Clara Aldenaur
"Keluarga."
Sebuah kata yang terdengar sederhana. Namun di dalamnya terdapat rumah untuk pulang, pelukan yang menenangkan, tawa yang tidak perlu dibuat-buat, serta tangan-tangan yang selalu terbuka ketika dunia mulai terasa terlalu berat.
Kemudian terdapat kata-kata lain yang lahir darinya.
"Teman."
"Sahabat."
"Kerabat."
"Pasangan."
Segala sesuatu yang membuat seseorang percaya bahwa dirinya tidak pernah benar-benar sendirian. Seluruh makhluk hidup, dengan caranya masing-masing, pernah berharap untuk memiliki harmoni tersebut. Namun, bagaimana jika seseorang menghancurkan semuanya...?
Tidak dengan kebencian.
Sebab ia bahkan masih belum mengerti apa arti dari kata "benci."
Ketika seorang bayi perempuan baru saja membuka matanya untuk pertama kali. Ia belum mampu berjalan, belum mampu berbicara, belum mampu memahami dunia. Tangisnya hanyalah tangisan seorang anak yang mencari pelukan ibunya, namun pada saat kedua tangannya bergerak...
Musim dingin tiba-tiba datang. Tidak dengan salju yang turun secara perlahan, tidak dengan embun yang menghiasi dedaunan. Tetapi dengan dingin yang membekukan kehidupan itu sendiri. Dalam sekejap... Seluruh istana berubah menjadi monumen es. Denyut kehidupan terhenti sebelum sempat menyadari bahwa akhir telah datang.
Ayahnya...
Ibunya...
Para pelayan...
Para ksatria...
Seluruh kehidupan yang berada di dalam istana itu berhenti pada saat yang sama. Hanya karena seorang bayi yang baru lahir... Seorang bayi yang bahkan belum mengetahui bagaimana cara berbicara.
Sejak hari itu...
Ia tidak lagi dikenal sebagai seorang putri. Tidak pula sebagai seorang anak. Sebagian menyebutnya sebagai pertanda bencana. Sebagian menyebutnya sebagai kutukan yang menjelma manusia. Dan sebagian lagi, masih melihat seorang gadis kecil yang terus menangis di tengah kerajaan yang membeku.
Pada akhirnya. Orang pertama yang direnggut oleh musim dingin itu, bukanlah sebuah kerajaan...
Melainkan masa kecil Clara Aldenaur sendiri...
Tidak lama setelah kerajaan itu membeku.
Kabar mengenai sebuah negeri yang berubah menjadi lautan es menyebar ke berbagai penjuru dunia. Banyak orang datang hanya untuk memastikan kebenarannya. Sebagian ingin memanfaatkan kekuatan yang ada di sana. Sebagian lagi hanya ingin mengetahui monster seperti apa yang mampu membekukan sebuah kerajaan dalam sekejap.
Di antara mereka, datanglah seorang penyihir kuno. Ia melangkah melewati patung-patung es yang dahulu merupakan manusia. Keheningan menyelimuti seluruh negeri, namun, di tengah kesunyian itu, ia mendengar tangisan. Tangisan dari seorang bayi... Penyihir itu segera mengikuti suara tersebut.
Di tengah aula istana yang telah membeku. Ia menemukan seorang bayi perempuan yang masih menangis di antara tubuh-tubuh yang telah menjadi es. Ia mengangkat bayi itu perlahan, pada kalung kecil yang dikenakan sang bayi, tertulis sebuah nama.
"Clara..."
Penyihir itu menatap wajah mungil tersebut cukup lama dan kemudian ia bertanya dengan suara yang nyaris menjadi bisikan.
"Clara... Izinkan aku menanyakan sesuatu kepadamu... Benarkah seorang manusia dapat menjadi dingin seperti es?"
"Atau... Mungkinkah seorang manusia menjadi jauh lebih dingin dan mematikan daripada es itu sendiri?"
Penyihir itu perlahan menggelengkan kepala, kemudian ia membuka jubahnya dan menghangatkan tubuh kecil Clara, lalu memeluknya dengan erat.
