Bonz
Dari zaman dahulu hingga era sekarang, realitas tidak pernah benar-benar berubah. Manusia terus saling merendahkan demi merasa lebih tinggi. Ia berkali-kali menyaksikan peperangan, perbudakan, pembunuhan, pemerkosaan, dan berbagai bentuk kekejaman lainnya.
Namun, di tengah semua itu, ia selalu mendengar kalimat yang sama.
"Biarkan saja. Waktu akan mengubah semuanya."
Tahun demi tahun berlalu. Kejahatan tidak pernah benar-benar lenyap. Yang berubah hanyalah nama pelaku, tempat kejadian, dan cara mereka melakukannya.
Bonz memandang dunia dengan tatapan kosong.
"Jika memang benar waktu mampu mengubah segalanya..."
"Mengapa sejarah terus mengulang luka yang sama?"
Keheningan menjadi satu-satunya jawaban.
Saat itulah ia menyadari sesuatu.
"Waktu tidak menyebabkan perubahan. Waktu hanyalah ukuran bahwa perubahan telah terjadi."
Yang mengubah dunia bukanlah waktu. Manusialah yang memilih apa yang akan mereka lakukan di dalam waktu.
Masyarakat mengenalnya sebagai pria bertubuh pendek dengan setelan khas yang membuatnya tampak seperti seorang detektif. Suatu hari, ia memperhatikan bunga yang sedang bermekaran, buah yang perlahan membusuk, dan seorang pemuda yang telah beranjak dewasa.
Ia menghampiri pemuda itu.
"Berapa usiamu sekarang?"
Pemuda itu menjawab.
"Sembilan belas tahun."
Bonz mengangguk pelan.
"Apa yang telah kau pelajari sejak kecil hingga sekarang?"
Pemuda itu menjawab dengan antusias.
"Aku mempelajari geometri, satuan waktu, konversi, dan masih banyak pengetahuan tentang alam semesta."
Bonz tersenyum tipis.
"Kalau begitu, bisakah kau memberitahuku apa yang membuat bunga itu tumbuh hingga akhirnya mekar?"
"Tentu," jawab pemuda itu. "Bunga itu disiram air, lalu seiring berjalannya waktu, ia tumbuh dan akhirnya mekar."
Bonz memetik bunga itu dengan hati-hati, lalu menunjukkannya kepada sang pemuda.
"Kalau begitu... apakah bunga yang telah mati akan mekar kembali hanya karena kita menunggu lebih lama?"
Pemuda itu terdiam.
Bonz menatap bunga di tangannya sebelum berkata,
"Lihatlah bunga ini... Yang membuatnya mekar bukanlah waktu."
"Air yang menyuburkannya. Cahaya matahari yang memberinya energi. Unsur hara yang menopang pertumbuhannya. Serta kehidupan yang memang telah dimilikinya. Sedangkan waktu tidak pernah membuat bunga itu tumbuh."
"Waktu hanya memberi ruang bagi seluruh proses itu untuk berlangsung."
Bonz mengangkat pandangannya ke arah langit.
"Begitu pula dengan manusia."
"Seseorang tidak menjadi bijaksana hanya karena usianya bertambah. Ia menjadi bijaksana karena memilih untuk belajar selama waktu terus berlalu."
"Begitu pula kejahatan. Seseorang tidak menjadi jahat karena waktu. Ia menjadi jahat karena pilihan-pilihan yang ia ambil di dalam waktu."
"Waktu tidak pernah menulis sejarah. Manusialah yang menulisnya. Waktu hanya menjadi saksi bagi setiap pilihan yang mereka buat."
The Patient Lie
Pernahkah Anda berpikir bahwa bahkan orang yang paling bijaksana sekalipun pernah memiliki hasrat untuk menyombongkan diri?
Bonz pun demikian.
Dahulu, ia percaya bahwa selama dirinya mampu mengendalikan waktu, tidak ada kebenaran yang dapat bersembunyi darinya. Bahkan takdir pun, menurutnya, hanyalah rangkaian kemungkinan yang dapat dipaksa menuju satu jawaban.
Setiap jawaban yang terdengar ganjil membuatnya memundurkan waktu beberapa menit. Ia mengubah susunan pertanyaan, intonasi suara, bahkan posisi tubuhnya sendiri.
