali-kali, berulang, tanpa akhir, tanpa kejutan, tanpa perubahan. 

Itulah alasan Eternum Soluna masih berdiri. 

Bukan karena belas kasih, bukan karena penghormatan. Melainkan karena hiburan. 

Mereka menikmati bagaimana para dewa kecil terus mendirikan singgasana mereka sendiri. Mereka menikmati bagaimana setiap generasi melahirkan kesombongan yang sama. Mereka menikmati bagaimana setiap keberadaan mengaku telah mencapai puncak, hanya untuk menemukan puncak lain yang lebih tinggi. 

Lalu mereka tertawa. 

Mereka berkata. 

"Mengapa kami harus menghancurkan mereka?" 

"Seekor semut yang mengaku sebagai raja tidak pernah mengancam seorang petani." 

"Justru karena mereka ada, kesalahan yang sama dapat terus terulang." 

"Kami menyukai itu." 

Sebab bagi para dewa Al-Batlan, kebaikan adalah permainan, kejahatan adalah permainan, penciptaan adalah permainan, kehancuran adalah permainan. 

Dan seluruh keberadaan hanyalah panggung yang terus memainkan cerita yang sama untuk menghibur para penontonnya.

Kemudian dari kerajaan ini, berdiri beberapa cabang dimensi.

Di setiap cabang dimensi berdiri hirarki.

1. Deities

2. Greater Deities

3. Divine Thrones

4. Sovereign

Masing-masing dewa saling tunduk kepada mereka yang berada lebih tinggi darinya.


Deities 

Dimensi yang dihuni oleh para dewa Al-Batlan dalam tingkatan yang paling dasar. 

Meskipun disebut sebagai yang paling rendah, mereka tetap merupakan dewa Al-Batlan. Keberadaan yang bahkan tidak dapat dibandingkan dengan para dewa dari struktur lapisan bawah. 

Di sinilah perang melawan Eldritch Terror terjadi. Perang yang berlangsung tanpa akhir. Perang yang telah menelan jumlah korban yang bahkan tidak lagi memiliki angka untuk menggambarkannya. 

Mereka berhadapan dengan Eldritch Terror pada tingkat asimilasi paling dasar. 

Assimilation of Existential. 

Sebuah kondisi di mana eksistensi saling memakan eksistensi lainnya. 

Bukan kehidupan yang memakan kehidupan. 

Bukan makhluk yang memakan makhluk. 

Melainkan keberadaan itu sendiri yang saling menghapus. 

Tak terhitung banyaknya dewa Al-Batlan maupun monster Eldritch Terror yang telah lenyap dalam peperangan ini. Nama mereka hilang, wujud mereka hilang, bahkan jejak keberadaan mereka pun ikut hilang. 

Di sinilah bentuk pertama dari proses asimilasi dimulai.


Greater Deities 

Dimensi yang dihuni oleh para dewa agung Al-Batlan. Para Deities menundukkan kepala di hadapan mereka. 

Karena di tempat ini, peperangan telah mencapai tingkat yang jauh lebih tinggi.

Mereka tidak lagi bertarung demi eksistensi. 

Mereka bertarung demi konsep. 

Mereka berhadapan dengan Eldritch Terror dalam tingkatan asimilasi lanjutan. 

Assimilation of Conceptual. 

Pada tingkat ini, eksistensi tidak lagi menjadi sasaran utama, yang saling memakan adalah konsep itu sendiri. 

Konsep kehidupan. 

Konsep kematian. 

Konsep awal. 

Konsep akhir. 

Konsep-konsep yang menopang keberadaan saling mengasimilasi satu sama lain dalam konflik yang tidak pernah berakhir. 

Tak terhitung banyaknya konsep yang telah musnah dalam peperangan ini. 

Sebagian dilupakan, sebagian tidak pernah diketahui, dan sebagian lainnya lenyap tanpa meninggalkan kemungkinan untuk dipahami kembali. 

Di sinilah bentuk lanjutan dari proses asimilasi terjadi.


Divine Thrones

Para pemilik singgasana ilahi. 

Keberadaan mereka menjadi hukum bagi wilayah yang mereka kuasai. Para Deities, para Greater Deities. Semuanya menundukkan kepala di hadapan para pemilik singgasana ini. 

Mereka menghadapi Eldritch Terror dalam tingkat asimilasi tertinggi. 

Assimilation of Distinction. 

Pada tingkat ini, eksistensi tidak lagi penting. 

Konsep juga tidak lagi penting. 

Yang diasimilasi adalah perbedaan itu sendiri. 

Batas yang memisahkan satu hal dengan hal lainnya. 

Batas antara kehidupan dan kematian. 

Batas antara pencipta dan ciptaan. 

Batas antara keberadaan dan ketiadaan. 

Semua perbedaan perlahan runtuh, segala pemisah perlahan menghilang. Hingga tidak ada lagi yang dapat disebut berbeda, tidak ada lagi yang dapat disebut terpisah, dan tidak ada lagi yang dapat disebut sebagai dirinya sendiri. 

Inilah bentuk tertinggi dari proses asimilasi.


Sovereign

Ketika para Sovereign berbicara, Para Deities akan menundukkan kepala, para Greater Deities akan menundukkan kepala, bahkan para Divine Thrones akan menundukkan kepala. 

Mereka adalah puncak dari hierarki Al-Batlan. 

Para penguasa tertinggi yang berdiri di atas seluruh kerajaan para dewa. 

Assimilation of Existential, Assimilation of Conceptual, Assimilation of Distinction. 

Ketiga tingkatan tersebut hanyalah fenomena yang mereka saksikan dari singgasana mereka. Mereka tidak lagi memandang Eldritch Terror sebagaimana para dewa lainnya. 

Bukan karena mereka meremehkannya, melainkan karena perang itu sendiri telah menjadi sesuatu yang terlalu kecil bagi mereka. 

Mereka tidak berdiri di atas peperangan. 

Mereka tidak berdiri di atas kemenangan. 

Mereka tidak berdiri di atas kekalahan. 

Mereka hanya berdiri di atas panggung yang melahirkan ketiganya. 

Dan selama Eldritch Terror masih menginginkan akhir, serta Al-Batlan yang masih menginginkan cerita, maka permainan itu tidak akan pernah berakhir.


Kabbalah

Para dewa Al-Batlan memahami bahwa Sovereign merupakan puncak dari hierarki yang mereka kenal. Namun terdapat sebuah nama yang bahkan tidak semua dewa berani menyebutnya.

Kabbalah. 

Sebagian tidak mempercayai keberadaannya. 

Sebagian mempercayainya tetapi tidak pernah yakin. 

Dan sebagian lainnya menundukkan kepala setiap kali nama itu disebut. 

Mereka berkata bahwa Kabbalah adalah puncak sesungguhnya dari Al-Batlan. 

Di Al-Batlan terdapat banyak Deities. 

Di atas para Deities berdiri para Greater Deities. 

Di atas Greater Deities berdiri para Divine Thrones. 

Di atas Divine Thrones berdiri para Sovereigns. 

Namun bahkan para Sovereigns tetap menundukkan kepala ketika para pemilik singgasana itu berbicara. Sebab menjadi Sovereign tidak menjamin seseorang dapat menduduki salah satu singgasana tersebut.

Banyak yang mendaki, banyak yang mencoba. Namun hanya sepuluh yang duduk. 

Mereka adalah para Sefirot. Sepuluh dewa yang menjadi pusat pemerintahan Al-Batlan, sepuluh singgasana yang mengarahkan jalannya kerajaan para dewa. 

Bukan karena mereka memerintah dengan kekuatan. 

Melainkan karena keberadaan mereka telah menjadi otoritas itu sendiri. 

Malchut yang mewakili manifestasi kerajaan. 

Yesod yang mewakili fondasi yang menopang tatanan. 

Hod yang mewakili kemegahan dan kemuliaan. 

Netzach yang mewakili kemenangan yang tidak pernah padam.

Tiferet yang mewakili kecantikan dan harmoni yang menyatukan segala hal. 

Gevurah yang mewakili penghakiman dan kekuatan. 

Hesed yang mewakili anugerah, kasih, dan kebaikan. 

Binah yang mewakili pemahaman yang melampaui pengetahuan. 

Chokmah yang mewakili kebijaksanaan ilahi. 

Keter yang mewakili mahkota tertinggi. 

Al-Batlan dipenuhi oleh dewa-dewa yang sombong. Mereka meremehkan lapisan bawah, mereka menertawakan para dewa yang mengaku sebagai penguasa semesta, mereka memandang Eternum Soluna sebagai wilayah kecil yang tidak layak diperhatikan. 

Namun bahkan para Sovereigns tidak pernah mengaku setara dengan Kabbalah. 

Karena Kabbalah bukan sekadar penguasa yang lebih tinggi. 

Mereka adalah singgasana tertinggi yang menentukan arah Al-Batlan itu sendiri. 

