Newest Post

Bonz Desc

| Selasa, 28 Juli 2026
Baca selengkapnya »

 Bonz

Dari zaman dahulu hingga era sekarang, realitas tidak pernah benar-benar berubah. Manusia terus saling merendahkan demi merasa lebih tinggi. Ia berkali-kali menyaksikan peperangan, perbudakan, pembunuhan, pemerkosaan, dan berbagai bentuk kekejaman lainnya.

Namun, di tengah semua itu, ia selalu mendengar kalimat yang sama.

"Biarkan saja. Waktu akan mengubah semuanya."

Tahun demi tahun berlalu. Kejahatan tidak pernah benar-benar lenyap. Yang berubah hanyalah nama pelaku, tempat kejadian, dan cara mereka melakukannya.

Bonz memandang dunia dengan tatapan kosong.

"Jika memang benar waktu mampu mengubah segalanya..."

"Mengapa sejarah terus mengulang luka yang sama?"

Keheningan menjadi satu-satunya jawaban.

Saat itulah ia menyadari sesuatu.

"Waktu tidak menyebabkan perubahan. Waktu hanyalah ukuran bahwa perubahan telah terjadi."

Yang mengubah dunia bukanlah waktu. Manusialah yang memilih apa yang akan mereka lakukan di dalam waktu.

Masyarakat mengenalnya sebagai pria bertubuh pendek dengan setelan khas yang membuatnya tampak seperti seorang detektif. Suatu hari, ia memperhatikan bunga yang sedang bermekaran, buah yang perlahan membusuk, dan seorang pemuda yang telah beranjak dewasa.

Ia menghampiri pemuda itu.

"Berapa usiamu sekarang?"

Pemuda itu menjawab.

"Sembilan belas tahun."

Bonz mengangguk pelan.

"Apa yang telah kau pelajari sejak kecil hingga sekarang?"

Pemuda itu menjawab dengan antusias.

"Aku mempelajari geometri, satuan waktu, konversi, dan masih banyak pengetahuan tentang alam semesta."

Bonz tersenyum tipis.

"Kalau begitu, bisakah kau memberitahuku apa yang membuat bunga itu tumbuh hingga akhirnya mekar?"

"Tentu," jawab pemuda itu. "Bunga itu disiram air, lalu seiring berjalannya waktu, ia tumbuh dan akhirnya mekar."

Bonz memetik bunga itu dengan hati-hati, lalu menunjukkannya kepada sang pemuda.

"Kalau begitu... apakah bunga yang telah mati akan mekar kembali hanya karena kita menunggu lebih lama?"

Pemuda itu terdiam.

Bonz menatap bunga di tangannya sebelum berkata,

"Lihatlah bunga ini... Yang membuatnya mekar bukanlah waktu."

"Air yang menyuburkannya. Cahaya matahari yang memberinya energi. Unsur hara yang menopang pertumbuhannya. Serta kehidupan yang memang telah dimilikinya. Sedangkan waktu tidak pernah membuat bunga itu tumbuh."

"Waktu hanya memberi ruang bagi seluruh proses itu untuk berlangsung."

Bonz mengangkat pandangannya ke arah langit.

"Begitu pula dengan manusia."

"Seseorang tidak menjadi bijaksana hanya karena usianya bertambah. Ia menjadi bijaksana karena memilih untuk belajar selama waktu terus berlalu."

"Begitu pula kejahatan. Seseorang tidak menjadi jahat karena waktu. Ia menjadi jahat karena pilihan-pilihan yang ia ambil di dalam waktu."

"Waktu tidak pernah menulis sejarah. Manusialah yang menulisnya. Waktu hanya menjadi saksi bagi setiap pilihan yang mereka buat."


The Patient Lie

Pernahkah Anda berpikir bahwa bahkan orang yang paling bijaksana sekalipun pernah memiliki hasrat untuk menyombongkan diri?

Bonz pun demikian.

Dahulu, ia percaya bahwa selama dirinya mampu mengendalikan waktu, tidak ada kebenaran yang dapat bersembunyi darinya. Bahkan takdir pun, menurutnya, hanyalah rangkaian kemungkinan yang dapat dipaksa menuju satu jawaban.

Setiap jawaban yang terdengar ganjil membuatnya memundurkan waktu beberapa menit. Ia mengubah susunan pertanyaan, intonasi suara, bahkan posisi tubuhnya sendiri.

Puluhan kemungkinan berlalu. Menjadi ratusan. Hingga akhirnya, sang pembunuh mengucapkan apa yang Bonz anggap sebagai kebenaran.

Meskipun sudah mengakui kebenaran, Bonz merasa bahwa dirinya masih belum merasa cukup puas. Ia meminta sang pembunuh untuk mengikuti dirinya di jalanan yang sepi.

Sesampainya disana, ia bertanya kepada sang pembunuh. 

"Apakah ada satu jawaban dari sekian banyaknya pertanyaan yang pernah ku tanyakan kepadamu? 

"Satu jawaban yang dapat kuperoleh dari setiap banyaknya kemungkinan."

"Aku tidak memaksamu untuk berkata jujur, tetapi aku ingin berkata kepadamu bahwa, aku tidak pernah benar-benar memahami mengapa kamu berbohong sejak awal..."

Mendengar pertanyaan yang sangat tidak lazim itu, sang pelaku pembunuhan mulai kebingungan dan mencoba untuk menyerang balik.

Dalam sekejap, Bonz melemparkan sebuah koin. Kecepatannya melampaui batas yang dapat dijelaskan oleh logika manusia. Energi kinetik yang tercipta menghantam tubuh sang pelaku hingga seketika hancur berkeping-keping.

"Pada akhirnya bukan dia yang berbohong, melainkan keyakinanku sendiri yang berbohong."

Bonz menatap mayat sang pelaku dengan wajah yang sedikit menahan rasa jijik. 

"Aku mengira waktu dapat memaksakan kebenaran. Padahal yang kulakukan hanyalah memaksa seseorang memilih jawaban yang akhirnya ingin kudengar."

Bonz kemudian mengambil rokok dari saku kemudian menyalakannya.

Dalam keheningan itu, ia bergumam dalam dirinya sendiri sambil melihat koin yang sedang berputar di dekat jasad yang sudah tidak memiliki bentuk. Seseorang yang baru saja ia habisi.

"Aku sudah muak melakukan ini berkali-kali... Pada akhirnya, aku tidak dapat berpura pura bertindak sebagai seorang investigator."

"Aku pernah menganggap waktu sebagai sekutuku."

"Namun kini aku tahu..."

"Waktu tidak pernah berpihak kepada siapa pun. Ia hanya memberi kesempatan kepada seseorang untuk memilih. Begitu juga denganku, waktu hanya memberiku kesempatan untuk melakukan pembunuhan yang sudah berkali-kali kulakukan."

"Dan mulai hari ini..."

"Aku akan merampas kesempatan itu dari mereka yang memilih menjadi kejahatan."


The Specter

Sejak kemunculannya, kejahatan perlahan menjadi semakin jarang terjadi. Mereka takut kepada sosok yang konon selalu mengawasi dari balik kegelapan. Tidak seorang pun mengetahui wajahnya. Tidak ada yang pernah memastikan identitasnya. Yang tersisa hanyalah cerita yang terus diwariskan dari mulut ke mulut.

Sebagian menyebutnya seorang pembunuh yang mengenakan pakaian detektif. Sebagian lain menganggapnya pahlawan yang tidak lagi peduli pada benar atau salah, seorang vigilante yang menjatuhkan hukuman tanpa pengadilan.

Ada pula yang memanggilnya Roh Pembalasan, Bayangan, Karma yang Berjalan, bahkan Maut yang Bersabar. Namun, dari sekian banyak nama yang dapat disebut oleh ketakutan manusia, hanya satu nama yang benar-benar dikenal oleh masyarakat.

Yaitu The Specter.

Ia bukan dalam pengertian hantu secara literal. Melainkan, tak seorang pun pernah melihatnya datang. Tak seorang pun pernah melihatnya pergi. Yang selalu ditemukan hanyalah jasad para pelaku kejahatan yang telah hancur tanpa bentuk. Seolah-olah seorang hantu baru saja menjatuhkan hukuman, lalu menghilang sebelum sempat disaksikan siapa pun.

Di samping setiap jasad selalu terdapat sebuah koin. Pada permukaannya terukir dosa yang telah dilakukan sang pelaku semasa hidupnya.

Koin-koin itu tidak pernah sama. Perunggu yang telah dipenuhi karat menandakan pelaku kejahatan biasa. Sementara emas menandakan bahwa yang telah dihukum adalah sosok yang bahkan pernah dianggap tak tersentuh oleh hukum.

Apabila satu jejak berpotensi tertinggal, Bonz memundurkan waktu, menghapus seluruh kesalahan yang ia buat, lalu menghentikan waktu hanya untuk memastikan bahwa ketika dunia kembali bergerak, dirinya telah lenyap tanpa bekas.

Ia selalu mengenakan topi yang membuatnya sangat sulit untuk dilacak. Sejak saat itu, aparat keamanan mulai mencurigai siapa pun yang mengenakan topi bertepi lebar seperti miliknya. Di berbagai kota, topi dengan desain tersebut perlahan menghilang dari peredaran. Topi itu menjadi simbol yang ditakuti. Tidak ada orang biasa yang berani mengenakannya lagi.

Untuk pertama kalinya Bonz melepaskan topi yang ia kenakan. Dan di tengah lampu yang sedang berkedip, ia tertawa.

"Lucu... Kalian mengerahkan seluruh negara untuk memburu seseorang yang membunuh penjahat."

"Namun orang-orang yang membunuh orang tak bersalah justru masih bebas berjalan di bawah matahari."

"Cobalah untuk menangkapku, teruslah mengejarku."

"Bukankah lebih mudah memburu bayangan daripada menangkap kejahatan yang berdiri tepat di depan mata kalian?"


The Weight of Seconds

"Tidak ada satu detik pun yang dapat dianggap ringan."

"Orang-orang mengira bahwa satu detik tidak menentukan apa pun. Mereka percaya manusia berubah karena tahun-tahun yang telah berlalu."

Bonz tersenyum tipis.

"Mereka salah..."

"Yang benar-benar mengubah hidup seseorang hanyalah satu detik... Tepat sebelum ia memutuskan sesuatu."

Bonz mengangkat sebuah koin yang selalu menemaninya.

"Sama seperti koin ini."

Ia memperlihatkan kedua sisinya. Sisi kepala.

"Orang-orang menyebutnya keberuntungan."

Koin itu kemudian diputar hingga memperlihatkan sisi lainnya. Sisi ekor.

"Dan sisi ini disebut kesialan."

Bonz menjentikkan koin itu ke udara. Koin tersebut terus berputar, sementara waktu di sekitarnya seolah melambat. Tatapannya tidak pernah lepas dari koin yang terus berputar itu.

"Padahal kedua sisi itu tidak pernah menentukan apa pun. Yang menentukan hanyalah keputusan dari orang yang melemparkannya."

"Manusia selalu menyalahkan hasil lemparan. Padahal yang membawa mereka sampai ke sana adalah tangan mereka sendiri."