Puluhan kemungkinan berlalu. Menjadi ratusan. Hingga akhirnya, sang pembunuh mengucapkan apa yang Bonz anggap sebagai kebenaran.
Meskipun sudah mengakui kebenaran, Bonz merasa bahwa dirinya masih belum merasa cukup puas. Ia meminta sang pembunuh untuk mengikuti dirinya di jalanan yang sepi.
Sesampainya disana, ia bertanya kepada sang pembunuh.
"Apakah ada satu jawaban dari sekian banyaknya pertanyaan yang pernah ku tanyakan kepadamu?
"Satu jawaban yang dapat kuperoleh dari setiap banyaknya kemungkinan."
"Aku tidak memaksamu untuk berkata jujur, tetapi aku ingin berkata kepadamu bahwa, aku tidak pernah benar-benar memahami mengapa kamu berbohong sejak awal..."
Mendengar pertanyaan yang sangat tidak lazim itu, sang pelaku pembunuhan mulai kebingungan dan mencoba untuk menyerang balik.
Dalam sekejap, Bonz melemparkan sebuah koin. Kecepatannya melampaui batas yang dapat dijelaskan oleh logika manusia. Energi kinetik yang tercipta menghantam tubuh sang pelaku hingga seketika hancur berkeping-keping.
"Pada akhirnya bukan dia yang berbohong, melainkan keyakinanku sendiri yang berbohong."
Bonz menatap mayat sang pelaku dengan wajah yang sedikit menahan rasa jijik.
"Aku mengira waktu dapat memaksakan kebenaran. Padahal yang kulakukan hanyalah memaksa seseorang memilih jawaban yang akhirnya ingin kudengar."
Bonz kemudian mengambil rokok dari saku kemudian menyalakannya.
Dalam keheningan itu, ia bergumam dalam dirinya sendiri sambil melihat koin yang sedang berputar di dekat jasad yang sudah tidak memiliki bentuk. Seseorang yang baru saja ia habisi.
"Aku sudah muak melakukan ini berkali-kali... Pada akhirnya, aku tidak dapat berpura pura bertindak sebagai seorang investigator."
"Aku pernah menganggap waktu sebagai sekutuku."
"Namun kini aku tahu..."
"Waktu tidak pernah berpihak kepada siapa pun. Ia hanya memberi kesempatan kepada seseorang untuk memilih. Begitu juga denganku, waktu hanya memberiku kesempatan untuk melakukan pembunuhan yang sudah berkali-kali kulakukan."
"Dan mulai hari ini..."
"Aku akan merampas kesempatan itu dari mereka yang memilih menjadi kejahatan."
The Specter
Sejak kemunculannya, kejahatan perlahan menjadi semakin jarang terjadi. Mereka takut kepada sosok yang konon selalu mengawasi dari balik kegelapan. Tidak seorang pun mengetahui wajahnya. Tidak ada yang pernah memastikan identitasnya. Yang tersisa hanyalah cerita yang terus diwariskan dari mulut ke mulut.
Sebagian menyebutnya seorang pembunuh yang mengenakan pakaian detektif. Sebagian lain menganggapnya pahlawan yang tidak lagi peduli pada benar atau salah, seorang vigilante yang menjatuhkan hukuman tanpa pengadilan.
Ada pula yang memanggilnya Roh Pembalasan, Bayangan, Karma yang Berjalan, bahkan Maut yang Bersabar. Namun, dari sekian banyak nama yang dapat disebut oleh ketakutan manusia, hanya satu nama yang benar-benar dikenal oleh masyarakat.
Yaitu The Specter.
Ia bukan dalam pengertian hantu secara literal. Melainkan, tak seorang pun pernah melihatnya datang. Tak seorang pun pernah melihatnya pergi. Yang selalu ditemukan hanyalah jasad para pelaku kejahatan yang telah hancur tanpa bentuk. Seolah-olah seorang hantu baru saja menjatuhkan hukuman, lalu menghilang sebelum sempat disaksikan siapa pun.
Di samping setiap jasad selalu terdapat sebuah koin. Pada permukaannya terukir dosa yang telah dilakukan sang pelaku semasa hidupnya.