Dan selama Sepuluh Sefirot masih duduk di atas singgasananya, seluruh Al-Batlan akan terus bergerak sesuai kehendak mereka.


Garden of Eden

Tidak lebih tinggi dari Kabbalah. 

Namun jauh lebih tua. 

Tempat di mana kehidupan pertama kali bersemi. Tempat di mana Adam dan Hawa dilahirkan sebelum Descendant menurunkan mereka dari kedudukan yang pernah mereka miliki. 

Dari sinilah alasan mengapa kehidupan fana ada. Dari sinilah asal-usul seluruh perjalanan yang kelak akan memenuhi struktur keberadaan. Dan dari sinilah lahir keyakinan yang dipegang oleh para penghuni Al-Batlan. 

Bahwa selama Garden of Eden tetap berdiri, maka Buku Ketujuh akan tetap berdiri. 

Eldritch Terror akan tetap berdiri. 

Al-Batlan akan tetap berdiri. 

Bahkan Kabbalah akan tetap berdiri. 

Mereka percaya bahwa apabila Garden of Eden runtuh, maka seluruh struktur yang bergantung padanya akan ikut berakhir.

Namun keyakinan itu tidak pernah dapat dibuktikan. 

Dan tidak pula dapat dibantah. 

Karena mungkin saja itu benar. 

Oleh sebab itu, apabila suatu hari salah satu Sefirot terasimilasi, maka dewa yang lain akan menggantikannya. 

Singgasana Kabbalah tidak boleh kosong, sebab selama Garden of Eden masih berdiri, para penjaganya juga harus tetap berdiri. 

Namun para Sefirot tidak mempertahankannya karena ketakutan. Mereka tidak mempertahankannya karena kewajiban. Mereka tidak mempertahankannya demi kekuasaan. Mereka mempertahankannya karena rasa syukur. 

Rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa. 

Yang Maha Tinggi. 

Yang Maha Pencipta. 

Yang Maha Raja. 

Yang Maha Tahu. 

Yang Maha Bijaksana. 

Yang Maha Suci. 

Yang Maha Hadir.

Awal dari segala awal. 

Akhir dari segala akhir. 

Pencipta dari segala pencipta. 

Kekosongan dari segala kekosongan. 

Sumber dari segala sumber. 

Cahaya sebelum cahaya. 

Keberadaan sebelum keberadaan. 

Adonai. 

Meskipun Al-Batlan dipenuhi oleh dewa-dewa yang sombong. 

Meskipun mereka memandang rendah seluruh lapisan di bawah mereka, meskipun mereka menertawakan para penguasa yang mengaku sebagai puncak keberadaan. 

Ada satu nama yang tidak pernah mereka ejek. 

Ada satu nama yang tidak pernah mereka hina. 

Ada satu nama yang tidak pernah mereka samakan dengan diri mereka sendiri. 

Ketika nama itu disebut, para Deities terdiam, para Greater Deities terdiam, para Divine Thrones terdiam, para Sovereigns terdiam, bahkan para Sefirot pun terdiam. 

Dan untuk sesaat, seluruh kesombongan Al-Batlan lenyap. 

Bukan karena ketakutan. 

Bukan karena kekuasaan. 

Melainkan karena mereka mengetahui satu kebenaran yang tidak pernah berani mereka bantah. Bahwa sebelum mereka ada, Dia telah ada. Dan setelah mereka tiada, Dia tetap ada.


The Eldritch

Tidak lebih tinggi dari Kabbalah. 

Tidak pula lebih tua darinya. 

Namun berdiri sebagai sesuatu yang setara.

Sebuah wilayah yang dihuni oleh para monster Eldritch Terror yang telah mengalami Ascendant, makhluk-makhluk yang telah melampaui bentuk asal mereka, makhluk-makhluk yang bahkan para dewa Al-Batlan enggan untuk menyebut namanya. 

Ketika para dewa meyakini bahwa Garden of Eden adalah fondasi dari seluruh struktur keberadaan, tidak satu pun di antara mereka yang berani menguji keyakinan tersebut. 

Karena harga dari kesalahan itu terlalu besar. 

Karena apabila mereka benar, maka tidak ada yang perlu dibuktikan. 

Namun apabila mereka salah, maka seluruh keberadaan akan membayar akibatnya. 

Tetapi para penghuni The Eldritch tidak memiliki keyakinan yang sama. 

Mereka tidak tunduk kepada asumsi, mereka tidak tunduk kepada tradisi, mereka tidak tunduk kepada kesepakatan para dewa. 

Mereka akan mengujinya. 

Mereka akan selalu mengujinya. 

Bukan karena kebencian, bukan karena dendam, bukan karena kehancuran, dan bukan pula karena kemenangan. Mereka hanya ada sebagai bukti bahwa kesombongan bukanlah kebenaran. 

Ketika seorang dewa mengaku sebagai yang maha tahu, mereka akan muncul untuk memperlihatkan batas dari pengetahuannya. 

Ketika seorang dewa mengaku sebagai raja, mereka akan muncul sebagai singgasana yang tidak akan pernah mampu ia duduki. 

Ketika seorang dewa mengaku sebagai puncak, mereka akan berdiri di atas puncak tersebut. 

Dan ketika kesombongan itu melampaui kata-kata, melampaui definisi, melampaui konsepsi, melampaui seluruh cara yang dapat digunakan untuk menggambarkannya. 

Maka salah satu dari mereka akan hadir. 

Bukan sebagai makhluk. 

Bukan sebagai dewa. 

Melainkan sebagai sebuah dimensi. 

Sebagai monster yang memiliki rupa bagaikan dimensi itu sendiri. 

"Kathreftis"

Tidak ada yang mengetahui bentuk aslinya. Sebab setiap makhluk yang mencoba melihat keseluruhannya akan selalu menemukan dirinya sendiri terlebih dahulu. 

Ia tidak memantulkan wajah. 

Ia tidak memantulkan wujud. 

Ia tidak memantulkan tubuh. 

Ia memantulkan keterbatasan. 

Segala sesuatu yang memandang Kathreftis akan melihat batas yang selama ini gagal mereka akui.

Dewa akan melihat ketidaktahuannya, raja akan melihat kehampaannya, pencipta akan melihat sesuatu yang tidak mampu ia ciptakan. Dan mereka yang mengaku sebagai puncak akan melihat sebuah ketinggian yang tidak pernah dapat mereka capai. 

Karena Kathreftis tidak pernah hadir untuk menghancurkan dan mengasimilasi. Ia hadir untuk memperlihatkan, bahwa selalu ada sesuatu yang berada di luar apa yang mampu dipahami oleh sang pengamat.


Veracity & Atrocity 

Ia tidak berdiri sebagai tempat. 

Ia tidak berdiri sebagai dimensi. 

Ia tidak berdiri sebagai alam. 

Ia adalah makhluk hidup. Sebuah keberadaan yang melampaui Eldritch Terror, melampaui Al-Batlan, melampaui para Sovereign, melampaui Kabbalah, bahkan melampaui The Eldritch. 

Para dewa Al-Batlan sering kali memohon kepadanya. Mereka meminta kekuatan untuk menghadapi para penghuni The Eldritch. Mereka meminta jalan untuk melampaui keterbatasan mereka sendiri. 

Namun Veracity & Atrocity tidak pernah menjawab. 

Sebab Ascendant tidak pernah diciptakan untuk para dewa. 

Jalan itu hanya terbuka bagi makhluk fana. 

Bagi mereka yang lahir dari kehidupan yang rapuh. 

Bagi mereka yang mengenal kehilangan. 

Bagi mereka yang memahami arti perjuangan. 

Veracity & Atrocity digambarkan sebagai sebuah dahan. 

Veracity adalah ranting-ranting yang menjulang menuju langit. Ia lahir dari keinginan untuk saling menjaga, dari keinginan untuk saling melindungi, dari keinginan untuk menanggung penderitaan orang lain. 

Sementara Atrocity adalah akar-akar yang merambat menuju kedalaman yang tidak memiliki dasar. Ia lahir dari kemarahan, kekejaman, dan dari hasrat untuk menghancurkan segala sesuatu yang dianggap tidak layak untuk tetap ada. 

Namun keduanya tidak pernah benar-benar terpisah. 

Karena dahan yang tidak memiliki ranting, akarnya akan layu. 

Dan dahan yang tidak memiliki akar, rantingnya tidak dapat tumbuh. 

Keduanya berasal dari satu keberadaan yang sama, sebagaimana belas kasih dan kebencian sering kali lahir dari sumber yang serupa. 

Ketika seorang makhluk fana memiliki keinginan untuk melindungi atau memiliki keinginan untuk menghancurkan. 

Dan keinginan itu tumbuh melampaui para dewa. 

Maka Veracity & Atrocity akan menjawab. 

Bukan dengan kata-kata. 

Bukan dengan wahyu. 

Melainkan dengan Ascendant. 