Dan perlahan... Tangisan Clara mulai mereda, karena untuk pertama kalinya sejak ia dilahirkan, ia mendapatkan sesuatu yang seharusnya telah menjadi miliknya sejak awal.
Sebuah pelukan.
White Petal
Clara baru mulai mempelajari sihir pada usia enam tahun, dan yang mengajari sihir tersebut merupakan seorang penyihir kuno yang telah mengangkatnya sebagai anak.
Bagi Clara...
Ia adalah ayahnya.
Suatu hari, ketika sang penyihir sedang melatih Clara kecil untuk mengendalikan es, sang penyihir berkata sambil memandang hujan yang turun perlahan.
"Clara... Tahukah kamu? Setetes hujan dapat menjadi bunga."
Clara memiringkan kepalanya.
"...Bunga?"
Penyihir itu tersenyum.
"Ya! Jika kamu membekukannya dengan kelembutan yang tepat, kristal es akan tumbuh menyerupai kelopak bunga. Es bukan hanya tentang membekukan. Es juga tentang bagaimana kamu memperlakukan suhu dengan kelembutan."
Mata Clara langsung berbinar. Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, ia segera mengangkat kedua tangannya.
"Aku akan mencobanya!"
Sesaat kemudian...
Krek.*
Seluruh wajah sang penyihir membeku.
"..."
Clara menatap hasil karyanya selama beberapa detik. Kemudian ia tersenyum kecil sambil berkata dengan polos.
"...Bunganya gagal."
Penyihir itu hanya menghela napas pelan, kemudian ia mengulurkan tangan dan mengusap kepala Clara dengan lembut.
"Tidak apa-apa. Kamu hanya terlalu terburu-buru."
"Es tidak selalu lahir dari kekuatan, kadang... Ia lahir dari kesabaran."
Sejak hari itu... Clara mulai memahami bahwa sihir bukan sekadar tentang seberapa dingin ia mampu membekukan sesuatu. Melainkan seberapa lembut ia mampu menurunkan suhu tanpa merusak keindahan yang ingin ia ciptakan.
Dan bertahun-tahun kemudian... Teknik itu dikenal dengan sebuah nama.
"White Petal"
Sihir yang tidak lagi sekadar membekukan setetes hujan menjadi bunga. Melainkan mampu menurunkan suhu sebuah wilayah dengan kelembutan yang begitu sempurna, sehingga langit, angin, dan awan perlahan ikut berubah mengikuti kehendaknya.
Dan bahkan gurun yang paling panas sekalipun...
Dapat berubah menjadi hamparan musim dingin.
Winter's Gift
Clara telah menginjak usia sepuluh tahun. Selama empat tahun terakhir, ia mempelajari sihir di bawah bimbingan seorang penyihir kuno yang telah mengangkatnya sebagai anak.
Suatu hari, ketika musim dingin kembali menyelimuti pegunungan, Clara berteduh di bawah sebuah pohon sambil memikirkan sesuatu yang sangat sederhana. Ia ingin memberikan hadiah.
Tidak dengan alasan karena ada perayaan, tidak pula dengan alasan bahwa hari itu terasa istimewa, ia hanya ingin mengucapkan terima kasih dengan caranya sendiri...
Clara menatap kedua telapak tangannya. Selama bertahun-tahun, kemampuan mengendalikan esnya telah berkembang jauh melampaui penyihir es pada umumnya. Namun untuk pertama kalinya ia tidak ingin menggunakan kekuatan itu untuk berlatih... Ia hanya ingin menciptakan sesuatu.
Perlahan, Clara mulai membentuk kristal-kristal es dari udara di sekitarnya. Sedikit demi sedikit, ia mengukirnya dengan penuh kehati-hatian hingga tercipta sebuah artefak kecil yang seluruh bagiannya terbuat dari kristal es sebening kaca.
Ketika matahari mulai tenggelam, artefak itu akhirnya selesai. Bagi orang lain... Benda itu mungkin hanyalah sebuah pahatan es, namun bagi Clara... Itu adalah hadiah pertama yang pernah ia buat dengan tangannya sendiri.
