Sephiroth Lore:
Taman Eden, adalah rahim pertama bagi manusia. Digambarkan sebagai surga duniawi sempurna yang diciptakan olehnya, butiran air, dedaunan dan angin yang begitu lembut ketika diriku merasakannya. Ia juga berperan sebagai jantung bagi keseimbangan dunia. Di ambang kesuciannya berdirilah Sefirot, para penjaga taman ini yang dipilih langsung oleh yang tertinggi Adonai. Ketika mereka bertanya. "Mengapa harus kami." maka aku menoleh kepada mereka seakan menjawab. Di antara banyaknya bintang di langit dan di antara banyaknya penenun kain sutra yang menghasilkan pakaian yang lembut. Merekalah pengakuan yang telah kuberikan atas cahaya yang mereka miliki.
Dengarkanlah kisahku ini ketika seseorang menyukai sesuatu. Maka mereka akan menjaganya dengan baik agar tidak rusak, tidak kotor, tidak layu, juga tidak pula retak oleh waktu. Namun, aku hanya membiarkannya melakukan apapun yang mereka inginkan, mereka bebas menari-nari di atas rumput, juga bebas melukis kisah mereka.
Sebab kebebasan adalah ujian yang paling sunyi.
Selama mereka tidak melewati batas yang telah kutetapkan. Maka aku akan membiarkan mereka melakukan apapun yang mereka inginkan.
"Ketika satu menciptakan dua, dua menciptakan empat, empat menciptakan delapan dan seterusnya hingga mencapai angka tak terhitung. Namun pada akhirnya, bagaikan sungai-sungai yang tak lupa pada tempat pulangnya, semua hanya akan bermuara kepada satu."
Di bagian kedua, "Pohon Kehidupan dan Pohon Kematian", sebuah pilar yang diciptakan olehnya untuk mereka. Yang berjumlah sebelas terdiri dari yang pertama hingga yang terakhir dengan jembatan zig zag.
1. Keter (Mahkota) dengan sisi lain sebagai Thaumiel (Kekuatan yang bersaing)
2.Chokmah (Kebijaksanaan) dengan sisi lain sebagai Ghogiel (Yang menghalangi)
3. Binah (Pemahaman) dengan sisi lain sebagai Satoriel (Yang menyembunyikan)
4. Hesed (Kebaikan) dengan sisi lain sebagai Gha'agseblah (Yang menghancurkan)
5. Gevurah (Kekuatan) dengan sisi lain sebagai Golachab (Yang Menyala-nyala)
6. Tiferet (Kecantikan) dengan sisi lain sebagai Thagirion (Yang Berselisih)
7. Netsah (Kemenangan) dengan sisi lain sebagai Gharab (Gagak kematian)
8. Hod (Kemegahan) dengan sisi lain sebagai Samael (Racun Tuhan)
9. Yesod (Dasar) dengan sisi lain sebagai Gamaliel (Yang cabul)
10. Malchut (Kerajaan) dengan sisi lain sebagai Lilith (Ratu malam)
11. Da'at (Pengetahuan) dengan sisi lain sebagai Belial (Yang tidak berguna)
-Keter: atau nama lainnya Yaon-zi adalah Sefirot pertama dari sepuluh sefirot. Ia berdiri di atas puncak semesta bagaikan mahkota. Dalam dirinya bersemayam sebuah dorongan yang tak pernah padam, "Aku adalah puncak, dan tak ada satupun yang boleh melampauiku." Keinginannya untuk terus mendominasi yang membuatnya mirip seperti Adonai, dan satu hal ia yakini kebenarannya mutlak adalah. "Semesta berada di tanganku, dan aku adalah yang tertinggi. Aku berdiri di puncak bersama Adonai."