Koin-koin itu tidak pernah sama. Perunggu yang telah dipenuhi karat menandakan pelaku kejahatan biasa. Sementara emas menandakan bahwa yang telah dihukum adalah sosok yang bahkan pernah dianggap tak tersentuh oleh hukum.
Apabila satu jejak berpotensi tertinggal, Bonz memundurkan waktu, menghapus seluruh kesalahan yang ia buat, lalu menghentikan waktu hanya untuk memastikan bahwa ketika dunia kembali bergerak, dirinya telah lenyap tanpa bekas.
Ia selalu mengenakan topi yang membuatnya sangat sulit untuk dilacak. Sejak saat itu, aparat keamanan mulai mencurigai siapa pun yang mengenakan topi bertepi lebar seperti miliknya. Di berbagai kota, topi dengan desain tersebut perlahan menghilang dari peredaran. Topi itu menjadi simbol yang ditakuti. Tidak ada orang biasa yang berani mengenakannya lagi.
Untuk pertama kalinya Bonz melepaskan topi yang ia kenakan. Dan di tengah lampu yang sedang berkedip, ia tertawa.
"Lucu... Kalian mengerahkan seluruh negara untuk memburu seseorang yang membunuh penjahat."
"Namun orang-orang yang membunuh orang tak bersalah justru masih bebas berjalan di bawah matahari."
"Cobalah untuk menangkapku, teruslah mengejarku."
"Bukankah lebih mudah memburu bayangan daripada menangkap kejahatan yang berdiri tepat di depan mata kalian?"
The Weight of Seconds
"Tidak ada satu detik pun yang dapat dianggap ringan."
"Orang-orang mengira bahwa satu detik tidak menentukan apa pun. Mereka percaya manusia berubah karena tahun-tahun yang telah berlalu."
Bonz tersenyum tipis.
"Mereka salah..."
"Yang benar-benar mengubah hidup seseorang hanyalah satu detik... Tepat sebelum ia memutuskan sesuatu."
Bonz mengangkat sebuah koin yang selalu menemaninya.
"Sama seperti koin ini."
Ia memperlihatkan kedua sisinya. Sisi kepala.
"Orang-orang menyebutnya keberuntungan."
Koin itu kemudian diputar hingga memperlihatkan sisi lainnya. Sisi ekor.
"Dan sisi ini disebut kesialan."
Bonz menjentikkan koin itu ke udara. Koin tersebut terus berputar, sementara waktu di sekitarnya seolah melambat. Tatapannya tidak pernah lepas dari koin yang terus berputar itu.
"Padahal kedua sisi itu tidak pernah menentukan apa pun. Yang menentukan hanyalah keputusan dari orang yang melemparkannya."
"Manusia selalu menyalahkan hasil lemparan. Padahal yang membawa mereka sampai ke sana adalah tangan mereka sendiri."
The Weight of Seconds
Ketika kemampuan ini diaktifkan, Bonz mampu mempercepat dirinya hingga dunia di sekelilingnya tampak hampir berhenti. Di dalam keadaan itu, ia mampu melihat sesuatu yang tidak pernah disadari oleh kebanyakan orang.
Detik sebelum seseorang memutuskan untuk menarik pelatuk. Detik sebelum seseorang memutuskan untuk menyelamatkan orang lain. Detik sebelum seseorang mengeluarkan senjata dari sakunya. Bahkan detik sebelum seseorang sekadar mengedipkan mata.
Semuanya terjadi dalam rentang waktu yang oleh kebanyakan orang dianggap tidak berarti.
"Satu detik..."
Namun, justru satu detik itulah yang memiliki bobot paling berat. Sebab setelah sebuah keputusan dibuat, sejarah tidak lagi menunggu untuk ditulis.
Bonz membenci orang-orang yang menyalahkan takdir atas pilihan mereka sendiri.
Karena itulah ia menggunakan koin sebagai alat untuk menjatuhkan hukuman. Setelah membunuh, ia selalu mengukir dosa yang dilakukan korbannya pada sisi ekor koin tersebut. Koin itu adalah koin perunggu, perak, atau emas.