Ia memeluk kotak kecil berisi artefak itu sambil tersenyum.
"Ayah pasti akan menyukainya."
Dengan langkah ringan, Clara bergegas pulang.
Namun sesampainya di rumah, ia tidak menemukan sosok yang ingin ia temui. Yang ada hanyalah sebuah surat yang tergeletak rapi di atas meja, seolah sengaja ditinggalkan untuknya. Dengan senyum dan semangat yang belum sempat memudar, Clara mengambil surat itu dan mulai membacanya. Hanya untuk mendapati kalimat-kalimat yang seketika menghentikan dunianya.
"Maafkan aku, Clara... Ada kebenaran yang selama ini tidak pernah sanggup aku katakan kepadamu."
"Aku bukanlah ayah kandungmu."
"Aku hanyalah seseorang yang menemukanmu pada hari sebuah kerajaan membeku."
"Jika kamu ingin mengetahui siapa dirimu sebenarnya... Datanglah ke tempat yang telah kutunjukkan."
"Saat kamu membaca surat ini, aku telah memulai perjalanan yang tidak bisa kutempuh bersamamu."
"Selamat tinggal untuk sementara waktu, atau mungkin selamanya, Claraku tercinta..."
Clara membaca surat itu sekali lagi. Sekali. Dua kali. Tiga kali.
Seolah-olah setiap kali ia mengulanginya, isi surat itu akan berubah, namun kata-katanya tetap sama. Tangannya mulai bergetar, kotak kecil yang sejak tadi ia peluk perlahan terlepas dari genggamannya. Kristal es di dalamnya memantulkan cahaya senja. Namun kristal itu tidak retak, ia hanya perlahan kehilangan bentuknya... Mencair bersama kehangatan yang selama ini ia sebut sebagai rumah. Kenangannya ketika ia memasak bersama ayahnya, menyanyikan lagu, mendengar dongeng penghantar tidur...
"Ayah..."
"Ini... bohong, kan?"
Suaranya begitu lirih. Seolah-olah ia sendiri takut mendengar jawabannya.
Kemudian tanpa berpikir panjang, Clara berlari sekuat tenaga. Ia melewati jalan yang telah ribuan kali ia lalui, melewati pepohonan yang dahulu menjadi tempat mereka berlatih, melewati hamparan salju tempat mereka pernah mengubah tetesan hujan menjadi bunga, di dalam benaknya hanya ada satu harapan. Bahwa ketika ia tiba... Pria yang selama sepuluh tahun ia panggil sebagai ayah masih akan berdiri di sana. Menunggunya...
Namun ketika ia akhirnya sampai... Yang menyambutnya hanyalah patung-patung es, wajah-wajah yang tidak pernah ia kenal. Dalam diam, hatinya dipenuhi pertanyaan yang bahkan tidak sanggup ia ucapkan.
"Apakah salah satu dari mereka adalah ayahku?"
"Apakah yang itu ibuku?"
"Aku tidak mengenal mereka... tetapi mengapa mereka semua membeku?"
Perlahan, Clara mengulurkan tangannya. Ia menyentuh permukaan es itu.
Dingin.
Hampir sama dengan hawa yang selalu lahir dari sihirnya sendiri.
Tidak jauh dari sana, sekelompok orang sedang mengumpulkan sisa-sisa energi sihir yang masih tertinggal sejak bencana yang terjadi bertahun-tahun lalu. Ketika mereka melihat Clara, salah seorang di antara mereka segera menghampirinya.
"Pergi dari sini, nak."
"Tempat ini bukan taman bermain untuk anak kecil sepertimu."
Clara tidak menjawab. Air mata perlahan mengalir di pipinya, namun sebelum sempat jatuh ke tanah... Air mata itu telah membeku, mereka tidak menyadari bahwa gadis kecil di hadapan mereka sedang menangis.
Dengan nada yang mulai mengeras, salah seorang dari mereka kembali berkata,
"Nak... pergilah sebelum kamu ikut membeku."