Maka tidak! Puncak yang ia pijak bukanlah sepenuhnya miliknya. Sebab kenyataannya, "puncak" yang ia klaim hanyalah panggung yang telah ditetapkan oleh takdir. Sebuah takdir yang dianugerahkan oleh Adonai itu sendiri. Ia memang ditempatkan di atas, tetapi bukan untuk ditantang oleh yang lebih tinggi. Melainkan untuk selamanya bertemu dengan mereka yang berada di bawahnya.
-Thaumiel: Di balik ambisinya yang tak pernah padam untuk terus mengumpulkan kekuatan, Yaon-zi menyimpan alasan lain yang lebih sunyi. Ia pernah mendengar sebuah bisikan yang beredar seperti angin di antara langit-langit tentang seorang malaikat yang belum pernah, bahkan sekali pun, dikalahkan oleh makhluk mana pun sepanjang sejarah.
Aku mengerti bahwa keyakinan Yaon-zi tentang "Aku adalah puncak." mulai retak secara perlahan, bagaikan mahkota yang dibelah oleh waktu.
Sebuah pemikiran baru tumbuh di benaknya. Bahwa semesta ini bukanlah singgasana yang tenang, melainkan sebuah hutan yang gelap dan tak bertepi.
"Di dalam hutan itu, hanya makhluk paling buas yang mampu bertahan di puncak rantai kehidupan. Dan malaikat yang tak terkalahkan itu, baginya bukan lagi sekadar legenda... Ia adalah mangsa. Seekor binatang buas yang harus diburu."
Sejak saat itu, hasrat Yaon-zi terhadap kekuatan berubah menjadi sesuatu yang lebih liar. Ia tidak lagi sekadar ingin berdiri di puncak. Tetapi ia ingin membantai siapapun yang berada diatasnya, dan siapapun yang berdiri dengan ketinggian yang sama dengannya.
-Chokmah: Dengan nama lain Yehezkiel Sefirah kedua dengan personifikasi sebagai seorang "Ayah", Sesosok kebijaksanaan yang bahkan sering kali dikunjungi oleh dewa Al-batlan maupun para penjaga taman Eden lainnya. Suatu waktu diriku memberinya sebuah harapan. Bagaikan menaruh bintang di telapak tangan bahwa suatu saat, kebijaksanaannya mampu menyeimbangi bahkan setara dengan Adonai, menyamai langit yang tak terukur oleh apapun.
Namun, kebijaksanaan yang terlalu lama dan terlalu dalam itu menimbulkan benih-benih kesombongan yang semakin lama semakin terjerat, bagaikan serigala yang memasukkan kepalanya sendiri ke dalam lingkaran tali kekang. Dalam bayang-bayang itu, Yaon-zi menumbuhkan hasrat terlarang untuk melihat isi dari "Buku Kelima", sebuah kosmologi yang bahkan melarang cahaya selain Adonai untuk memasukinya.
"Aku adalah kebijaksanaan itu sendiri, akal budi adalah sungai yang mengalir dariku, pengetahuan adalah bintang yang lahir dari pikiranku, dan pengalaman adalah langit yang kupijak. Tidak ada satu pun dinding yang mampu menghalangiku untuk mengetahui."
Namun langit tidak selalu ramah kepada mereka yang ingin menembusnya.
"Maka berdirilah, dan tataplah langit!"
Maka seketika itu pula bintang-bintang berkumpul bukan untuk menghukum, melainkan untuk saling menutupi satu sama lain. Menyembunyikan rahasia dari "buku kelima" yang bahkan waktu pun takut untuk menyebutnya.
Ghogiel: Seribu jalan yang berujung pada luka. Mengorbankan harapan, kesetiaan, bahkan dirinya sendiri. Semata hanya demi meneguk setetes "pengetahuan abadi."
Dalam perjalanannya, ia tak lagi berjalan sebagai makhluk yang berfikir. Melainkan sebagai seekor binatang buas di tengah hutan yang gelap. Yang mencabik apapun yang ada pada jalurnya. Bukan karena benci. Tetapi karena lapar, kelaparan akan pengetahuan.