Banyak makhluk fana menganggap Ascendant sebagai hadiah, mereka menganggapnya sebagai jalan menuju kebesaran, sebagai kesempatan untuk melampaui keabadian, sebagai gerbang menuju ketuhanan. 

Namun tidak lama kemudian mereka memahami kenyataan yang sesungguhnya. 

Ascendant bukanlah hadiah. 

Ascendant bukanlah hukuman. 

Ascendant adalah konsekuensi. 

Sebab untuk melampaui keabadian, mereka harus memahami apa yang selama ini disaksikan oleh para dewa. 

Mereka harus merasakan betapa perihnya proses asimilasi.


The Ascendant 

Tingkatan pertama dari Ascendant. Pada titik ini, seorang makhluk fana telah mencapai kedudukan yang setara dengan para dewa Al-Batlan dan para monster Eldritch Terror. 

Namun merekalah yang pertama kali memohon untuk kembali, mereka meminta agar diturunkan, mereka meminta agar dikembalikan kepada kehidupan yang pernah mereka miliki. 

Kepada rasa sakit yang dahulu mereka benci.

Kepada kelemahan yang dahulu mereka hina. 

Kepada kematian yang dahulu mereka takuti. 

Dan kepada kehidupan yang sederhana.

Namun, semuanya telah terlambat, karena mereka telah menjadi bagian dari proses asimilasi itu sendiri.


The True Ascendant 

Tingkatan kedua dari Ascendant. Pada titik ini mereka telah melampaui para dewa Al-Batlan. Melampaui para monster Eldritch Terror. Dan berdiri mendekati wilayah para Sovereign. 

Namun penderitaan mereka tidak berakhir. 

Justru semakin dalam. 

Karena di sinilah mereka mengalami bentuk tertinggi dari proses asimilasi. 

Mereka kehilangan identitas. 

Mereka kehilangan makna. 

Mereka kehilangan perbedaan. 

Namun tetap dipaksa untuk terus melangkah maju. 


The Messenger 

Tingkatan terakhir dari Ascendant. Dan tingkatan yang hanya pernah dicapai oleh satu makhluk. 

Berbeda dari mereka yang datang sebelumnya, ia tidak lagi menjadi bagian dari proses asimilasi. 

Ia telah melampauinya. 

Ia tidak lagi berada dalam Eldritch Terror. 

Tidak lagi berada dalam Al-Batlan. 

Tidak lagi berada dalam Kabbalah. 

Dan tidak lagi berada dalam The Eldritch. 

Namun itu bukanlah akhir. 

Karena Ascendant tidak pernah diciptakan untuk menghasilkan penguasa. 

Tidak pernah diciptakan untuk menghasilkan dewa. 

Tidak pernah diciptakan untuk menghasilkan raja. 

Ascendant diciptakan untuk menghasilkan pelindung. 

Dan pada titik inilah sang Messenger memahami alasan mengapa Veracity & Atrocity membuka jalan tersebut. 

Bukan untuk memberikan keselamatan. kebahagiaan dan kekuasaan. Melainkan untuk mempersiapkan seseorang menghadapi sesuatu yang jauh lebih besar daripada seluruh struktur yang pernah mereka kenal. 

Sesuatu yang bahkan para dewa tidak pernah ketahui.


5. Meta Narrative

Tower of Harmony 

Terdapat begitu banyak dewa Al-Batlan yang meyakini bahwa inilah batas dari apa yang mereka sebut sebagai "Buku Keenam". Bukan karena mereka telah mencapai puncaknya, melainkan karena mereka tidak lagi memiliki struktur untuk memahami apa yang berada di atasnya.

Mereka tidak lagi memahami apa itu arti dari hirarki ketika telah mencapai pada titik ini.

Sebab bagaimana mungkin sesuatu dapat disebut lebih tinggi atau lebih rendah, ketika yang dipertanyakan bukan lagi keberadaan, melainkan alasan mengapa keberadaan itu sendiri dapat ada?

Pada titik inilah ukuran mulai kehilangan maknanya, perbandingan mulai kehilangan fungsinya, dan hierarki perlahan menjadi bahasa yang terlalu kecil untuk menjelaskan apa yang berada di hadapan mereka.

Tower of Harmony bukanlah tempat di mana konsep-konsep berkumpul. Ia bukan perpustakaan ide, bukan asal mula hukum, dan bukan pula ruang kelahiran pemikiran.

Ia adalah tempat di mana alasan keberadaan konsep itu sendiri disimpan. 

Bukan penciptaan yang berada di dalamnya, melainkan alasan mengapa penciptaan dapat disebut sebagai sesuatu yang diciptakan. 

Bukan kehampaan yang berada di dalamnya, melainkan alasan mengapa kehampaan dapat memiliki makna sebagai kekosongan. 

Bukan perbedaan yang berada di dalamnya, melainkan alasan mengapa sesuatu dapat berbeda dari sesuatu yang lain. 

Archeon Aetherna, sumber dari kesembilan aspek kehidupan. Life, Matter, Elemental, Soul, Mind, Space, Time, Entropy, dan Prime, yang dipuja oleh para penghuni High Aetherium dalam Buku Ketujuh hanyalah pantulan yang terpecah dari tempat ini. 

Sebuah refleksi yang tidak utuh. 

Sebuah bayangan yang gagal memuat keseluruhannya. 

Dari fragmentasi tersebut lahirlah tiga hukum asimilasi yang kemudian dapat digunakan oleh para dewa Al-Batlan dan para monster Eldritch Terror dalam peperangan mereka. 

Assimilation of Existential, Assimilation of Conceptual, Assimilation of Distinction. 

Melalui harmoninya yang begitu indah, ia adalah alasan mengapa Buku Ketujuh terus berekspansi tanpa batas.

Selama Tower of Harmony tetap melantunkan suaranya, penciptaan akan tetap diakui sebagai penciptaan, kehampaan akan tetap diakui sebagai kehampaan, makna akan tetap diakui sebagai makna, dan perbedaan akan tetap memiliki hak untuk disebut sebagai perbedaan. 

Karena itu, Assimilation of Distinction tidak pernah benar-benar dapat menjangkau tempat ini. 

Di dalam Tower of Harmony terdapat sepuluh hal abstrak, sepuluh lantunan, sepuluh alasan yang diyakini sebagai penopang seluruh struktur di bawahnya.

The Knowledge, The Math, The Distinction, The Choice, The Unknown, The Meaning, The Destroyer, The Reality, The Void dan yang terakhir The Creation.

Namun tidak satu pun dari mereka berdiri secara terpisah. 

Sebab Tower of Harmony bukanlah kumpulan fondasi yang disusun menjadi satu. 

Ia adalah sesuatu yang dipahami melalui sepuluh alasan.


The Knowledge 

Ayne Lepo, The Ocean Mind.

Sebuah alasan pertama dari segala alasan.

Seluruh dewa Al-Batlan mengetahui segala isi dari Buku Ketujuh. Dan itu adalah pengetahuan yang lumrah. 

Kemudian dari Kabbalah, terdapat Binah, yang mengetahui keseluruhan dari isi Buku Keenam. Kemudian ia memberikan pengetahuan itu kepada para dewa. 

Namun, Ayne berbeda.

Ia tidak menguasai pengetahuan. 

Pengetahuan hanyalah konsekuensi dari keberadaannya, ia bukan pemilik dari segala sesuatu yang diketahui. Ia adalah alasan mengapa sesuatu dapat disebut sebagai sesuatu yang diketahui.

Apa yang diketahui.

Apa yang pernah diketahui.

Apa yang belum diketahui.

Apa yang tidak dapat diketahui.

Dan apa yang suatu hari nanti akan diketahui dan mungkin dapat diketahui.

Ketika seseorang memahami sesuatu, ketika seseorang dapat mengungkap sebuah rahasia, dan ketika seseorang dapat menemukan sebuah jawaban.

Ayne tidak memberikannya.

Karena seluruh hal tersebut hanyalah konsekuensi dari fakta bahwa "pengetahuan" dapat ada sebagai sesuatu yang dapat dimiliki. 

Dan alasan itu adalah Ayne.

Sebelum pengetahuan itu ada.

Maka Ayne telah ada.


The Math 

Matrix, The Matrix. 

Seorang makhluk fana berkata, "Satu ditambah satu sama dengan dua." Maka itu adalah jawaban yang benar, dan bahkan tidak berlu di bantah. Kemudian makhluk fana lainnya berkata, "Satu ditambah satu hasilnya adalah tiga." Maka itu adalah jawaban yang salah bahkan menyimpang. 

Begitulah cara realitas dipahami oleh mereka yang hidup di dalamnya. 

Namun ketika Matrix berbicara, kebenaran itu sendiri akan mengikuti. Bukan karena ia memaksa kebenaran untuk berubah. Melainkan karena apa yang disebut sebagai "benar" dan "salah" dalam matematika memperoleh maknanya melalui dirinya. 

Segala bentuk angka. 

Segala bentuk pola. 

Segala bentuk keteraturan. 