Namun, Clara masih terdiam seolah tidak pernah menganggap bahwa mereka ada.
"Apa kau tuli?! Aku bilang pergi dari sini!"
Clara, kemudian bertanya kepada mereka.
"Apakah... Ada yang masih hidup... Disini?"
Orang-orang itu dengan spontan menjawab.
"Tidak, mereka semua telah mati. Setelah tahu itu maka pergilah."
Clara menundukkan kepalanya.
"Huft... Orang-orang masih menyalahkan bayi itu. Kalau aku jadi dia... Aku mungkin berharap bahwa aku tidak pernah dilahirkan."
"Benar... Jika bukan karena bayi itu, kerajaan ini mungkin masih megah seperti dulu."
Mendengar kata-kata itu, Clara seolah sadar bahwa mereka sedang membicarakan dirinya, untuk pertama kalinya... Ia mulai bertanya kepada dirinya sendiri.
"Apakah benar... Aku seharusnya tidak pernah dilahirkan?"
Mendengar kalimat itu, orang-orang yang mengusir dan membentaknya mulai terdiam. Dengan sedikit gemetar, Clara perlahan mengangkat tangannya, seolah-olah bahkan dirinya sendiri belum yakin dengan apa yang akan ia lakukan. Sebuah kristal es kecil melesat menembus tubuh mereka.
Sesaat kemudian... Mereka menjerit, kristal-kristal es yang tumbuh di dalam tubuh mereka berkembang seketika, terus berkembang dari dalam, hingga tubuh mereka hancur menjadi kepingan-kepingan yang berkilauan di atas hamparan salju.
Untuk pertama kalinya... Clara menggunakan sihirnya untuk menghancurkan seseorang.
Betapa ironisnya.
Kemampuan yang lahir dari keinginan sederhana untuk memberikan hadiah... Justru menjadi hadiah terakhir yang ia berikan kepada dunia pada hari itu. Sejak saat itulah... Kemampuan tersebut dikenal dengan sebuah nama.
"Winter's Gift."
Ice Demon
Terdapat sebuah legenda yang lahir dari ketakutan yang diwariskan turun-temurun. Legenda itu bermula dari satu-satunya orang yang berhasil selamat dari pembantaian pertama yang dilakukan Clara.
Dengan tubuh gemetar dan wajah yang dipenuhi ketakutan, ia terus mengulang kalimat yang sama.
"Iblis es..."
"Iblis yang membekukan kerajaan itu masih hidup."
"Dia membunuh seluruh kelompok kami..."
Sejak hari itu, setiap kali musim dingin datang...
Tidak ada seorang pun yang berani keluar rumah. Jendela-jendela dikunci rapat, perapian dinyalakan sejak matahari belum tenggelam, para penjaga berpatroli sepanjang malam, anak-anak bahkan dilarang mendekati pintu ataupun jendela.
Mereka percaya bahwa selama salju masih turun... Sang Iblis Es mungkin sedang mengawasi dari balik badai.
Namun... Seluruh ketakutan itu hanyalah bayangan yang mereka ciptakan sendiri. Sebab sejak tragedi di kerajaan itu, tidak pernah terdengar lagi terjadi pembunuhan yang dilakukan oleh Clara.
Tidak ada desa yang dibekukan, tidak ada kerajaan yang dihancurkan, tidak ada siapa pun yang benar-benar melihat sosok yang mereka sebut sebagai "Iblis Es." Sementara dunia terus hidup di dalam rasa takut.
Clara justru bersembunyi di tempat-tempat yang tak pernah didatangi siapa pun. Di dalam gua yang sunyi, di tengah pegunungan yang selalu diselimuti salju. Sendirian...
Sering kali ia hanya memeluk kedua lututnya sambil mencoba mengingat satu-satunya kehangatan yang pernah ia miliki. Pelukan... Pelukan dari seseorang yang ia panggil sebagai ayah.
"Iblis es...?"
Suara Clara terdengar lirih. Nyaris tenggelam bersama hembusan angin musim dingin.