The Weight of Seconds

Ketika kemampuan ini diaktifkan, Bonz mampu mempercepat dirinya hingga dunia di sekelilingnya tampak hampir berhenti. Di dalam keadaan itu, ia mampu melihat sesuatu yang tidak pernah disadari oleh kebanyakan orang.

Detik sebelum seseorang memutuskan untuk menarik pelatuk. Detik sebelum seseorang memutuskan untuk menyelamatkan orang lain. Detik sebelum seseorang mengeluarkan senjata dari sakunya. Bahkan detik sebelum seseorang sekadar mengedipkan mata.

Semuanya terjadi dalam rentang waktu yang oleh kebanyakan orang dianggap tidak berarti.

"Satu detik..."

Namun, justru satu detik itulah yang memiliki bobot paling berat. Sebab setelah sebuah keputusan dibuat, sejarah tidak lagi menunggu untuk ditulis.

Bonz membenci orang-orang yang menyalahkan takdir atas pilihan mereka sendiri.

Karena itulah ia menggunakan koin sebagai alat untuk menjatuhkan hukuman. Setelah membunuh, ia selalu mengukir dosa yang dilakukan korbannya pada sisi ekor koin tersebut. Koin itu adalah koin perunggu, perak, atau emas.

Bukan sebagai bentuk penghargaan. Melainkan sebagai ejekan bagi mereka yang selalu menyalahkan takdir atas kehidupan yang mereka pilih sendiri.

Sisi kepala melambangkan kemungkinan untuk memilih yang benar. Sementara sisi ekor melambangkan kemungkinan untuk memilih yang salah.

Namun tragedi tidak pernah lahir dari kedua sisi itu. Karena keduanya hanyalah kemungkinan.

Kebaikan maupun kejahatan tidak pernah berasal dari kepala atau ekor.

Keduanya lahir pada detik ketika seseorang memutuskan sisi mana yang akan ia jalani.


Point of No Return

Pernahkah dirimu bertanya... mengapa manusia menyebut masa depan memiliki begitu banyak kemungkinan, tetapi ketika mereka berhasil mengintipnya, yang mereka lihat hanya satu? Apa gunanya memiliki ribuan kemungkinan, jika pada akhirnya semua orang hanya mengejar satu kemungkinan yang dianggap paling mungkin terjadi?

Yang mereka lihat tetaplah masa depan. Namun bukan masa depan yang mutlak. Yang mereka lihat adalah satu kemungkinan tunggal dari berbagai kemungkinan yang terbentang di hadapan seseorang beserta jalur yang pada saat itu memiliki peluang terbesar untuk menjadi kenyataan.

Masa depan...

Ia adalah sebuah hutan.

Namun manusia tidak pernah benar-benar melihat hutannya. Mereka hanya terpaku pada satu pohon, lalu mengira pohon itulah seluruh hutan.

Padahal di baliknya masih ada ribuan jalan. Ribuan kemungkinan yang menunggu seseorang memilih untuk berjalan ke arahnya.

Masa lalu dapat dikenang, masa kini dapat disaksikan, dan masa depan dapat diprediksi, diramalkan, ataupun direncanakan.

Namun... Pernahkah kalian bertanya mengapa manusia membagi waktu menjadi masa lalu, masa kini, dan masa depan?

Apakah ketiganya benar-benar ada?

Orang-orang mengira masa lalu adalah sesuatu yang telah berlalu. Mereka benar. Mereka mengira masa kini adalah sesuatu yang sedang terjadi. Mereka juga benar. Namun mereka mengira masa depan adalah sesuatu yang sedang menunggu. Di situlah mereka salah. Masa depan tidak pernah menunggu siapa pun. Karena masa depan bahkan belum pernah ada. 

Yang benar-benar ada hanyalah kemungkinan. 

Dan kemungkinan itu berakhir tepat pada saat seseorang membuat keputusan.

Bonz menyebutnya sebagai 

"Point of No Return."

Bagi Bonz, masa depan bukanlah sesuatu yang pasti, melainkan sekumpulan kemungkinan dengan satu jalur yang pada saat itu, memiliki peluang terbesar.

Bonz mampu menyaksikan berbagai jalur kemungkinan yang terbentang di hadapan seseorang. Menyerang, melarikan diri, menyerah, berbohong, atau berbagai pilihan lain yang masih mungkin terjadi.

Namun semua jalur itu masih samar... Selama keputusan belum dibuat, seluruh jalur itu tetap ada. 

Pada saat seseorang benar-benar mengambil keputusan untuk menyerang, seluruh kemungkinan lainnya runtuh, menyisakan satu jalur yang kemudian menjadi sejarah.

Dan sejarah mulai menulis nama orang itu sebagai penyerang.


Memento Mori

Segala sesuatu memiliki sejarah temporal. Bahkan seorang detektif yang kemudian berubah menjadi penghukum pun memiliki sejarahnya sendiri. 

Dahulu kala, Bonz pernah mencintai seseorang lebih dari apa pun. Wanita itu memiliki kebiasaan yang menurut banyak orang terasa aneh. Ia begitu menyukai jam, baik itu jam tangan, jam dinding, hingga jam pasir.

Suatu hari Bonz bertanya.

"Yang terkasih... mengapa kau begitu menyukai jam?"

Wanita itu tersenyum lembut sebelum menjawab.

"Karena setiap detiknya mengingatkanku bahwa hidup tidak pernah benar-benar berhenti."

Ia mengangkat sebuah jam tangan ke hadapan Bonz.

"Lihatlah jarum detik ini."

"Ia terus bergerak dengan gerakan halus dan memukau, tanpa pernah sedikit pun bertanya apakah kita sudah siap menghadapinya."

"Melihat setiap detik berlalu dapat membuatku merasa tenang."

"Aneh, bukan? Justru karena waktu terus berjalan, setiap detik menjadi berharga."

"Dan justru karena setiap detik berharga... kita tidak boleh hidup seolah-olah masih memiliki waktu yang tak terbatas."

Bonz hanya mengangguk pelan.

Pada saat itu. Banyak orang yang mengenal Bonz sebagai seorang pria yang sangat ramah, cerdas dan pantang menyerah.

Sebelum akhirnya suatu insiden menimpa kekasihnya. Saat itu ia melihat mayat yang tergeletak di tepi jalan. Tidak ada orang yang mengerumuninya, Beberapa orang menoleh, beberapa lainnya bahkan tidak memperlambat langkahnya. Tidak ada yang benar-benar mendekat. Dunia tetap berjalan, seolah kematian itu bukan urusan mereka.

Ia hanya membutuhkan satu tatapan... Satu tatapan untuk menyadari siapa perempuan yang terbaring di hadapannya. Itu adalah wanita yang paling ia cintai. Ia memegang pipi sang kekasih. Dingin dan nyata... Bonz memutar waktu kembali lima menit. Tidak terjadi apa-apa. Ia tetap melihat tubuh kekasihnya yang masih tergeletak disana dengan posisi, udara dan tempat yang sama.

Kemudian ia memutar kembali waktu selama lima jam. Untuk pertama kalinya... Ia melihat pembunuhnya.

Pembunuh itu menggenggam belati dengan tangan gemetar.

"Jangan bergerak! Serahkan tasmu!"

Namun kata-katanya berhenti di tenggorokan.

Wanita itu telah terbaring di tanah, tidak bergerak, darah mulai mengalir di bawah tubuh wanita itu. Belati di tangannya bahkan belum menyentuh siapa pun.

Ia mundur beberapa langkah sambil bertanya.

"Apa...? Apa yang terjadi...?"

"Kenapa dia tiba-tiba mati di depanku?"

Kemudian ia melihat Bonz yang sedang berdiri mematung seolah tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi. Pembunuh itu bertanya kepada Bonz.

"Hei... Apakah kau yang melakukannya?"

Bonz tidak menjawab, tatapannya tetap tertuju kepada wanita yang terbaring di tanah. Tangannya perlahan gemetar. Ia menyadari bahwa waktu telah kembali. Namun kematian tidak. Ia kembali memutar waktu.

Lima jam.

Sepuluh jam.

Satu hari.

Berkali-kali.

Dan hasilnya selalu sama... Di setiap titik waktu... Wanita itu telah mati. Di hadapan seorang pembunuh yang bahkan belum sempat menjadi pembunuh. Sambil meneteskan air mata, Bonz menatap wanita yang selama ini selalu berada di sisinya.

"Kini aku mengerti... Jadi... seperti itukah maksudmu?"

"Bahwa kita tidak boleh hidup seolah-olah memiliki waktu yang tak terbatas..."

Air matanya jatuh membasahi pipi wanita itu.

"Karena ketika sebab dan akibat telah mencapai akhirnya..."

"Waktu pun tidak lagi mampu mengembalikannya."

Bonz berlutut perlahan, lalu memeluk tubuh kekasihnya yang telah kehilangan nyawa. Ia tidak lagi berusaha memundurkan waktu. Ia hanya memejamkan mata.

"Aku salah... Selama ini aku mengira mengendalikan waktu berarti mampu mengendalikan segalanya."

"Padahal waktu tidak pernah menjadi penguasa atas kehidupan..."

"Ia hanya menjadi saksi bagi setiap pilihan yang telah mencapai akhirnya."

"Mulai hari ini... Aku tidak akan lagi menganggap waktu sebagai sesuatu yang maha kuasa."

Bonz mendatangi sosok yang ia sebut sebagai pembunuh yang beberapa jam kemudian akan merampok seseorang. Di tangannya, sebuah koin berputar perlahan. Ia menjentikkannya hingga jatuh tepat di hadapan pria itu.

"Koin ini... Bukankah benda sekecil ini yang selama ini kau kejar?"

"Kalau begitu..."

"Ambillah."

Pembunuh itu mengernyit.

"Siapa kau? Bagaimana kau bisa tahu tempat ini?"

Tatapannya kemudian berhenti pada pakaian Bonz yang berlumuran darah.

"Dan... darah itu milik siapa?"

Bonz tetap membelakangi pembunuh itu. 

Setelah beberapa saat, ia berkata dengan suara yang tenang.

"Jangan pernah menatap wajahku lagi... Jika setelah hari ini kau masih memilih jalan yang sama."

Pembunuh itu menatap ukiran pada koin tersebut. Di atasnya tertulis.

"Perampokan?"

"Pembunuhan?"

Tangannya mulai bergetar.

"Merampok... lalu membunuh seorang wanita...? Apakah... aku benar-benar akan melakukan itu...?"

Ia perlahan mengangkat kepalanya. Saat matanya bertemu dengan Bonz... Jantungnya seakan berhenti sesaat.

"..."

"Kenapa..."

"Kenapa rasanya aku pernah berdiri dengan posisi yang sama seperti saat ini?"

"Kenapa rasanya aku pernah melihat punggungmu...? Padahal... kita bahkan belum pernah bertemu."

Pembunuh itu kemudian mulai kesal dan hendak untuk menikam Bonz dari belakang.

"Ah sial ini hanya perasaanku saja...! Dasar bajingan, apa yang telah kau lakukan pada diriku?!"

Namun sebelum belati itu sempat untuk menyentuh tubuhnya Bonz terlebih dahulu mengaktifkan kemampuan miliknya

"Memento Mori."

Belati di tangannya mulai tampak baru, lalu menjadi bijih logam yang belum ditempa, kemudian debu mineral.