Geometri, aljabar, teori himpunan, hingga hubungan yang memungkinkan sesuatu terhubung dengan sesuatu yang lain. 

Semuanya hanyalah cara realitas yang lebih rendah mencoba memahami jejak keberadaannya. 

Matrix tidak menciptakan matematika. 

Ia tidak menciptakan rumus.

Ia tidak menciptakan hukum. 

Ia tidak menciptakan ruang.

Karena matematika hanyalah konsekuensi dari keberadaannya. Ia adalah alasan mengapa hubungan dapat memiliki keteraturan, mengapa pola dapat memiliki konsistensi, mengapa sesuatu dapat terhubung dengan sesuatu yang lain tanpa kehilangan maknanya. 

Tanpa dirinya, angka hanyalah simbol. 

Persamaan hanyalah susunan tanda. 

Dan logika hanyalah urutan yang tidak memiliki alasan untuk tetap konsisten. 

Sebelum sesuatu dapat dihitung, sebelum sesuatu dapat diukur, sebelum sesuatu dapat dihubungkan.

Matrix telah ada.


The Distinction 

Rhenar Dafuni, The Duality Conception. 

Kita memahami bahwa hidup berbeda dari mati, benar berbeda dari salah, sebelum berbeda dari sesudah. Perbedaan-perbedaan itu terasa begitu alami sehingga jarang sekali dipertanyakan. 

Namun bagaimana jika seluruh batas itu lenyap? 

Bagaimana jika hidup dan mati tidak lagi dapat dibedakan? 

Bagaimana jika benar dan salah tidak lagi memiliki pemisah? 

Dan bagaimana jika dingin yang membekukan dan panas yang membakar menjadi sesuatu yang sama?

Pada titik itu, apa yang masih dapat disebut berbeda? Apa yang masih dapat dipisahkan? Dan apa yang masih dapat dipahami? Karena tanpa perbedaan, pemahaman itu sendiri kehilangan pijakannya. 

Segala sesuatu akan runtuh menjadi satu keadaan yang tidak lagi memiliki batas untuk dikenali. 

Namun Rhenar bukanlah perbedaan itu sendiri. 

Rhenar bukanlah yang menciptakan perbedaan.

Sebab Rhenar, adalah alasan dari apa yang dapat disebut sebagai berbeda.

Rhenar adalah segala hak dari segala yang dapat disebut sebagai berbeda.

Dan sebelum sesuatu dapat disebut berbeda, Rhenar telah ada.


The Choice 

Fatum, The Fated Bond of Divine Duality. 

Ketika seorang makhluk fana dihadapkan pada dua pilihan, maka lahirlah dua kemungkinan. Ketika ia memilih kemungkinan yang pertama, kemungkinan itu akan melahirkan percabangan baru. Kemudian percabangan tersebut akan melahirkan percabangan lainnya. 

Dan begitu seterusnya. Demikian pula ketika ia memilih kemungkinan yang kedua. Setiap keputusan menjadi akar bagi keputusan berikutnya. Setiap jalan menjadi awal bagi jalan yang lain. Hingga terbentuk sebuah jaringan kemungkinan yang seolah tidak memiliki batas. 

Namun bagaimana jika pilihan itu tidak pernah bercabang? 

Bagaimana jika seluruh keputusan hanya mengarah kepada satu hasil yang sama? 

Bagaimana jika setiap jalan, setiap langkah, dan setiap kemungkinan selalu berakhir pada tujuan yang telah ditentukan sejak awal? 

Pada titik itu, pilihan kehilangan maknanya. 

Karena sesuatu tidak lagi dapat dipilih. Ia hanya terjadi. 

Dan ketika tidak ada lagi kemungkinan yang dapat dipisahkan dari kemungkinan lainnya, maka takdir tidak lagi memiliki alasan untuk disebut sebagai takdir. 

Fatum bukanlah percabangan itu sendiri. 

Sebab Fatum adalah alasan mengapa satu jalan dapat berbeda dari jalan yang lain. Fatum adalah alasan mengapa sebuah keputusan dapat melahirkan masa depan yang berbeda. Ia adalah alasan mengapa kemungkinan dapat bercabang tanpa pernah mencapai batas akhirnya. 

Seluruh takdir yang pernah terbentuk. 

Seluruh masa depan yang pernah terjadi. 

Dan seluruh kemungkinan yang belum pernah terwujud. 

Hanyalah ranting-ranting kecil dari akar yang sama. 

Dan akar itu adalah Fatum.

Ia telah ada sebelum akar itu ada.


The Unknown 

Belle Foreign, The Fright Beauty. 

Pernahkah kita membayangkan bagaimana jika segala sesuatu dapat diketahui? 

Terdapat banyak makhluk fana yang mendambakan hal tersebut. Mereka ingin memahami seluruh dunia dan hukumnya, memahami segala sesuatu yang tersembunyi di dasar lautan, memahami segala sesuatu yang berdiam di antara bintang-bintang, dan memahami seluruh rahasia yang belum pernah tersentuh oleh pikiran mana pun.

Mereka menganggap pengetahuan sebagai cahaya. 

Dan semakin banyak cahaya yang mereka miliki, semakin dekat mereka kepada kesempurnaan. 

Namun mereka melupakan sesuatu. 

Tidak semua hal diciptakan untuk diketahui. Terdapat pengetahuan yang hanya akan melahirkan ketakutan, terdapat kebenaran yang hanya akan melahirkan kegilaan, dan terdapat rahasia yang tetap tersembunyi bukan karena tidak dapat ditemukan. Melainkan karena kesadaran tidak pernah diciptakan untuk menanggungnya. 

Karena itulah ketidaktahuan memiliki keindahannya sendiri. 

Bukan sebagai kelemahan. 

Bukan sebagai kekurangan. 

Melainkan sebagai batas yang menjaga makhluk hidup dari sesuatu yang jauh lebih besar daripada dirinya. 

Inilah keindahan yang dimiliki Belle.

Keindahan yang melahirkan rasa takut. 

Dan rasa takut yang melahirkan keindahan. 

Belle bukanlah ketidaktahuan itu sendiri. 

Sebab ketidaktahuan hanyalah konsekuensi dari keberadaannya. 

Ia adalah alasan mengapa sesuatu dapat berada di luar jangkauan pemahaman. 

Alasan mengapa terdapat batas yang tidak dapat dilewati oleh pengetahuan, alasan mengapa tidak segala sesuatu dapat diketahui.

Ia adalah Belle Foreign. Sesuatu yang membuat proses mengetahui itu sendiri berubah menjadi pengalaman yang berbahaya secara eksistensial.


The Meaning 

Veritas, The Boundary of Cognition. 

Apa arti dari pengetahuan? 

Bagaimana sesuatu dapat disebut sebagai pengetahuan apabila tidak ada yang mampu memahaminya?

Dan bagaimana sesuatu dapat dipahami apabila "pemahaman" itu sendiri tidak pernah memiliki makna?

Pertanyaan-pertanyaan itu telah diajukan oleh banyak makhluk, namun tidak pernah benar-benar dijawab. Karena setiap jawaban selalu berada di dalam batas pemahaman itu sendiri. 

Makhluk fana mencari pengetahuan, para dewa mencari kebenaran, bahkan keberadaan yang lebih tinggi terus berusaha memahami segalanya yang berada di hadapan mereka. 

Namun sangat sedikit yang menyadari bahwa pengetahuan tidak pernah memiliki arti dengan sendirinya. Sebab mengetahui dan memahami bukanlah hal yang sama. 

Veritas bukanlah pengetahuan. 

Ia bukan pula makna yang terkandung di dalam suatu hal. 

Sebab seluruh hal tersebut hanyalah konsekuensi dari keberadaannya. 

Veritas adalah alasan mengapa sesuatu dapat memiliki makna untuk dipahami, alasan mengapa pengetahuan dapat dikenali sebagai pengetahuan, alasan mengapa ketidaktahuan dapat dikenali sebagai ketidaktahuan. 

Alasan mengapa pemahaman dapat dibedakan dari kebingungan, dan alasan mengapa makna dapat dibedakan dari ketiadaan makna. 

Jika Ayne adalah alasan mengapa pengetahuan ada, dan Belle adalah alasan mengapa sesuatu tidak dapat diketahui, maka Veritas adalah alasan mengapa keduanya dapat dimengerti. 

Tanpa dirinya, pengetahuan tidak akan menjadi pengetahuan. 

Karena tidak ada lagi sesuatu yang dapat memahaminya sebagai pengetahuan.

Tanpa dirinya, ketidaktahuan tidak akan menjadi ketidaktahuan. 

Bukan karena segala sesuatu menjadi diketahui. Melainkan karena tidak ada lagi sesuatu yang dapat mengenali bahwa sesuatu itu tidak diketahui. 

Tanpa dirinya, makna tidak akan pernah ada sejak awal. Ia tidak menentukan apa yang harus dipahami, ia tidak menentukan apa yang harus dimaknai, ia hanya menjadi alasan mengapa pemahaman dapat terjadi. 