"Setega itukah mereka memanggilku seperti itu?"
Sejak saat itu, ia mengambil sebuah keputusan. Jika musim dingin adalah alasan semua orang menjauh darinya, maka ia akan belajar menjadi musim semi.
Jika es membuat semua orang ketakutan, maka ia akan menguasai api. Jika salju membuat orang mengingat tragedi, maka ia akan memanggil angin, hujan, tanah, dan petir. Apa pun... Asalkan dunia berhenti memandangnya sebagai Iblis Es.
Hari demi hari, tahun demi tahun, ia terus berlatih. Tidak dengan niat untuk menjadi penyihir yang lebih hebat.
Ia hanya berharap... Jika suatu hari seseorang melihat api di tangannya, atau angin yang berputar di sekelilingnya. Mereka akan melupakan es yang selama ini menjadi alasan mereka membencinya. Mereka tidak akan lagi melihat seorang anak yang membekukan kerajaan.
Mereka hanya akan melihat.
Clara...
Karena jauh di dalam lubuk hati kecilnya...
Masih hidup seorang gadis kecil...
Yang hanya ingin dipandang sebagai manusia biasa.
Summer Season
Ketika dunia perlahan mulai melupakan legenda tentang Sang Iblis Es... Clara akhirnya memberanikan diri untuk kembali hidup di tengah masyarakat. Ia meninggalkan pegunungan bersalju yang selama ini menjadi tempat persembunyiannya, meninggalkan musim dingin. Dan memulai perjalanan menuju Veridian Vale. Negeri yang dikenal sebagai pusat akademi sihir unsur alam terbesar di dunia.
Di sanalah... Untuk pertama kalinya... Clara mencoba menjalani hidup sebagai orang biasa, memulai kehidupan yang benar-benar baru.
Tidak membutuhkan waktu lama sebelum namanya mulai dikenal. Karena bakatnya yang nyaris tidak masuk akal dalam menguasai berbagai unsur.
Clara tidak pernah membuang ajaran yang pernah diberikan oleh sosok yang ia panggil sebagai ayah. Bahkan ketika ia memilih meninggalkan sihir es, cara berpikir yang diajarkan pria itu tetap hidup di dalam setiap sihir yang ia gunakan.
"Es bukan hanya tentang membekukan. Es juga tentang bagaimana kamu memperlakukan suhu dengan kelembutan."
Dengan metode yang pernah diajarkan oleh ayahnya.
Api yang ia kendalikan mampu melelehkan benteng baja, petir yang ia ciptakan melesat lebih cepat daripada mata yang mampu mengikutinya, angin membawanya menembus langit, tanah berubah menjadi benteng yang kokoh atas kehendaknya. Air, tumbuhan, cahaya, kegelapan... Satu demi satu unsur berhasil ia kuasai.
Sehingga dirinya dipanggil sebagai seorang gadis berbakat yang ramah dan rendah hati.
Namun... Setiap kali ujian sihir es diadakan. Clara selalu mengundurkan diri.
"Aku tidak bisa menggunakan sihir es."
Begitulah jawaban yang selalu ia berikan.
Mereka hanya mengangguk dan melanjutkan kegiatan seperti biasa. Hari demi hari berlalu. Clara mulai memiliki teman, mereka belajar bersama, tertawa bersama, berdebat mengenai sihir, menghabiskan waktu seperti remaja pada umumnya.
Perlahan... Ia mulai merasakan sesuatu yang selama ini hilang dari hidupnya.
"Kehangatan..."
Akan tetapi, tubuh jauh lebih jujur daripada kata-kata. Setiap kali ia berada dalam bahaya, setiap kali pikirannya dipenuhi tekanan, setiap kali nalurinya bergerak lebih cepat daripada kesadarannya...
Tangannya selalu menciptakan kristal es. Tidak pernah api, tidak pernah petir, tidak pernah angin. Selalu Es. Karena itulah bahasa pertama yang dipahami oleh tubuh Clara. Awalnya hanya sekali, kemudian dua kali, lalu tiga kali.