Betap Ironisnya ketika kebijaksanan itu sendiri justru berlutut dihadapan keserakahan yang membisik secara lembut melalui celah kecil hatinya.
Siapakah yang akan datang kepadanya, ketika dirinya sendiri menjelma sebagai "penghalang" itu sendiri.
-Binah: Dengan nama lain Thera atau Theresa merupakan sefirot ketiga dengan personifikasi sebagai seorang "Ibu". Jika Chokmah adalah samudra kebijaksanaan yang terlalu luas untuk diminum, maka Binah adalah cawan yang membuat air itu dapat diteguk tanpa menenggelamkan jiwa. Ia membimbing para makhluk Al-Batlan dan para penjaga Taman Eden, seperti akar pohon tua yang menahan tanah agar tidak runtuh. Sebagai perpanjangan kehendak Yehezkiel, ia menerjemahkan kebijaksanaan abstrak milik Chokmah menjadi bahasa yang dapat dipahami oleh makhluk yang berjalan di bawah langit.
Awalnya aku berpikir ia akan menempuh jalan yang sama seperti Yehezkiel dengan mencoba merobek tirai rahasia dan mencuri pengetahuan dari "Buku Kelima." Namun kenyataannya. Secara mengejutkan, pemahamannya tentang kosmologi ayat-ayat semesta telah melampaui “Buku Keenam,” dan bahkan hampir menyentuh serpihan kecil dari “Buku Kelima.” Seolah pikirannya mampu mendengar gema rahasia itu tanpa benar-benar membuka halamannya.
Tetapi tidak seperti Yehezkiel, Thera mengetahui satu hal yang sering dilupakan oleh para pencari kebenaran. Bahwa tidak semua pintu diciptakan untuk dibuka.
Ia memilih menjauh dari pengetahuan yang tidak perlu ia ketahui. Karena ketika ia menyentuh sedikit saja dari rahasia yang terlarang itu, pikirannya terasa seperti bintang yang dipaksa lahir di dalam tengkoraknya, cahaya yang terlalu terang hingga kepalanya seakan hendak pecah oleh kosmologi yang tidak seharusnya dipikul oleh makhluk mana pun.
Satoriel: Pengetahuan yang begitu luas menuntut harga yang tidak sedikit. Aku menyadari bahwa Thera bukan menjadi lebih kuat, tetapi lebih jenuh terhadap keberadaan itu sendiri.
Segala hal yang telah ia pahami, segala misteri yang telah ia dengar berulang kali, membuat dunia baginya tak lagi seperti permainan yang penuh dengan teka-teki, melainkan sebagai buku tua yang telah dibaca berkali-kali hingga setiap halamannya kehilangan kejutan.
Dari kejenuhan itu, lahirlah sesuatu yang baru, yang bahkan aku sendiri telah lupa padanya. Yaitu "kelicikan". Ia bergerak seperti ular yang bersembunyi di balik rumput menunggu mangsanya datang dengan sendirinya. Ia membalas pertanyaan dengan bayangan, memutar fakta bagaikan benang, dan menghadiahi kepalsuan yang dibungkus oleh kebijaksanaan.
Namun, mereka yang datang kepadanya berpikir. "Ia adalah sang maha tahu! Ibu dari pengetahuan, tak satu pun kata yang keluar dari bibirnya adalah kebohongan."
Di tengah semua kekacauan itu, ia tertawa, bukan tawa yang lahir dari ejekan, tetapi tawa yang muncul ketika permainan yang terlalu jelas untuk disembunyikan. Sementara aku hanya diam membiarkan sandiwara itu, karena pada akhirnya. Semua tetap berjalan sesuai dengan kehendak tertinggi Adonai.
Hesed: Eudai, salah satu sefirot yang berwujud seperti anak kecil.
Anak kecil adalah lambang dari mata air yang belum tercemari oleh apapun, kepolosan yang belum disentuh oleh debu dunia, kejujuran yang mengalir tanpa tipu daya, serta kebaikan yang lahir tanpa perhitungan.