Bukan sebagai bentuk penghargaan. Melainkan sebagai ejekan bagi mereka yang selalu menyalahkan takdir atas kehidupan yang mereka pilih sendiri.
Sisi kepala melambangkan kemungkinan untuk memilih yang benar. Sementara sisi ekor melambangkan kemungkinan untuk memilih yang salah.
Namun tragedi tidak pernah lahir dari kedua sisi itu. Karena keduanya hanyalah kemungkinan.
Kebaikan maupun kejahatan tidak pernah berasal dari kepala atau ekor.
Keduanya lahir pada detik ketika seseorang memutuskan sisi mana yang akan ia jalani.
Point of No Return
Pernahkah dirimu bertanya... mengapa manusia menyebut masa depan memiliki begitu banyak kemungkinan, tetapi ketika mereka berhasil mengintipnya, yang mereka lihat hanya satu? Apa gunanya memiliki ribuan kemungkinan, jika pada akhirnya semua orang hanya mengejar satu kemungkinan yang dianggap paling mungkin terjadi?
Yang mereka lihat tetaplah masa depan. Namun bukan masa depan yang mutlak. Yang mereka lihat adalah satu kemungkinan tunggal dari berbagai kemungkinan yang terbentang di hadapan seseorang beserta jalur yang pada saat itu memiliki peluang terbesar untuk menjadi kenyataan.
Masa depan...
Ia adalah sebuah hutan.
Namun manusia tidak pernah benar-benar melihat hutannya. Mereka hanya terpaku pada satu pohon, lalu mengira pohon itulah seluruh hutan.
Padahal di baliknya masih ada ribuan jalan. Ribuan kemungkinan yang menunggu seseorang memilih untuk berjalan ke arahnya.
Masa lalu dapat dikenang, masa kini dapat disaksikan, dan masa depan dapat diprediksi, diramalkan, ataupun direncanakan.
Namun... Pernahkah kalian bertanya mengapa manusia membagi waktu menjadi masa lalu, masa kini, dan masa depan?
Apakah ketiganya benar-benar ada?
Orang-orang mengira masa lalu adalah sesuatu yang telah berlalu. Mereka benar. Mereka mengira masa kini adalah sesuatu yang sedang terjadi. Mereka juga benar. Namun mereka mengira masa depan adalah sesuatu yang sedang menunggu. Di situlah mereka salah. Masa depan tidak pernah menunggu siapa pun. Karena masa depan bahkan belum pernah ada.
Yang benar-benar ada hanyalah kemungkinan.
Dan kemungkinan itu berakhir tepat pada saat seseorang membuat keputusan.
Bonz menyebutnya sebagai
"Point of No Return."
Bagi Bonz, masa depan bukanlah sesuatu yang pasti, melainkan sekumpulan kemungkinan dengan satu jalur yang pada saat itu, memiliki peluang terbesar.
Bonz mampu menyaksikan berbagai jalur kemungkinan yang terbentang di hadapan seseorang. Menyerang, melarikan diri, menyerah, berbohong, atau berbagai pilihan lain yang masih mungkin terjadi.
Namun semua jalur itu masih samar... Selama keputusan belum dibuat, seluruh jalur itu tetap ada.
Pada saat seseorang benar-benar mengambil keputusan untuk menyerang, seluruh kemungkinan lainnya runtuh, menyisakan satu jalur yang kemudian menjadi sejarah.
Dan sejarah mulai menulis nama orang itu sebagai penyerang.
Memento Mori
Segala sesuatu memiliki sejarah temporal. Bahkan seorang detektif yang kemudian berubah menjadi penghukum pun memiliki sejarahnya sendiri.
Dahulu kala, Bonz pernah mencintai seseorang lebih dari apa pun. Wanita itu memiliki kebiasaan yang menurut banyak orang terasa aneh. Ia begitu menyukai jam, baik itu jam tangan, jam dinding, hingga jam pasir.
Suatu hari Bonz bertanya.
"Yang terkasih... mengapa kau begitu menyukai jam?"
Wanita itu tersenyum lembut sebelum menjawab.
"Karena setiap detiknya mengingatkanku bahwa hidup tidak pernah benar-benar berhenti."
Ia mengangkat sebuah jam tangan ke hadapan Bonz.