Pakaiannya perlahan berubah menjadi kain, menjadi benang, menjadi kapas.

Tubuhnya menjadi remaja, anak-anak, balita, bayi.

Lalu...

Berubah menjadi ketiadaan. Karena seluruh perjalanan temporal dari sang pembunuh telah selesai diurai hingga titik awal keberadaannya.

Bonz, tidak hanya mampu memundurkan waktu dari suatu target tetapi ia juga bahkan mampu memperlambat dan mempercepat keadaan target.

Oleh karena itulah, koin ataupun benda-benda kecil yang dimilikinya dapat dijadikan senjata yang bahkan jauh lebih mematikan daripada peluru.

Memento Mori tidak memundurkan waktu suatu target. Ia mengurai sejarah temporal yang membentuk target tersebut. Selama suatu eksistensi masih memiliki sejarah temporal, Bonz mampu menelusuri, mempercepat, memperlambat, maupun mengurai perjalanan sejarah itu hingga mencapai titik asalnya.

Api dapat diubah menjadi sesuatu yang belum dipercik, ruang dapat diubah menjadi dalam keadaan posisi datar sebelum dilipat, jiwa di kembalikan dalam keadaan dimana ia belum sepenuhnya menjadi identitas.

Bahkan ketika berhadapan dengan pengguna Time lainnya, Memento Mori tidak mengikuti perubahan pada setiap manipulasi waktu yang mereka lakukan. Ia hanya menyaksikan sebab dan akibat yang telah selesai. Berapa kali pun aliran waktu diubah, yang terlihat oleh Bonz tetaplah akhir dari rangkaian sebab dan akibat tersebut.

Lawan itu dapat mengembalikan waktu, tetapi Bonz tetap melihat dirinya sebagai yang pemenang.

Lawan dapat mengubah jejak temporal dan menghentikannya, tetapi Bonz tetap melihat hasil akhirnya.

Karena selama waktu masih ada, setiap eksistensi akan selalu memiliki awal. Dan selama sebuah awal masih ada, Memento Mori akan selalu menemukan jalan untuk kembali kepadanya.

Namun meski pun begitu, Memento Mori hanya dapat mengurai sejarah yang memiliki urutan sebab-akibat yang konsisten. Semakin kacau, paradoksal, atau tidak stabil sejarah temporal suatu target, semakin sulit kemampuan ini bekerja secara sempurna.

Bonz Desc

Posted by : desthabikinfanart
Date :Selasa, 28 Juli 2026
With 0komentar

Clara Desc

| Minggu, 19 Juli 2026
Baca selengkapnya »

Clara Aldenaur 


"Keluarga." 

Sebuah kata yang terdengar sederhana. Namun di dalamnya terdapat rumah untuk pulang, pelukan yang menenangkan, tawa yang tidak perlu dibuat-buat, serta tangan-tangan yang selalu terbuka ketika dunia mulai terasa terlalu berat. 

Kemudian terdapat kata-kata lain yang lahir darinya. 

"Teman." 

"Sahabat." 

"Kerabat." 

"Pasangan." 

Segala sesuatu yang membuat seseorang percaya bahwa dirinya tidak pernah benar-benar sendirian. Seluruh makhluk hidup, dengan caranya masing-masing, pernah berharap untuk memiliki harmoni tersebut. Namun, bagaimana jika seseorang menghancurkan semuanya...? 

Tidak dengan kebencian.

Sebab ia bahkan masih belum mengerti apa arti dari kata "benci." 

Ketika seorang bayi perempuan baru saja membuka matanya untuk pertama kali. Ia belum mampu berjalan, belum mampu berbicara, belum mampu memahami dunia. Tangisnya hanyalah tangisan seorang anak yang mencari pelukan ibunya, namun pada saat kedua tangannya bergerak... 

Musim dingin tiba-tiba datang. Tidak dengan salju yang turun secara perlahan, tidak dengan embun yang menghiasi dedaunan. Tetapi dengan dingin yang membekukan kehidupan itu sendiri. Dalam sekejap... Seluruh istana berubah menjadi monumen es. Denyut kehidupan terhenti sebelum sempat menyadari bahwa akhir telah datang.

Ayahnya... 

Ibunya...

Para pelayan... 

Para ksatria... 

Seluruh kehidupan yang berada di dalam istana itu berhenti pada saat yang sama. Hanya karena seorang bayi yang baru lahir... Seorang bayi yang bahkan belum mengetahui bagaimana cara berbicara.

Sejak hari itu... 

Ia tidak lagi dikenal sebagai seorang putri. Tidak pula sebagai seorang anak. Sebagian menyebutnya sebagai pertanda bencana. Sebagian menyebutnya sebagai kutukan yang menjelma manusia. Dan sebagian lagi, masih melihat seorang gadis kecil yang terus menangis di tengah kerajaan yang membeku.

Pada akhirnya. Orang pertama yang direnggut oleh musim dingin itu, bukanlah sebuah kerajaan...

Melainkan masa kecil Clara Aldenaur sendiri... 

Tidak lama setelah kerajaan itu membeku.

Kabar mengenai sebuah negeri yang berubah menjadi lautan es menyebar ke berbagai penjuru dunia.  Banyak orang datang hanya untuk memastikan kebenarannya. Sebagian ingin memanfaatkan kekuatan yang ada di sana. Sebagian lagi hanya ingin mengetahui monster seperti apa yang mampu membekukan sebuah kerajaan dalam sekejap.

Di antara mereka, datanglah seorang penyihir kuno. Ia melangkah melewati patung-patung es yang dahulu merupakan manusia. Keheningan menyelimuti seluruh negeri, namun, di tengah kesunyian itu, ia mendengar tangisan. Tangisan dari seorang bayi... Penyihir itu segera mengikuti suara tersebut.

Di tengah aula istana yang telah membeku. Ia menemukan seorang bayi perempuan yang masih menangis di antara tubuh-tubuh yang telah menjadi es. Ia mengangkat bayi itu perlahan, pada kalung kecil yang dikenakan sang bayi, tertulis sebuah nama.

"Clara..."

Penyihir itu menatap wajah mungil tersebut cukup lama dan kemudian ia bertanya dengan suara yang nyaris menjadi bisikan.

"Clara... Izinkan aku menanyakan sesuatu kepadamu... Benarkah seorang manusia dapat menjadi dingin seperti es?"

"Atau... Mungkinkah seorang manusia menjadi jauh lebih dingin dan mematikan daripada es itu sendiri?"

Penyihir itu perlahan menggelengkan kepala, kemudian ia membuka jubahnya dan menghangatkan tubuh kecil Clara, lalu memeluknya dengan erat. 

Dan perlahan... Tangisan Clara mulai mereda, karena untuk pertama kalinya sejak ia dilahirkan, ia mendapatkan sesuatu yang seharusnya telah menjadi miliknya sejak awal.

Sebuah pelukan.


White Petal 

Clara baru mulai mempelajari sihir pada usia enam tahun, dan yang mengajari sihir tersebut merupakan seorang penyihir kuno yang telah mengangkatnya sebagai anak. 

Bagi Clara... 

Ia adalah ayahnya. 

Suatu hari, ketika sang penyihir sedang melatih Clara kecil untuk mengendalikan es, sang penyihir berkata sambil memandang hujan yang turun perlahan. 

"Clara... Tahukah kamu? Setetes hujan dapat menjadi bunga." 

Clara memiringkan kepalanya. 

"...Bunga?" 

Penyihir itu tersenyum. 

"Ya! Jika kamu membekukannya dengan kelembutan yang tepat, kristal es akan tumbuh menyerupai kelopak bunga. Es bukan hanya tentang membekukan. Es juga tentang bagaimana kamu memperlakukan suhu dengan kelembutan." 

Mata Clara langsung berbinar. Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, ia segera mengangkat kedua tangannya. 

"Aku akan mencobanya!" 

Sesaat kemudian... 

Krek.*

Seluruh wajah sang penyihir membeku. 

"..." 

Clara menatap hasil karyanya selama beberapa detik. Kemudian ia tersenyum kecil sambil berkata dengan polos. 

"...Bunganya gagal." 

Penyihir itu hanya menghela napas pelan, kemudian ia mengulurkan tangan dan mengusap kepala Clara dengan lembut. 

"Tidak apa-apa. Kamu hanya terlalu terburu-buru." 

"Es tidak selalu lahir dari kekuatan, kadang... Ia lahir dari kesabaran." 

Sejak hari itu... Clara mulai memahami bahwa sihir bukan sekadar tentang seberapa dingin ia mampu membekukan sesuatu. Melainkan seberapa lembut ia mampu menurunkan suhu tanpa merusak keindahan yang ingin ia ciptakan. 

Dan bertahun-tahun kemudian... Teknik itu dikenal dengan sebuah nama.

"White Petal"

Sihir yang tidak lagi sekadar membekukan setetes hujan menjadi bunga. Melainkan mampu menurunkan suhu sebuah wilayah dengan kelembutan yang begitu sempurna, sehingga langit, angin, dan awan perlahan ikut berubah mengikuti kehendaknya.

Dan bahkan gurun yang paling panas sekalipun... 

Dapat berubah menjadi hamparan musim dingin.


Winter's Gift 

Clara telah menginjak usia sepuluh tahun. Selama empat tahun terakhir, ia mempelajari sihir di bawah bimbingan seorang penyihir kuno yang telah mengangkatnya sebagai anak. 

Suatu hari, ketika musim dingin kembali menyelimuti pegunungan, Clara berteduh di bawah sebuah pohon sambil memikirkan sesuatu yang sangat sederhana. Ia ingin memberikan hadiah. 

Tidak dengan alasan karena ada perayaan, tidak pula dengan alasan bahwa hari itu terasa istimewa, ia hanya ingin mengucapkan terima kasih dengan caranya sendiri...

Clara menatap kedua telapak tangannya. Selama bertahun-tahun, kemampuan mengendalikan esnya telah berkembang jauh melampaui penyihir es pada umumnya. Namun untuk pertama kalinya ia tidak ingin menggunakan kekuatan itu untuk berlatih... Ia hanya ingin menciptakan sesuatu. 

Perlahan, Clara mulai membentuk kristal-kristal es dari udara di sekitarnya. Sedikit demi sedikit, ia mengukirnya dengan penuh kehati-hatian hingga tercipta sebuah artefak kecil yang seluruh bagiannya terbuat dari kristal es sebening kaca. 

Ketika matahari mulai tenggelam, artefak itu akhirnya selesai. Bagi orang lain... Benda itu mungkin hanyalah sebuah pahatan es, namun bagi Clara... Itu adalah hadiah pertama yang pernah ia buat dengan tangannya sendiri. 

Ia memeluk kotak kecil berisi artefak itu sambil tersenyum. 

"Ayah pasti akan menyukainya." 

Dengan langkah ringan, Clara bergegas pulang. 

Namun sesampainya di rumah, ia tidak menemukan sosok yang ingin ia temui. Yang ada hanyalah sebuah surat yang tergeletak rapi di atas meja, seolah sengaja ditinggalkan untuknya. Dengan senyum dan semangat yang belum sempat memudar, Clara mengambil surat itu dan mulai membacanya. Hanya untuk mendapati kalimat-kalimat yang seketika menghentikan dunianya. 