Aku tidak sekalipun meremehkannya, meski ia tampak seperti anak kecil yang bahkan dapat tersapu oleh angin. Kenyataannya, bahkan dewa jahat yang dipenuhi oleh kebencian pun tidak dapat melukainya, bukan karena kekuatannya. Tetapi karena keberadaannya sendiri yang membawa kebaikan. Menghilangkan niat jahat sebelumnya yang berniat untuk melukainya.
Hesed tidak bertarung, ia hanya hadir. Dan kehadirannya sudah cukup untuk membuat sebuah tempat yang tadinya penuh dengan pertumpahan darah, kekacauan juga peperangan. Berubah menjadi tempat yang paling aman di seluruh semesta.
Sebuah masa depan yang indah terukir jelas dimataku ketika dengan kehadirannya saja. Bahkan kejahatan itu sendiri berteriak untuk berhenti kepada sesamanya.
Gha'absheblah: Dari kasih sayang, kelembutan juga kebaikan berkata kepadanya. "segala sesuatu yang tampak suci ketika mengalir tanpa batas, pada akhirnya dapat berubah menjadi badai yang menghancurkan dirinya sendiri."
Ia menangis kepada dunia. Dengan air mata yang terjatuh ia bertanya kepada seluruh keberadaan. "Mengapa kalian memilih untuk saling membenci, ketika memaafkan dapat menyembuhkan? Mengapa kalian saling bertikai, ketika tangan kalian bisa saling berpegangan."
"Dan mengapa kalian memilih untuk membunuh ketika kalian sebenarnya mampu untuk saling mencintai?"
Namun, ketika Eudai mengajukan pertanyaan itu, dunia hanya mampu terdiam. Tak ada jawaban, tak ada pembelaan dan tak ada satupun kata untuk menjelaskan dosa yang telah lama menjadi kebiasaan.
Dan sejak saat itu, dirinya berubah, ia semakin murung, semakin sunyi. Hingga pada akhirnya ia tak lagi mampu berjalan seperti dahulu, seakan dunia yang ia kasihi terlalu keras untuk dipikul oleh hati yang terlalu lembut.
Gevurah: Dipanggil sebagai Quondam. Adalah sefirot dengan tubuh kekar bagaikan gunung yang diberi tubuh. Tanpa Keter mungkin dirinya adalah sefirot yang paling mendekati arti dari kekuatan itu sendiri. Yang bahkan dewa Al-batlan sekalipun harus melihat dari bawah.
Namun, kekuatannya tidak memiliki tujuan dan hanya menunggu waktu untuk kehancurannya. Dan disinilah peran Eudai hadir untuk memberinya sebuah pencerahan.
Dari kasih sayang yang diajarkan oleh Eudai, ia terinspirasi untuk menggunakan kekuatannya bukan untuk menghancurkan. Melainkan untuk melindungi mereka yang lemah. Berbeda dengan Hesed. Quondam melawan kejahatan dengan kekerasan karena ia sendiri memiliki keyakinan. "Jika kebaikan tidak dapat dipahami oleh kata-kata, mungkin luka akan memberi mereka makna agar mereka mengerti."
Bagi banyak orang terutama diriku sendiri, pemikiran itu terdengar sangat konyol Karena bukankah kejahatan tidak pernah benar-benar lenyap hanya dengan kekerasan?
Namun aku keliru ketika berpikir demikian. Ia selalu berteriak. "Hancurlah bersama dengan kesombonganmu sendiri!"
Banyak dari mereka yang pernah berdiri sebagai musuh di hadapan Quondam. Ketika akhirnya dikalahkan olehnya, mereka tidak bangkit kembali dengan kebencian. Melainkan dengan rasa hormat. Seolah-olah serangan yang ia berikan bukan hanya menghancurkan mereka, tetapi juga meruntuhkan kesombongan yang selama ini menutupi hati mereka.