"Lihatlah jarum detik ini."
"Ia terus bergerak dengan gerakan halus dan memukau, tanpa pernah sedikit pun bertanya apakah kita sudah siap menghadapinya."
"Melihat setiap detik berlalu dapat membuatku merasa tenang."
"Aneh, bukan? Justru karena waktu terus berjalan, setiap detik menjadi berharga."
"Dan justru karena setiap detik berharga... kita tidak boleh hidup seolah-olah masih memiliki waktu yang tak terbatas."
Bonz hanya mengangguk pelan.
Pada saat itu. Banyak orang yang mengenal Bonz sebagai seorang pria yang sangat ramah, cerdas dan pantang menyerah.
Sebelum akhirnya suatu insiden menimpa kekasihnya. Saat itu ia melihat mayat yang tergeletak di tepi jalan. Tidak ada orang yang mengerumuninya, Beberapa orang menoleh, beberapa lainnya bahkan tidak memperlambat langkahnya. Tidak ada yang benar-benar mendekat. Dunia tetap berjalan, seolah kematian itu bukan urusan mereka.
Ia hanya membutuhkan satu tatapan... Satu tatapan untuk menyadari siapa perempuan yang terbaring di hadapannya. Itu adalah wanita yang paling ia cintai. Ia memegang pipi sang kekasih. Dingin dan nyata... Bonz memutar waktu kembali lima menit. Tidak terjadi apa-apa. Ia tetap melihat tubuh kekasihnya yang masih tergeletak disana dengan posisi, udara dan tempat yang sama.
Kemudian ia memutar kembali waktu selama lima jam. Untuk pertama kalinya... Ia melihat pembunuhnya.
Pembunuh itu menggenggam belati dengan tangan gemetar.
"Jangan bergerak! Serahkan tasmu!"
Namun kata-katanya berhenti di tenggorokan.
Wanita itu telah terbaring di tanah, tidak bergerak, darah mulai mengalir di bawah tubuh wanita itu. Belati di tangannya bahkan belum menyentuh siapa pun.
Ia mundur beberapa langkah sambil bertanya.
"Apa...? Apa yang terjadi...?"
"Kenapa dia tiba-tiba mati di depanku?"
Kemudian ia melihat Bonz yang sedang berdiri mematung seolah tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi. Pembunuh itu bertanya kepada Bonz.
"Hei... Apakah kau yang melakukannya?"
Bonz tidak menjawab, tatapannya tetap tertuju kepada wanita yang terbaring di tanah. Tangannya perlahan gemetar. Ia menyadari bahwa waktu telah kembali. Namun kematian tidak. Ia kembali memutar waktu.
Lima jam.
Sepuluh jam.
Satu hari.
Berkali-kali.
Dan hasilnya selalu sama... Di setiap titik waktu... Wanita itu telah mati. Di hadapan seorang pembunuh yang bahkan belum sempat menjadi pembunuh. Sambil meneteskan air mata, Bonz menatap wanita yang selama ini selalu berada di sisinya.
"Kini aku mengerti... Jadi... seperti itukah maksudmu?"
"Bahwa kita tidak boleh hidup seolah-olah memiliki waktu yang tak terbatas..."
Air matanya jatuh membasahi pipi wanita itu.
"Karena ketika sebab dan akibat telah mencapai akhirnya..."
"Waktu pun tidak lagi mampu mengembalikannya."
Bonz berlutut perlahan, lalu memeluk tubuh kekasihnya yang telah kehilangan nyawa. Ia tidak lagi berusaha memundurkan waktu. Ia hanya memejamkan mata.
"Aku salah... Selama ini aku mengira mengendalikan waktu berarti mampu mengendalikan segalanya."
"Padahal waktu tidak pernah menjadi penguasa atas kehidupan..."
"Ia hanya menjadi saksi bagi setiap pilihan yang telah mencapai akhirnya."
"Mulai hari ini... Aku tidak akan lagi menganggap waktu sebagai sesuatu yang maha kuasa."
Bonz mendatangi sosok yang ia sebut sebagai pembunuh yang beberapa jam kemudian akan merampok seseorang. Di tangannya, sebuah koin berputar perlahan. Ia menjentikkannya hingga jatuh tepat di hadapan pria itu.