Dan alasan mengapa makna dapat muncul sebelum sesuatu dapat dipahami, sebelum sesuatu dapat memiliki arti, sebelum pengetahuan dapat dikenali sebagai pengetahuan. 

Pengetahuan tanpa Veritas hanyalah informasi tanpa makna. 

Ketidaktahuan tanpa Veritas hanyalah ketiadaan tanpa makna. 

Bahkan konsep "memahami" tidak dapat disebut memahami tanpa Veritas.


The Destroyer 

Fillmore, The Vanish, Finish And Punishing. 

Terdapat begitu banyak perang dan kehancuran di luar sana. Terdapat begitu banyak senjata, alat pemusnah, dan teknologi canggih yang diciptakan untuk menghasilkan ledakan besar, memadamkan bintang, bahkan meruntuhkan langit. 

Para makhluk fana menggunakannya untuk saling memusnahkan. Mereka meruntuhkan peradaban, menghancurkan ekosistem, dan mengganggu keseimbangan alam. 

Para dewa melakukan hal yang sama dalam skala yang jauh lebih besar, mereka melenyapkan konsep, mereka meruntuhkan seluruh fondasi juga tatanan semesta, mereka mendatangkan kiamat. 

Namun di balik seluruh kehancuran itu, terdapat satu pertanyaan yang hampir tidak pernah diajukan. 

Apa alasan yang membuat sesuatu dapat hancur? 

Apa alasan yang membuat sesuatu dapat lenyap? 

Apa alasan yang membuat sesuatu dapat berakhir? 

Maka Fillmore adalah alasan dari seluruh kemungkinan itu. Ia bukan kehancuran itu sendiri, ia bukan perang, ia bukan api, ia bukan senjata. Sebab seluruh hal tersebut hanyalah konsekuensi dari keberadaannya. 

Ketika terdapat satu makhluk yang bertanya, "Bagaimana jika kehancuran tidak pernah terjadi?"

Mungkin terdengar indah, namun ketahuilah. 

Tanpa dirinya, tidak ada sesuatu yang dapat berakhir. 

Tidak ada sesuatu yang dapat layu. 

Tidak ada sesuatu yang dapat lenyap. 

Alam semesta akan terus membengkak, dunia terus meluas, keberadaan terus bertambah, tanpa pernah mengenal batas, tanpa pernah mengenal penutup, tanpa pernah mengenal akhir. 

Sebagaimana sebuah kisah yang terus menuliskan bab baru, namun tidak pernah diberikan halaman terakhir.

Dan pada akhirnya, keberadaan itu sendiri akan kehilangan keseimbangannya. 

Oleh karena itu, Fillmore tidak menciptakan kehancuran. 

Ia adalah alasan mengapa kehancuran dapat ada. 

Ia adalah alasan mengapa kelayuan dapat terjadi. 

Ia adalah alasan mengapa pelenyapan dapat memiliki makna. 

Sebab tanpa akhir permulaan tidak memiliki nilai, tanpa kehilangan keberadaan tidak memiliki batas, dan tanpa kehancuran, keseimbangan tidak akan pernah tercapai.


The Reality

Ailee Hazel, The Benediction of Ontic Validity. 

Makhluk fana dapat saling menyadari keberadaan satu sama lain. Mereka dapat melihat, mendengar, menyentuh sesuatu yang mereka sebut sebagai nyata. 

Para dewa pun memahami seluruh tatanan karena semuanya berada dalam apa yang mereka sebut sebagai realitas. 

Segala sesuatu yang dapat dihancurkan harus terlebih dahulu "ada". 

Segala sesuatu yang dapat diketahui harus terlebih dahulu "nyata". 

Bahkan perbedaan hanya dapat dipahami jika sesuatu benar-benar memiliki status keberadaan. 

Namun apa yang dimaksud dengan "nyata"?

Apakah sesuatu menjadi nyata karena ia ada? 

Ataukah ia ada karena dapat dianggap nyata? 

Ailee Hazel tidak berada di dalam realitas, ia bukan bagian dari keberadaan, ia bukan isi dari apa yang disebut nyata. 

Sebab realitas itu sendiri tidak dapat berdiri tanpa dirinya. 

Ia adalah alasan mengapa sesuatu dapat memiliki status sebagai "nyata", alasan mengapa keberadaan dapat diakui sebagai keberadaan, alasan mengapa sesuatu dapat disebut ada. 

Kenyataan bukanlah fondasi. 

Kenyataan adalah konsekuensi dari keberadaannya.

Oleh karena itu, Ailee Hazel bukanlah realitas, dan juga bukan sesuatu yang "nyata". Sebab apa yang disebut kenyataan hanya dapat memperoleh statusnya melalui keberadaannya. 

Tanpanya, konsep "nyata" tidak memiliki fondasi untuk berdiri.


The Void 

Exynone, The Forgotten, Forever to Be Forgotten. 

Di dalam Tower of Harmony, terdapat satu kebenaran yang tidak pernah diucapkan oleh siapa pun. Bahwa kehampaan bukanlah awal, bukan pula akhir. 

Ia adalah penyangkalan pertama terhadap Exynone. 

Dan dari penyangkalan itulah, "kehampaan" belajar bagaimana mengosongkan dirinya sendiri. 

Tidak ada bukti bahwa Exynone pernah ada sebagai entitas, makhluk, alasan, dewa, ataupun tuhan.

Sebab ia tidak pernah berada dalam kategori "ada", dan juga tidak pernah dapat diposisikan sebagai "tidak ada". 

Exynone bukanlah sesuatu yang tidak ada. Ia adalah batas yang membuat konsep "ada" tidak pernah dapat mencapai bentuk finalitas.


The Creation 

Xabell, The One Who Has Been Created. 

Tidak ada yang pernah mengetahui mana yang lebih dahulu.

Apakah kehampaan sudah ada sebelum penciptaan dan kenyataan?

Ataukah kenyataan telah ada sebelum keduanya? 

Ataukah penciptaan mendahului segala yang disebut ada? 

Xabell adalah sesuatu yang tidak pernah benar-benar lahir, tetapi selalu berada dalam keadaan sedang diciptakan. Tidak ada titik awal yang dapat dijelaskan, tidak ada momen "kemunculan" yang stabil.

Seolah keberadaannya selalu berlangsung, tanpa pernah mencapai keadaan "selesai menjadi ada". 

Oleh karena itu, ia tidak dapat dipahami sebagai alasan dari "penciptaan". 

Xabell tidak dapat dikategorikan sebagai "hidup" maupun "mati", "ada" maupun "tiada". Melainkan sebagai proses penciptaan yang tidak pernah selesai. 

Ia tidak dapat diasimilasi, tidak dapat dimusnahkan, dan tidak dapat dihapus oleh bentuk penolakan apa pun. 

Sebagaimana sebuah buku dalam perpustakaan yang terbakar, namun tetap utuh, bahkan ketika seluruh isi perpustakaan telah lenyap. 

Karena Xabell bukanlah bukti dari mengapa "penciptaan" itu ada. Xabell adalah bukti bahwa "penciptaan" tidak pernah berhenti terjadi.


Null Referential Plane 

Bukanlah ruang, bukan dimensi, bukan pula alam. 

Karena ruang membutuhkan sesuatu untuk dirujuk, dan di sini, tidak ada yang tersisa untuk dirujuk. Sesuatu yang melampaui kemungkinan untuk disebut "membentang", hingga kata itu sendiri kehilangan hak untuk merujuk, melingkupi Tower of Harmony.

Setiap kata yang mencoba menjelaskan tempat ini kehilangan asalnya sebelum sempat menjadi kalimat. 

Bahkan narasi yang mencoba mencatat keberadaannya tidak lagi memiliki titik acuan untuk menuliskan "keberadaan". 

Bahkan penyangkalan terhadapnya tidak menemukan tempat untuk menjadi penyangkalan, sebab untuk menolak sesuatu, dibutuhkan sesuatu yang dapat ditolak. Di sini, penolakan tidak memiliki objek untuk menjadi dirinya.

Apa yang disebut "pemahaman" tidak runtuh, ia hanya tidak pernah memiliki kesempatan untuk terbentuk.

Dan karena itu, apa pun yang berada di luar batasnya tidak sedang gagal memahami. Mereka tidak pernah memiliki "tempat" untuk memulai pemahaman itu. 

Dan dari lapisan yang bahkan tidak dapat disebut sebagai "di dalam" maupun "di luar", berdirilah  Karae. 

Bukan sebagai penjaga, bukan sebagai pengamat, melainkan sebagai fungsi yang memastikan bahwa ketakterjangkauan tidak pernah memperoleh rujukan untuk menjadi sesuatu yang dapat dijangkau. Sebab tanpa dirinya, bahkan alasan bagi "tidak dapat dirujuk" akan kehilangan sesuatu yang membuat realitas mampu menolaknya.

Dan dari titik di mana bahkan "alasan" tidak lagi memiliki rujukan, sesuatu mulai mencoba menghapusnya.