"Maafkan aku, Clara... Ada kebenaran yang selama ini tidak pernah sanggup aku katakan kepadamu."

"Aku bukanlah ayah kandungmu." 

"Aku hanyalah seseorang yang menemukanmu pada hari sebuah kerajaan membeku."  

"Jika kamu ingin mengetahui siapa dirimu sebenarnya... Datanglah ke tempat yang telah kutunjukkan."

"Saat kamu membaca surat ini, aku telah memulai perjalanan yang tidak bisa kutempuh bersamamu." 

"Selamat tinggal untuk sementara waktu, atau mungkin selamanya, Claraku tercinta..." 

Clara membaca surat itu sekali lagi. Sekali. Dua kali. Tiga kali. 

Seolah-olah setiap kali ia mengulanginya, isi surat itu akan berubah, namun kata-katanya tetap sama. Tangannya mulai bergetar, kotak kecil yang sejak tadi ia peluk perlahan terlepas dari genggamannya. Kristal es di dalamnya memantulkan cahaya senja. Namun kristal itu tidak retak, ia hanya perlahan kehilangan bentuknya... Mencair bersama kehangatan yang selama ini ia sebut sebagai rumah. Kenangannya ketika ia memasak bersama ayahnya, menyanyikan lagu, mendengar dongeng penghantar tidur...

"Ayah..." 

"Ini... bohong, kan?" 

Suaranya begitu lirih. Seolah-olah ia sendiri takut mendengar jawabannya.

Kemudian tanpa berpikir panjang, Clara berlari sekuat tenaga. Ia melewati jalan yang telah ribuan kali ia lalui, melewati pepohonan yang dahulu menjadi tempat mereka berlatih, melewati hamparan salju tempat mereka pernah mengubah tetesan hujan menjadi bunga, di dalam benaknya hanya ada satu harapan. Bahwa ketika ia tiba... Pria yang selama sepuluh tahun ia panggil sebagai ayah masih akan berdiri di sana. Menunggunya...

Namun ketika ia akhirnya sampai... Yang menyambutnya hanyalah patung-patung es, wajah-wajah yang tidak pernah ia kenal. Dalam diam, hatinya dipenuhi pertanyaan yang bahkan tidak sanggup ia ucapkan. 

"Apakah salah satu dari mereka adalah ayahku?"

"Apakah yang itu ibuku?"

"Aku tidak mengenal mereka... tetapi mengapa mereka semua membeku?"

Perlahan, Clara mengulurkan tangannya. Ia menyentuh permukaan es itu. 

Dingin. 

Hampir sama dengan hawa yang selalu lahir dari sihirnya sendiri. 

Tidak jauh dari sana, sekelompok orang sedang mengumpulkan sisa-sisa energi sihir yang masih tertinggal sejak bencana yang terjadi bertahun-tahun lalu. Ketika mereka melihat Clara, salah seorang di antara mereka segera menghampirinya. 

"Pergi dari sini, nak." 

"Tempat ini bukan taman bermain untuk anak kecil sepertimu." 

Clara tidak menjawab. Air mata perlahan mengalir di pipinya, namun sebelum sempat jatuh ke tanah... Air mata itu telah membeku, mereka tidak menyadari bahwa gadis kecil di hadapan mereka sedang menangis. 

Dengan nada yang mulai mengeras, salah seorang dari mereka kembali berkata, 

"Nak... pergilah sebelum kamu ikut membeku." 

Namun, Clara masih terdiam seolah tidak pernah menganggap bahwa mereka ada.

"Apa kau tuli?! Aku bilang pergi dari sini!"

Clara, kemudian bertanya kepada mereka.

"Apakah... Ada yang masih hidup... Disini?"

Orang-orang itu dengan spontan menjawab.

"Tidak, mereka semua telah mati. Setelah tahu itu maka pergilah."

Clara menundukkan kepalanya. 

"Huft... Orang-orang masih menyalahkan bayi itu. Kalau aku jadi dia... Aku mungkin berharap bahwa aku tidak pernah dilahirkan."

"Benar... Jika bukan karena bayi itu, kerajaan ini mungkin masih megah seperti dulu." 

Mendengar kata-kata itu, Clara seolah sadar bahwa mereka sedang membicarakan dirinya, untuk pertama kalinya... Ia mulai bertanya kepada dirinya sendiri. 

"Apakah benar... Aku seharusnya tidak pernah dilahirkan?"

Mendengar kalimat itu, orang-orang yang mengusir dan membentaknya mulai terdiam. Dengan sedikit gemetar, Clara perlahan mengangkat tangannya, seolah-olah bahkan dirinya sendiri belum yakin dengan apa yang akan ia lakukan. Sebuah kristal es kecil melesat menembus tubuh mereka. 

Sesaat kemudian... Mereka menjerit, kristal-kristal es yang tumbuh di dalam tubuh mereka berkembang seketika, terus berkembang dari dalam, hingga tubuh mereka hancur menjadi kepingan-kepingan yang berkilauan di atas hamparan salju. 

Untuk pertama kalinya... Clara menggunakan sihirnya untuk menghancurkan seseorang. 

Betapa ironisnya. 

Kemampuan yang lahir dari keinginan sederhana untuk memberikan hadiah... Justru menjadi hadiah terakhir yang ia berikan kepada dunia pada hari itu. Sejak saat itulah... Kemampuan tersebut dikenal dengan sebuah nama.

"Winter's Gift."


Ice Demon

Terdapat sebuah legenda yang lahir dari ketakutan yang diwariskan turun-temurun. Legenda itu bermula dari satu-satunya orang yang berhasil selamat dari pembantaian pertama yang dilakukan Clara.

Dengan tubuh gemetar dan wajah yang dipenuhi ketakutan, ia terus mengulang kalimat yang sama.

"Iblis es..."

"Iblis yang membekukan kerajaan itu masih hidup."

"Dia membunuh seluruh kelompok kami..."

Sejak hari itu, setiap kali musim dingin datang...

Tidak ada seorang pun yang berani keluar rumah. Jendela-jendela dikunci rapat, perapian dinyalakan sejak matahari belum tenggelam, para penjaga berpatroli sepanjang malam, anak-anak bahkan dilarang mendekati pintu ataupun jendela.

Mereka percaya bahwa selama salju masih turun... Sang Iblis Es mungkin sedang mengawasi dari balik badai.

Namun... Seluruh ketakutan itu hanyalah bayangan yang mereka ciptakan sendiri. Sebab sejak tragedi di kerajaan itu, tidak pernah terdengar lagi terjadi pembunuhan yang dilakukan oleh Clara.

Tidak ada desa yang dibekukan, tidak ada kerajaan yang dihancurkan, tidak ada siapa pun yang benar-benar melihat sosok yang mereka sebut sebagai "Iblis Es." Sementara dunia terus hidup di dalam rasa takut.

Clara justru bersembunyi di tempat-tempat yang tak pernah didatangi siapa pun. Di dalam gua yang sunyi, di tengah pegunungan yang selalu diselimuti salju. Sendirian...

Sering kali ia hanya memeluk kedua lututnya sambil mencoba mengingat satu-satunya kehangatan yang pernah ia miliki. Pelukan... Pelukan dari seseorang yang ia panggil sebagai ayah.

"Iblis es...?"

Suara Clara terdengar lirih. Nyaris tenggelam bersama hembusan angin musim dingin.

"Setega itukah mereka memanggilku seperti itu?"

Sejak saat itu, ia mengambil sebuah keputusan. Jika musim dingin adalah alasan semua orang menjauh darinya, maka ia akan belajar menjadi musim semi. 

Jika es membuat semua orang ketakutan, maka ia akan menguasai api. Jika salju membuat orang mengingat tragedi, maka ia akan memanggil angin, hujan, tanah, dan petir. Apa pun... Asalkan dunia berhenti memandangnya sebagai Iblis Es.

Hari demi hari, tahun demi tahun, ia terus berlatih. Tidak dengan niat untuk menjadi penyihir yang lebih hebat.

Ia hanya berharap... Jika suatu hari seseorang melihat api di tangannya, atau angin yang berputar di sekelilingnya. Mereka akan melupakan es yang selama ini menjadi alasan mereka membencinya. Mereka tidak akan lagi melihat seorang anak yang membekukan kerajaan.

Mereka hanya akan melihat.

Clara...

Karena jauh di dalam lubuk hati kecilnya...

Masih hidup seorang gadis kecil...

Yang hanya ingin dipandang sebagai manusia biasa.


Summer Season

Ketika dunia perlahan mulai melupakan legenda tentang Sang Iblis Es... Clara akhirnya memberanikan diri untuk kembali hidup di tengah masyarakat. Ia meninggalkan pegunungan bersalju yang selama ini menjadi tempat persembunyiannya, meninggalkan musim dingin. Dan memulai perjalanan menuju Veridian Vale. Negeri yang dikenal sebagai pusat akademi sihir unsur alam terbesar di dunia.

Di sanalah... Untuk pertama kalinya... Clara mencoba menjalani hidup sebagai orang biasa, memulai kehidupan yang benar-benar baru.

Tidak membutuhkan waktu lama sebelum namanya mulai dikenal. Karena bakatnya yang nyaris tidak masuk akal dalam menguasai berbagai unsur.

Clara tidak pernah membuang ajaran yang pernah diberikan oleh sosok yang ia panggil sebagai ayah. Bahkan ketika ia memilih meninggalkan sihir es, cara berpikir yang diajarkan pria itu tetap hidup di dalam setiap sihir yang ia gunakan. 

"Es bukan hanya tentang membekukan. Es juga tentang bagaimana kamu memperlakukan suhu dengan kelembutan."

Dengan metode yang pernah diajarkan oleh ayahnya.

Api yang ia kendalikan mampu melelehkan benteng baja, petir yang ia ciptakan melesat lebih cepat daripada mata yang mampu mengikutinya, angin membawanya menembus langit, tanah berubah menjadi benteng yang kokoh atas kehendaknya. Air, tumbuhan, cahaya, kegelapan... Satu demi satu unsur berhasil ia kuasai.

Sehingga dirinya dipanggil sebagai seorang gadis berbakat yang ramah dan rendah hati. 

Namun... Setiap kali ujian sihir es diadakan. Clara selalu mengundurkan diri.

"Aku tidak bisa menggunakan sihir es."

Begitulah jawaban yang selalu ia berikan.

Mereka hanya mengangguk dan melanjutkan kegiatan seperti biasa. Hari demi hari berlalu. Clara mulai memiliki teman, mereka belajar bersama, tertawa bersama, berdebat mengenai sihir, menghabiskan waktu seperti remaja pada umumnya. 

Perlahan... Ia mulai merasakan sesuatu yang selama ini hilang dari hidupnya. 

"Kehangatan..."

Akan tetapi, tubuh jauh lebih jujur daripada kata-kata. Setiap kali ia berada dalam bahaya, setiap kali pikirannya dipenuhi tekanan, setiap kali nalurinya bergerak lebih cepat daripada kesadarannya...

Tangannya selalu menciptakan kristal es. Tidak pernah api, tidak pernah petir, tidak pernah angin. Selalu Es. Karena itulah bahasa pertama yang dipahami oleh tubuh Clara. Awalnya hanya sekali, kemudian dua kali, lalu tiga kali.