"Koin ini... Bukankah benda sekecil ini yang selama ini kau kejar?"
"Kalau begitu..."
"Ambillah."
Pembunuh itu mengernyit.
"Siapa kau? Bagaimana kau bisa tahu tempat ini?"
Tatapannya kemudian berhenti pada pakaian Bonz yang berlumuran darah.
"Dan... darah itu milik siapa?"
Bonz tetap membelakangi pembunuh itu.
Setelah beberapa saat, ia berkata dengan suara yang tenang.
"Jangan pernah menatap wajahku lagi... Jika setelah hari ini kau masih memilih jalan yang sama."
Pembunuh itu menatap ukiran pada koin tersebut. Di atasnya tertulis.
"Perampokan?"
"Pembunuhan?"
Tangannya mulai bergetar.
"Merampok... lalu membunuh seorang wanita...? Apakah... aku benar-benar akan melakukan itu...?"
Ia perlahan mengangkat kepalanya. Saat matanya bertemu dengan Bonz... Jantungnya seakan berhenti sesaat.
"..."
"Kenapa..."
"Kenapa rasanya aku pernah berdiri dengan posisi yang sama seperti saat ini?"
"Kenapa rasanya aku pernah melihat punggungmu...? Padahal... kita bahkan belum pernah bertemu."
Pembunuh itu kemudian mulai kesal dan hendak untuk menikam Bonz dari belakang.
"Ah sial ini hanya perasaanku saja...! Dasar bajingan, apa yang telah kau lakukan pada diriku?!"
Namun sebelum belati itu sempat untuk menyentuh tubuhnya Bonz terlebih dahulu mengaktifkan kemampuan miliknya
"Memento Mori."
Belati di tangannya mulai tampak baru, lalu menjadi bijih logam yang belum ditempa, kemudian debu mineral.
Pakaiannya perlahan berubah menjadi kain, menjadi benang, menjadi kapas.
Tubuhnya menjadi remaja, anak-anak, balita, bayi.
Lalu...
Berubah menjadi ketiadaan. Karena seluruh perjalanan temporal dari sang pembunuh telah selesai diurai hingga titik awal keberadaannya.
Bonz, tidak hanya mampu memundurkan waktu dari suatu target tetapi ia juga bahkan mampu memperlambat dan mempercepat keadaan target.
Oleh karena itulah, koin ataupun benda-benda kecil yang dimilikinya dapat dijadikan senjata yang bahkan jauh lebih mematikan daripada peluru.
Memento Mori tidak memundurkan waktu suatu target. Ia mengurai sejarah temporal yang membentuk target tersebut. Selama suatu eksistensi masih memiliki sejarah temporal, Bonz mampu menelusuri, mempercepat, memperlambat, maupun mengurai perjalanan sejarah itu hingga mencapai titik asalnya.
Api dapat diubah menjadi sesuatu yang belum dipercik, ruang dapat diubah menjadi dalam keadaan posisi datar sebelum dilipat, jiwa di kembalikan dalam keadaan dimana ia belum sepenuhnya menjadi identitas.
Bahkan ketika berhadapan dengan pengguna Time lainnya, Memento Mori tidak mengikuti perubahan pada setiap manipulasi waktu yang mereka lakukan. Ia hanya menyaksikan sebab dan akibat yang telah selesai. Berapa kali pun aliran waktu diubah, yang terlihat oleh Bonz tetaplah akhir dari rangkaian sebab dan akibat tersebut.
Lawan itu dapat mengembalikan waktu, tetapi Bonz tetap melihat dirinya sebagai yang pemenang.
Lawan dapat mengubah jejak temporal dan menghentikannya, tetapi Bonz tetap melihat hasil akhirnya.
Karena selama waktu masih ada, setiap eksistensi akan selalu memiliki awal. Dan selama sebuah awal masih ada, Memento Mori akan selalu menemukan jalan untuk kembali kepadanya.
Namun meski pun begitu, Memento Mori hanya dapat mengurai sejarah yang memiliki urutan sebab-akibat yang konsisten. Semakin kacau, paradoksal, atau tidak stabil sejarah temporal suatu target, semakin sulit kemampuan ini bekerja secara sempurna.