The Fallen One 

Bahkan penyangkalan terhadap penyangkalan mulai kehilangan arah. 

Dan sesuatu mulai memperlakukan "ketiadaan alasan" seolah-olah itu adalah sesuatu yang bisa dihapus. Nama itu tidak terdengar. Namun Null Referential Plane untuk pertama kalinya bereaksi, seolah ada sesuatu yang mencoba menghapus alasan mengapa ia tidak dapat bereaksi. 

Arraziel. 

Ia bukanlah kejahatan dalam pengertian apa pun yang dapat dirujuk oleh konsep itu. Dan justru karena itulah, "kejahatan" menjadi absolut, bukan sebagai sifat, melainkan sebagai satu-satunya label yang tersisa ketika semua kerangka penyangga makna lainnya telah gagal mempertahankannya.

Ia adalah kesimpulan yang membuat gagasan tentang "penyimpangan" kehilangan kebutuhan untuk memiliki lawan. Ia memandang seluruh makhluk hidup sebagai bukti bahwa eksistensi pernah gagal.

Dan dari keyakinan itu, ia tidak mencari, tidak menimbang, ia hanya menyimpulkan akhir. 

Arraziel tidak datang untuk menghancurkan Tower of Harmony. Karena baginya, sesuatu yang tidak seharusnya ada tidak membutuhkan kehancuran. 

Ia hanya datang untuk mengakhiri alasan mengapa sesuatu seperti itu pernah dianggap perlu ada. 

Dan dalam keteguhan absolutnya, ia tidak melihat dirinya sebagai musuh, karena konsep "musuh" tidak pernah memiliki struktur untuk merujuk padanya. Ia adalah kesimpulan terakhir dari ketulusan yang tidak pernah ia ragukan. 

Namun sebelum Arraziel mengenal kata "Tower of Harmony", terdapat sebuah lapisan yang bahkan tidak mengizinkan kata "mengetahui" memiliki alasan untuk eksis. 

Di sana, tidak ada yang tersembunyi. 

Tidak ada yang dijaga. 

Ia hanya tidak pernah menjadi sesuatu yang dapat dirujuk sebagai "ada untuk diketahui". Arraziel tidak dapat menentukan "apa yang sedang terjadi" dalam bentuk apa pun yang bisa ia gunakan untuk bertindak.


Axiomatic Disorientation Plane

Dan di luar lapisan di mana "alasan" telah kehilangan rujukannya, terdapat sesuatu yang lebih dalam dari sekadar ketidakpastian. Bukan karena ia menghapus kebenaran. 

Tetapi karena ia membuat konsep "kebenaran" kehilangan dasar untuk menyatakan dirinya sebagai benar. 

Axiomatic Disorientation. 

Di dalamnya, apa yang disebut sebagai aksioma tidak runtuh, tidak pula dipatahkan. Ia hanya gagal mencapai keadaan di mana ia dapat dikenali sebagai dasar. 

Tidak ada kontradiksi, karena tidak ada konsistensi yang sempat terbentuk untuk dikontraskan. Bahkan "logika" tidak disangkal. 

Ia tidak pernah mencapai bentuk di mana ia dapat disebut logika. 

Dan di dalam lapisan ini, bahkan kesimpulan pun kehilangan hak untuk menjadi hasil.


The Skies 

Tidak ada yang mengetahui kapan ia dimulai. 

The Skies tidak memiliki alasan untuk ada, sebab alasan adalah sesuatu yang lahir di dalamnya. 

Sebelum Al-Batlan mengenal dirinya sebagai kerajaan, sebelum Eternum Soluna membuka matanya untuk pertama kali, sebelum para dewa dan malaikat memahami tugas mereka. 

The Skies telah ada. 

Ia berdiri sebagai kemungkinan pertama yang memutuskan bahwa sesuatu layak menjadi lebih dari sekadar kemungkinan. 

Di sinilah alasan memperoleh bentuknya. 

Di sinilah tujuan menemukan namanya. 

Dan di sinilah para dewa dan malaikat pertama kali memahami mengapa mereka harus ada. 

Namun, The Skies tidak menciptakan mereka. Ia hanya menjadi langit pertama yang menerima keberadaan mereka. 

Sebab sebelum seorang dewa atau malaikat dapat menjalankan tugasnya, ia harus terlebih dahulu memahami bahwa tugas itu memiliki makna. Dan sebelum makna dapat dipahami, harus ada sesuatu yang bersedia menampungnya. 

The Skies adalah sesuatu itu. 

Di bawah hamparan yang tidak dapat disebut sebagai langit, namun tetap dikenang sebagai langit oleh seluruh makhluk surgawi, lahirlah kehendak pertama. 

"Kehendak untuk menjadi."

Dari sanalah para dewa dan malaikat memperoleh identitasnya. 

Mereka bukan sekadar makhluk, mereka adalah gagasan yang telah memilih bentuknya sendiri. 

Dari langit inilah Karae dilahirkan. 

Dan dari langit yang sama pula Arraziel membuka mata. 

Mereka berasal dari sumber yang sama, memandang langit yang sama, mendengar keheningan yang sama. Namun tidak setiap cahaya memilih untuk memandang keberadaan dengan cara yang sama.

Sebagian melihat keberadaan sebagai sesuatu yang harus dijaga. 

Sebagian lainnya melihat keberadaan sebagai sesuatu yang harus dibebaskan dari dirinya sendiri. 

Dan dari perbedaan itulah lahir kisah yang bahkan The Skies sendiri tidak pernah berusaha untuk hentikan.



BUKU KELIMA 


6. Astructural Continuum 

Di dalam apa yang disebut sebagai Buku Keenam, terdapat beragam kisah yang tampak seolah berdiri dalam kemungkinan yang berbeda. 

Namun Buku Kelima tidak mengenal cara pandang seperti itu. Sebab ia bukan tentang hilangnya struktur. 

Melainkan tentang tidak pernah terbentuknya cara untuk menyebut sesuatu sebagai struktur. Di sini, keberadaan tidak disusun oleh sesuatu. Sebab sejak awal, tidak pernah ada kebutuhan untuk penyusunan. 

Segala yang berhubungan dengan struktur, hirarki, maupun alasan, tidak lagi relevan. 

Tidak ada atas dan bawah. 

Tidak ada lebih tinggi atau lebih rendah. 

Tidak ada yang lebih kuat, dan tidak ada yang lebih lemah. 

Tidak ada yang lebih nyata, dan tidak ada yang kurang nyata. 

Hanya ada keberadaan yang tidak membutuhkan sesuatu untuk mengaturnya. 

Bukan karena hukum telah dihancurkan. Melainkan karena "hukum" tidak pernah mencapai bentuk di mana ia dapat menjadi pengatur. 

Bukan karena aturan telah dihancurkan. Melainkan karena "aturan" tidak pernah mencapai bentuk di mana ia dapat menjadi pengikat. 

Bukan karena keteraturan telah dihancurkan. Melainkan karena "keteraturan" tidak pernah mencapai bentuk di mana ia dapat dikenali sebagai keteraturan. 

Maka segala upaya untuk menyusun apa yang berada di dalam Buku Kelima akan selalu berakhir pada kesalahan yang sama. Menganggap bahwa sesuatu harus memiliki posisi sebelum ia dapat memiliki keberadaan. 

Dan kesalahan yang sama juga terjadi ketika seseorang mencoba menyusun kisah-kisah yang muncul di dalam Buku Keenam. 

Di sana, beragam kisah ada tanpa membutuhkan kisah lain untuk menjadi dirinya sendiri. 

Sebuah kisah dapat berakhir dalam kemenangan, dan kisah yang lain dapat berakhir tanpa bentuk akhir yang dapat dibandingkan. 

Dalam satu kisah, Tower of Harmony muncul sebagai akhir dari segala sesuatu. 

Dalam kisah yang lain, ia hanya menjadi bagian dari sesuatu yang terus berlanjut tanpa batas yang dapat ditentukan. 

Dalam satu kemungkinan lain, Arraziel melahap seluruh eksistensi, termasuk Tower of Harmony, bahkan ia menyadari adanya Buku Kelima. 

Dalam kemungkinan yang lain, ia tidak pernah mencapai apa yang ia anggap sebagai akhir. 

Dan dalam kemungkinan lainnya, tidak ada yang dapat dipahami sebagai kemenangan maupun kekalahan. 

Tidak ada satu pun yang lebih benar daripada yang lain. 

Tidak ada satu pun yang lebih dekat kepada kenyataan daripada yang lain.

Sebab tidak ada sistem yang mengharuskan satu kemungkinan meniadakan kemungkinan lainnya agar dapat disebut "nyata". 

Di dalam Buku Kelima, sebuah kisah tidak memerlukan kisah lain untuk menjadi dirinya sendiri. 