Hingga suatu hari... Tidak ada lagi yang dapat menganggap semuanya sebagai kebetulan. Teman-temannya akhirnya melihat sendiri sihir es Clara. Mereka terdiam. 

Clara juga terdiam...

Ia menunggu.

Menunggu tatapan takut yang selama ini selalu ia kenal. Seseorang kembali memanggilnya...

"Iblis Es."

Di dalam hatinya, satu pertanyaan terus berulang. 

"Mengapa... Mengapa aku selalu kembali kepada es? Padahal selama bertahun-tahun... Aku terus berusaha melupakannya..."

Namun... Yang ia dengar justru berbeda.

Mereka menatap hamparan kristal es yang begitu indah hingga menyerupai karya seni.

"Clara... kenapa selama ini kamu menyembunyikannya? Sihir esmu luar biasa."

"Kalau kemampuan seperti itu kamu tunjukkan saat ujian..."

"Kamu pasti menjadi salah satu murid terbaik akademi."

Tidak ada tatapan takut, tidak ada wajah yang membencinya, tidak ada seorang pun yang memanggilnya sebagai "Iblis Es."

Ia masih belum sanggup menceritakan alasan sebenarnya. Tetapi, untuk pertama kalinya, Clara akhirnya mengerti bahwa yang selama ini ia takuti. Bukanlah sihir esnya. Melainkan kenangan yang selalu ia bawa bersamanya. Clara tersenyum tipis sambil menggelengkan kepala, karena selama bertahun-tahun, Clara selalu berpikir bahwa agar ia bisa diterima, ia harus meninggalkan musim dinginnya. 

Namun ternyata... Yang ia butuhkan bukanlah menjadi musim semi, melainkan menemukan seseorang yang bersedia tetap tinggal, bahkan ketika musim dingin telah datang. Dan untuk pertama kalinya... 

Clara tidak lagi takut untuk menyebut dirinya sendiri.


Absolute Zero

Ketika lawannya berbicara.

"Kau masih saja menggunakan Es, apa hanya itu kemampuan yang mampu kamu gunakan?"

Jika Clara yang dulu... Mungkin ia akan berusaha menggunakan unsur alam lainnya. Namun sekarang, ia hanya tersenyum.

"Aku tidak akan menyangkal perkataanmu."

"Ini adalah musim dinginku, ini adalah esku dan ini adalah bagian diriku." 

Absolute Zero...

Clara mampu memanipulasi suhu dan energi termal dalam skala ekstrim. Ia dapat mengubah suatu wilayah yang sebelumnya memiliki suhu yang sangat tinggi menjadi wilayah yang mengalami pembekuan ekstrim dalam waktu kurang dari satu detik.

Namun, kemampuan tersebut tidak berarti bahwa Clara menciptakan es tanpa batas atau mengabaikan hukum sebab akibat. Semakin luas wilayah yang ingin ia ubah dan semakin besar perbedaan kondisi termalnya, semakin besar pula energi, konsentrasi, dan penguasaan yang dibutuhkan.

Dalam konteks Foundation of Elemental, kemampuan ini memungkinkan Clara mengurangi energi termal suatu target hingga menyebabkan gerakan partikel dan proses fisik di dalamnya mengalami perlambatan yang drastis.

Bahkan ia mampu memengaruhi fenomena yang biasanya di anggap berada di luar pemahaman sederhana mengenai es.

Ia dapat membekukan suatu jiwa, memengaruhi aktivitas spiritualnya melalui pembekuan, membekukan pikiran, menghambat proses mental dan aktivitas yang memungkinkan pikiran tersebut bekerja, membekukan ruang, memengaruhi kondisi unsur alam yang memungkinkan perubahan dan pergerakan suatu wilayah tertentu.

Dan dalam kondisi ekstrim, Clara mampu memengaruhi aliran waktu secara lokal melalui prinsip pembekuan. Dengan memperlambat proses yang terjadi dalam suatu wilayah hingga hampir tidak mengalami perubahan.

Tetapi ia tidak memiliki semua prinsip itu... Karena yang ia miliki hanyalah menguasai prinsip pembekuan sedemikian dalam sehingga berbagai hal yang berbeda dapat dipengaruhi melalui prinsip tersebut.

Clara tidak pernah menguasai banyak fondasi, ia hanya memiliki satu. 

Foundation of Elemental. 

Namun selama puluhan tahun... Ia terus bertanya pada dirinya sendiri. 

"Seberapa jauh sebuah musim dingin dapat mencapai?" 

Dan pada akhirnya. Jawabannya bukanlah membekukan dunia. Melainkan memahami bahwa satu prinsip yang dipelajari hingga batas terdalam. Dapat menyentuh segala sesuatu, karena Clara tidak pernah menjadi penyihir yang menguasai semua unsur. 

Ia hanyalah seorang gadis... 

Yang memahami arti dari es lebih dalam daripada siapa pun.


Fatum Branch Record

Catatan Rekaman Percabangan Fatum.*

Setiap rekaman Fatum memiliki jalurnya masing-masing, dan setiap jalur melahirkan takdir yang berbeda.

Dengan kata lain, setiap percabangan Fatum memperlihatkan berbagai kemungkinan yang dapat dijalani oleh Clara, mulai dari potensi tertinggi yang mampu ia capai, hingga takdir paling kelam yang mungkin menantinya.


Main Fatum Branch/Fatum Branch A

Percabangan takdir utama yang benar-benar dijalani Clara.

Seorang gadis yang kehilangan keluarganya sejak dilahirkan. Ia kemudian diadopsi oleh seorang penyihir kuno yang membesarkannya, sebelum akhirnya kembali ditinggalkan.

Inilah percabangan takdir ketika Clara hidup dalam ketakutan terhadap sihir esnya sendiri, hingga pada akhirnya ia menerima bahwa es bukanlah kutukan, melainkan bagian dari dirinya.


Fatum Branch B

Percabangan takdir ketika Clara memilih jalan kegelapan setelah membunuh sekelompok orang asing yang menghina dan membentaknya. Di dalam jalur ini, ia sepenuhnya menerima identitasnya sebagai "Iblis Es."

"Jika dunia menganggapku sebagai iblis... maka aku akan menjadi iblis itu sendiri."

Kekuatannya bukan lagi tentang ketenangan dan presisi... Melainkan tentang amarah dan daya hancur.

Pada percabangan ini, Clara mencapai salah satu puncak kekuatan tertinggi yang pernah ia raih.

Ia membekukan seluruh permukaan Bumi, bahkan hingga membekukan Kesembilan Hukum yang menopang dunia dan membeku bersamanya. Tidak ada lagi yang tersisa selain kebekuan yang abadi.

Ia menjadi personifikasi dari sebuah era yang dikenal sebagai "Zaman Es."


Fatum Branch C

Percabangan takdir ketika sang penyihir tidak pernah datang menemukannya.

Clara mati membeku bersama kedua orang tuanya, tanpa pernah merasakan kehangatan yang selama ini hanya menjadi impiannya.


Fatum Branch D

Percabangan takdir ketika Clara, yang masih bayi, tidak pernah melepaskan kekuatan esnya hingga membekukan seluruh kerajaan.

Dalam jalur ini, ia tumbuh sebagai seorang putri bangsawan dari Kerajaan Es, hidup bahagia bersama kedua orang tuanya. Seiring berjalannya waktu, ia bahkan dipersiapkan untuk menikah dengan seseorang yang kelak menjadi calon suaminya.

Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Kerajaan Es diserang oleh satu makhluk dari negeri lain yang datang untuk membumihanguskan seluruh kerajaan.

Alasannya hanya satu.

Karena kerajaan tersebut, menyebut ia sebagai "Monster."


Fatum Branch E...

Fatum Branch F....

Fatum Branch G....

Fatum Branch, dan seterusnya...

Masih terdapat percabangan-percabangan lain yang belum pernah diceritakan oleh Buku Kelima.


Book Five Identification

Informasi berikut berasal dari Buku Kelima*

Di berbagai kisah yang berbeda, sosok ini paling sering digambarkan sebagai seorang gadis yang melambangkan musim dingin, es, dan penurunan suhu termal.

Nama: Clara Aldenaur.

Namun, setiap kisah memiliki kebebasan untuk menceritakan dirinya dengan nama yang berbeda. "Clara Aldenaur" hanyalah identitas yang paling sering muncul di antara berbagai kisah.

Julukan: Ice Demon, Frozen Age, Permafrost, The Ice Saint, The Endless Cold, The Walking Calamity. Dan masih banyak lagi.

Foundation: Foundation of Elemental.

Meskipun demikian, Foundation yang dimilikinya tidaklah mutlak dan dapat berbeda pada setiap kisah.

Penampilan: Dalam sebagian besar kisah, ia digambarkan sebagai seorang gadis berambut biru.

Namun, terdapat kisah-kisah lain yang menceritakan dirinya sebagai seorang raja, bangsawan laki-laki, rakyat biasa, bahkan sosok yang bukan manusia sama sekali. Beberapa kisah menggambarkannya sebagai sesosok dewi, sementara kisah lainnya mengisahkannya sebagai sebuah entitas konseptual.

Asal: Sebagian besar kisah menceritakan bahwa ia berasal dari sebuah kerajaan.

Akan tetapi, tidak semua kisah mengikuti asal-usul tersebut. Ada kisah yang menggambarkannya sebagai rakyat biasa, ada yang tidak pernah mengenal sebuah kerajaan, dan ada pula yang menceritakannya sebagai sosok dewi yang mengawasi semesta sejak awal keberadaan.


Book Five Archive

Canon A

Fatal Verse Legacy

Clara digambarkan sebagai seorang penyihir es yang mampu menciptakan kristal-kristal es, sebelum akhirnya mengakhiri hidupnya sebagai penyihir es.

Ia berasal dari sebuah kerajaan yang tidak diketahui asal-usulnya dan menjalani kehidupan yang sederhana layaknya penyihir pada umumnya.


Canon B

Fatal Verse: Something Wrong

Sebuah kisah yang menggambarkan Clara Aldenaur sebagai penyihir api.

Berbeda dari kebanyakan interpretasi, Clara dalam kisah ini memiliki sifat pemarah, agresif, dan destruktif.


Canon C

Fatal Verse: Permafrost

Clara Aldenaur menjadi salah satu Ascendant Veracity & Atrocity.

Ia kemudian mencapai kedudukan sebagai otoritas tertinggi atas konsep pembekuan, penyejukan, dan penurunan termal.

Pada kisah ini, ia berada pada tingkat asimilasi dasar, yaitu Assimilation of Existential.


Canon D

Fatal Verse: Kill da Street

Sebuah kisah bergaya beat 'em up dan run and gun.

Clara digambarkan sebagai seorang wanita berambut biru yang mengenakan perlengkapan kombat, dengan senapan laras panjang sebagai senjata utamanya.

Ia memiliki spesialisasi unik yang mampu memperlambat pergerakan target setiap kali membidiknya.


Canon E

University Fatale

Dalam kisah ini, Clara tidak lagi digambarkan sebagai penyihir es.

Sebaliknya, ia merupakan seorang siswi yang dikenal pendiam, pemalu, sedikit dingin, dan gemar menghabiskan waktunya untuk membaca buku.