Hingga suatu hari... Tidak ada lagi yang dapat menganggap semuanya sebagai kebetulan. Teman-temannya akhirnya melihat sendiri sihir es Clara. Mereka terdiam.
Clara juga terdiam...
Ia menunggu.
Menunggu tatapan takut yang selama ini selalu ia kenal. Seseorang kembali memanggilnya...
"Iblis Es."
Di dalam hatinya, satu pertanyaan terus berulang.
"Mengapa... Mengapa aku selalu kembali kepada es? Padahal selama bertahun-tahun... Aku terus berusaha melupakannya..."
Namun... Yang ia dengar justru berbeda.
Mereka menatap hamparan kristal es yang begitu indah hingga menyerupai karya seni.
"Clara... kenapa selama ini kamu menyembunyikannya? Sihir esmu luar biasa."
"Kalau kemampuan seperti itu kamu tunjukkan saat ujian..."
"Kamu pasti menjadi salah satu murid terbaik akademi."
Tidak ada tatapan takut, tidak ada wajah yang membencinya, tidak ada seorang pun yang memanggilnya sebagai "Iblis Es."
Ia masih belum sanggup menceritakan alasan sebenarnya. Tetapi, untuk pertama kalinya, Clara akhirnya mengerti bahwa yang selama ini ia takuti. Bukanlah sihir esnya. Melainkan kenangan yang selalu ia bawa bersamanya. Clara tersenyum tipis sambil menggelengkan kepala, karena selama bertahun-tahun, Clara selalu berpikir bahwa agar ia bisa diterima, ia harus meninggalkan musim dinginnya.
Namun ternyata... Yang ia butuhkan bukanlah menjadi musim semi, melainkan menemukan seseorang yang bersedia tetap tinggal, bahkan ketika musim dingin telah datang. Dan untuk pertama kalinya...
Clara tidak lagi takut untuk menyebut dirinya sendiri.
Absolute Zero
Ketika lawannya berbicara.
"Kau masih saja menggunakan Es, apa hanya itu kemampuan yang mampu kamu gunakan?"
Jika Clara yang dulu... Mungkin ia akan berusaha menggunakan unsur alam lainnya. Namun sekarang, ia hanya tersenyum.
"Aku tidak akan menyangkal perkataanmu."
"Ini adalah musim dinginku, ini adalah esku dan ini adalah bagian diriku."
Absolute Zero...
Clara mampu memanipulasi suhu dan energi termal dalam skala ekstrim. Ia dapat mengubah suatu wilayah yang sebelumnya memiliki suhu yang sangat tinggi menjadi wilayah yang mengalami pembekuan ekstrim dalam waktu kurang dari satu detik.
Namun, kemampuan tersebut tidak berarti bahwa Clara menciptakan es tanpa batas atau mengabaikan hukum sebab akibat. Semakin luas wilayah yang ingin ia ubah dan semakin besar perbedaan kondisi termalnya, semakin besar pula energi, konsentrasi, dan penguasaan yang dibutuhkan.
Dalam konteks Foundation of Elemental, kemampuan ini memungkinkan Clara mengurangi energi termal suatu target hingga menyebabkan gerakan partikel dan proses fisik di dalamnya mengalami perlambatan yang drastis.
Bahkan ia mampu memengaruhi fenomena yang biasanya di anggap berada di luar pemahaman sederhana mengenai es.
Ia dapat membekukan suatu jiwa, memengaruhi aktivitas spiritualnya melalui pembekuan, membekukan pikiran, menghambat proses mental dan aktivitas yang memungkinkan pikiran tersebut bekerja, membekukan ruang, memengaruhi kondisi unsur alam yang memungkinkan perubahan dan pergerakan suatu wilayah tertentu.
Dan dalam kondisi ekstrim, Clara mampu memengaruhi aliran waktu secara lokal melalui prinsip pembekuan. Dengan memperlambat proses yang terjadi dalam suatu wilayah hingga hampir tidak mengalami perubahan.