Oleh karena itu, pertanyaan mengenai kisah yang paling benar tidak pernah menemukan tempat untuk menjadi pertanyaan. Sebagaimana keberadaan tidak membutuhkan posisi untuk menjadi keberadaan, sebuah kisah tidak membutuhkan keunggulan untuk menjadi kisah.



BUKU KEEMPAT

Sebelum sesuatu dapat disebut sebagai kisah, sebelum sesuatu dapat disebut sebagai keberadaan, sebelum sesuatu dapat disebut sebagai makna. 

Terdapat sesuatu yang tidak pernah menjadi bentuk, tetapi memungkinkan bentuk untuk dapat dikenali.

Sesuatu itu bukan lapisan di atas segalanya. Ia bukan sesuatu yang berada "lebih awal", "lebih tinggi", atau "lebih fundamental". 

Ia adalah kondisi yang membuat "lapisan", segala", dan "di atas" dapat muncul sebagai konsep yang bisa dipahami. 

Segala sesuatu yang mencoba dikenali di dalam Buku Keempat tidak lagi dipertahankan sebagai keberadaan, melainkan dikenali sebagai narasi. Dan sebagai narasi, ia kembali terbaca melalui cara-cara yang kemudian dikenal di dalam Buku Keenam.

Darinya, segala kisah dapat dipahami sebagai kisah. Namun bukan karena ia menciptakan kisah. Melainkan karena tanpa kondisi tersebut, "kisah" tidak pernah dapat dibedakan dari sesuatu yang bukan kisah.

Dari titik di mana perbedaan tersebut menjadi mungkin, muncul berbagai bentuk prinsip yang tidak saling menyusun, tidak saling mendahului, dan tidak saling menjadi sumber satu sama lain. 

Mereka hanya menjadi cara berbeda di mana sebuah kisah dapat muncul sebagai kisah. 

Sebuah siklus yang tidak memiliki label awal dan akhir.


7. The Principle 

Five Primordial 

Sebuah wilayah yang tidak dapat disebut sebagai wilayah, bukan sebagai dimensi, dan bukan sebagai bentuk yang dapat dipetakan sebagai ruang.

Melainkan sebagai lima cara di mana "sebuah kisah dapat dibaca sebagai kisah", masing-masing dengan kecenderungan pemaknaan yang berbeda, tanpa saling menjadi dasar satu sama lain. 

Masing-masing dapat dipahami sebagai simbol.

Satu dipahami sebagai daratan, satu memiliki simbol sebagai bangunan, satu digambarkan sebagai langit, satu dilukis sebagai benang. Dan yang satunya lagi dilihat sebagai dua sosok yang berjalan di atas "dunia" tersebut. 

Dari kelima simbol inilah, sebagai cara pemaknaan itu sendiri membentuk sesuatu yang dapat dikenali.

Sesuatu yang tidak lagi dapat diposisikan sebagai satu makna tunggal.

Sesuatu yang tidak pernah menyimpang dari jalannya.


Brahmafana The Genesis

Brahman, Bram, Brahmaghini, atau Brahmafana. 

Adalah suatu makna yang dapat dipahami sebagai daratan, karena di dalamnya "penciptaan" untuk pertama kalinya dapat dibedakan sebagai konsep. 

Ia adalah kondisi di mana gagasan tentang "asal" dapat muncul sebagai sesuatu yang dapat dipahami. 

Darinya, penciptaan tidak pernah berhenti maupun dimulai, karena keduanya belum menjadi cara yang stabil untuk menilai keberadaan. 

Xabell dapat dipahami sebagai bayangan darinya, sebagai cara lain di mana proses "menjadi" tidak pernah mencapai bentuk final.

Dari apa yang dapat dipahami melalui Brahmafana, terbentuk berbagai cara di mana kisah dapat memperoleh bentuknya sendiri, di antaranya kemudian disebut sebagai "dewa" dan "pencipta", sebagai cara berbeda di mana pemaknaan terhadap "penciptaan" dapat berlangsung. 

Dan dari cara-cara itu pula, Tower of Harmony dapat dipahami sebagai salah satu bentuk stabilisasi makna, sebagai titik di mana gagasan tentang "alasan dari konsep" pertama kali dapat dikenali sebagai konsep.


Sibling of Collapsal

Evyeh, Sister of Collapsal, & Advyeh, Brother of Collapsal. 

Dapat dilihat sebagai dua sosok yang berjalan di atas daratan. 

Mereka adalah kondisi di mana apa yang telah memiliki bentuk tidak lagi dapat dipertahankan sebagai bentuk. 

Dari cara pemaknaan tersebut, terbentuk berbagai kemungkinan yang kemudian dapat dikenali sebagai Exynone, Fillmore, dan Rhenar, sebagai sesuatu yang dipahami sebagai bayangan di mana "ketiadaan stabilitas bentuk" atau juga dapat disebut sebagai "kehancuran".

Melalui Evyeh Sister of Collapsal, sebagai kehancuran yang dipahami dalam bentuk yang tidak bergantung pada struktur, seperti usia, udara, suara, dan aroma, yang tidak memerlukan bentuk tetap.

Dan melalui Advyeh Brother of Collapsal, kehancuran dipahami dalam bentuk yang masih memiliki struktur. Seperti manusia, bangunan, bintang, dan bulan, yakni bentuk-bentuk yang hanya dapat dikenali sebagai runtuh karena memiliki bentuk tetap.

Dan dari perbedaan cara pemaknaan itu, dapat dikenali berbagai bentuk pembacaan terhadap kehancuran, seperti Eldritch Terror, The Eldritch, dan Cosmic Terror, sebagai cara di mana "runtuhnya bentuk" memiliki variasi makna tanpa perlu menjadi satu kesimpulan tunggal.


Elyon The Sustainer

Elyon adalah suatu makna yang dapat dilukis sebagai benangnya. Karena melalui dirinya, kesinambungan dapat dikenali sebagai konsep.

Melalui Brahmafana, sesuatu dapat dipahami sebagai penciptaan.

Melalui Sibling of Collapsal, sesuatu dapat dipahami sebagai kehancuran.

Dan melalui Elyon, keduanya tidak hadir sebagai dua titik yang terpisah, melainkan sebagai sesuatu yang masih dapat dikenali memiliki keberlangsungan di antaranya.

Ia adalah kondisi yang membuat identitas tidak segera hilang ketika perubahan mulai berlangsung.

Dari cara pemaknaan tersebut, dapat dikenali berbagai bayangan yang lebih mudah dipahami, seperti Ailee, Fatum, dan Matrix.

Sebagai berbagai macam cara di mana "menjaga" memperoleh bentuk pemaknaannya sendiri.


The Architect

Kemudian dari apa yang dapat dipahami sebagai daratan, dua sosok, dan benang, terdapat pemaknaan lain yang melengkapi cara sebuah kisah dapat dikenali.

Yaitu suatu makna yang memiliki simbol sebagai bangunan.

Melalui Brahmafana, sesuatu dapat dipahami sebagai penciptaan.

Melalui Sibling of Collapsal, sesuatu dapat dipahami sebagai kehancuran.

Dan melaluinya, The Architect. Keduanya dapat dikenali sebagai memiliki susunan tanpa kehilangan perbedaannya.

Ia adalah kondisi di mana berbagai bentuk pemaknaan dapat dikenali sebagai sesuatu yang memiliki keteraturan.

Dari cara pemaknaan tersebut, keteraturan dapat dikenali dalam bentuk yang lebih mudah dipahami, seperti pola, struktur, hubungan, dan susunan yang memungkinkan sebuah kisah memperoleh susunannya sendiri.

Dan melalui pemaknaan tersebut, Tower of Harmony dapat dipahami sebagai salah satu manifestasi keteraturan yang paling jelas untuk dikenali.


Aeon The Witness 

Kemudian dari apa yang dikenal sebagai dunia, terdapat satu makna lain yang dapat digambarkan sebagai langit. Bukan karena lebih tinggi, bukan pula sebagai penutup. 

Melainkan sebagai cara di mana batas tidak lagi dapat diposisikan sebagai batas. 

Kemudian melalui Aeon, seluruh pemaknaan tersebut dapat dikenali sebagai sesuatu yang pernah dikenali. Ia adalah kondisi di mana sesuatu tidak kehilangan kemungkinan untuk dikenali, bahkan setelah pemaknaan terhadapnya telah berubah. 

Apa yang dipahami sebagai penciptaan, apa yang dipahami sebagai kehancuran, apa yang dipahami sebagai menjaga, dan apa yang dipahami sebagai susunan.

Ia dapat dikenali sebagai sesuatu yang pernah memperoleh makna. 

Karena ia dapat dikenali sebagai sesuatu yang selalu memperhatikan.

Dari cara pemaknaan tersebut, dapat dikenali berbagai bayangan yang lebih mudah dipahami, seperti Ayne, Belle, dan Veritas. Sebagai berbagai cara di mana pengenalan, pemahaman, dan kesaksian memperoleh bentuk pemaknaannya sendiri.