Canon F...

Canon G...

Dan masih banyak Canon lainnya...


Catatan Buku Kelima*

Ini bukanlah sebuah inkonsistensi...

Seluruh Canon yang menggambarkan Clara tidak saling membatalkan, melainkan berdiri sebagai interpretasi yang sama-sama sah terhadap identitas yang sama.

Setiap kisah mempertahankan pemahamannya sendiri mengenai Clara, termasuk asal-usul, wujud, sifat, kemampuan, maupun kedudukannya.

Oleh karena itu, tidak ada satu pun interpretasi yang dapat ditetapkan sebagai identitas yang mutlak, selama kisah tersebut masih merujuk kepada sosok yang sama. Yaitu Clara.

Clara Desc

Posted by : desthabikinfanart
Date :Minggu, 19 Juli 2026
With 0komentar

Exynone Desc

| Rabu, 08 Juli 2026
Baca selengkapnya »

Exynone, The Forgotten, Forever to Be Forgotten. 

Dikatakan kepada suatu makhluk, "Pernahkah engkau memikirkan tentang kehampaan?" Ia menjawab bahwa kehampaan adalah ketiadaan. Sebuah ruang yang tidak memiliki cahaya, waktu, kehidupan, maupun keberadaan. 

Sebagian menyebutnya sebagai Abad Kekosongan, sebuah masa yang dipercaya telah ada sebelum penciptaan pertama kali berlangsung. Atau, dalam istilah yang lebih dikenal oleh makhluk fana, suatu keadaan sebelum Big Bang, ketika penciptaan belum benar-benar terjadi. 

Namun... Jika bahkan kehampaan masih dapat dipahami sebagai tidak adanya sesuatu, bukankah itu berarti kehampaan sendiri masih memiliki makna? Masih memiliki identitas. Masih memiliki cara untuk dijelaskan. 

Lalu, apakah yang berada sebelum seseorang bahkan mampu memikirkan tentang kehampaan itu sendiri? Bukan sebelum waktu. Bukan sebelum ruang. Bukan sebelum penciptaan. Melainkan sebelum segala kemungkinan untuk menyebut sesuatu sebagai "ada" maupun "tidak ada" pernah memiliki arti. 

Di sanalah nama Exynone mulai disebut. 

Atau mungkin... 

Tidak pernah benar-benar disebut. 

Terdapat suatu pemahaman mengenai sesuatu yang bahkan tidak pernah benar-benar dapat disebut sebagai sesuatu. Seorang peneliti mempertanyakan satu hal yang tampak sederhana. 

Mengapa sesuatu dapat disebut sebagai tidak ada? 

Dengan mengenakan setelan astronominya, ia mendaki langit, melintasi realitas demi realitas yang tersusun pada setiap lapisan. Ia mencari sebuah jawaban yang bahkan belum pernah terpikirkan oleh siapa pun. Di setiap realitas yang ia singgahi, ia menemukan kebenaran yang berbeda mengenai kehampaan.

Ada yang berkata bahwa kehampaan adalah makhluk hidup yang melampaui ruang dan waktu, menelan segala sesuatu hingga tidak lagi dapat dipahami. 

Ada pula yang berkata bahwa kehampaan sama sekali tidak dapat disebut sebagai ada, sebab sejak awal ia memang tidak pernah memiliki keberadaan. 

Setiap upaya untuk memahaminya hanyalah jalan menuju kegagalan. Realitas demi realitas terus memperlihatkan penafsiran yang berbeda. Kebenaran demi kebenaran terus menawarkan jawaban yang saling bertentangan. Namun tidak satu pun mampu membenarkan dirinya sebagai kebenaran yang mutlak. Hingga, pada penghujung pencariannya, ia menemukan satu pernyataan yang berbeda dari semuanya. Pernyataan itu tidak berusaha menjelaskan apakah sesuatu itu ada. Tidak pula mencoba membuktikan bahwa sesuatu itu tidak ada. 

Ia hanya berkata, "Tidak pernah ada bukti bahwa sesuatu itu memiliki eksistensi." 

Dan untuk pertama kalinya... Sang peneliti menyadari bahwa mungkin bukan jawaban yang gagal ditemukan. Melainkan pertanyaannya yang sejak awal tidak pernah dapat diajukan. 

"Exynone" 

Pernahkah anda memikirkan hal yang sama seperti sang peneliti itu? 

Jika memang iya, maka anda seperti sedang bertanya. "Di manakah ujung dari sebuah lingkaran?" Bagaimana mungkin seseorang mencari asal dari sesuatu yang bahkan tidak pernah memenuhi syarat untuk memiliki asal?


The First Denial 

Di salah satu kerajaan, hiduplah seorang dewa yang dikenal sebagai penguasa kehampaan. Ia telah mengasimilasi konsepsi tentang kehampaan itu sendiri. Baginya, segala bentuk ketiadaan merupakan bagian dari dirinya. 

Banyak korban The Eldritch yang melebur menjadi kehampaan yang ia kuasai. Melalui kekuatan itu, ia mampu menghapus keberadaan yang bahkan melampaui dimensi tempatnya berpijak. 

Hingga pada suatu saat... 

Sesuatu berdiri di hadapannya. Sesuatu yang bahkan tidak dapat disebut sebagai keberadaan. Sang dewa mengira bahwa sosok itu hanyalah salah satu monster Eldritch yang belum pernah ia temui. Maka ia mencoba mengasimilasinya. 

Namun tidak ada satu pun rujukan yang dapat menjadikan sosok itu sebagai bagian dari kehampaan. 

Ia mencoba menghapusnya. 

Tidak terjadi apa pun. 

Ia bahkan mencoba menghapus kehampaan itu sendiri. 

Tetap tidak terjadi apa pun. 

Barulah ia menyadari... Bahwa seluruh kekuatannya selalu bergantung pada satu hal. Sesuatu yang masih dapat disebut sebagai kehampaan. Sedangkan sosok di hadapannya. Bahkan tidak pernah memenuhi syarat untuk disebut demikian. 

Sosok itu hanya tersenyum. 

Sesaat kemudian... 

Tidak pernah ada kisah yang menceritakan sang dewa. Tidak pernah ada ingatan yang mengenalnya. Tidak pernah ada sejarah yang membuktikan bahwa ia pernah ada. Seolah-olah seluruh keberadaannya runtuh bersama satu kesalahan yang baru saja ia sadari. 

Sesaat sebelum namanya menghilang dari seluruh kisah... 

Sebuah pemahaman yang bahkan tidak pernah dapat dipastikan berasal dari mana seolah melintas. 

"Jika engkau adalah otoritas dari kehampaan... Maka kembalilah kepada apa yang selama ini engkau sebut sebagai kehampaan." 


The Unreachable Reference 

Terdapat suatu makhluk yang tidak diketahui darimana ia berasal. Banyak yang meyakini bahwa setiap bentuk ketidakteraturan bukanlah sesuatu yang muncul, melainkan sesuatu yang selalu berasal darinya. 

Sebagian mempercayai bahwa ia berasal dari salah satu alasan dari Tower of Harmony namun tidak pernah disebutkan namanya. 

Sebagian menyebut asalnya sebagai Axiomatic Disorientation Plane. Sebuah ranah di mana bahkan aksioma kehilangan alasan untuk tetap disebut sebagai aksioma. 

Sebagian menggambarkannya sebagai seekor lintah raksasa yang melahap eksistensi maupun ketiadaan. Sebagian lainnya berkata bahwa tidak pernah ada wujud yang benar-benar dapat menggambarkannya.

"Ketika wujud yang diyakini lintah itu menghendaki sesuatu, maka keabadian terhadap sesuatu tersebut dalam bentuk apapun akan menghilang." 

"Dari dimensi manakah sesuatu yang disebut lintah itu berasal? Atau... Apakah lintah itu masih dapat disebut sebagai sesuatu yang dapat ditampung oleh sebuah dimensi?" 

Lintah itu bukanlah makhluk Eldritch, bukan dewa, tapi jauh dalam pengertian kategori Tower of Harmony... 

Begitu ia bertemu dengan sesuatu itu yang disebut sebagai Exynone. Satu kehendak cukup baginya untuk menjadikan keberadaan dan ketiadaan sebagai santapan yang sama. 

Namun... Tidak ada sesuatu yang dapat dijadikan sebagai awal dari kehendak itu. 

Untuk pertamakalinya... 

Ia tidak menemukan sesuatu yang dapat dijadikan sebagai "ada". Namun ia juga tidak menemukan sesuatu yang dapat dijadikan sebagai "tiada". Keberadaannya sendiri masih tidak memiliki bukti apakah ia pernah ada. Ataupun ia tidak ada. 

Dalam bentuk keabstrakan seperti itu, lintah itu menegaskan bahwa ia, mampu melahap segala eksistensi. Namun, ia tidak mengetahui tentang sesuatu yang sedang berdiri dihadapannya. 

"Rujukan apakah yang mampu menunjuk sesuatu yang bahkan tidak pernah memenuhi syarat untuk dirujuk?" 

Ia mencari sesuatu yang dapat dijadikan sebagai eksistensi. Tidak menemukannya. 

Ia mencari sesuatu yang dapat dijadikan sebagai ketiadaan. Tetap tidak menemukannya. 

Kehendaknya kehilangan sesuatu untuk dijadikan tujuan. Sebab keduanya masih merupakan sesuatu yang dapat dipahami. Sedangkan setiap upaya untuk menjelaskan Exynone selalu berakhir sebelum penjelasan itu sendiri memiliki arti.


The Last Absence 

Samar-samar... Terdapat sesuatu yang tidak pernah dapat dipastikan sebagai suara. Bukan bisikan, bukan gema, bukan pula sesuatu yang dapat disebut sebagai penyampaian. Namun, sebuah pemahaman tetap hadir, tanpa diketahui dari mana ia berasal, tanpa diketahui kepada siapa ia ditujukan. 

"Ia tidak hidup di setiap realitas, ia hanya tidak pernah berani hidup pada satu realitas saja." 

"Di setiap realitas, di setiap struktur, di setiap dimensi, di setiap Fatum Branch. Pada setiap kemungkinan yang masih mampu disebut sebagai 'ada'." 

"Banyak yang percaya bahwa selama masih ada satu realitas, maka ia akan tetap hadir. Selama masih ada satu kemungkinan, maka ia tidak akan pernah benar-benar lenyap. Karena itulah banyak yang meyakini bahwa kemusnahannya adalah sesuatu yang mustahil." 

"Namun seluruh keyakinan itu bergantung pada satu hal. Bahwa masih ada kemungkinan baginya untuk hadir." 

"Lalu... bagaimana jika kemungkinan itu tidak pernah memenuhi syarat untuk disebut sebagai kemungkinan?" 

Dan pijakan yang selama ini memungkinkan entitas itu hadir pada setiap realitas tidak lagi dapat dipertahankan. Bukan karena pijakan itu dihancurkan. Bukan pula karena pijakan itu diambil. Melainkan karena seluruh alasan untuk menyebut sesuatu sebagai pijakan kehilangan maknanya. 

Sejak saat itu... 

Bukan lagi persoalan apakah ia hadir atau tidak hadir. 