Tetapi ia tidak memiliki semua prinsip itu... Karena yang ia miliki hanyalah menguasai prinsip pembekuan sedemikian dalam sehingga berbagai hal yang berbeda dapat dipengaruhi melalui prinsip tersebut.
Clara tidak pernah menguasai banyak fondasi, ia hanya memiliki satu.
Foundation of Elemental.
Namun selama puluhan tahun... Ia terus bertanya pada dirinya sendiri.
"Seberapa jauh sebuah musim dingin dapat mencapai?"
Dan pada akhirnya. Jawabannya bukanlah membekukan dunia. Melainkan memahami bahwa satu prinsip yang dipelajari hingga batas terdalam. Dapat menyentuh segala sesuatu, karena Clara tidak pernah menjadi penyihir yang menguasai semua unsur.
Ia hanyalah seorang gadis...
Yang memahami arti dari es lebih dalam daripada siapa pun.
Fatum Branch Record
Catatan Rekaman Percabangan Fatum.*
Setiap rekaman Fatum memiliki jalurnya masing-masing, dan setiap jalur melahirkan takdir yang berbeda.
Dengan kata lain, setiap percabangan Fatum memperlihatkan berbagai kemungkinan yang dapat dijalani oleh Clara, mulai dari potensi tertinggi yang mampu ia capai, hingga takdir paling kelam yang mungkin menantinya.
Main Fatum Branch/Fatum Branch A
Percabangan takdir utama yang benar-benar dijalani Clara.
Seorang gadis yang kehilangan keluarganya sejak dilahirkan. Ia kemudian diadopsi oleh seorang penyihir kuno yang membesarkannya, sebelum akhirnya kembali ditinggalkan.
Inilah percabangan takdir ketika Clara hidup dalam ketakutan terhadap sihir esnya sendiri, hingga pada akhirnya ia menerima bahwa es bukanlah kutukan, melainkan bagian dari dirinya.
Fatum Branch B
Percabangan takdir ketika Clara memilih jalan kegelapan setelah membunuh sekelompok orang asing yang menghina dan membentaknya. Di dalam jalur ini, ia sepenuhnya menerima identitasnya sebagai "Iblis Es."
"Jika dunia menganggapku sebagai iblis... maka aku akan menjadi iblis itu sendiri."
Kekuatannya bukan lagi tentang ketenangan dan presisi... Melainkan tentang amarah dan daya hancur.
Pada percabangan ini, Clara mencapai salah satu puncak kekuatan tertinggi yang pernah ia raih.
Ia membekukan seluruh permukaan Bumi, bahkan hingga membekukan Kesembilan Hukum yang menopang dunia dan membeku bersamanya. Tidak ada lagi yang tersisa selain kebekuan yang abadi.
Ia menjadi personifikasi dari sebuah era yang dikenal sebagai "Zaman Es."
Fatum Branch C
Percabangan takdir ketika sang penyihir tidak pernah datang menemukannya.
Clara mati membeku bersama kedua orang tuanya, tanpa pernah merasakan kehangatan yang selama ini hanya menjadi impiannya.
Fatum Branch D
Percabangan takdir ketika Clara, yang masih bayi, tidak pernah melepaskan kekuatan esnya hingga membekukan seluruh kerajaan.
Dalam jalur ini, ia tumbuh sebagai seorang putri bangsawan dari Kerajaan Es, hidup bahagia bersama kedua orang tuanya. Seiring berjalannya waktu, ia bahkan dipersiapkan untuk menikah dengan seseorang yang kelak menjadi calon suaminya.
Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Kerajaan Es diserang oleh satu makhluk dari negeri lain yang datang untuk membumihanguskan seluruh kerajaan.
Alasannya hanya satu.
Karena kerajaan tersebut, menyebut ia sebagai "Monster."
Fatum Branch E...
Fatum Branch F....
Fatum Branch G....
Fatum Branch, dan seterusnya...
Masih terdapat percabangan-percabangan lain yang belum pernah diceritakan oleh Buku Kelima.
Book Five Identification
Informasi berikut berasal dari Buku Kelima*
Di berbagai kisah yang berbeda, sosok ini paling sering digambarkan sebagai seorang gadis yang melambangkan musim dingin, es, dan penurunan suhu termal.