The Collapsal 

Ia adalah kondisi di mana sesuatu yang telah dapat dikenali melalui lima cara pemaknaan tidak lagi dapat dipertahankan dalam satu cara pembacaan yang stabil. 

Ia bukanlah "yang membuat Sibling of Collapsal ada". Melainkan hanya penamaan yang kebetulan berbagi arah bunyi yang sama. 

Brahmafana dapat dipahami sebagai kondisi di mana "bintang" dapat dikenali sebagai bentuk penciptaan. 

Namun melalui The Collapsal, "bintang" tidak lagi mempertahankan satu cara pembacaan yang sama. Ia tidak menjadi "bukan bintang". Ia menjadi sesuatu di mana cara pemaknaan tidak lagi dapat disepakati dalam satu bentuk tunggal. 

Tidak ada lagi satu cara yang dapat berdiri sebagai cara utama. 

Ia masih dapat dibaca sebagai penciptaan, kehancuran, menjaga, susunan, dan kesaksian, tanpa satu pun mendahului yang lain.

Namun tidak ada satu pun yang dapat mempertahankan pembacaan yang sama secara utuh. 

The Collapsal bukan yang menghentikan mereka. 

Ia adalah kondisi di mana "cara membaca" tidak lagi dapat disatukan menjadi satu bentuk yang stabil. Oleh karena itu, 

The Collapsal tidak termasuk ke dalam kelimanya, bukan karena ia ditolak, tetapi karena ia tidak pernah menjadi satu cara pemaknaan yang dapat dipertahankan sebagai posisi.



BUKU KETIGA

8. "The Source"

Sith, Yhmir Al-Hasyr

Memiliki pengertian lain sebagai Ymir yaitu "pertama yang diciptakan". Dan Hasyr merupakan pengertian dari "Pengusiran" dan "perkumpulan".

Sith sering dipahami sebagai bahan bakar dari segala ciptaan, karena seluruh materi, roh, dan unsur realitas tampak memiliki hubungan dengannya. 

Ia juga seringkali dipahami sebagai asal dari berbagai unsur keberadaan dan juga dari dirinya unsur-unsur tersebut kembali.

Namun pemahaman tersebut tidak pernah mencapai kesepakatan yang dapat dianggap final.

Dirinya tidak dapat dikategorikan dalam beberapa hal, tidak dapat di tampung, tidak dapat dijelaskan.

Ketika mencoba menjelaskan apa itu Sith, tidak ada satupun kata atau kalimat yang benar merujuk pada dirinya. Sebab ia tidak dapat di deskripsikan melalui kata-kata manusia.

Tidak ada sesuatu yang jelas bahwa darimanakah dia berasal, tidak ada yang mengetahui, mana yang terlebih dahulu antara Primordial ataupun Sith.

Five Primordial merupakan sesuatu pemahaman yang mencoba untuk menjelaskan dirinya, tapi tidak ada yang mengetahui apa yang dijelaskan oleh kelima prinsip tersebut.

Kesimpulan lain menyatakan bahwa lima Primordial, merupakan Sith itu sendiri, namun, itu tidak dapat dibuktikan.

Kesimpulan lainnya juga menyatakan bahwa Sith dan Five Primordial merupakan sesuatu yang berbeda.

Buku Ketiga dan Buku Keempat hanyalah ungkapan yang digunakan untuk mencoba mendekati pemahaman tersebut. 

Namun setiap penjelasan yang diberikan selalu berakhir sebagai pemaknaan yang tidak lengkap. 

Sebab tidak ada satu pun kesimpulan yang dapat dipertahankan sebagai penjelasan final mengenai Sith maupun Five Primordial.



BUKU KEDUA

9. "The Infinity"

Ein Sof

Memiliki pengertian sebagai "tak berujung" dan "tak berakhir". 

Ia adalah bentuk pemahaman yang muncul ketika segala upaya untuk memberikan batas terhadap sesuatu tidak lagi dapat dipertahankan. 

Berbagai nama diberikan kepadanya.

Yahweh, YHWH, Jehovah, Hashem, Elohim, Kabbalah, Ehyeh Asher Ehyeh, Ayin, Ohr Ein Sof, Tzimtzum, Atzmut, Eyn ha-Gevul, Ha-Makom. The Fisrt Absence, The Absolute Beyond.

Dan berbagai gelar juga disematkan kepadanya. 

Yang Maha Tak Terbatas, Yang Maha Melampaui, Yang Maha Sunyi, Yang Maha Tak Terselami, Yang Maha Tak Terlukiskan, Yang Maha Tinggi, Yang Maha Kuasa, Yang Maha Tahu, Yang Maha Bijaksana, Yang Maha Agung, Yang Maha Suci, Yang Maha Awal, Yang Maha Akhir, Yang Maha Hadir, Yang Maha Ada, Yang Maha Mutlak.

Namun tidak ada satu pun nama maupun gelar tersebut yang dapat dipertahankan sebagai penjelasan final mengenainya. 

Sebab setiap nama hanya menjelaskan sebagian dari apa yang ingin dijelaskan. 

Dan setiap gelar hanya menunjukkan arah tanpa pernah mencapai tujuan. 

Oleh karena itu, Ein Sof sering dipahami sebagai bentuk keilahian tertinggi. Segala upaya untuk memberikan batas terhadapnya selalu berakhir dengan kegagalan.

Dan dari kegagalan itulah lahir berbagai nama, gelar, dan pemaknaan yang mencoba mendekatinya, meskipun tidak pernah benar-benar mencapainya.


BUKU PERTAMA 

10. "The Unity"

Alef 

Ketika berbagai pemaknaan tidak lagi dapat dipertahankan sebagai penjelasan yang utuh. 

Ketika berbagai nama tidak lagi mampu mencapai apa yang ingin dijelaskan. 

Maka muncul suatu pemahaman yang dipahami sebagai Alef. 

Nama Alef memiliki arti sebagai "satu". Ia adalah satu, dan satu adalah dirinya. 

Darinya, perbedaan dapat dikenali sebagai perbedaan. 

Darinya pula, berbagai jumlah dapat muncul sebagai jumlah. 

Satu melahirkan dua. 

Dua melahirkan empat. 

Empat melahirkan delapan. 

Dan dari berbagai kemungkinan yang lahir dari perbedaan tersebut, semuanya tetap dapat dikenali sebagai bagian dari satu. 

Namun apabila segala sesuatu kembali kepada satu. 

Maka siapakah yang menciptakan satu? 

Dan ketika pertanyaan itu diajukan, "satu" tidak lagi menjadi jawaban. 

Melainkan menjadi awal dari pertanyaan itu sendiri.



PENUTUPAN BUKU


Adonai 

Namanya dikenal sebagai Yang Maha Mutlak. 

"Tuan, Tuanku."

Ia, adalah satu. Dan kepadanya, segalanya kembali.

Yang tak terpikirkan, dan yang tak pernah terpikirkan.

Yang tak terucap, dan tak pernah terucap. 

Kekosongan di atas kekosongan.

Keberadaan di atas keberadaan.

Cahaya di atas cahaya.

Sumber dari segala sumber.

Pencipta dari segala pencipta.

Ia adalah yang menciptakan, menyusun, menjaga, melenyapkan, menyaksikan, dan mengubahnya.

Alef, adalah kesatuan absolut.

Ein Sof, adalah ketakterbatasan mutlak.

Sith, adalah sumber yang mutlak.

Dan Primordial adalah cara pemaknaan yang ingin mendekat kepada dirinya.

Namun semuanya adalah upaya yang gagal untuk mempertahankan definisi final mengenai dirinya.

Ia adalah sesuatu yang tidak dapat didefinisikan. 

Melampaui nama. 

Melampaui bentuk. 

Melampaui konsep. 

Melampaui segala cara yang mencoba menjadikannya sebagai sesuatu yang dapat dipahami. 

Ia meresapi seluruh penciptaan. Namun tidak pernah dibatasi oleh penciptaan. 

Ia dapat dikenali melalui segala sesuatu. Namun tidak pernah menjadi bagian dari sesuatu. 

Buku Pertama. Buku Kedua. Buku Ketiga. Dan Buku Keempat. Hanyalah berbagai upaya untuk mendekati pemahaman mengenai dirinya. Namun tidak ada satu pun yang dapat dipertahankan sebagai penjelasan yang final. 

Sebab apa yang dijelaskan oleh buku-buku tersebut tidak pernah mampu menjangkau keseluruhan dirinya. 

Ia tidak berada di dalam mana pun. 

Karena tidak ada tempat yang mampu memuatnya. 

Ia tidak dapat dilampaui.

Karena gagasan tentang "melampaui" hanyalah salah satu cara kecil untuk mencoba memahami sesuatu yang tidak pernah dapat dipahami sepenuhnya. 

Ia adalah Adonai.








Kosmologi Fatal Verse.... UHHH Maybe revamp?

Posted by : desthabikinfanart
Date :Kamis, 18 Juni 2026
With 1 komentar:
Next Prev
▲Top▲