Melainkan tidak pernah lagi ada cara untuk mempertahankan bahwa kehadiran itu sendiri masih memiliki tempat untuk berpijak. 

Selama suatu eksistensi masih mempertahankan dirinya melalui kehadiran pada setiap realitas atau setiap kemungkinan, maka kehadiran itu sendiri masih bertumpu pada suatu pijakan. The Last Absence adalah lenyapnya pijakan yang memungkinkan pernyataan "ia hadir" tetap memiliki makna.


The Unwritten Page 

Pernahkah engkau membayangkan... Bahwa setiap kisah yang pernah ditulis oleh manusia, mulai dari dongeng seorang anak kecil hingga mitologi yang kemudian disembah oleh para makhluk hidup... 

Bukan sekadar cerita, melainkan alasan mengapa sesuatu dapat dikenal sebagai sebuah kisah. Ini bukan tentang hiburan. Ini bukan tentang membaca. Ini adalah tentang narasi sebagai salah satu fondasi yang memungkinkan keberadaan memiliki makna. 

Terdapat seorang pria yang hidup di dalam sebuah karya yang ditulis oleh seorang wanita. Lambat laun, sang penulis jatuh cinta kepada tokoh yang ia ciptakan sendiri. Namun di atas kisah itu, terdapat sosok lain yang menuliskan mengapa wanita tersebut jatuh cinta. 

Dan di atasnya lagi, pada lapisan Buku Keenam, terdapat salah satu Al-Batlan. Ia tidak pernah memegang pena, tidak pernah menuliskan satu kata pun, ia hanya duduk, dan menutup matanya, lalu tertidur. 

Dari tidurnya... Seluruh kisah pada Buku Ketujuh mulai menuliskan dirinya sendiri. Seolah-olah sebuah tinta yang tidak pernah disentuh telah melahirkan seluruh cerita yang pernah ada. Dan dari kisah itu, makhluk fana akan melahirkan kisah-kisah, kemudian kisah yang terwujud memikirkan sebuah kisah lagi. Hingga mencapai paradox yang tak berujung. 

Setiap kata, setiap kalimat, setiap kisah, setiap dunia. Seluruhnya lahir sebagai bagian dari penulisan itu.

Namun... Bahkan sosok itu sendiri bukanlah akhir. Sebab terdapat sesuatu yang menjadi alasan mengapa narasi dapat disebut sebagai ada. Mengapa sebuah cerita dapat ditulis. Mengapa sebuah kalimat dapat dipahami. Ia tidak pernah menulis satu kisah pun. Ia tidak pernah menggerakkan satu pena pun. 

Namun selama dirinya tetap ada... Narasi selalu menemukan cara untuk menuliskan dirinya sendiri. Banyak yang percaya dan meyakini bahwa sesuatu yang terjadi, seperti peperangan dewa dan monster Eldritch, adalah ulah dari keberadaannya. 

Hingga sesuatu berdiri di hadapannya...

Tidak ada satu pun kalimat yang mampu menjadikannya sebagai subjek. Tidak ada satu pun cerita yang mampu memberinya awal. Tidak ada satu pun narasi yang mampu mempertahankan bahwa ia sedang menceritakan sesuatu. Sebab setiap narasi selalu membutuhkan satu syarat. Bahwa masih ada sesuatu yang dapat dijadikan sebagai cerita. Sedangkan sosok yang berdiri di hadapannya... Bahkan tidak pernah memenuhi syarat untuk disebut sebagai bagian dari sebuah cerita.

Maka narasi itu mulai menulis, namun setiap kalimat berakhir sebelum kalimat berikutnya memiliki arti. Setiap halaman tetap terbuka, tetapi tidak pernah ada sesuatu yang berhasil dituliskan. 

"Tulislah sesuatu yang tidak pernah dapat dipikirkan. Rujuklah sesuatu yang tidak pernah dapat dirujuk. Maknailah sesuatu yang tidak pernah memiliki syarat untuk dimaknai. Pada saat itulah engkau akan memahami mengapa seluruh tulisanmu berhenti menjadi sebuah kisah." 

Narasi kehilangan sesuatu untuk dijadikan kisah. Dan sejak saat itu... 

Tidak pernah lagi ada cara untuk mempertahankan bahwa penulisan itu sendiri masih memiliki sesuatu untuk dituliskan. 


The Final Trace 

Meski Exynone tidak pernah dapat dijelaskan melalui fondasi apa pun, terdapat satu pemahaman yang tetap bertahan di antara para makhluk transendensi. Bukan sebagai kebenaran. Bukan pula sebagai kesimpulan. Melainkan sebagai dugaan yang tidak pernah berhasil dibuktikan. 

Bahwa... Masih ada sesuatu yang menyerupai jejak, seolah-olah berasal darinya. 

Exynone tidak dapat dijangkau oleh kehampaan, tidak pula oleh rujukan, kehadiran, ataupun narasi. Namun, selama masih ada satu makhluk yang mencoba menyebut namanya... Sebagian percaya bahwa jejak terakhir itu belum benar-benar lenyap. 

Yang lain berkata bahwa jejak itu bukan milik Exynone. Melainkan milik mereka yang gagal melupakannya. 

Dan mungkin... Itulah sebabnya ia dikenal sebagai The Forgotten. 

Bukan The Never Known. 

Sebab sesuatu yang tidak pernah dikenal tidak perlu dilupakan. Sedangkan sesuatu yang dilupakan, mungkin pernah meninggalkan jejak. Atau mungkin, tidak pernah ada siapa pun yang benar-benar mengingatnya sejak awal.


Book Five Identification: 

Informasi ini berasal dari buku kelima* 

Dari setiap kisah yang berbeda, ia digambarkan sebagai sesuatu yang selalu berkaitan dengan kekosongan, ketiadaan, juga eksistensi. Tetapi dari semua itu, namanya selalu mengarah pada satu hal. Yaitu Exynone. 

Nama: Exynone 

Julukan: The Forgotten, Forever to be Forgotten. Entity 00 (Zero), The Void, Nothingness, The Unknown, The Absence Behind Nothing. 

Penampilan: Tidak ada penampilan yang pasti. Dalam kisah lain ia tidak memiliki wujud. Dalam kisah yang lain lagi, ia digambarkan sebagai pria dengan wujud sepenuhnya hitam seperti bayangan. Dalam kisah lainnya lagi ia memiliki wujud wanita. Dalam kisah yang berbeda, ia dapat digambarkan sebagai makhluk mitologi kuno. 

Asal: Dalam sebagian besar kisah, ia dikatakan berada di dalam Tower of Harmony. Pada kisah lain, ia berasal dari 0-Layer (sebuah dimensi yang memiliki kedudukan serupa dengan Archeon Aetherna dalam Fatal Verse Legacy). Sebagian kisah menggambarkannya sebagai sesuatu yang berasal dari kehampaan atau ketiadaan. Kisah lainnya menyatakan bahwa ia berasal dari luar Buku Keenam. Bahkan terdapat kisah yang menolak seluruh sistem Buku, dan menyatakan bahwa Exynone tidak pernah menjadi bagian dari struktur tersebut sejak awal.


Book Five Archive: 


Canon A 

Fatal Verse Legacy 

Kisah mengenai Al-Batlan sebagai sebuah dimensi dan Exynone dikenal sebagai Entity 00 (Zero) entitas yang membantai para dewa secara langsung. Hanya karena ia menolak bekerja sama dengan Yaon-Zi.


Canon B 

Fatal Verse The Shadow Behind All 

Terdapat suatu kisah yang tidak pernah mengenal Adonai, Alef, Ein Sof, Sith, Five Primordial, Tower of Harmony, maupun seluruh nama yang pernah disebut. Sebab sejak awal... Tidak pernah ada sesuatu selain Exynone. Karena "segalanya" tidak pernah memenuhi syarat untuk ada di dalam kisah ini. 

Maka setiap upaya untuk membandingkan Exynone adalah sesuatu yang mustahil. Sebab tidak pernah ada sesuatu selain dirinya. 


Canon C 

Fatal Verse Clash 

Sebuah kisah di mana seluruh posisi yang selama ini memisahkan keberadaan kehilangan maknanya. Buku Keenam tidak lagi mengenal tingkatan. 

Al-Batlan, Eldritch Terror, The Eldritch, Garden of Eden, Veracity & Atrocity, Kabbalah, Tower of Harmony, bahkan The Skies. Seluruhnya diperlakukan sebagai keberadaan yang setara. 

Tidak ada lagi "lebih tinggi". Tidak ada lagi "lebih rendah". Seluruhnya saling mengasimilasi hingga batas antara satu dengan lainnya tidak lagi dapat dipertahankan. Dari pengasimilasian besar-besaran itu, hanya sedikit nama yang masih dapat dikenali. 

Dan salah satunya... 

Adalah Exynone. 


Canon D 

University Fatale 

Tidak ada peperangan, tidak ada lagi pengasimilasian, tidak ada kehancuran kosmik... 

Buku Keenam, digambarkan sebagai sebuah sekolah yang damai, dimana Exynone adalah sosok murid yang selalu dilupakan di dalam pergaulan. Murid yang hampir tidak pernah diingat keberadaannya. Setiap kali daftar hadir dipanggil, namanya selalu terlewati. Setiap kali foto kelas dicetak, sosoknya tidak pernah dapat dipastikan berada di dalamnya. 

Namun ketika semua orang mencoba mengingat siapa yang terlupakan... 

Seluruh kelas menyebut nama yang sama. 

"Exynone."


Canon E 

Canon F 

Canon ect... 


Catatan Buku Kelima* 

Ini bukanlah bentuk inkonsistensi... 

Tetapi seluruh canon yang menggambarkan Exynone tidak saling membatalkan. Setiap kisah mempertahankan pemahamannya sendiri mengenai Exynone, termasuk asal, wujud, sifat, maupun kedudukannya. Karena itu, tidak ada satu pun interpretasi yang dapat ditetapkan sebagai identitas mutlak, selama kisah tersebut tetap merujuk kepada nama yang sama, yaitu Exynone.

Exynone Desc

Posted by : desthabikinfanart
Date :Rabu, 08 Juli 2026
With 0komentar

Power System Fatal Verse...

| Kamis, 02 Juli 2026
Baca selengkapnya »

The Nine Foundation


 Life 

Merupakan fondasi sihir pertama dalam The Nine Foundation yang mengatur kehidupan, pertumbuhan, adaptasi, dan vitalitas seluruh makhluk hidup. Seluruh bentuk kehidupan biologis memperoleh denyut keberadaannya melalui fondasi ini.

Melalui Life, para penyihir mampu memanipulasi aspek biologis kehidupan, seperti mempercepat regenerasi, menyembuhkan luka, mengubah struktur tubuh, hingga berevolusi menjadi bentuk kehidupan yang melampaui batas biologis normal.

Pada tingkat penguasaan tertinggi, tubuh pengguna telah mencapai bentuk adaptasi biologis yang sempurna. Sehingga setiap kerusakan fisik akan direspons oleh evolusi yang terjadi secara instan, menyebabkan serangan yang sama tidak lagi mampu melukai mereka. Semakin lama pertarungan berlangsung, semakin sulit tubuh mereka dihancurkan melalui cara-cara fisik.