Nama: Clara Aldenaur.
Namun, setiap kisah memiliki kebebasan untuk menceritakan dirinya dengan nama yang berbeda. "Clara Aldenaur" hanyalah identitas yang paling sering muncul di antara berbagai kisah.
Julukan: Ice Demon, Frozen Age, Permafrost, The Ice Saint, The Endless Cold, The Walking Calamity. Dan masih banyak lagi.
Foundation: Foundation of Elemental.
Meskipun demikian, Foundation yang dimilikinya tidaklah mutlak dan dapat berbeda pada setiap kisah.
Penampilan: Dalam sebagian besar kisah, ia digambarkan sebagai seorang gadis berambut biru.
Namun, terdapat kisah-kisah lain yang menceritakan dirinya sebagai seorang raja, bangsawan laki-laki, rakyat biasa, bahkan sosok yang bukan manusia sama sekali. Beberapa kisah menggambarkannya sebagai sesosok dewi, sementara kisah lainnya mengisahkannya sebagai sebuah entitas konseptual.
Asal: Sebagian besar kisah menceritakan bahwa ia berasal dari sebuah kerajaan.
Akan tetapi, tidak semua kisah mengikuti asal-usul tersebut. Ada kisah yang menggambarkannya sebagai rakyat biasa, ada yang tidak pernah mengenal sebuah kerajaan, dan ada pula yang menceritakannya sebagai sosok dewi yang mengawasi semesta sejak awal keberadaan.
Book Five Archive
Canon A
Fatal Verse Legacy
Clara digambarkan sebagai seorang penyihir es yang mampu menciptakan kristal-kristal es, sebelum akhirnya mengakhiri hidupnya sebagai penyihir es.
Ia berasal dari sebuah kerajaan yang tidak diketahui asal-usulnya dan menjalani kehidupan yang sederhana layaknya penyihir pada umumnya.
Canon B
Fatal Verse: Something Wrong
Sebuah kisah yang menggambarkan Clara Aldenaur sebagai penyihir api.
Berbeda dari kebanyakan interpretasi, Clara dalam kisah ini memiliki sifat pemarah, agresif, dan destruktif.
Canon C
Fatal Verse: Permafrost
Clara Aldenaur menjadi salah satu Ascendant Veracity & Atrocity.
Ia kemudian mencapai kedudukan sebagai otoritas tertinggi atas konsep pembekuan, penyejukan, dan penurunan termal.
Pada kisah ini, ia berada pada tingkat asimilasi dasar, yaitu Assimilation of Existential.
Canon D
Fatal Verse: Kill da Street
Sebuah kisah bergaya beat 'em up dan run and gun.
Clara digambarkan sebagai seorang wanita berambut biru yang mengenakan perlengkapan kombat, dengan senapan laras panjang sebagai senjata utamanya.
Ia memiliki spesialisasi unik yang mampu memperlambat pergerakan target setiap kali membidiknya.
Canon E
University Fatale
Dalam kisah ini, Clara tidak lagi digambarkan sebagai penyihir es.
Sebaliknya, ia merupakan seorang siswi yang dikenal pendiam, pemalu, sedikit dingin, dan gemar menghabiskan waktunya untuk membaca buku.
Canon F...
Canon G...
Dan masih banyak Canon lainnya...
Catatan Buku Kelima*
Ini bukanlah sebuah inkonsistensi...
Seluruh Canon yang menggambarkan Clara tidak saling membatalkan, melainkan berdiri sebagai interpretasi yang sama-sama sah terhadap identitas yang sama.
Setiap kisah mempertahankan pemahamannya sendiri mengenai Clara, termasuk asal-usul, wujud, sifat, kemampuan, maupun kedudukannya.
Oleh karena itu, tidak ada satu pun interpretasi yang dapat ditetapkan sebagai identitas yang mutlak, selama kisah tersebut masih merujuk kepada sosok yang sama. Yaitu Clara.

0 komentar:
Posting Komentar