Golachab: Setiap cahaya diikuti oleh kegelapan. Ada saatnya Quondam tak mampu lagi merasakan kehangatan akan kebaikan yang pernah diajarkan oleh Eudai. Maka keadilan yang dulu ia yakini berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih liar.
Pada saat itu, serangan yang ia lepaskan bukan lagi membawa pelajaran untuk lawannya. Melainkan sebagai gigi yang mengoyak-ngoyak daging mangsanya.
Pada saat itu, aku menyadari sesuatu yang menyakitkan. Bahwa sosok yang dahulu kukenal sebagai orang baik. Orang yang bahkan terlihat sedikit bodoh karena begitu percaya dengan kekerasan dapat memperbaiki hati.
Berubah menjadi makhluk ganas yang haus akan peperangan, menganggap bahwa pembantaian adalah bahasa itu sendiri demi menggapai suatu perdamaian.
Tiferet: Ia dikenal pula dengan nama Purchel, sebuah perwujudan dari keindahan itu sendiri.
Wujudnya seakan menyampaikan sebuah pertanyaan yang tak pernah diucapkan namun selalu terdengar. "Dunia diciptakan begitu indah... Namun, mengapa kalian membuatnya seperti neraka?"
Sebagai pelengkap dari kecantikannya yang hampir menyakitkan untuk dipandang, Purchel memainkan sebuah biola. Gesekan dari senarnya dapat menciptakan kehidupan juga kematian, menciptakan kesehatan juga menurunkan penyakit, Dan menciptakan persahabatan juga permusuhan.
Ia tidak memainkannya dengan busur. Melainkan dengan sebilah pedang.
Senar-senar itu baginya melambangkan sesuatu yang jauh lebih dalam. "antara diriku dan Adonai." Sebuah hubungan yang tak dapat diputuskan oleh kekuatan apapun di semesta, kecuali oleh keyakinan Purchel sendiri terhadap Yang Tertinggi. Karena itu, semakin tajam sebuah pedang maka akan semakin indah pula melodi yang dihasilkan.
Dalam hirarki Taman Eden, Purchel sering dianggap sebagai sefirot yang paling lemah di antara yang lain. Namun aku tidak pernah sepenuhnya percaya pada penilaian itu. Karena aku sering bertanya dalam diam.
"Apakah Purchel memang berada di dasar dari para sefirot? Ataukah itu hanyalah kisah yang sengaja dibuat-buat oleh Adonai."
"Apakah Purchel memang berada di dasar dari para sefirot? Ataukah itu hanyalah kisah yang sengaja dibuat-buat oleh Adonai."
Thagirion: Namun pada akhirnya aku ditampar oleh sebuah kenyataan yang tak lagi dapat kuingkari. Bahwa Purchel memanglah Sefirot yang paling lemah di antara mereka semua. Bukan karena kekuatannya kecil. Bukan pula karena nadanya tidak mampu mengguncang dunia. Melainkan karena ia sendiri memilih untuk melemahkan dirinya.
Dengan sengaja ia menutup kedua matanya, seperti seorang penyair yang menolak melihat medan perang. Ia menolak menyaksikan dunia yang dipenuhi tipu daya, kejahatan, dan kekejaman. Seolah segala keburukan itu hanyalah bayangan yang akan merusak harmoni di dalam hatinya. Hanya ada satu yang ia inginkan. Yaitu "melodi yang indah, yang lahir dari ikatan antara dirinya dan Adonai."
Namun, ada suatu hal yang begitu menakutkan ketika Purchel mulai membuka matanya. Ia akan menangis bukan karena ketakutan bukan pula karena paksaan. Melainkan karena pesona yang terlalu sempurna untuk di tolak.
Hingga di bawah kecantikan itu, seluruh makhluk akan tunduk padanya dan melakukan apapun yang diperintahkan olehnya.