Matter 

Merupakan fondasi sihir kedua dalam The Nine Foundation yang mengatur materi, struktur, massa, dan substansi fisik. Segala sesuatu yang memiliki bentuk dan dapat disentuh berdiri di atas prinsip yang dimiliki oleh fondasi ini. Seluruh benda padat, cair, gas, logam, mineral, hingga struktur fisik makhluk hidup termasuk dalam cakupan Matter.

Melalui Matter, para penyihir mampu memanipulasi struktur materi, mengubah komposisi suatu benda, membentuk berbagai objek fisik, mulai dari senjata, pelindung, hingga struktur berskala besar, meningkatkan kepadatan, mengubah suatu materi menjadi material dengan karakteristik yang berbeda, hingga merekonstruksi objek fisik sesuai keinginan mereka.

Pada tingkat penguasaan tertinggi, pengguna mampu memanipulasi materi hingga ke struktur paling mendasarnya. Tubuh mereka menjadi materi yang dapat dibentuk ulang sesuka hati, sementara mereka mampu membongkar dan menyusun ulang seluruh materi di sekitarnya hingga membentuk struktur baru sesuai kehendak mereka.


Elemental 

Merupakan fondasi sihir ketiga dalam The Nine Foundation yang mengatur fenomena alam dan berbagai manifestasi energi unsur, seperti api, air, es, petir, tanah, tumbuhan, udara, cahaya, hingga kegelapan. Seluruh gejala alam yang terjadi di dunia merupakan manifestasi dari fondasi ini.

Para penyihir yang menguasai Elemental mampu memanifestasikan dan mengendalikan berbagai unsur alam sesuai afinitas mereka. Api dapat digunakan untuk membakar, es untuk membekukan, petir untuk menghasilkan kecepatan dan daya hancur, tanah untuk membentuk benteng maupun medan tempur, sementara unsur-unsur lainnya memiliki karakteristik unik masing-masing.

Pada tingkat penguasaan tertinggi, pengguna tidak lagi terikat pada satu atau dua unsur tertentu. Tetapi seluruh elemen alam berada di bawah kendali mereka, memungkinkan berbagai fenomena unsur dimanifestasikan, dipadukan, maupun diubah sesuai keinginan, dan menjadikan seluruh gejala alam tunduk di bawah kehendak mereka.


Soul

Merupakan fondasi sihir keempat dalam The Nine Foundation yang mengatur jiwa, esensi spiritual, identitas eksistensial, serta ikatan yang melampaui tubuh fisik. Seluruh makhluk yang memiliki jiwa dan identitas spiritual memperoleh esensi eksistensialnya melalui fondasi ini.

Melalui Soul, para penyihir mampu melihat, menyentuh, memanipulasi, hingga memisahkan jiwa dari tubuh fisiknya. Mereka juga dapat membangun ikatan spiritual, berkomunikasi dengan roh, merasuki tubuh makhluk lain, memanggil arwah, maupun memengaruhi kondisi spiritual suatu individu.

Pada tingkat penguasaan tertinggi, pengguna telah mencapai kesempurnaan esensi spiritual sehingga jiwa mereka tidak lagi terikat oleh satu kehidupan. Mereka mampu mempertahankan identitasnya setelah kematian, bereinkarnasi ke dalam wadah baru, bahkan mengembalikan jiwa seseorang ke tubuhnya, selama tubuh tersebut masih utuh dan belum kehilangan fungsi biologisnya.


Mind

Merupakan fondasi sihir kelima dalam The Nine Foundation yang mengatur pikiran, ingatan, kesadaran, persepsi, serta seluruh proses mental yang membentuk intelegensi makhluk hidup. Melalui fondasi ini, setiap makhluk yang memiliki kesadaran mampu memahami, mengolah informasi, mengambil keputusan, dan membentuk kehendaknya sendiri.

Para penyihir yang menguasai Mind mampu membaca, memanipulasi, dan menghubungkan pikiran makhluk hidup, baik manusia, ras selain manusia, maupun hewan. Mereka dapat memengaruhi ingatan, emosi, persepsi, kehendak, serta proses berpikir seseorang. Selain itu, fondasi ini memungkinkan penggunanya meningkatkan kemampuan berpikir, daya analisis, dan kapasitas ingatan hingga melampaui batas alami makhluk biasa.

Pada tingkat penguasaan tertinggi, pengguna tidak lagi dibatasi oleh kemampuan mental makhluk biasa. Pikiran mereka mampu memproses, menganalisis, dan mengingat informasi dalam jumlah yang nyaris tak terbatas. Mereka bahkan dapat menjadikan kesadaran makhluk lain sebagai bagian dari jaringan pikirannya sendiri, memungkinkan setiap pikiran dalam jangkauan untuk dibaca, dipahami, hingga dipengaruhi secara bersamaan tanpa kehilangan kesadaran sedikit pun.


Space

Fondasi sihir keenam dalam The Nine Foundation yang mengatur ruang, posisi, jarak, arah, dimensi, serta hubungan geometris antar-keberadaan. Seluruh konsep mengenai lokasi, volume, dan pemisahan antarobjek berada di bawah prinsip fondasi ini.

Melalui Space, para penyihir mampu memanipulasi posisi, jarak, arah, serta hubungan antar-ruang. Mereka dapat melipat ruang untuk berpindah tempat secara instan, menciptakan portal, mengisolasi suatu area ke dalam dimensi terpisah, mengubah lintasan objek, hingga memanipulasi kelengkungan ruang yang kemudian memengaruhi gravitasi di sekitarnya.

Pada tingkat penguasaan tertinggi, ruang tidak lagi menjadi sesuatu yang mereka lalui, melainkan sesuatu yang tunduk pada kehendak mereka. Jarak kehilangan maknanya, dimensi dapat diciptakan maupun dihapus, sementara kelengkungan ruang mampu diperkuat hingga melahirkan singularitas yang menelan segala sesuatu di sekitarnya, serta mereka mampu melintasi ruang tanpa lagi terikat oleh konsep jarak, sehingga memungkinkan mereka mencapai lokasi mana pun tanpa harus melintasi ruang di antaranya.


Time 

Merupakan fondasi sihir ketujuh dalam The Nine Foundation yang mengatur waktu, aliran waktu, durasi, urutan peristiwa, usia, perubahan, serta kesinambungan sebab dan akibat. Seluruh fenomena yang berkaitan dengan perjalanan waktu berada di bawah prinsip fondasi ini..

Melalui Time, para penyihir mampu mempercepat, memperlambat, maupun menghentikan aliran waktu pada objek, makhluk hidup, maupun area tertentu. Kemampuan ini memungkinkan mereka mempercepat pertumbuhan tanaman, mempercepat proses penyembuhan alami, memperlambat gerakan lawan, atau meningkatkan kecepatan suatu objek seperti peluru hingga melampaui batas normal. Selain itu, pengguna mampu membebaskan dirinya dari pengaruh usia, membaca jejak temporal suatu objek, serta mengamati jalur waktu yang memiliki kemungkinan terbesar untuk terjadi.

Pada tingkat penguasaan tertinggi, pengguna mampu memundurkan maupun memajukan aliran waktu dalam wilayah yang berada di bawah kekuasaannya. Segala sesuatu di dalam wilayah tersebut dapat dikembalikan menuju keadaan temporal sebelumnya atau dipercepat menuju kemungkinan keadaan di masa depan. Namun, manipulasi ini tidak dapat menulis ulang sejarah dunia maupun menciptakan garis waktu baru, sebab yang mereka kendalikan bukanlah sejarah, melainkan aliran waktu yang berlangsung di dalam domain kekuasaan mereka.


Entropy

Merupakan fondasi sihir kedelapan dalam The Nine Foundation yang mengatur peluruhan, ketidakteraturan, keruntuhan, dan akhir dari seluruh keberadaan. Segala sesuatu yang memiliki awal pada akhirnya akan mengalami degradasi hingga kehilangan bentuk, fungsi, maupun kestabilannya di bawah prinsip fondasi ini.

Para penyihir yang menguasai fondasi ini, mampu mempercepat proses peluruhan, degradasi, dan keruntuhan yang secara alami dimiliki oleh segala sesuatu. Mereka dapat membuat material kehilangan kekuatannya, makhluk hidup mengalami pembusukan sebelum kematian, api kehilangan panas hingga padam, petir kehilangan energinya, es mencair tanpa menerima panas, serta memaksa berbagai fenomena maupun proses alami mencapai akhirnya jauh lebih cepat dari yang semestinya.

Pada tingkat penguasaan tertinggi, pengguna tidak lagi sekadar mempercepat peluruhan, melainkan menjadi perwujudan dari akhir itu sendiri. Segala sesuatu yang berada di dalam domain mereka akan perlahan kehilangan kestabilan, struktur, fungsi, hingga pada akhirnya eksistensinya sendiri tanpa perlu disentuh. Materi akan runtuh menjadi debu, kehidupan kehilangan vitalitasnya, energi memudar, dan berbagai fenomena akan menuju kehancurannya masing-masing, seolah-olah seluruh keberadaan sedang dipaksa mencapai akhir yang telah menantinya.


Prime

Penutup sekaligus fondasi sihir yang terakhir dalam The Nine Foundation yang menjadi asal sekaligus penghubung bagi seluruh fondasi lainnya. Berbeda dengan delapan fondasi yang masing-masing mengatur suatu prinsip tertentu, Prime tidak menguasai aspek keberadaan mana pun secara langsung. Sebaliknya, Prime menjaga keselarasan di antara seluruh fondasi sehingga masing-masing dapat berdiri sebagai satu kesatuan yang utuh.

Prime tidak dapat dipelajari, diwariskan, maupun dibangkitkan melalui latihan. Keberadaannya sepenuhnya ditentukan sejak kelahiran, bahkan sebagian besar pemiliknya tidak pernah menyadari bahwa mereka memilikinya. Mereka hanya menganggap bahwa dirinya memiliki bakat luar biasa dalam mempelajari sihir, padahal seluruh fondasi secara alami beresonansi dengan keberadaan mereka.

Melalui Prime, seluruh fondasi menjadi lebih mudah dipahami, dikuasai, dan dipadukan. Penggunanya memiliki afinitas yang hampir sempurna terhadap seluruh fondasi, memungkinkan mereka mengembangkan berbagai cabang sihir dengan kecepatan yang tidak dapat dijelaskan oleh teori sihir mana pun. Seiring waktu, mereka akan menguasai semakin banyak fondasi tanpa menyadari bahwa bakat tersebut berasal dari Prime.

Pada saat seluruh fondasi telah sepenuhnya dipahami, Prime akan memperlihatkan hakikatnya yang sesungguhnya. Pengguna tidak lagi memandang Life, Matter, Elemental, Soul, Mind, Space, Time, maupun Entropy sebagai prinsip yang terpisah, melainkan sebagai bagian dari satu kesatuan yang sama. Bagi mereka, seluruh fondasi hanyalah ekspresi berbeda dari hukum keberadaan yang identik, sehingga mereka mampu menyatukan berbagai fondasi yang sebenarnya tidak mungkin untuk disatukan.



Power System Fatal Verse...

Posted by : desthabikinfanart
Date :Kamis, 02 Juli 2026
With 0komentar
Next Prev
▲Top▲